Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Canggung
"Aku sudah berusaha keras buat nafkahin keluarga ini, jagain kamu dan anak-anak," bantah Satura.
Vandini menggeleng kuat, menahan isak tangis. "Kamu nggak peduli sama sekali. Kamu nggak pernah sadar apa yang udah kamu perbuat ke aku, ke keluarga kita."
Keheningan panjang membentang di antara mereka. Vandini sadar saat itu juga, pria ini takkan pernah Sudi untuk minta maaf. Dia hanya ingin Vandini diam dan membiarkan topeng keluarga bahagia itu tetap terpasang, sementara dia berbuat sesuka hati.
...***...
Vandini duduk sendirian di kamar. Masalah ini bukan sekadar soal perselingkuhan atau kebohongan belaka.
Hal yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Satura sama sekali tidak menganggap hal ini penting baginya. Vandini mulai ragu, apakah suaminya itu pernah benar-benar mencintainya?
Yang jelas, Satura tidak pernah menghormatinya. Vandini sadar, selama ini Satura mungkin memandangnya bukan sebagai pasangan, melainkan beban yang harus dipikul. Satura selalu menyepelekan rasa sakit Vandini dan menyalahkannya atas semua masalah. Itu adalah luka terdalam yang tak bisa sembuh begitu saja.
Vandini sadar, jika ia memaafkan, ia harus tetap hidup dengan pria yang menganggapnya tak berarti. Pria yang lebih suka memanipulasi daripada mencintai. Apakah selama ini ia berbagi hidup dengan orang yang tak pernah bahagia memilikinya?
Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya. Vandini mengusap air mata di pipinya. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri yang gemetar.
Satura tidak hanya mengkhianati kepercayaannya, tapi juga menghancurkan harga dirinya. Luka ini jauh lebih dalam daripada sekadar perselingkuhan biasa.
Rasa kecewa itu menembus hingga ke tulang. Segala amarah dan kesedihan yang dipendam akhirnya meluap tak terbendung. Vandini membenamkan wajah ke bantal. Ia harus meredam tangisnya agar anak-anak tidak mendengar dan ikut merasa sedih.
Vandini membuka matanya perlahan. Sesaat pikirannya kosong, namun ingatan itu kembali menghantam dengan keras. Pengkhianatan Satura. Semuanya terbayang jelas, membuat dadanya sesak dan perutnya terasa melilit.
Ia masih berbaring di tempat tidur yang kini terasa sangat luas dan sepi. Keheningan di sekelilingnya terasa begitu mencekam.
Vandini memejamkan mata lagi, berharap bisa menghapus semua kenangan buruk itu. Namun kenyataan tetaplah kenyataan, rumah tangga mereka sudah hancur.
...***...
Satura tidak masuk kamar semalam. Kini Vandini mendengar suara gerakan dari lantai bawah.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu depan terbuka dan tertutup. Satura memilih pergi diam-diam daripada berani menghadapinya.
Vandini menarik selimut hingga ke dagu. Hatinya perih mengingat hal hal indah itu, di mana bangun di samping Satura adalah hal yang paling menenangkan.
Kini yang tersisa hanya tempat tidur kosong dan kenangan pahit. Anak-anak sebentar lagi akan bangun, ia harus segera berpikir jernih. Perlahan Vandini duduk. Kesedihannya perlahan berubah menjadi tekad yang kuat. Ia harus mengendalikan situasi ini demi anak-anaknya.
Tangannya meraih ponsel dan mencari nama Dahlia. Jemarinya sempat ragu sesaat, tapi akhirnya ia menekan tombol panggil.
Telepon berdering dua kali sebelum tersambung. Suara Dahlia terdengar berat dan masih mengantuk.
"Halo, Van. Ada apa?"
Vandini menarik napas panjang, menahan isak tangis agar tidak pecah.
"Lia ... aku nggak baik-baik aja. Aku butuh ngobrol."
Suara Dahlia langsung berubah, rasa kantuknya hilang seketika. "Oke, cerita. Apa yang terjadi?"
Vandini melirik jam dinding, memastikan masih ada waktu sebelum anak-anak masuk. Suaranya terdengar bergetar.
"Soal Satura. Aku tahu ... aku tahu kalau dia selingkuh."
Hening sejenak di sana. Vandini bisa merasakan keterkejutan sahabatnya itu.
"Ya ampun, Van," suara Dahlia terdengar parau. "Astaga ... aku ikut sedih. Aku sama sekali nggak tahu. Kamu gimana?"
Vandini mengusap pelipisnya, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. "Aku juga belum nyampe otak rasanya. Dia semalem nggak masuk kamar. Terus tadi pagi pergi gitu aja tanpa pamit, seolah nggak ada apa-apa."
"Van, kamu butuh apa? Mau aku ke sana sekarang?"
Tawaran itu membuat hati Vandini sedikit terobati. Beruntung ia memiliki sahabat yang selalu ada.
"Mungkin iya. Anak-anak sebentar lagi bangun, dan aku bingung ... aku mau lindungi mereka, tapi nggak tahu harus mulai dari mana."
"Kamu nggak perlu jalanin ini sendirian," sahut Dahlia tegas. "Aku sampai di sana dua puluh menit lagi. Kita pikirin rencananya bareng-bareng, ya?"
Vandini mengangguk pelan, meski Dahlia tak bisa melihatnya. "Makasih ya. Nggak tahu deh aku harus gimana kalau nggak ada kamu."
"Udah, aku di sini buat kamu," jawab Dahlia lembut. "Apa pun yang kamu butuhin, kita hadapin bareng. Aku janji."
Dahlia sangat sigap dan tangguh. Ia mengurus segala keperluan pagi itu dengan sangat luwes.
Vandini merasa sangat berterima kasih. Dahlia membantu Connan memakai sepatu, mengecek bekal, lalu mengantarnya sampai pintu dengan senyum dan pelukan hangat.
Ia juga mengantar Cia ke tempat penitipan menggunakan mobil Vandini. Sebelum berangkat, Dahlia menepuk bahu Vandini pelan sebagai tanda bahwa ia akan segera kembali.
Vandini duduk sendirian di rumah yang kini terasa sunyi itu. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia membiarkan dirinya merasakan kepedihan yang mendalam. Namun, ia berjanji pada diri sendiri bahwa rasa kasihan pada diri sendiri cukup sampai di sini. Ia adalah seorang ibu dan punya pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tidak ada waktu untuk bersedih berlarut-larut. Vandini menarik napas panjang, memendam rasa sakit itu jauh ke dalam hati, lalu mencoba bangkit perlahan.