"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Setelah cukup lama Bara dan Anya menunggu, tepat di depan mereka yang sedang duduk di halte rumah sakit berhenti mobil SUV hitam Premium.
Dari dalam mobil mewah itu, keluar pria yang berusia sekita 30 tahunan. Menghampiri Bara dan menghadap menunduk seraya menggenggam kedua tangannya sendiri di depan.
"Maaf Tuan ... Telah membuat anda menunggu," ucapnya pelan, tidak berani menatap langsung Bara yang sedang memperhatikannya.
Anya yang mendengar kalimat itu, mengerenyitkan dahi. Merasa bingung dengan apa yang saat ini terjadi.
"Tuan? ... Apa aku tidak salah dengar?" gumam Anya, bicara di dalam hatinya seraya melihat sekilas Bara yang bersikap sangat santai.
Bara berdiri. Membuang nafasnya pelan dan maju selangkah.
Huh~
Ketika itu juga, pria yang sedang menunduk langsung bergerak dengan sigap membukakan pintu mobilnya untuk Bara masuk. Di susul oleh dia yang kembali ke kursi pengemudi.
Anya belum juga bergerak dari tempat duduknya, ia begitu heran dan merasa bingung dengan keadaannya saat ini.
Ketika melihat, Bara sudah duduk dengan santai di dalam mobil mewah yang pintunya belum tertutup.
"Kenapa diam?" tanya Bara pelan. Menatap Anya dari dalam mobil SUV yang mewah.
Hm?
Anya yang sempat tersadarkan, meresponnya dengan ekspresi bingung melihat tingkah Bara.
"Cepat masuk!" pinta Bara, ketika kalimat itu berhasil membuat Anya beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam mobil dengan kondisi canggung.
Tidak ada percakapan yang terjadi di antar mereka ketika mobil mewah berwarna hitam itu sudah berjalan.
Anya yang masih merasa bingung dan canggung tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Bara, ia terlihat begitu santai menyandarkan kepalanya di lengan serta melihat pemandangan kota malam dari balik kaca jendela mobil.
"Kenapa aku tiba-tiba mengikuti Bara ya?" gumam Anya lagi pelan, berbicara sendiri di dalam hatinya seraya sesekali melirik wajah Bara.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Yakni sebuah hotel besar mewah yang terlihat sangat elegan. Bahkan, hotel bintang 5 saja tidak bisa di bandingkan dengan ini.
"The Grand ARA"
Ya. Itulah nama hotel tempat Bara dan Anya berhenti di depannya. Mobil SUV berwarna hitam yang sudah mengantar mereka, pergi ketika sang supir sudah membukakan pintu untuk Bara.
Sepatu hitam Bara kini berdiri di atas permadani berwarna merah yang mengarah langsung ke dalam hotel. Bara merapihkan sedikit rambutnya yang terlihat berantakan dan kemejanya.
Sedangkan Anya, ia tiada henti-hentinya terpukau dengan pemandangan yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya.
"Wow~"
Mulut Anya sedikit terbuka ketika melihat interior klasik berpadu dengan gaya modern zaman sekarang, membuat hotel Grand ARA benar-benar sangat indah.
Bahkan, dari luar saja Anya sudah bisa melihat loby megah yang luas. Lantai marmer yang mengkilap, serta lampu gantung kristal yang bersinar terang dari dalam.
Bara memperhatikan ekspresi Anya yang menurutnya lucu. Sudah tiga kali Bara berdehem namun sama sekali tidak di grubis oleh Anya karena terlalu fokus sendiri.
"Ayo!"
Karena tidak mendapat respon dari Anya, Bara langsung menggenggam tangan Anya. Berjalan di sebelah Bara yang membawa Anya masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Eh?
Saat mereka tiba di depan loby, kedua penjaga yang berdiri di depan pintu otomatis memberikan hormat kepada Bara dengan menundukan kepalanya.
Anya sempat merasa heran. Apakah memang seperti ini pelayanan yang di dapat dari hotel mewah? Anya terlihat bingung dan memasang ekspresinya yang polos karena Bara terus menggenggam tangannya.
Saat pertama kali masuk, aroma parfum dari orang-orang yang berada di loby mulai tercium. Seperti wangi floral yang bercampur musk di kulit, membuat sensasi fresh perlahan masuk ketika Anya menghirup udara di dalam.
"Ah ... Wanginya," gumam Anya pelan tanpa ia sadar. Suara itu berhasil menarik perhatian Bara yang kini menatap wajahnya.
"Hm?" tanya Bara, memandang heran wajah Anya dari atas karena perbedaan tinggi tubuh mereka.
"Ah, tidak-tidak!"
"Tidak apa-apa ..." balas Anya, merasa gugup bercampur panik ketika wajah Bara memperhatikannya.
Saat mereka tiba di depan meja resepsionis, karyawan wanita yang menunggu kehadiran Bara sudah siap menyambutnya.
"Selamat malam Tuan ... Ini kunci kamarnya."
Wanita itu memberikan sambutan hangat kepada Bara. Memberikan kunci dengan kedua telapak tangan yang sopan. Lagi-lagi kalimat seperti memanggil Bara dengan sebutan "Tuan" membuat Anya bingung.
"Hm? Apa dia baru saja memanggil Bara Tuan? ..."
"... Padahal, Bara belum bicara apa-apa. Kenapa ia sudah memberikan kunci kamar?" gumam Anya merasa heran di dalam hati, ketika melihat semua perlakuan orang yang aneh kepada Bara.
Tanpa Anya belum sadar, hotel mewah yang bernama The Grand ARA ini adalah milik Bara. Ia belum membuka identitasnya dan berkata jujur kepada Anya tentang siapa dia sebenarnya.
Beberapa orang di lobby yang memperhatikan mereka berdua, sempat melirik dan berbisik-bisik dari kejauhan. Membicarakan Bara yang sedang berjalan bersama Anya.
Ketika mereka sampai di depan pintu lift. Anya sekarang baru menyadari sesuatu, ia seperti merasa sedang berjalan dengan orang yang berbeda. Bukan Bara yang ia kenal dan tolong kemarin.
"Kenapa dia masih saja memegang tangan ku?" ucap Anya dalam hati, menatap tangannya yang terus di genggam bara selama di dalam lift.
Anya tidak berani bertanya ataupun berkomentar tentang hal ini. Karena sebenarnya, ia juga masih merasa bingung dengan perasaannya yang sekarang sedang bercampur.
Perasaan yang membingunkan Anya, berlalu begitu saja. Ketika saat ini, lift yang mereka jalankan sudah berhenti di lantai 5.
Ting!
Beberapa langkah mereka berjalan, kini mereka sampai tepat di depan kamar 205. Yaitu kamar Bara sendiri, tempat Bara beristirahat di dalam hotel mewah pribadi miliknya.
"Hmm ... Tunggu!" kata Anya, dengan perlahan menatap tangannya berusaha agar Bara bisa notice keinginan melepaskan tangan.
"Ah, maaf! ... Aku tidak bermaksud macam-macam. Aku hanya tidak ingin, ada yang meremehkan mu di saat sedang berjalan bersama ku." ujar Bara, memberikan alasan agar Anya tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Ah ... Begitu," balas Anya, membuang pandangannya karena tidak berani menatap langsung Bara saat ini. Ia hanya bisa memegang dan mengusap-usap bingung tangannya sendiri.
Ceklek!
Suara pintu yang di buka Bara. Ia melangkah masuk lebih dulu meninggalkan Anya yang masih berdiam diri di depan pintu kamar.
"Kenapa hanya diam? Masuk!" pinta Bara, menoleh kebelakang karena melihat Anya yang masih saja kaku berdiri.
Anya semakin gugup. Tidak tahu harus melakukan apa di saat dirinya sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya.
"Anu ... Tapi—"
"Cih!" Bara berdecih pelan, kembali menghampiri Anya dan langsung menariknya masuk kedalam kamar.