Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Karena Janji
Bab 30
Diah kesal karena sejak kemarin malam Wira malah ada dan tidak pulang. Menghubungi pun percuma, tidak dijawab. Argo yang mengawasi semua kegiatan. Andin pun sama gregetnya dengan Romo. Hanya bisa menyapa Aya dan memaksanya untuk semangat dari luar kamar.
Semalaman ini Diah tidak bisa tidur, apalagi mendapati pendopo di samping rumah sudah siap untuk menerima tamu. Benar-benar kelewatan suaminya itu, bisa-bisanya tetap mempersiapkan akad nikah.
“Ndoro ….” Panggil Sinah mendapati Diah sudah terjaga sepagi ini.
“suamiku belum pulang juga mbok?”
Mbok Sinah menggeleng. Argo membuka kamar Aya membawa petugas untuk bersiap.
“Pak Argo, hentikan!”
“Maaf, saya hanya menjalankan perintah tuan.” Pintu kamar kembali ditutup dan pria itu berjaga di sana. Andin dan suaminya ada di sana juga, hanya bisa menghela nafas karena gagal menemui Aya.
Andin mendekat ke arah pintu dan Argo merentangkan tangan agar dia menjauh.
“Aya, kamu tenang ya. Edward dalam perjalanan kemari. Dia pasti hentikan acara konyol ini," teriak Andin. Berharap apa yang dikatakan bisa menjadi angin segar dan keyakinan untuk Aya kalau pernikahan dengan Adit tidak akan terjadi.
***
Anji menguap, kantuk luar biasa. padahal perjalanan dari rumah Edward ke bandara ia hanya tidur begitupun saat di pesawat. Semalam ia akhirnya menyambangi kediaman Edward dan menginap di sana. Alasannya menemani padahal takut kesiangan. Definisi acara siapa, yang heboh siapa.
“Sudah sampe ya. Aduh kok malah gue yang deg-degan sih,” cetus Anji.
Edward sempat membeli kopi saat di bandara sebelum bertolak menuju kediaman Wira Janitra. Butuh amunisi, entah apa yang akan terjadi hari ini.
Dengan setelan rapi berniat menemui orangtua Aya, begitupun dengan Anji. Meski dimulut dan di grup saling sahut dan saling hujat, pertemanan mereka memang layak diacungi jempol. Kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang luar biasa, layaknya keluarga sendiri.
Sampai tadi grup pria terkutuk masih ramai, Edward sampai malas mengomentari. Mulai dari Yuli tentu saja dengan kontak Rendi dan Lisa ikut-ikutan pula dengan kontak Asoka tentunya. Hanya Gita saja yang kalem tidak muncul suaranya. Karena Rama saja bisa mengguncang dan menggetarkan ponsel.
Mendapatkan sherlock dari Andin, satu jam perjalanan dari bandara akhirnya mereka tiba. Orang-orang yang sudah dikirim sejak kemarin sudah menyebar di sekitar kediaman Wira Janitra. Benar kata Rama, fungsi mereka bisa sebagai tim penyerang atau rombongan untuk melamar, kalau perlu menikah sekalian.
Tidak mudah memasuki kediaman Wira Janitra, Andin dan Dani yang membawa Edward serta Anji dan seorang pria lainnya masuk.
“Romo baru datang, aku belum bahas lagi masalah Adit,” seru Andin.
“Kamu yakin masalah itu kelar hari ini?” tanya Dani.
“Hm. Sudah dipastikan,” sahut Edward.
Pandangannya tertuju pada suasana rumah itu yang terlihat sibuk. Para pekerja berlalu-lalang tanpa suara, membawa hidangan di meja Buffett lalu meja akad yang juga sudah siap. Deretan kursi untuk tamu. Serius juga Wira Janitra mempersiapkan acara, membuatnya emosi sampai mengepalkan tangan.
"Mimpi apa Lo, ini sih beneran priyayi. Gelarnya apaan War?" Anji berbisik, takjub dengan kondisi kediaman keluarga Cahaya.
"Setingginya gelar, ya alm."
Anji berdecak kesal. "Dasar bule."
Andin memperkenalkan Edward pada Diah.
“Oh, dokternya Cahaya,” seru Diah karena belum banyak yang diceritakan Andin.
“Kekasih juga bu, Edward kemari bermaksud mengenalkan diri.”
“Semoga saya belum terlambat,” ucap Edward.
Terdengar dehaman, rupanya Wira. Semua menoleh ke arah suara. Pria dengan setelan jas meski dalamannya hanya kaos, menghampiri dan menatap Edward.
“Mau apa kamu kemari, jauh-jauh datang. Lihat ‘kan aku sudah siapkan pernikahan untuk Cahaya.”
“Cahaya tidak mencintai Adit. kami saling mencintai, hentikan rencana Anda. Lagi pula Adit, bukan pria yang baik.”
Wira terkekeh. “Lalu, kamu sendiri … Siapa kamu?" Wira berdecak lalu menggeleng pelan.
"Saya bukan siapa-siapa, orangtua pun tidak sehebat keluarga ini. Bahkan saya tidak bisa menjanjikan apapun untuk Cahaya, janji saya akan buat dia bahagia dengan cara kami. Cahaya yang saya kenal adalah gadis sederhana, bekerja sebagai pelayan cafe. Bukan seorang putri yang hidup dengan kemewahan," tutur Edward dijawab dengan dengusan Wira. Karena baik Cahaya dan Andin nyatanya bisa hidup di luar sana tanpa kemewahan.
"Papi saya hanya seorang dokter dan mami membuka usaha klinik kecantikan, keduanya sudah tidak ada. Bukan harta dan tahta yang mereka wariskan, tapi tanggung jawab. Tanggung jawab saya terhadap profesi dan Cahaya sebagai istri. Mohon restu kalian, saya berniat melamar Cahaya."
Andin tersenyum, Diah menatap khawatir pada suaminya. Wira dengan raut wajah datar kembali mendengus mendengar penuturan Edward.
“Tuan, rombongan keluarga Waskita sudah datang,” seru Argo.
Andin langsung memeluk lengan Dani yang tangannya langsung diusap untuk menenangkan.
“Gimana Ward, kita serang sekarang aja ya. Biar rame,” bisik Anji. Edward melirik sekilas, di Anji memang beneran Anjirrr.
***
Di tempat acara Adit terlihat bangga dan percaya diri dengan penampilannya. Setelah ini ia akan menjadi bagian dari keluarga Janitra. Wajah yang ceria itu perlahan berubah saat melihat Wira datang berserta keluarganya. Ada sosok yang mendadak membuatnya resah, membuatnya langsung berdiri.
"Ada apa ini? Kamu ...." Adit menunjuk Edward. "Pakde, sejak tadi keluargaku menunggu penyambutan, nyatanya diabaikan. Pakde tahu siapa pria itu?"
"Adit, tenang nak," Ayah Adit menurunkan tangan yang menunjuk ke arah Edward.
"Ini pernikahanku dengan Cahaya, sebaiknya kalian pergi atau menyesal," usir Adit pada Edward.
Edward tersenyum sinis.
"Aditia Waskita, aku ...." ucapan Wira terjeda.
"Om Edward." Aya berlari dengan tel4njang kaki, mengenakan kebaya putih dan kain jarik yang diangkat sampai betis agar memudahkannya berlari. Ronce melati menghias di sanggul serta wajah terlihat semakin cantik dengan polesan make up.
"Argo," pekik Wira karena Aya berhasil kabur. Di belakang sana petugas yang menjaga dan TIM MUA berusaha mengejar.
Edward meraih Aya ke dalam pelukannya. "Om, ayo pergi. Bawa aku pergi, tidak perlu restu dari Romo."
"Ay, aku sudah disini," ujar Edward mengurai pelukan lalu menangkup wajah Aya. "Aku akan bawa kamu keluar dari rumah ini bukan dengan berlari."
Adit menger4ng kesal, ia berlari hendak meraih tangan Aya. Tapi ditepis oleh Edward. Pria di samping Edward menghalangi dan menjauhkan Adit.
"Pakde Wira, pria sejati taat pada janji," ucap Adit. "Anda sudah berjanji hari ini aku dan Cahaya akan menikah "
duh dah kaya mau demo aja🤭
yang kemaren viral..tidak fantassss