NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Zivara melangkah cepat meninggalkan koridor kampus, berusaha mengabaikan tatapan berbisa yang baru saja dilayangkan Luna padanya. Namun, baru beberapa meter ia berjalan menuju gerbang, sebuah tarikan kuat di pergelangan tangannya memaksa ia berputar.

"Ikut aku," suara berat Kaizar memecah udara, dingin dan tak terbantahkan.

Tanpa menunggu persetujuan, Kaizar menarik Zivara menuju Range Rover hitamnya yang terparkir angkuh di bahu jalan. Zivara mencoba meronta, jemarinya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kaizar yang terasa seperti borgol besi.

"Lepaskan, Kak! Apa yang kamu lakukan?" desis Zivara, suaranya tertahan karena tidak ingin menjadi tontonan mahasiswa lain yang mulai berlalu-lalang.

Kaizar tidak menggubris. Ia membuka pintu penumpang dengan satu tangan dan separuh memaksa Zivara masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma maskulin itu. Begitu pintu tertutup dan terkunci secara otomatis, Kaizar memutari mobil dan duduk di kursi kemudi dengan napas yang sedikit memburu.

"Kamu harus pulang denganku. Titik," ucap Kaizar sembari menghidupkan mesin.

Zivara menyandarkan punggungnya, dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap.

"Apa kamu sudah gila? Kamu baru saja meninggalkan kekasihmu di kantin demi menyeretku ke sini," ujarnya dengan nada penuh penekanan. "Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Luna kalau melihat ini? Aku tidak sudi hidup dalam pusaran kesalahpahaman hubungan orang lain, Kak!"

Kaizar menjalankan mobilnya dengan tenang, membelah kemacetan sore Kota Bandung yang mulai merayap. Satu tangannya berada di kemudi, sementara mata tajamnya fokus ke depan.

"Aku akan menjelaskannya pada Luna nanti. Itu urusanku, bukan urusanmu," jawabnya santai.

Zivara membuang muka ke arah jendela, menatap deretan toko di sepanjang Jalan Setiabudi yang mulai menyalakan lampu.

"Menjelaskan apa? Bahwa kamu harus menjaga tetangga barumu seperti seorang pengawal?" Zivara terkekeh hambar. "Apa kamu pikir dia akan mengerti? Apa dia akan paham kenapa pacarnya lebih memilih mengantar gadis lain pulang daripada menghabiskan waktu bersamanya?"

Mobil berhenti sejenak karena lampu merah. Kaizar memanfaatkan momen itu untuk memutar tubuhnya, menatap Zivara dengan intensitas yang seolah mampu menembus pertahanan gadis itu.

"Kenapa kamu begitu peduli soal Luna?" tanya Kaizar, suaranya merendah, nyaris berbisik. "Apa kamu cemburu, Zivara?"

Zivara terpaku sejenak, namun segera menguasai diri. Ia membalas tatapan itu dengan keberanian yang sama besarnya.

"Kalau kamu memang cemburu," lanjut Kaizar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang provokatif, "aku bisa memutuskan hubunganku dengan Luna sekarang juga. Hanya untukmu."

Hening menyergap kabin mobil itu. Zivara tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria yang dulu begitu memuja Luna di atas segalanya. Detik berikutnya, tawa sinis keluar dari bibir Zivara.

"Memutuskan Luna demi aku?" Zivara menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Kaizar dengan sorot mata penuh ejekan. "Mungkin tawaran itu hanya laku di dalam mimpimu, Kak. Jangan jadikan aku alasan untuk lari dari komitmenmu sendiri. Aku tidak tertarik menjadi pelarian, apalagi menjadi pusat duniamu."

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Kaizar justru tidak menunjukkan kemarahan. Alih-alih tersinggung, ia malah tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar tulus namun menyimpan teka-teki. Ia kembali menjalankan mobil saat lampu berubah hijau, dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajah tampannya.

Baginya, perlawanan Zivara jauh lebih menarik daripada kepatuhan siapa pun yang pernah ia temui.

* *

Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang berbeda. Kaizar tampak dalam suasana hati yang sangat baik, sementara Zivara merasa ada sesuatu yang salah dengan timeline ini.

Tiba-tiba, ponsel Zivara bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup angkatan DKV yang berisi informasi mendadak. Wajah Zivara seketika memucat saat membaca baris kalimat di layar ponselnya.

"Ada apa?" tanya Kaizar, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Zivara.

Zivara menatap Kaizar dengan tangan yang sedikit gemetar. "Dosen baru untuk mata kuliah sejarah seni semester depan... namanya sudah keluar."

"Lalu?" Kaizar mengernyit bingung.

"Namanya... Adrian Marcelino," bisik Zivara nyaris tak terdengar.

Mendengar nama itu, Kaizar mendadak menginjak rem dengan keras. Wajahnya yang tadi ceria seketika berubah menjadi sangat gelap, seolah baru saja mendengar nama musuh bebuyutannya.

Zivara mematung. Ia ingat betul siapa Adrian Marcelino. Pria itu adalah alasan utama kenapa di kehidupan masa depannya, Kaizar berubah menjadi monster yang penuh rasa curiga dan obsesif.

"Bagaimana mungkin dia muncul sepuluh tahun lebih awal?" batin Zivara berteriak dalam kepanikan. Takdir tidak hanya berbelok, takdir sedang mencoba menjatuhkannya kembali ke dalam jurang yang sama.

* *

Luna berdiri mematung di pinggir jalan, menatap kosong ke arah kepulan asap knalpot Range Rover hitam milik Kaizar yang perlahan menghilang di balik gerbang utama. Genggaman tangannya pada tali tas bermerek miliknya mengerat hingga buku jarinya memutih.

Pemandangan tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Kaizar—pria yang selama ini hanya memiliki mata untuknya—baru saja menarik paksa seorang gadis ke dalam mobil dan mengabaikannya begitu saja di kantin. Kemarahan dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu, menciptakan lubang besar di ulu hatinya.

"Siapa sebenarnya gadis itu?" bisik Luna pada angin sore yang mulai mendingin.

Di matanya, Zivara Arthea hanyalah mahasiswa DKV biasa yang terlihat polos, bahkan cenderung membosankan. Akan tetapi, cara Kaizar menatap gadis itu tadi... ada kemarahan yang berbeda, sebuah intensitas yang belum pernah Luna lihat sebelumnya. Rasa cemburu mulai membakar kewarasan Luna, merayap perlahan dan membisikkan ketakutan bahwa posisinya sebagai ratu di hati Kaizar sedang terancam.

Luna mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Ia tidak boleh terlihat kacau di depan umum. Ia adalah Luna, mahasiswi musik berprestasi yang selalu dipuja. Mana mungkin Kaizar berpaling pada gadis "kemarin sore" seperti Zivara?

Tepat saat ia hendak melangkah menuju area parkir, ponsel di saku gaunnya bergetar panjang. Layar ponsel itu tidak menunjukkan nama, hanya deretan angka asing yang tidak ia kenali.

Luna mengernyitkan dahi sejenak sebelum menggeser ikon hijau. "Halo?" sapanya dengan nada ketus, sisa dari kekesalannya pada Kaizar masih terasa jelas di suaranya.

Hening menyelimuti seberang telepon selama beberapa detik, hanya terdengar suara deru angin yang samar.

"Lama tidak terdengar suaranya, Luna. Kamu masih semanis dulu, bahkan saat sedang marah," sebuah suara bariton yang berat dan tenang menyahut dari seberang sana.

Darah Luna seketika terasa berhenti mengalir. Kakinya melemas, memaksa ia harus bersandar pada pilar beton di dekatnya agar tidak terjatuh. Suara itu... suara yang seharusnya sudah terkubur bersama kenangan pahit yang ia tinggalkan di luar negeri beberapa tahun lalu.

"Ad... Adrian?" gumam Luna, suaranya bergetar hebat karena tidak percaya.

"Senang kamu masih mengenali suaraku," sahut pria itu, terdengar seringai tipis di balik nadanya yang dingin. "Aku dengar Bandung sedang cantik-cantiknya musim ini. Dan aku pikir, ini waktu yang tepat untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."

Jantung Luna berdegup kencang, kali ini bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan yang nyata. Adrian Marcelino—pria yang pernah menjadi bagian gelap dalam sejarah hidupnya—kini kembali di saat hubungannya dengan Kaizar sedang di ujung tanduk.

* * *

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!