Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pertarungan di Arena Latihan
"Bagus sekali." Jawab Tetua Jiajia.
Ning Su menghela napas, kemudian naik menuju arena latihan bersama Qiao Rin. Huang juga naik ke atas arena. Ketiganya saling menangkupkan kedua tangannya.
Murid-murid yang berada di sekitar arena langsung mendekat. Beberapa menghentikan latihan mereka untuk menonton.
"Aku tidak bisa melihat saat kompetisi murid luar dua minggu lalu."
"Kini kesempatan bagus untuk melihat keahlian Huang."
"Apa dia benar-benar sekuat rumor yang beredar?"
"Dia mengalahkan dua orang sekaligus. Sudah pasti kuat."
Yang lainnya mengangguk setuju. Lei Shan menyeringai sambil menyilangkan tangan. Luo Mei berdiri di sampingnya dengan wajah datar seperti biasa.
Tetua Jiajia mengangkat tangannya, lalu mengayunkan ke bawah. "Mulai."
Huang mengeluarkan pedang peraknya dari cincin ruang. Ning Su mengeluarkan pedang tipisnya. Qiao Rin mengeluarkan dua belatinya, bilah-bilah itu berputar pelan di jari-jarinya.
"Langkah Angin." Ucap Ning Su tenang.
Tubuhnya melesat cepat dan muncul di samping Huang dalam satu tarikan napas. Pedangnya menebas horizontal.
"Tebasan Angin Tajam."
Satu energi pedang sangat tipis melesat ke leher Huang. Hampir tidak terlihat oleh mata biasa.
Huang langsung menundukkan kepalanya. Energi pedang itu meleset di atas rambutnya, mengenai tiang arena di belakang dan meninggalkan goresan dalam.
Pada saat yang sama, Qiao Rin muncul dari sisi lain.
"Belati Tusukan Sunyi."
Dua belati menusuk ke arah tenggorokan dan mata Huang secara bersamaan. Gerakannya sangat cepat dan senyap.
Huang langsung menjatuhkan diri ke belakang, berbaring rata di lantai arena. Begitu punggungnya menyentuh batu, ia meraih kaki Qiao Rin dan menariknya cepat dan kuat.
"Heh, apa ini?!" Qiao Rin kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terjatuh menimpa Huang, nyaris sejajar, dengan kedua wajah saling berhadapan.
"Ouhh! Luar biasa!!" Pekik salah satu murid yang menonton.
Namun Huang tidak berhenti. Tanpa ragu ia memukul wajah Qiao Rin dengan tangan kirinya.
Dugh!
"Ugh!" Qiao Rin terlempar ke samping, tubuhnya berguling tiga kali sebelum berhenti.
Murid lain berkomentar dengan suara terkejut.
"Sungguh kejam dirimu, Huang."
"Dia wanita cantik, jangan kejam."
"Nikmati momennya!" seru yang lain.
Huang sudah berdiri kembali. Pikirannya tidak memikirkan apa pun kecuali keselamatan nyawanya sendiri.
Dan benar saja...
Slash!
Sebuah tebasan tajam mengarah ke punggung Huang. Ning Su sudah bergerak tanpa suara.
Huang dengan refleks cepat berbalik dan menangkis pedang Ning Su.
Clang!
Pedang beradu menimbulkan percikan api. Getaran dari benturan itu merambat ke lengan Huang.
Ning Su segera menendang ke arah perut Huang. Huang menghindar ke samping kiri, lalu membalas dengan tendangan telak ke perut Ning Su.
"Ukh!" Ning Su terlempar keras ke belakang.
Huang melesat ingin menyerang lagi. Namun Ning Su segera bangkit meski perutnya masih terasa nyeri. Ia menebaskan pedangnya cepat.
Swish!
Energi pedang tipis melesat cepat menuju Huang.
Huang segera menangkisnya.
DUAR!
Energi itu hancur berantakan, namun satu serpihan kecil melukai bahunya, meninggalkan goresan ringan. Darah tipis mengalir dari sana.
Ning Su segera menggunakan Langkah Angin untuk memperpendek jarak. Tiba-tiba ia sudah berada dekat di depan Huang.
"Tebasan Bersih." Pedangnya mengarah lurus ke dada Huang.
Huang segera menangkisnya.
Trang!
Sementara itu Qiao Rin sudah bangkit. Darah mengalir dari sudut bibirnya akibat pukulan Huang tadi. Wajahnya memerah.
"Huang! Aku akan membunuhmu!"
Ia melesat cepat hingga jaraknya dengan Huang sangat dekat.
"Teknik Bayangan Pembunuh."
Tubuh Qiao Rin terlihat samar sesaat. Kemudian ia seperti berubah menjadi tiga bayangan yang muncul di tiga arah berbeda. Satu bayangan menebaskan belati ke kaki kiri Huang, satu ke kaki kanan. Tubuh aslinya menusuk dari belakang.
Sedangkan di depan Huang, Ning Su sudah menunggu. Pedangnya siap menebas.
Huang menyipitkan matanya. Ia sempat berniat melepaskan gelang-gelang besinya. Namun ia teringat Dhu Yan yang mungkin sedang mengawasi. Ia tidak ingin menunjukkan kekuatannya untuk kedua kalinya.
Huang memutuskan untuk melompat ke belakang.
Saat tubuhnya melayang mundur, Qiao Rin justru sudah menduga gerakan itu. Matanya berkilat dingin.
"Sudah kuduga kau akan melakukan itu."
Ia melompat lebih tinggi, lalu menendang dada Huang dengan kuat.
Bugh!
"Ughk!" Huang terjatuh, punggungnya menghantam lantai batu.
Dengan gerakan terlatih, Qiao Rin langsung menindih tubuh Huang. Kedua belatinya mengarah ke leher. Satu sudah tepat di kulit tenggorokan Huang.
"Aku menyerah." Suara Huang tenang.
Qiao Rin berhenti. Belatinya masih menempel di tenggorokan Huang. Napasnya memburu. Darah dari bibirnya menetes ke lantai arena.
Semua orang terdiam sejenak.
"Selesai?!"
"Huang kalah?"
"Kenapa dia menyerah begitu saja?"
Tetua Jiajia menyipitkan matanya. Luo Mei dan Lei Shan saling berpandangan. Keduanya tidak percaya Huang menyerah semudah itu.
Ning Su mendekat dan membantu Huang bangkit. "Kau tidak apa-apa?"
Huang menggeleng sambil menyentuh tenggorokannya. Ada sedikit goresan di sana.
"Terima kasih, Nona Ning."
Qiao Rin bangkit dari tubuh Huang, lalu mendengus kesal. Ia mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Sialan. Aku hampir berhasil membunuhmu." Dia menatap Huang dengan mata penuh kemarahan. "Itu sebabnya aku membenci laki-laki. Karena mereka sering kali menggunakan trik dalam hal apa pun."
Huang yang telah berdiri tersenyum tipis, tidak peduli dengan celotehan Qiou Rin. Ia menangkupkan kedua tangannya ke arah Ning Su, lalu ke Qiao Rin.
"Terima kasih untuk latihannya. Saya belajar banyak hari ini."
"Humph!" Keduanya mendengus kesal bersamaan, lalu turun dari arena menuju guru mereka.
Begitu sampai di hadapan Tetua Jiajia, wanita itu menatap tajam ke arah Huang.
"Persaingan ini belum berakhir." Suaranya dingin dan penuh kecurigaan. "Kau pasti berpura-pura tidak berdaya. Bahkan belum mengeluarkan teknik gravitasi anehmu itu."
Huang menangkupkan kedua tangannya.
"Maaf jika mengecewakan Tetua. Tapi saya menyerah karena Nona Qiao Rin sangat kuat, dan hampir membunuh saya. Itu sebabnya saya menyerah."
Tetua Jiajia mendengus keras. "Buang-buang waktu saja." Ia berbalik dengan gerakan cepat. "Ayo kita kembali."
Ning Su dan Qiao Rin mengangguk. "Baik, Guru."
Ketiganya pergi meninggalkan arena latihan. Qiao Rin masih sesekali mengusap pipinya yang bengkak.
Huang menggaruk kepalanya. Ia kemudian melompat turun dari arena dan menghampiri Luo Mei.
Lei Shan langsung mendekat. "Kenapa kau menyerah?"
Huang tersenyum tipis. "Seperti yang kakak senior lihat. Saya menyerah karena memang kalah."
Lei Shan menyipitkan matanya. Luo Mei juga menatap Huang dengan ekspresi tidak percaya. Namun keduanya tidak memaksa.
*****
Sementara itu, di sebuah tempat yang cukup tinggi untuk melihat seluruh arena latihan, Dhu Yan berdiri dengan tangan di belakang punggung. Gao Ding dan Jiu Yue berada di sampingnya.
Gao Ding terkekeh pelan. "Sepertinya... dia tahu kalau kau melihatnya, Dhu Yan."
Dhu Yan tersenyum tipis. Matanya masih tertuju pada sosok Huang yang sedang berjalan meninggalkan arena bersama Luo Mei. "Kemungkinan besar iya."
Jiu Yue menyipitkan matanya. "Tadi sebelum masuk arena, dia sempat melihat ke arah sini. Mungkin saat itu dia langsung menyadari keberadaan kita."
Dhu Yan berbalik. Jubahnya berkibar pelan tertiup angin. "Mungkin saja."
Gao Ding menyeringai. "Dia cukup cerdik. Tidak mau menunjukkan seluruh kemampuannya di depanmu lagi. Dan yang membuatku kesal, dia selalu bersembunyi dibalik Lei Shan dan Luo Mei."
"Cepat atau lambat, dia akan kehabisan tempat bersembunyi." Suara Dhu Yan rendah dan dingin. "Dan saat itu terjadi..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun Gao Ding dan Jiu Yue sudah memahami maksudnya.
Dhu Yan mulai berjalan meninggalkan tempat itu. "Pergi. Tidak ada lagi yang bisa dilihat di sini."