Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cahaya matahari pagi Jakarta yang menerobos malu-malu dari balik celah tirai tebal *Presidential Suite* menjadi hal pertama yang menyapa kesadaranku. Aku mengerjapkan mata perlahan, mencoba mengumpulkan nyawa yang rasanya masih tertinggal di alam mimpi akibat kelelahan luar biasa semalam.
Sensasi pertama yang kurasakan adalah kehangatan luar biasa yang mengungkung seluruh tubuhku. Bau *mint* bercampur kayu cendana yang sangat familier menginvasi indra penciumanku. Saat aku mendongak sedikit, pemandangan yang tersaji di depan mataku sukses membuat sistem pernapasku mendadak berhenti berfungsi selama beberapa detik.
Arkan Mahendra, sang CEO arogan yang biasanya selalu tampil dengan setelan jas rapi berharga puluhan juta dan wajah kaku bak kanebo kering, kini sedang tertidur lelap tepat di depan wajahku.
Jarak kami hanya terpaut beberapa sentimeter. Lengannya yang kokoh melingkar erat di pinggangku, menahan tubuhku agar tetap menempel pada dada bidangnya. Wajah tidurnya terlihat begitu damai, tanpa kerutan frustrasi di dahi atau kilat tajam di mata elangnya. Bulu matanya ternyata lumayan lentik untuk ukuran seorang pria, dan embusan napasnya yang teratur menyapu ujung hidungku, memberikan sensasi geli yang membuat perutku dipenuhi ribuan kupu-kupu imajiner.
"Sudah selesai menghitung jumlah bulu mata saya, Manajer Naura?"
Suara bariton serak khas bangun tidur itu tiba-tiba mengalun rendah, memecah keheningan pagi.
Aku terkesiap, nyaris terjungkal ke belakang kalau saja lengan besarnya tidak menahanku. Mata elang itu perlahan terbuka, menatap lurus ke dalam mataku dengan kilatan jahil yang membuat wajahku seketika terasa seperti baru saja dipanggang di dalam oven bersuhu dua ratus derajat Celsius.
"S-siapa yang menghitung bulu matamu?!" elakku cepat, berusaha melepaskan diri dari pelukannya namun gagal total. "Aku cuma... mengecek apakah Mas Bos masih bernapas atau tidak setelah kelelahan menyalami ratusan tamu semalam!"
Arkan mendengus geli. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyum asimetris yang luar biasa tampan. "Alasan yang sangat tidak logis. Kamu bisa merasakan detak jantung saya menabrak dadamu sejak tadi, Naura." Dia justru semakin menarikku mendekat, menyurukkan wajahnya ke ceruk leherku. "Pagi, Istriku."
Jantungku beneran mau meledak rasanya. Tiga kata itu diucapkan dengan nada yang sangat ringan, namun memiliki efek destruktif berskala besar bagi pertahanan gengsiku. Aku menggigit bibir bawahku, menahan senyum lebar yang memaksa ingin keluar.
Selama beberapa menit, kami hanya berdiam diri dalam pelukan hangat itu, menikmati pagi pertama kami sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya. Tidak ada dokumen yang harus direvisi, tidak ada ancaman pemotongan bonus, dan tidak ada rapat direksi. Hanya ada aku dan dia.
Namun, tentu saja, semesta dan penulis skenario hidup kami tidak akan membiarkan masa damai ini bertahan lebih dari lima belas menit.
*Ting tong! Ting tong! Ting tong!*
Bel pintu *Presidential Suite* berbunyi brutal tanpa jeda, seolah orang di luar sana sedang dikejar oleh dinosaurus kelaparan.
Arkan mengerang frustrasi. Dia mengangkat wajahnya dari leherku, menatap pintu ganda di ujung ruangan dengan aura membunuh tingkat dewa. "Siapa pun idiot yang berani mengganggu saya pagi ini, akan saya pastikan dia bekerja di cabang terpencil di Antartika besok pagi."
Dengan langkah gontai dan wajah ditekuk menyerupai kertas kusut, Arkan turun dari ranjang, mengenakan jubah mandi putihnya asal-asalan, lalu berjalan menuju pintu. Aku buru-buru merapikan rambutku yang berantakan dan duduk bersandar di kepala ranjang, menarik selimut menutupi piama satinku.
Begitu pintu terbuka, suara yang sangat kukenal langsung menggema memenuhi ruangan.
"SELAMAT PAGI, PENGANTIN BARU! WAKTU BERMUKA-MUKAAN DI KASUR SUDAH HABIS!"
Itu suara Hadi. Tapi dia tidak sendirian. Hadi berdiri di ambang pintu, tampak gemetar ketakutan, sambil memegang sebuah papan tulis putih berukuran sedang. Di papan itu tertulis jadwal dengan spidol merah menyala.
Arkan bersedekap dada, menatap asistennya dengan tatapan mematikan. "Hadi. Beri saya satu alasan logis kenapa saya tidak boleh melemparmu dari balkon lantai lima puluh ini sekarang juga."
"M-mohon ampun, Pak Arkan! S-saya hanya menjalankan titah langsung dari Yang Mulia Pak Surya!" Hadi menunduk dalam-dalam, menyerahkan selembar kertas berstempel keluarga Mahendra. "Beliau memberikan instruksi khusus untuk hari pertama bulan madu kalian."
Aku turun dari ranjang dan berjalan menghampiri mereka. "Instruksi khusus apa, Hadi?"
Hadi berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Pak Surya berpesan, karena Bapak dan Ibu sudah resmi menikah, maka tingkat produktivitas untuk menghasilkan pewaris Mahardika Group harus ditingkatkan sebesar dua ratus persen. Oleh karena itu, beliau menyusun 'Jadwal Kelinci' untuk hari ini."
"Jadwal Kelinci?!" pekikku dan Arkan berbarengan.
"B-benar, Bu. Kelinci kan terkenal... cepat berkembang biak," cicit Hadi dengan wajah memerah. "Pukul delapan pagi ini, kalian memiliki jadwal *Couple Acro-Yoga* untuk melenturkan otot dan membangun *chemistry* fisik. Pukul sepuluh, kelas membuat tembikar tanah liat berdua ala film *Ghost*. Dan pukul dua belas, makan siang dengan menu khusus yang mengandung bahan... eh... afrodisiak."
Rahang Arkan mengeras hingga urat di pelipisnya terlihat jelas. "Telepon Papa sekarang. Katakan padanya saya membatalkan semua jadwal konyol ini."
"Tidak bisa, Pak!" Hadi panik. "Pak Surya mengancam, kalau Bapak dan Ibu berani bolos satu jadwal saja, beliau akan merombak seluruh ruang kerja pribadi Bapak di kantor menjadi kamar *nursery* bayi bernuansa *pink* mencolok lengkap dengan kerincingan bayi yang digantung di atas kursi direktur!"
Aku menutup mulutku rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga menahan tawa yang nyaris meledak melihat wajah horor Arkan. Membayangkan ruang kerja CEO yang serba hitam, elegan, dan menakutkan itu diubah menjadi taman bermain Teletubbies bernuansa *pink* adalah komedi tingkat tinggi.
Arkan menoleh padaku, melihat bahuku yang bergetar menahan tawa. Mata elangnya menyipit. "Kamu pikir ini lucu, Manajer Naura? Kita akan disiksa seharian oleh instruktur senam."
"Anggap saja ini *team building*, Pak CEO. Hitung-hitung olahraga pagi gratis," balasku sambil menepuk lengannya geli. "Toh, gengsimu tidak akan runtuh hanya karena ikut kelas yoga, kan?"
Karena ancaman dekorasi *pink* itu terlalu menakutkan bagi citra seorang Arkan Mahendra, kami akhirnya menyerah kalah.
Setengah jam kemudian, ruang tamu *Presidential Suite* yang luas telah disulap menjadi studio yoga dadakan. Aku mengenakan pakaian olahraga *legging* hitam dan atasan *sport bra* berlapis *tank top*, sementara Arkan mengenakan celana *training* dan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan pahatan otot lengannya yang sempurna. Jujur saja, melihatnya dalam pakaian santai seperti ini sangat menguji iman.
Pintu kembali diketuk, dan masuklah seorang pria bertubuh lentur, berambut gondrong yang diikat rapi, dan mengenakan pakaian yoga yang sangat ketat.
"Namaste. Saya Mas Cakra, instruktur khusus yang diutus oleh Bapak Surya untuk membimbing penyatuan energi chakra kalian hari ini," sapa instruktur itu dengan suara mendayu-dayu yang sangat kelewat santai.
Arkan menatap Mas Cakra dari atas ke bawah, lalu mendengus sinis. "Saya tidak peduli soal chakra. Lakukan dengan cepat dan jangan buang waktu saya."
Mas Cakra tersenyum maklum. "Energi maskulin Bapak sangat kaku. Mari kita mulai dengan pemanasan. Mbak Naura, silakan berdiri di depan. Bapak Arkan, di belakang Mbak Naura."
Aku menuruti instruksi Mas Cakra. Pria gondrong itu kemudian berjalan mendekatiku. "Baik, Mbak Naura, sekarang rentangkan tangan, saya akan bantu membetulkan postur pinggang—"
Belum sempat ujung jari Mas Cakra menyentuh kausku, sebuah tangan besar sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya di udara. Arkan berdiri menjulang di belakangku, menatap Mas Cakra dengan tatapan predator yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
"Tangan Anda, Mas Cakra yang terhormat," desis Arkan tajam, aura dinginnya seketika membuat suhu ruangan anjlok. "Jika Anda berani menyentuh sehelai rambut pun dari istri saya, saya akan memastikan Anda tidak bisa melakukan pose teratai seumur hidup Anda."
Mas Cakra meneguk ludah, langsung mundur tiga langkah besar. "B-baik, Pak! S-saya hanya akan memberi instruksi verbal dari kejauhan! D-dari sudut ruangan sebelah sana!"
Aku menghela napas, mencubit pelan lengan Arkan. "Mas Bos, jangan mengintimidasi instruktur kita. Nanti Papa Surya marah."
"Saya hanya melindungi aset properti saya," kilah Arkan posesif, melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang. "Lanjutkan instruksinya, Cakra. Dari situ saja."
Sesi yoga berlanjut menjadi komedi fisik yang menguras tenaga dan emosi. Mas Cakra menginstruksikan kami melakukan *Acro-Yoga*, di mana Arkan harus berbaring di matras, mengangkat kakinya ke atas, dan aku harus menyeimbangkan tubuhku di atas telapak kakinya layaknya pesawat terbang.
"Baik, sekarang rasakan energinya! Mbak Naura, condongkan badan ke depan, rentangkan tangan! Pak Arkan, tahan pinggul istrinya dengan kaki Anda, jangan sampai jatuh! Biarkan cinta kalian menjadi gravitasi!" seru Mas Cakra menyemangati dari sudut ruangan sambil menangkupkan tangan di dada.
Aku berusaha menjaga keseimbangan di atas kaki Arkan yang terangkat lurus. Tubuhku melayang di udara, menghadap tepat ke wajahnya yang ada di bawahku. Jujur saja, ini mengerikan!
"Arkan! Kakimu jangan goyang-goyang! Aku bisa jatuh menabrak wajahmu!" jeritku panik sambil merentangkan tangan layaknya burung yang kehilangan arah angin.
"Kaki saya tidak goyang, otot perutmu saja yang terlalu lemah, Naura! Makanya jangan kebanyakan makan mi instan saat lembur!" balas Arkan dari bawah sana, meski tangannya kini terulur bersiap menangkapku jika aku benar-benar merosot.
"Enak saja! Ini karena ukuran sepatumu terlalu besar, tahu!" omelku.
Saking sibuknya kami berdebat soal mi instan dan ukuran sepatu, konsentrasiku buyar. Keseimbanganku oleng ke depan.
"Kyaaa!"
Aku meluncur jatuh tepat ke atas tubuhnya. Arkan dengan sigap melipat kakinya dan menangkap tubuhku dengan kedua tangannya yang kokoh. Bunyi gedebuk pelan terdengar saat tubuhku mendarat sempurna di atas dada bidangnya yang keras.
Napas kami berdua memburu. Hening seketika menyergap.
Posisiku sekarang benar-benar mengompromikan detak jantung. Aku berada tepat di atas tubuhnya, wajah kami hanya berjarak beberapa milimeter. Aku bisa melihat pantulan diriku yang berantakan di dalam sepasang mata elangnya yang kini menggelap. Tangannya yang besar memeluk pinggangku dengan posesif, seolah tidak ingin melepaskanku sama sekali.
Napas hangatnya yang beraroma *mint* kembali menyapu wajahku. Dada bidangnya naik turun dengan cepat di bawahku.
"L-luar biasa!" Suara Mas Cakra memecah momen magis kami. Instruktur itu bertepuk tangan dengan mata berbinar-binar haru. "Pose *Fallen Angel* yang dimodifikasi dengan sangat sempurna! Penyatuan energi chakra kalian benar-benar harmonis dan penuh gairah! *Chemistry*-nya meledak-ledak!"
Arkan memalingkan wajahnya sejenak, menggeram kesal karena momennya dirusak. Dia menatap Mas Cakra dengan tajam.
"Sesi selesai," ucap Arkan telak.
"T-tapi Pak, kita belum pendinginan—"
"Saya bilang selesai," potong Arkan dengan nada bariton mutlaknya yang tak terbantahkan. "Keluar dari kamar ini sekarang juga, Cakra. Beri tahu Papa Surya bahwa saya sudah menyelesaikan jadwal konyolnya, dan sisa hari ini adalah hak prerogatif saya sebagai seorang suami."
Melihat kilat bahaya di mata sang CEO, Mas Cakra buru-buru menggulung matrasnya sendiri dengan kecepatan cahaya. "N-namaste, Bapak, Ibu! S-semoga sukses membuat pewarisnya!" pekiknya sebelum berlari keluar dan membanting pintu kamar hotel.
Tinggallah kami berdua yang masih dalam posisi terkunci di atas matras. Aku mencoba menyingkir, tiba-tiba merasa sangat canggung, tapi tangan Arkan di pinggangku menahan pergerakanku.
"Mau ke mana?" tanyanya rendah.
"M-mau mandi. Badanku lengket karena keringat," cicitku beralasan, tidak berani menatap bibirnya yang terlihat sangat menggoda.
"Jadwal Kelinci dari Papa Surya mungkin sudah selesai," Arkan tersenyum miring, sebuah senyuman berbahaya yang selalu berhasil meluluhkan seluruh pertahananku. Tangan kanannya terangkat, menyelipkan anak rambut yang menempel di pipiku yang berkeringat. "Tapi jadwal dari saya baru saja dimulai, Manajer Naura."
Aku menelan ludah. "T-tapi kelas membuat tembikar—"
"Persetan dengan tembikar," potongnya lembut. Dengan satu gerakan cepat yang tidak terprediksi, Arkan membalikkan posisi kami, membuatku kini berada di bawah kungkungan tubuh besarnya di atas matras yoga.
Mata elangnya menatapku lekat-lekat, menelanjangi segala keraguan dan gengsi yang selama ini membelenggu kami berdua. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Valerie, dan tidak ada lagi batasan guling stroberi.
"Kamu resmi menjadi milik saya hari ini, besok, dan seterusnya. Paham?" bisiknya tepat di depan bibirku, tidak memberikan ruang bagiku untuk bernapas selain menghirup oksigen yang sama dengannya.