NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ayunan tua itu...

Pagi itu langit diselimuti mendung kelabu yang tebal, membawa hawa sejuk yang menusuk hingga ke balik baju zirah yang dikenakan Yuse Yattama. Di depan gerbang Padepokan Barat, pemuda itu bersiap untuk berpamitan, hendak pulang ke rumah demi bertemu wanita yang melahirkannya—sosok yang wajahnya pasti kini sudah dihiasi guratan waktu.

Sebenarnya, di dalam hatinya, Yuse ingin berangkat sendirian saja. Ia berharap Brisa tetap tinggal di padepokan agar gadis berambut perak itu bisa lebih tenang menyembuhkan luka batin dan trauma masa lalunya yang mendalam. Namun, Brisa bersikukuh tidak mau ditinggalkan. Ia menolak sendirian di tempat sepi itu, dan karena tidak mampu menang berdebat, akhirnya Yuse hanya bisa pasrah membiarkan gadis itu berjalan di sampingnya.

Perjalanan pulang kali ini terasa begitu menenangkan. Mereka melewati hamparan sawah hijau yang luas berundak-undak, sementara pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang di tepi jalan seolah melambai ramah menyambut kepulangan sang ksatria muda. Sepanjang jalan, pikiran Yuse terus melayang. Ia membayangkan bagaimana reaksi ibunya, dan apa yang harus ia katakan saat bersimpuh di hadapan wanita itu setelah sebelas tahun terpisah jauh.

Namun ketenangan itu terpecah saat mereka memasuki sebuah desa kecil di kaki bukit. Dari sudut jalan, mata tajam Yuse menangkap keributan. Seorang pria berwajah beringas sedang memaksa mengambil barang milik warga setempat dengan kasar.

Melihat ketidakadilan di depan matanya, jiwa ksatria di dalam dadanya langsung bergejolak. Tanpa perlu menghunus pedang, dan hanya dengan beberapa gerakan tangan kosong yang cepat dan tepat, Yuse berhasil melumpuhkan dan mengunci pergerakan penjahat itu dalam sekejap.

Ia melepaskan cengkeramannya, lalu menatap pria itu dengan sorot mata yang tenang namun menekan.

"Tangan dan tenagamu terlalu berharga hanya untuk mencuri. Carilah pekerjaan yang jauh lebih terhormat dan halal," ujarnya bijak.

Tanpa menunggu balasan dari pria yang sudah ketakutan itu, Yuse kembali melanjutkan langkah. Di sampingnya, Brisa berjalan diam sambil tersenyum tipis, menatap punggung tegap pemuda itu dengan pandangan yang makin lembut.

Beberapa jam kemudian, langkah kaki Yuse akhirnya terhenti tepat di depan pekarangan yang sangat ia kenal. Di sana, berdiri kokoh rumah kayu sederhana tempat ia dibesarkan, dan di halamannya masih tumbuh pohon besar yang rindang. Di salah satu dahannya, ayunan kayu tua tempat ia bermain semasa kecil masih tergantung kuat, bergoyang pelan ditiup angin.

Setitik air mata haru hampir menetes di sudut matanya. Ia melangkah mendekat dan mengetuk pintu pelan.

"Ibu... aku pulang..." suaranya sedikit bergetar menahan rindu yang sudah menumpuk bertahun-tahun lamanya.

Cklek.

Pintu tua itu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya melangkah keluar. Rambut hitamnya kini mulai diselimuti uban, dan kerutan halus tampak jelas di sudut matanya yang masih terlihat indah. Cyena terpaku di ambang pintu, menatap pemuda tegap yang berdiri di hadapannya seolah tak percaya.

"Y-Yuse...?" bisiknya parau. Bocah kecil yang dulu dilepasnya pergi, kini telah menjelma menjadi ksatria yang gagah dan tampan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuse langsung berlutut dan memeluk erat pinggang ibunya, menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu.

"Iya, Ibu. Ini aku. Anak nakalmu sudah pulang..."

Cyena mengusap lembut rambut putranya, sementara air mata bahagia akhirnya tumpah membasahi pipinya.

"Sebelas tahun lamanya, Yuse... Kamu sudah tumbuh sebesar ini. Ibu selalu menunggumu, setiap hari, setiap malam..."

Yuse mendongak, lalu tersenyum lebar dengan gaya konyol khasnya.

"Tentu saja aku tumbuh besar dan kuat dong, Bu! Tiap hari disuruh menyapu halaman sama Bibi Liana, sampai kepalaku sering jadi sasaran tamparan dia. Itu yang bikin ototku jadi keras begini!"

Cyena seketika terkekeh di sela tangisnya, lalu memukul pelan bahu putranya.

"Dasar anak ini, baru pulang sudah mau mengadukan bibimu. Tapi benar juga... wajahmu jadi lebih tirus dan gagah sekarang."

Pandangan Cyena kemudian beralih ke belakang Yuse, melihat ada sosok gadis cantik berambut perak yang berdiri dengan canggung di dekat pohon besar.

"Ngomong-ngomong... siapa gadis cantik yang bersamamu ini? Kamu belum kenalin sama Ibu lho," tanyanya sambil tersenyum ramah.

Yuse buru-buru berdiri, lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan wajah salah tingkah.

"Eh, iya lupa! Ibu, kenalin ini Yamaika Brisa. Teman seperjalananku waktu ke utara kemarin. Brisa, ini Ibuku."

Brisa melangkah maju dengan anggun, lalu membungkuk hormat dengan sangat sopan.

"Salam kenal, Ibu Cyena. Saya Brisa. Maaf sekali kedatangan saya mendadak dan mengganggu momen indah ibu dan anak ini."

Cyena langsung meraih kedua tangan Brisa dan menggenggamnya hangat.

"Tidak mengganggu sama sekali, Nak. Justru Ibu senang kamu mau ikut pulang sama Yuse. Mari masuk, kebetulan Ibu baru selesai masak sup hangat. Kita makan sambil cerita-cerita ya."

Suasana dingin dan mendung di luar rumah seketika tak terasa lagi, tergantikan oleh kehangatan yang meluap-luap di dalam ruangan kecil itu.

Di meja makan, uap panas masih mengepul dari mangkuk-mangkuk sup yang baru saja dihidangkan. Aroma kaldu rumahan yang sudah sebelas tahun tidak pernah dirasakan Yuse, kini memenuhi ruangan dan membangkitkan selera makannya seketika.

Yuse makan dengan sangat lahap, sesekali bercerita sambil tertawa tentang betapa pahit dan menjijikkannya obat racikan Brisa saat ia terluka dulu, membuat Cyena ikut tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Sementara itu, Brisa duduk di sebelah Yuse, menyantap makanannya dengan sopan sambil sesekali melirik pemuda itu dengan tatapan lembut yang tak disadarinya.

Melihat interaksi mereka berdua, Cyena tersenyum lebar. Ia melihat jelas bagaimana wajah kaku Yuse jadi santai dan ceria saat bersama gadis itu, dan bagaimana sorot mata Brisa selalu mengikuti gerak-gerik anaknya. Tiba-tiba sebuah ide jahil muncul di benak sang ibu.

Ia meletakkan sendoknya pelan, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap mereka berdua bergantian dengan mata berbinar jahat.

"Melihat kalian berdua duduk berdampingan begitu..." ujar Cyena dengan nada sengaja dibuat misterius. "Rasanya rumah ini jadi makin penuh kehangatan. Sepertinya sebentar lagi Ibu bakal dapat kabar bahagia ya... mungkin bakal segera punya cucu juga nih."

"UHUK! UHUKKK!!!"

Yuse yang sedang mengunyah daging langsung tersedak hebat sampai wajahnya memerah padam. Ia terbatuk-batuk panik sambil buru-buru meraih gelas air di sebelahnya.

"I-IBU?! APA YANG IBU BICARAKAN SIH?!" serunya setengah berteriak karena panik, wajahnya sudah merah sampai ke telinga.

Di sampingnya, reaksi Brisa malah lebih bikin tertawa. Mendengar ucapan itu, gadis itu langsung berhenti mengunyah. Ia memonyongkan bibirnya ke depan, lalu menatap Yuse dengan tatapan penuh rasa jijik yang dibuat-buat.

"Cihhh... dasar mimpi siang bolong," gumamnya ketus. Ia memalingkan wajah seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. "Menikah sama ksatria ceroboh yang bahkan nggak bisa nyapu halaman padepokan dengan rapi? Mimpi saja sana. Aku mana mungkin mau sama dia!"

Padahal kalau diperhatikan baik-baik, rona merah samar jelas terlihat menjalar di pipi halus Brisa.

Melihat tingkah Yuse yang panik setengah mati dan Brisa yang pura-pura jijik itu, Cyena malah tertawa lepas sampai bahunya berguncang. Suara tawanya memenuhi ruangan makan kecil itu, penuh rasa puas karena berhasil menjahili anak laki-lakinya di hari pertama kepulangannya.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!