Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Tidak Sekolah
Warung kecil di pinggir jalan itu cukup ramai. Aroma mie goreng, kopi hitam, dan gorengan memenuhi udara. Kipas angin tua di langit-langit berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berdecit.
Kemal memilih meja di pojok lalu mempersilakan Maya duduk. “Pesan dulu,” suruhnya lembut.
Maya tak menolak. “Bang, nasi goreng dua! Es teh satu!” teriaknya santai.
Kemal mengernyit. “Dua?”
“Saya lapar banget.”
Kemal terkekeh kecil meski wajahnya masih penuh kekhawatiran. Tak lama kemudian Maya menambahkan lagi.
“Oh iya, tambah sate usus sama telur.”
Kemal melongo sebentar. “Perut kamu kuat juga.”
“Trauma bikin cepat lapar.”
Kalimat itu membuat Kemal langsung diam. Dia baru sadar, di balik sikap aneh dan santai Maya sekarang, gadis itu sebenarnya sedang berada dalam kondisi buruk.
Kemal menatap Maya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Saya serius, Maya. Kamu nggak bisa terus begini.”
Maya bersandar santai di kursi plastik. “Begini gimana?”
“Keluyuran. Putus sekolah. Hidup sendirian.”
“Saya masih hidup kan?”
“Itu bukan jawaban.”
Maya mendecakkan lidah kecil.
Kemal menghela napas panjang. “Kamu murid pintar.”
Maya hampir tersedak mendengarnya. Pintar? Oh iya. Tubuh ini memang milik Maya asli. Bukan Priska.
Kemal kembali bicara pelan. “Kalau ada masalah di rumah, kita bisa cari solusi.”
Maya tertawa hambar. “Masalah saya bukan tipe yang selesai cuma gara-gara ngobrol.”
Kemal menatapnya serius. “Keluarga kamu sebenarnya kenapa?”
Beberapa detik Maya terdiam. Lalu akhirnya dia berkata santai, “Mereka nggak peduli sama saya.”
Kemal mengernyit. “Maksudnya?”
Maya menopang dagu sambil menatap keluar warung. “Mereka cuma suka nyiksa saya.”
Deg.
Kemal langsung membeku. “Maya... jangan bercanda soal begitu.”
“Saya nggak bercanda.”
Nada suaranya terlalu datar untuk dianggap bercanda.
Maya melanjutkan tanpa ekspresi. “Saya lebih milih tidur di kolong jembatan daripada balik ke rumah itu.”
Kalimat itu membuat dada Kemal terasa berat. Dia mengenal Maya sebagai siswi pendiam yang selalu menunduk. Tak pernah bikin masalah. Tak pernah melawan. Namun sekarang tatapan gadis itu terasa lebih berani. Seperti orang yang benar-benar melewati asam dan garam kehidupan.
Kemal mulai sadar. Masalah ini jauh lebih serius dari yang dia kira.
“Kalau memang begitu...” katanya hati-hati. “Saya bisa bantu bicara sama keluarga kamu.”
Maya langsung tertawa kecil. “Percuma.”
“Kita belum coba.”
“Mereka nggak bakal berubah.”
Kemal terdiam. Entah kenapa dia percaya pada ucapan Maya. Saat itulah makanan datang. Dua piring nasi goreng panas langsung membuat mata Maya berbinar.
“Nah ini baru kehidupan.”
Kemal sampai bengong melihat perubahan ekspresinya yang terlalu cepat. Baru beberapa detik lalu suasananya serius, sekarang Maya sudah mengambil sendok dengan semangat seperti anak kelaparan.
“Pelan-pelan makannya,” ujar Kemal.
Maya mengangguk cepat sambil mulai makan brutal.
Sementara itu di seberang jalan. Bobby masih mengintip dari balik koran terbalik.
“Gila, enak banget dia makan...” gumamnya. Perutnya mendadak berbunyi.
Kruuukkk.
Bobby langsung menunduk malu sendiri. Belum sempat dia bergerak...
“Mau ngintip sampai kapan?” Suara Maya terdengar keras dari dalam warung. Bobby langsung membeku.
Kemal ikut menoleh bingung.
Maya menunjuk Bobby pakai sendok. “Bobby! Masuk aja!”
Bobby langsung panik dan pura-pura melihat langit. “Saya bukan Bobby.”
“Masuk sebelum gue bongkar utang lu di warung sebelah!”
“Sok tahu lu!"
Beberapa pengunjung mulai memperhatikan Bobby. Dengan langkah super canggung, akhirnya dia masuk ke warung sambil masih memegang koran terbalik.
Kemal menatapnya aneh. “Kamu temannya Maya?”
Bobby langsung duduk kaku.
“Ehehe... iya.”
Maya langsung nyeletuk santai, "Bukan, Pak. Dia pamanku.”
Bobby langsung nyembur air putih.
“PUAAAH!”
“Apa?!” pekiknya.
Maya tetap makan santai. “Kita mirip kok.”
“MIRIP DARI MANA?!”
Kemal malah mengangguk kecil. “Oh... paman ya.”
Bobby langsung melotot tak percaya. “PAK, MASA PERCAYA SIH?!”
Kemal menatap Bobby dari atas sampai bawah. “Ya masuk akal.”
“NGGAK MASUK AKAL!”
“Maya masih enam belas tahun,” lanjut Kemal tenang. “Jadi wajar kalau Anda pamannya.”
Bobby langsung menunjuk dirinya sendiri. “Saya masih dua puluh lima!”
“Kelihatan tiga puluh lima," tukas Maya.
“EH!”
Maya ngakak sambil memukul meja..“HAHAHAHA!”
Bobby menatap Maya penuh dendam. “Lu sengaja kan?”
Kemal malah tersenyum tipis untuk pertama kalinya. Entah kenapa melihat dua orang absurd ini bertengkar terasa lucu.
“Jadi...” Kemal kembali menatap Bobby. “Anda benar pamannya Maya?”
Bobby membuka mulut. “Iya—”
“Paman!".Maya memotong santai.
Bobby langsung melotot. “LAH?!”
Kemal mengernyit bingung. “Jadi sebenarnya yang benar yang mana?”
Maya menunjuk Bobby pakai sendok. “Dia tua kayak om-om, tapi mentalnya bocah.”
“Gue jitak juga lu!" timpal Bobby tak terima.
“Makanya cocok jadi paman.”
Bobby hampir kejang menahan emosi.
Kemal sampai memijat pelipisnya. “Saya jadi bingung.”
“Tenang pak,” ujar Bobby pasrah. “Saya juga bingung hidup saya kenapa jadi begini.”
Kemal akhirnya tertawa kecil. Namun setelah itu ekspresinya kembali serius. “Kalau memang Maya sedang ada masalah...” katanya pelan. “Saya nggak bisa diam saja.”
Maya masih makan sambil mengunyah tenang.
Kemal menatapnya lagi. “Kamu benar-benar nggak mau kembali sekolah?”
Maya berhenti makan sebentar. Jujur saja, dia bukan Maya asli. Sekolah jelas bukan prioritasnya. Tapi tubuh ini punya masa depan. Maya asli mungkin sebenarnya masih ingin sekolah.
“Entahlah,” sahut Maya.
Kemal tampak sedikit lega karena itu bukan penolakan mutlak. “Kalau masalah biaya, saya bisa bantu cari jalan.”
Maya langsung menggeleng. “Bukan soal biaya.”
“Lalu?”
Maya menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Saya capek.”
Kalimat sederhana itu membuat suasana mendadak sunyi.
Bukan capek belajar. Tapi capek hidup. Kemal bisa merasakannya dari sorot mata Maya.
Bobby yang biasanya banyak bercanda pun ikut diam..Karena dia tahu, di balik tubuh gadis enam belas tahun itu, ada jiwa wanita yang sudah terlalu banyak melihat kekerasan dan kematian.
Kemal menghela napas panjang. “Kalau begitu...” katanya hati-hati. “Minimal kamu jangan hidup di jalanan.”
“Saya masih punya tempat.”
“Di mana?”
Maya menunjuk Bobby. “Di rumah paman.”
“WOY!”
Kemal langsung mengangguk lega. “Nah bagus kalau begitu.”
“Pak jangan percaya begitu aja!”
Maya menyeringai jahil. “Paman Bobby baik kok.”
“GUE DITUDUH TUA DARI TADI!”
Kemal malah tersenyum tipis lagi. “Makasih ya sudah bantu Maya.”
Bobby langsung membeku. Dia ingin menyangkal. Tapi melihat wajah serius Kemal, dia malah jadi nggak enak hati.
“Ehehe... iya pak,” jawabnya pasrah.
Maya langsung menahan tawa.
Bobby menendang kaki Maya pelan di bawah meja. “Sialan lu.”
Maya malah tertawa makin puas.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔