NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18 Pergi Ke Pesta

Aroma tumisan bawang dan bumbu dapur yang hangat menyambut Sean begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Di dapur, Venus sedang sibuk menata piring-piring di atas meja makan. Ia sudah melepas jaket kerjanya, menyisakan kaus santai, meski topeng kulit itu masih melekat setia di wajahnya.

"Mama sudah pulang?" Sean berlari masuk dan memeluk pinggang ibunya dengan erat.

Venus tersenyum di balik topengnya, mengusap rambut putranya dengan kasih sayang.

"Sudah dari tadi, Sayang. Bagaimana sekolahmu? Tidak ada yang nakal lagi, kan?" tanyanya penasaran. Seperti biasa, Venus akan menanyakan kegiatan Sean di sekolah.

"Semua baik, Ma. Tapi Paman Leo yang bermasalah, dia tadi mengajak debat ibu-ibu di pinggir jalan," adu Sean sambil melirik ke arah Leo yang baru saja masuk dengan wajah masam.

"Hey! Itu bukan debat, itu pengusiran hama!" bela Leo sambil membanting kunci mobil di atas meja.

Sean melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah ibunya dalam-dalam. "Mama sendiri bagaimana? Pekerjaan dengan tuan udang itu apa masih membuat Mama pusing?" tanyanya.

Venus terdiam sejenak. Bayangan tatapan Dante di restoran semalam kembali menghantuinya, tatapan yang penuh kerinduan sekaligus luka. Ia menghela napas, berusaha tetap terlihat tenang di depan putranya yang terlalu peka ini.

"Semua aman terkendali, Sean. Mama hanya sedang fokus menyelesaikan laporan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

Sean tidak langsung percaya. Ia kembali memeluk ibunya, menyandarkan kepalanya di bahu Venus.

"Aku hanya ingin Mama baik-baik saja. Jika pria itu membuat Mama sedih, kita pergi saja dari sini, Ma. Aku tidak butuh ayah kalau ayah itu hanya membuat Mama menangis."

Hati Venus sakit mendengar Sean begitu membenci Dante. Ia pun segera mengecup puncak kepala Sean untuk menenangkannya.

"Mama kuat, Sayang. Kita tidak akan lari sebelum kebenaran itu terungkap."

"Jadi, Mama masih perlu mencari bukti di gedung Golden Lotus itu? Brankas yang terkubur di bawah beton?" Sean mendongak.

"Ya. Itu satu-satunya cara untuk membungkam keluarga Rodriguez selamanya. Kita harus membuktikan bahwa mereka yang membakar rumah kita," ucap Venus sembari mengangguk mantap.

Leo menarik kursi dan duduk, ikut bergabung dalam pembicaraan serius itu.

"Aku mendukungmu, Kakak Ipar. Tapi penjagaan di gedung itu sangat ketat sejak Dante melayangkan gugatan cerai. Bianca pasti sudah memerintahkan orang-orangnya untuk waspada."

Sean terdiam sebentar, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

"Kalau begitu, kita butuh pengalih perhatian. Sesuatu yang bisa membuat Bianca lengah dan tidak fokus pada gedung itu."

"Apa idemu, Bocah?" tanya Leo curiga.

Sean menatap Leo dengan tatapan datar. "Paman Leo harus merayu Bianca."

"A–apa?!" Leo nyaris terjatuh dari kursinya. "Kau sudah gila? Merayu wanita ular itu? Aku lebih memilih makan beling daripada harus bersikap manis padanya!"

"Pikirkan secara logis, Paman," Sean menjelaskan dengan gaya seorang ahli strategi. "Bianca sedang haus perhatian karena dicampakkan tuan udang. Jika ada pria yang masuk dan mulai mengacaukan emosinya, dia akan lengah. Dia akan terlalu sibuk mengurusi egonya sampai tidak sadar kita sedang membongkar rahasia keluarganya."

Venus menatap Leo dengan tatapan memohon. "Leo, ini demi keselamatan kita semua. Jika kau bisa membuatnya sedikit saja teralih, maka—"

"Ck! Tidak mungkin, Kak!" potong Leo frustrasi. "Dia membenciku setengah mati. Dia bilang aku monster, aku jelek, aku menjijikkan. Mana mungkin dia mau dirayu oleh pria yang wajahnya rusak seperti ini?"

"Kalau begitu, lepas topengmu dan gunakan wajah tampanmu yang asli," sahut Sean santai.

Leo terdiam. Ia meraba pinggiran topengnya. Wajah di balik topeng itu memang bersih dari luka. Ia sengaja memakai topeng hanya untuk menyamarkan identitasnya sebagai keluarga Carson agar bisa bergerak bebas sebagai bayangan Venus.

"Tidak!" tegas Leo. "Aku tidak akan melepas identitas ini demi wanita seperti dia. Jika dia mau tertipu, dia harus menerima paman dengan topeng ini. Aku tidak mau memberikan wajah asliku untuk dikonsumsi wanita serakah itu."

Sean mendesah pelan, seolah sedang menghadapi orang dewasa yang sulit diajak bekerja sama.

"Baiklah, terserah Paman. Pakai topeng atau tidak, yang penting buat dia merasa spesial sampai dia lupa caranya berpikir logis," ucap Sean.

Leo memijat pelipisnya, merasa nasibnya benar-benar di ujung tanduk. "Kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain?"

"Karena Paman punya chemistry yang aneh dengannya. Tadi saja kalian bertengkar seperti sepasang kekasih yang sedang putus cinta," ejek Sean.

Venus tertawa kecil, suara tawa yang sudah lama tidak terdengar.

"Terima kasih, Sean. Setidaknya idemu memberi kita harapan."

"Semoga Paman berhasil. Ingat, jangan sampai benar-benar jatuh cinta. Itu akan sangat memalukan bagi reputasi keluarga kita," ucap Sean menepuk bahu Leo.

Leo hanya bisa mendengus kasar, membayangkan betapa mengerikannya hari-hari ke depan jika ia benar-benar harus mendekati Bianca Rodriguez.

Namun, di balik keberatannya, ia tahu bahwa demi Venus dan Sean, ia akan melakukan apa pun bahkan jika itu berarti harus terjun ke dalam sarang ular yang paling berbisa.

"Mari kita mulai rencana awalnya, yaitu pendekatan," gumam Leo.

******

"Mama cantik sekali malam ini," puji Sean menatap ibunya yang mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan.

"Terima kasih, Sayang. Tapi Mama harus memakai ini," ucapnya sembari meraih topeng kulit yang selama ini menjadi tameng identitasnya.

"Kalau tidak memakai topeng monster itu, Mama pasti jadi ratu pesta," lanjut Sean dengan nada sedikit kecewa.

Venus berbalik dan berlutut di hadapan putranya. "Nanti, saat semuanya sudah aman, Mama janji akan melepaskannya untuk selamanya. Tapi malam ini, Mama harus bekerja."

"Menyelidiki pejabat yang selingkuh itu?" tanya Sean sangsi. "Benar-benar membosankan."

"Membosankan tapi berisiko. Jadi, kau harus janji untuk tetap di rumah," jawab Venus.

Sean kemudian maju dan mengecup lembut pipi ibunya. "Hati-hati, Ma. Mama harus pulang tanpa kekurangan apa pun."

"Mama janji."

Venus turun ke lantai bawah di mana Leo sudah menunggu dengan setelan jas rapi.

"Ayo, Leo. Kita sudah terlambat," ajaknya.

"Hmm. Kau jaga rumah, Bocah! Jangan sampai ada lalat yang masuk," gerutu Leo pada Sean sebelum menyusul Venus.

Mobil melaju membelah dinginnya malam Amsterdam menuju sebuah gedung mewah di pusat kota. Pesta topeng itu adalah penyamaran sempurna, namun sekaligus jebakan jika salah melangkah.

Begitu memasuki aula yang megah, langkah Venus mendadak kaku.

Di tengah kerumunan, ia menangkap sosok tinggi tegap yang sangat ia kenal. Dante.

Pria itu berdiri dengan wibawa yang luar biasa, namun yang lebih mengejutkan adalah sosok di sudut lain.

Ya, dia adalah Bianca.

Wanita itu sedang menatap Dante dengan tatapan tajam yang penuh cinta.

"Astaga, bisa-bisanya mereka ada di sini?" gumam Venus kesal.

"Sial," bisik Leo di sampingnya. "Sepertinya pesta ini akan berubah menjadi pesta perang keluarga."

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!