Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Angin Musim Semi yang Mengusik Telaga Sunyi
Aroma gaharu yang menenangkan mengalir di antara sela-sela pilar giok putih, berpadu dengan kehangatan teh spiritual yang baru saja diseduh. Di sudut aula perjamuan Keluarga Xiao, kepulan asap tipis dari dupa yang terbakar perlahan menipis, menandakan acara utama yang dinanti-nantikan telah tiba.
Langkah kaki yang ringan dan berirama memecah keheningan yang anggun. Dari balik tirai sutra, seorang gadis muda melangkah masuk. Ye Ziyun. Meskipun usianya baru menginjak belasan tahun, siluet tubuhnya mulai menunjukkan keanggunan seorang wanita dari klan agung. Rambut ungu panjangnya terurai indah melampaui pinggang, berkilau layaknya air terjun di bawah sapuan cahaya lampion. Alisnya melengkung halus bak bulan sabit, membingkai sepasang mata jernih yang memancarkan kecerdasan di balik sisa-sisa kepolosan masa kanak-kanak.
Di sudut lain aula, Xiao Xuan duduk dengan tenang. Jemarinya yang ramping mengetuk pinggiran cawan arak secara konstan, menciptakan ketukan pelan yang sarat akan perhitungan. Tatapannya tertuju pada gadis ungu itu—bukan tatapan penuh nafsu yang menggebu, melainkan pandangan tajam seorang pria dewasa yang mengunci buruannya. Selama tetua Keluarga Angin Salju masih menaruh harapan pada masa depan Kota Glory, Ye Ziyun cepat atau lambat akan berjalan masuk ke dalam pelukannya.
*‘Nie Li...’* seulas senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibir Xiao Xuan. *‘Wanita yang gagal kau jaga di kehidupan lalu, kini biarlah aku yang menuntunnya. Duniamu terlalu sempit untuk melindunginya.’*
Seolah merasakan tatapan yang tak biasa, Ye Ziyun membalikkan tubuhnya. Langkahnya yang anggun beralih, berjalan lurus menuju tempat Xiao Xuan duduk. Gadis itu berhenti beberapa langkah di hadapannya, lalu membungkuk sedikit demi memberi salam formal dengan tata krama yang sempurna.
"Salam, Tuan Muda Xiao Xuan," suara Ye Ziyun terdengar renyah, seperti gemerincing lonceng perak di pagi hari. "Bolehkah saya bertanya, apakah Anda adalah Xiao Xuan yang sering diceritakan oleh Kakek? Beliau selalu memuji bahwa Anda memiliki bakat yang tiada taranya, bahkan menyebut Anda sebagai jenius nomor satu di Kota Glory."
Xiao Xuan meletakkan cawan araknya tanpa menimbulkan suara sekecil pun. Dia berdiri, jubah kultivasinya yang berwarna hitam legam berdesir lembut, memancarkan aura ketenangan yang mengintimidasi namun memikat.
"Nona Ziyun, sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu," jawab Xiao Xuan. Suaranya berat dan mengalun tenang, sama sekali tidak menunjukkan kepuasan diri yang berlebihan. "Namun, saya harap Nona tidak terlalu memikirkan julukan 'Jenius Nomor Satu' itu. Di dunia kultivasi yang luas ini, gelar hanyalah kepulan asap yang mudah ditiup angin. Saya hanya seorang pria biasa yang kebetulan melangkah beberapa langkah lebih awal, dan semua yang saya lakukan murni demi masa depan Kota Glory. Kita semua di sini berjalan di jalur yang sama, melangkah bersama untuk menghadapi malam yang panjang."
Kata-katanya yang rendah hati namun sarat akan wibawa itu langsung memicu keheningan sejenak, sebelum akhirnya aula tersebut dipenuhi oleh bisik-bisik pujian dan tepuk tangan meriah dari para tetua klan yang hadir. Di mata mereka, Xiao Xuan bukan lagi sekadar pemuda berbakat, melainkan sosok calon pemimpin yang matang dan bijaksana.
Ye Ziyun menatap Xiao Xuan dengan binar mata yang sedikit berubah. Ada rasa kagum yang tumbuh perlahan di lubuk hatinya.
Sebelum jamuan ini dimulai, Kakek Ye Mo dan Penguasa Kota Ye Zhong telah berbicara secara pribadi dengannya. Pesan yang mereka sampaikan sangat tersirat namun jelas: Xiao Xuan adalah sosok pria yang sempurna untuk menjadi pendamping hidupnya. Petinggi Keluarga Angin Salju menginginkan ikatan yang kokoh melalui pernikahan politik ini. Awalnya, Ziyun merasa ragu. Namun, setelah melihat pembawaan Xiao Xuan yang tenang, dewasa, dan jauh dari kesan arogan seperti pemuda bangsawan lainnya, benteng pertahanannya mulai goyah. Pria di hadapannya ini memang pantas menjadi pelabuhannya.
Sebagai putri klan agung, Ye Ziyun paham bahwa pria seperti Xiao Xuan tidak akan pernah kekurangan wanita di masa depan. Dia tidak naif untuk menuntut kesetiaan tunggal yang konyol di dunia kultivasi. Namun, harga dirinya menetapkan satu batas suci: posisi istri utama di hati Xiao Xuan harus tetap menjadi miliknya, tak boleh diganggu gugat.
Namun, kehangatan atmosfer di antara keduanya mendadak terganggu oleh aroma parfum yang pekat dan tajam. Sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat.
"Kakak Xuan, apa yang sedang kau bicarakan dengan adik kecil ini? Mengapa seru sekali sampai aku tidak diajak?"
Shen Qingqiu tiba-tiba muncul di antara mereka. Suaranya terdengar manis, namun ada penekanan yang dingin pada kata "adik kecil". Tanpa ragu, dia langsung menyusupkan lengannya yang ramping, memeluk lengan kanan Xiao Xuan dengan erat. Matanya menatap Ye Ziyun dengan tatapan menantang, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Sejak malam di mana kekuatannya ditekan habis-habisan oleh Xiao Xuan dalam kontak fisik yang intens waktu itu, keangkuhan Shen Qingqiu sebagai wanita kuat telah runtuh sepenuhnya. Hatinya telah tertambat tanpa syarat pada pria sedingin es ini. Tadi, saat melihat Ye Ziyun mencoba mendekati Xiao Xuan dengan senyuman anggunnya, ada rasa terbakar yang hebat di dada Qingqiu. Dia tidak peduli jika wanita itu adalah putri Keluarga Angin Salju; di matanya, Xiao Xuan adalah miliknya.
Ye Ziyun sedikit mengernyit melihat tindakan agresif itu. Namun, didikan klan agung membuatnya tetap tenang. Alih-alih melepaskan diri atau memaki, Ziyun justru melangkah maju, lalu dengan gerakan yang tak kalah halus, dia meraih lengan kiri Xiao Xuan.
"Kakak Xuan, siapakah saudari ini? Mengapa penampilannya begitu bersemangat? Bukankah seharusnya Kakak memperkenalkannya padaku?" Ye Ziyun berkata dengan nada yang teramat lembut, namun matanya yang berair kini menatap Xiao Xuan dengan tuntutan penjelasan yang tajam.
"Kau yang bermarga Ye, berhentilah berpura-pura polos di depan Kakak Xuan!" Shen Qingqiu mendengus dingin, aura spiritualnya bergejolak tipis hingga membuat suhu di sekitar mereka mendadak turun satu derajat. "Asal kau tahu saja, aku adalah wanita yang akan berdiri di sisinya sebagai istri pertama. Kau yang datang belakangan hanya bisa mengantre di posisi kedua!"
Ye Ziyun tidak mundur satu inci pun. Senyum tipis tetap terpasang di wajahnya yang cantik, meski genggamannya di lengan kiri Xiao Xuan sedikit mengencang. "Saudari, bicaramu sungguh tidak memiliki tata krama. Kakak Xuan bukanlah barang dagangan yang bisa kau klaim sesuka hatimu. Apakah seorang pria sekaliber beliau membutuhkan izinmu untuk menentukan pilihan? Di dunia ini, segala hal harus diraih dengan kelayakan, bukan dengan teriakan yang bising. Bukankah begitu, Kakak Xuan?"
[ **Notifikasi Sistem:** *Cieee... Tuan Rumah kita sedang dijepit di antara dua gunung indah! 🤭 Tarikan di lengan kiri terasa lembut seperti sutra, tarikan di lengan kanan sekencang jerat naga. Bagaimana rasanya menjadi pusat badai, Tuan Besar yang Terhormat? Jangan sampai pinggangmu patah sebelum pertempuran kultivasi yang sesungguhnya dimulai ya! 😎🔥* ]
Xiao Xuan menatap lurus ke depan, mengabaikan suara sarkas di benaknya. Otot-otot wajahnya tetap tenang bak permukaan telaga purba, namun di dalam hatinya, dia hanya bisa menghela napas panjang. Kedua wanita ini sama-sama memiliki pengaruh besar di belakang mereka, dan yang lebih penting, keduanya memiliki tempat tersendiri dalam rencananya ke depan.
Sepanjang sisa jamuan makan malam itu, sudut aula Keluarga Xiao berubah menjadi medan perang tanpa asap. Tatapan mata yang saling beradu bagai percikan api, subteks dialog yang tajam, dan ketegangan yang tak terucapkan terus berlanjut hingga cawan arak terakhir dikosongkan.
Xiao Xuan berdiri diam di tengah-tengah jepitan kedua lengan yang tak mau mengendur sedikit pun. Di satu sisi, situasi ini melelahkan baginya yang menyukai ketenangan; namun di sisi lain, ada kepuasan maskulin yang tipis yang mengalir di balik jubah hitamnya. Bagaimanapun juga, kedua wanita ini adalah aset berharga yang kini mulai menyerahkan hati mereka sepenuhnya ke dalam genggamannya.