"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Friendship
Semua orang yang berada di aula mencoba melihat apa yang terjadi, sedangkan Hawk dan para Guru akademi terkejut melihat Ashura yang menggunakan sihir sama persis dengan apa yang dilakukan Hawk.
"Aku paham maksudmu, Kaira Leywin! Jadi ini alasannya kau pergi ke Xyrus dan membawa anak ini kemari!" ucap Hawk sambil melihat Saga yang terlihat kesusahan melepaskan tangan kanannya diperut Ashura yang membeku.
"Lihat, bukankah itu tubuh sampah itu? Kenapa tubuhnya membeku?" ujar murid yang melihat tubuh Ashura membeku.
"Sihir itu adalah sihir yang hanya bisa digunakan Penyihir Sky atau Emperor!" sahut murid lain yang terkejut.
"Apa ada yang melihat si Ashura itu?" salah satu murid bertanya karena mereka hanya melihat Saga di arena.
"Kemana perginya anak tak berguna itu?"
Semua orang mencari keberadaan Ashura dan hanya Hawk yang menyadarinya.
"Dimana kau? Kau bisa menggunakan sihir dan menipuku ya!" Saga terlihat kesal dan menghancurkan tubuh es Ashura.
"Aku disini!"
Semua orang langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan Ashura yang berada di langit-langit aula.
Yang lebih mengejutkan semua orang adalah sosok Ashura yang berdiri tegak menatap tajam kebawah dan dapat mengontrol mana dengan baik.
Saga yang melihat itu menjadi takjub. Teknik yang dilakukan Ashura hanya bisa dilakukan oleh penyihir yang dapat mengontrol mana nya dengan baik.
"Turun kau, Ashura! Biarkan aku melawanmu!" teriak Saga.
Merasa kesal, Saga melepaskan pukulan api pada Ashura. Tembakan bola-bola api dari tangan Saga menuju Ashura dengan jumlah yang banyak.
Ashura dengan tenang melompat dan terjun kebawah dengan kecepatan tinggi.
"Aku dapat melihat semuanya dengan jelas..."
Saat ini Ashura merasa dirinya sangat tenang, hanya merasakan suara-suara alam dan tidak mendengarkan kebisingan orang-orang yang melihat pertarungannya ataupun teriakan Saga.
Saat tubuhnya hendak jatuh, Ashura memegang kedua pundak Saga dan melompat kebelakang.
"Lepaskan!" Saga memberontak dan kembali takjub saat Ashura berdiri tepat dihadapannya.
"Ashura!" Saga berteriak dan hendak melancarkan serangan.
Namun Ashura bergerak lebih cepat dan memukul perut Saga dengan sangat kuat. Tubuh Saga terpental kebelakang dan langsung tidak sadarkan diri.
Seketika semua orang yang menyaksikan pertarungan itu terdiam. Mereka terlihat tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Saga yang tidak berdaya dan Ashura yang sama sekali tidak terluka.
Melihat itu Hawk langsung memeriksa tubuh Saga.
"Pengawas sekalian, apa ada yang masih tidak setuju jika Ashura Kai menjadi murid akademi?" ucap Hawk setelah memeriksa kondisi Saga.
Semua guru pengawas yang bertugas tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, Penyihir Es..."
Hawk pun tersenyum dan memberikan pose jari jempol tangan pada Ashura.
Sementara itu Ark, satu-satunya dari Klan Vengeance yang masih hidup menatap Ashura tidak percaya.
"Ashura, selamat telah bergabung menjadi murid akademi."
Ashura masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ia merasa ada pemicu sehingga dirinya dapat menggunakan sihir dan melepaskan mana yang sangat padat.
Pertandingan dirinya melawan Ark Vengeance tidak jadi dilanjutkan karena Hawk sudah pergi.
Setelah mengikuti pengenalan lingkungan akademi, Ashura kembali ke rumah yang disediakan Kaira Leywin.
Dalam perjalanan pulang melewati keramaian kota, Ashura melihat beberapa anak yang sedang menikmati makan malam dijalan bersama orang tuanya, ada juga anak-anak yang bermain riang.
Melihat pemandangan itu seketika dada Ashura merasa sesak.
"Perasaan ini lagi..."
Ashura memegang dadanya dan meremasnya seolah-olah ia merasakan kesakitan.
"Ayah, lihat Kakak itu kenapa?"
Ada seorang anak yang lebih muda darinya menunjuk Ashura yang meremas dadanya dan meringkuk ditanah.
"Biarkan, jangan terlibat." Ayah dari anak itu langsung mengajak anaknya pergi.
Ashura segera berlari dan langsung menuju bukit yang dekat dengan rumahnya. Disana Ashura memandang langit malam sendirian dan tanpa ia sadari air matanya menetes saat rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata menusuk hatinya.
Ashura merasa sangat kesepian. Ada hal yang terlewati mengapa dirinya berada di kerajaan ini. Ashura mencoba mengingat semuanya, namun seperti ada tembok tinggi yang menjadi pembatas agar dirinya melupakan masa lalunya.
Hatinya tidak bisa berbohong, rasa sakit dan kesepian yang tidak asing ini membuat Ashura merasa sendirian didunia ini.
Malam adalah hal yang paling Ashura nikmati. Ia bisa melepaskan perasaannya dan bisa melupakan sejenak masalah yang ada.
Saat menatap bintang yang mulai bermunculan diatas sana, itu bukanlah hal yang buruk untuk Ashura.
"Kaira selalu menginginkanku menjadi Raja Sihir, tapi aku bukanlah penduduk kerajaan ini, aku hanyalah seorang anak asing yang diselamatkan..." gumam Ashura pahit mengingat pertemuannya dengan Kaira Leywin.
Saat Ashura hendak memejamkan matanya, ia melihat seekor burung elang berwarna merah menyala. Burung elang itu merupakan burung sihir bernama Elang Api.
"Kaira?" Ashura mengerutkan keningnya saat melihat sebuah jaket berwarna hitam yang dibawa Elang Api.
Elang Api melempar jaket itu kearah Ashura sebelum meledak diudara seperti kembang api. Ashura pun tersenyum karena rasa kesepian ini seperti menghilang untuk sesaat.
Diatas langit malam ada tulisan yang tercipta dari ledakan klon Elang Api.
"Ashura, aku pergi karena ada urusan mendadak. Aku serahkan kerajaan ini padamu seperti halnya aku mempercayakan jaket kesayanganku untukmu."
Ashura tersenyum saat membaca pesan yang ditujukan padanya dari Kaira Leywin.
Akhirnya Ashura memutuskan untuk kembali ke rumah karena besok ia akan kembali ke akademi.
______
Kring... Kring... Kring!!!
Suara alarm menggema di dalam kamar Ashura. Susah payah Ashura mencoba untuk bangun karena ia merasa nyaman baring diatas kasur.
Kring... Kring... Kring!!!
Alarm kembali terdengar setelah jeda sekitar lima menit.
Ashura masih belum terbangun dan parahnya ia malah mencoba memejamkan matanya, namun sebuah batu yang dilempar kearah jendelanya membuatnya terbangun.
"Siapa yang melempari batu kearah jendelaku?" ujar Ashura saat berjalan menuju jendela dan membukanya.
"Woy, Ashura! Bertandinglah denganku! Aku tidak akan mengakui pertandingan yang kemarin!" teriak bocah berambut merah yang sangat berisik dan menyebalkan pikirnya.
"Saga Flameheart..." Ashura terlihat kebingungan dan menggaruk kepalanya.
"Kau bertanding dengan curang!" ujar Saga dan membuat Ashura menutup jendelanya.
Lalu Ashura membuka pintu rumah dan menatap Saga malas.
"Aku sedang istirahat, tahu! Kau mengganggu waktu istirahatku!" Ashura menegur.
"Apa kau lupa kalau hari ini ada kelas latihan sihir untuk pemula?!" Saga mengingatkan dan membuat Ashura langsung berlari menuju kamar mandi.
Setelah mandi, Ashura memakai seragam akademi dan menggunakan jaket pemberian Kaira Leywin.
"Saga, sebaiknya kau juga menjauh dariku. Aku tidak ingin terlibat dengan siapapun." Ashura mengingatkan Saga.
"Ini ambillah dan pergi, aku akan ke akademi sendiri."
Ashura memberikan roti coklat kepada Saga dan langsung berlari menuju akademi setelah mengunci pintu rumah.
"Ayo berangkat bareng!" Saga memakan roti coklat pemberian Ashura dan berlari mengikutinya.
"Kenapa kau mengikutiku?!" Ashura terlihat kesal saat Saga mengejarnya.
"Karena kau adalah temanku!" ujar Saga.
Ashura terkejut mendengar ucapan Saga. Ia baru bertemu dengan Saga kemarin dan mereka belum saling mengenal satu sama lain, bahkan selama ini dirinya tidak memiliki teman dan hanya mengobrol dengan Kaira Leywin.
"Teman?"
"Ya, kau adalah temanku, Ashura. Asal kau tahu, orang yang sudah berkelahi akan menjadi teman. Jadi bertandinglah denganku nanti!"
Ashura tersenyum kecil dan mereka berdua masuk kedalam akademi. Disana sejumlah murid akademi seperti menunggu seseorang didepan gerbang.
"Saga, apa mereka sedang menunggu seseorang?" tanya Ashura karena penasaran.
"Ark menyebalkan itu! Mereka semua sangat mengidolakan pengecut itu!" ujar Saga yang terlihat kesal.
Tak lama Ark muncul dan berjalan santai melewati mereka berdua. Murid laki-laki menyapa Ark dan mereka semua ingin berteman dengan bocah tersebut, sedangkan murid perempuan berteriak karena Ark memang memiliki wajah yang tampan dibandingkan murid akademi yang lain.
Ashura tercengang melihat kejadian barusan, keberadaan dirinya dan Saga seperti tidak dianggap ada oleh murid-murid akademi.
Merasa kesal diperlakukan demikian dan tidak mendapatkan perlakuan yang sama, Saga berlari kearah Ark dan menantangnya bertarung.
"Ark, bertarunglah denganku!"
Melihat sikap Saga yang demikian, Ashura menghela nafas dan berpikir jika setiap orang yang Saga temui akan diajak untuk bertarung.
Sedangkan Ark terlihat sangat terganggu dengan tindakan Saga dan menatapnya sinis.
"Minggir, pecundang! Aku tidak tertarik denganmu!"
"Apa kau takut bertarung denganku, Ark?!"
Mendengar sindiran Saga membuat Ark melayangkan tinju tepat diwajahnya. Saga pun tersungkur ditanah tanpa memberikan perlawanan dan memegang pipinya yang kesakitan.
"Sialan Ark! Sakit!" Saga meringis dan kembali mengejar Ark.
Keributan itu berhenti saat seorang gadis berumur dua puluhan tahun datang menegur. Gadis itu adalah anak dari Kepala Akademi Sihir.
"Guru kalian sedang pergi semua jadi aku yang akan menggantikan mereka dan menghajar kalian!" ujar gadis tersebut.
"Menghajar?"
Semua murid akademi terkejut dan menatap heran gadis yang bernama Serlin Migesta.
Serlin Migesta menatap tajam semua murid yang berjumlah sekitar 300 orang dan melepaskan energi sihir yang cukup besar.
Mana disekitar Serlin Migesta berhembus kencang dan berubah menjadi angin yang membuat beberapa murid akademi terhempas.
"Siapa yang tidak dapat bertahan selama satu jam menghadapi tekanan ini, maka orang itu akan dikeluarkan dari akademi!" teriak Serlin dan membuat semua murid akademi panik.
Tanpa mereka semua sadari, Serlin melakukan pelatihan pada murid akademi tanpa ijin Kepala Akademi Sihir.
Ashura terlihat dapat bertahan menghadapi hembusan angin yang kencang itu. Tekanan yang menerpa badan mereka terasa berat, namun Ashura dapat mengatasinya begitu pula dengan Ark, Saga dan beberapa murid lainnya.
Melihat banyak murid yang dapat bertahan, Serlin pun tersenyum lebar sebelum ia melepaskan mana yang lebih besar dari sebelumnya.
"Aku akan memilih yang terbaik dan bukan seorang pecundang!"
Saat itu juga hampir seratus orang lebih tidak dapat bertahan menghadapi tekanan mana yang dilepaskan Serlin.
Pelatihan Serlin Migesta pun dimulai!