NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: PERTEMUAN TAK SENGAJA DI JALAN

Bab 20: Pertemuan Tak Sengaja di Jalan

Angin malam bertiup cukup kencang, menembus rajutan jaket denim usang yang dikenakan oleh Revanza. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh malam. Jalanan ibu kota tidak lagi sepadat siang hari, namun deretan lampu jalanan dan papan reklame besar masih menyala terang, memantulkan cahaya warna-warni di atas aspal yang tampak menghitam. Revan mengendarai motor matic-nya dengan kecepatan sedang, membelah keheningan malam setelah menghabiskan waktu berjam-jam bergelut dengan obeng, kunci pas, dan oli bekas di bengkel Cak To.

Kedua lengannya terasa agak pegal, dan telapak tangannya yang mulai mengeras akibat kerja kasar berdenyut ritmis. Namun, ada semacam rasa tenang yang aneh setiap kali ia memandangi jalanan malam yang sepi seperti ini. Di jalanan, tidak ada yang menuntutnya menjadi genius. Di jalanan, dia bebas dari bayangan kesempurnaan seorang Arkael Dirgantara.

Motor Revan perlahan melambat ketika lampu lalu lintas di persimpangan jalan besar berubah warna menjadi kuning, lalu memerah. Ia menghentikan motornya tepat di belakang garis putih, menurunkan kedua kakinya ke aspal, lalu menghela napas panjang untuk mengusir penat yang bergelayut di pundaknya.

Saat itulah, pandangan mata Revan secara tidak sengaja tertuju pada sebuah mobil minibus tua berwarna abu-abu metalik yang berhenti tepat di sebelah kanannya, hanya berjarak dua meter dari posisi motornya berada.

Jantung Revan mendadak berdegup lebih kencang. Ia sangat mengenali nomor pelat mobil itu. Itu mobil Ayah.

Secara refleks, Revan sedikit menurunkan kaca helmnya, agak menyampingkan tubuhnya agar tidak terlihat dari kaca spion mobil tersebut. Melalui kaca jendela samping mobil yang tidak tertutup penuh—hanya menyisakan celah sekitar lima sentimeter—Revan bisa melihat dengan sangat jelas sosok pria yang berada di balik kemudi.

Itu memang Ayah.

Namun, penampilan Ayah malam itu membuat Revan sempat tertegun selama beberapa detik. Lampu jalanan yang menyorot langsung ke dalam kabin mobil memperlihatkan wajah Ayah yang luar biasa kuyu. Pria paruh baya yang biasanya selalu duduk tegak dan tampak berwibawa itu kini terlihat sangat layu. Bahunya merosot dalam. Kemeja kerjanya berkerut-kerut di bagian lengan, dan dasinya sudah dilepas asal, menggantung longgar di lehernya.

Revan memperhatikan bagaimana Ayah memejamkan matanya rapat-rapat saat mobil berhenti. Tangan kanan Ayah tampak memegangi pelipisnya, memijatnya dengan gerakan memutar yang lambat, seolah-olah kepalanya sedang dihantam oleh rasa pening yang teramat sangat luar biasa. Tak berselang lama, Ayah melepaskan tangannya dari kepala, lalu memindahkan telapak tangannya yang gemetar untuk mencengkeram erat lingkar kemudi, menyandarkan keningnya di atas sana selama beberapa saat sembari mengembuskan napas yang terdengar sangat berat dan letih.

Dari celah kaca yang terbuka, sayup-sayup Revan bahkan bisa mendengar suara batuk Ayah yang terdengar kering dan tertahan. Pria itu tampak mengusap dadanya sendiri beberapa kali, mencoba menghalau rasa tidak nyaman yang mendera fisiknya setelah seharian penuh banting tulang di kantor.

Menyaksikan pemandangan itu, ada sebentuk perasaan asing yang mendadak mencubit sudut hati Revan. Ada rasa iba yang sempat terbersit melihat sang Ayah yang tampak begitu rapuh dan menua dalam waktu singkat.

Namun, sedetik kemudian, iblis di dalam kepala Revan kembali berbisik dengan sangat kejam. Kabut kesalahpahaman dan luka batin yang telanjur mengkristal di dada Revan sejak malam tamparan itu langsung menghancurkan rasa iba tersebut tanpa sisa. Filter kebencian remajanya kembali bekerja dengan sangat aktif.

Kenapa gue harus kasihan sama dia? batin Revan, sepasang matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Dia lemes begitu paling juga gara-gara habis keliling kota nyari obat pesenan si anak emas. Atau mungkin dia habis lembur gila-gilaan demi dapet bonus buat bayar biaya kuliah Arka yang mahal. Semua kerja keras yang dia lakuin kan emang cuma buat Arka, bukan buat gue.

Revan mendengus hambar di balik helmnya. Rasa panas akibat ego yang terluka kembali membakar dadanya. Ia teringat bagaimana Ayah selalu membentaknya, membandingkan peringkat sekolahnya, dan bagaimana Ayah tidak pernah sekalipun menatapnya dengan binar kebanggaan yang sama seperti saat memandangi Arka.

Palingan dia lagi buru-buru pulang ke rumah sekarang, kutuk Revan di dalam hati dengan sangat sinis, memalingkan wajahnya lurus ke arah lampu lalu lintas di depan, menolak untuk memandangi mobil Ayahnya lagi. Buru-buru pulang karena takut anak emas kesayangannya kesepian di kamar. Takut gak ada yang nemenin si jenius itu makan semur daging buatan Ibu. Lucu banget ya, demi Arka, dia rela secapek itu. Tapi waktu gue minta sepatu baru, alasannya selalu gak ada uang.

Revan tidak pernah tahu—dan semesta sedang menatap mereka berdua dengan pandangan yang teramat sangat memilukan—bahwa spekulasi di dalam kepalanya salah total. Ayah malam itu tidak sedang buru-buru pulang demi memanjakan Arka. Ayah baru saja keluar dari kantor cabang kedua tempat beliau mengambil kerja sampingan rahasia. Ayah memijat kepalanya karena tekanan darahnya mulai tidak stabil akibat kurang tidur berminggu-minggu, dan beliau mengusap dadanya karena jantungnya sudah mulai memberikan sinyal-sinyal kelelahan akut. Semua rasa sakit fisik itu Ayah tetiiskan demi mengumpulkan uang receh demi uang receh, agar tagihan rumah sakit Arka bisa terbayar dan agar ada sedikit uang yang bisa dititipkan lewat Miko untuk membiayai hidup Revan di luar rumah.

Ayah berjuang mati-matian untuk mempertahankan kedua anaknya agar tetap memiliki masa depan, namun anak bungsunya saat ini sedang berdiri di sebelahnya dengan hati yang dipenuhi sumpah serapah.

Lampu hijau menyala.

Suara klakson dari kendaraan di belakang memecah keheningan persimpangan jalan tersebut. Ayah tersentak dari lamunannya, buru-buru menegakkan posisi duduknya, lalu menginjak pedal gas untuk melajukan mobil minibus abu-abunya membelah persimpangan jalan. Mobil itu bergerak lurus, lampu belakangnya yang berwarna merah meredup perlahan di kegelapan malam.

Revan tidak langsung menarik gas motornya. Ia sengaja membiarkan mobil Ayah melaju beberapa puluh meter di depannya. Setelah jarak mereka dirasa cukup jauh, barulah Revan memacu motor matic-nya berbelok ke arah kiri, mengambil rute jalan tikus yang berbeda menuju rumah Miko. Ia sengaja memilih jalan memutar, memastikan bahwa jalurnya tidak akan pernah bersilangan lagi dengan jalur kepulangan Ayahnya malam ini.

"Urus aja anak kesayangan kalian sampai puas. Gue gak care lagi," gumam Revan lirih, suaranya tenggelam di balik deru angin malam yang dingin.

Revan melesat membelah malam dengan sepasang sepatu barunya dan sisa uang di saku, merasa sangat mandiri dan menang karena tidak sudi menyapa Ayahnya sendiri. Sebuah kesombongan remaja yang kian mengunci takdir tragis mereka, membawa Revan melangkah semakin dalam ke dalam labirin salah paham, tanpa pernah menyadari bahwa pertemuan tak sengaja di lampu merah malam ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan terakhir yang diberikan semesta untuknya melihat sang Ayah dalam kondisi bernapas sebelum badai besar meruntuhkan segalanya beberapa bab ke depan.

Bersambung.....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!