Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Hampir Bertemu
Sore itu tidak sepenuhnya sama, meski dari kejauhan semuanya tampak seperti hari-hari sebelumnya. Halte masih berdiri di tempatnya dengan cat yang mulai kusam, bangku di ujung tetap kosong seperti menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar datang. Jalan di depannya membentang lurus, dipenuhi kendaraan yang lewat tanpa tujuan yang ada hubungannya dengan dirinya.
Namun ada sesuatu di udara yang terasa berbeda. Tipis, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat langkah Airel Virellia melambat sebelum benar-benar mendekat. Ia berhenti sejenak di tepi, membiarkan pandangannya menyapu jalan lebih lama dari biasanya, seolah mencoba menangkap sesuatu yang belum memiliki bentuk jelas.
Perasaan gelisah yang muncul beberapa hari terakhir belum benar-benar hilang. Justru semakin terasa nyata, seperti sesuatu yang terus mendekat tanpa pernah benar-benar tiba. Sensasi itu tidak bisa ia abaikan, meski ia tidak tahu harus menempatkannya di mana.
Airel akhirnya melangkah dan duduk di bangku yang sama. Gerakannya tenang, tapi tidak sepenuhnya ringan. Tangannya kembali melakukan kebiasaan yang sudah terlalu sering terulang, mengangkat pergelangan tangan dan melihat jam tanpa perlu berpikir.
17.42.
Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia tidak langsung mengalihkan pandangan, seolah angka itu menyimpan sesuatu yang belum ia pahami. Biasanya, titik ini hanya menjadi awal dari rutinitas menunggu yang sudah ia terima, namun hari ini ada jeda kecil sebelum ia bisa merasa benar-benar tenang.
Ia menurunkan tangannya dan kembali menatap ke jalan. Kendaraan berlalu dengan kecepatan yang berbeda-beda, suara mesin datang lalu menghilang, menyisakan ruang kosong yang cepat diisi oleh suara berikutnya. Orang-orang berdiri, duduk, atau berjalan tanpa saling memperhatikan, masing-masing membawa urusan yang tidak pernah bersinggungan dengan dirinya.
Semua terlihat biasa. Tidak ada yang berubah di permukaan. Namun di balik itu, perasaan yang sama tetap ada, menetap dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Airel menunduk sedikit. Pertanyaan yang tadi ia coba abaikan kembali muncul, kali ini lebih jelas dari sebelumnya.
Apa aku benar-benar tahu siapa yang aku tunggu?
Ia menarik napas pelan, mencoba mengusir pikiran itu sebelum berkembang lebih jauh. Namun seperti sebelumnya, itu tidak semudah yang ia harapkan. Hari ini terasa berbeda, dan ia tidak tahu kenapa.
Ada sesuatu yang membuatnya sulit hanya duduk diam dan menunggu seperti biasa. Seolah bagian dari dirinya tidak lagi puas dengan rutinitas yang sama.
Airel mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya berubah sedikit, lebih fokus dan lebih tajam. Kali ini ia benar-benar memperhatikan jalan di depannya, bukan hanya melihatnya sekilas sambil menunggu waktu bergerak.
17.44.
Detik-detik menuju waktu yang ia kenal terasa lebih lambat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. Angin sore berembus pelan, membawa udara yang lebih dingin dari sebelumnya, menyentuh kulitnya tanpa memberi rasa nyaman.
Dan di saat itu, sesuatu terjadi.
Tidak besar. Tidak mencolok. Bahkan bisa saja terlewat jika ia tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Di seberang jalan, di antara orang-orang yang bergerak tanpa arah yang sama, ada satu sosok yang tidak langsung pergi seperti yang lain. Seorang pria berdiri sedikit lebih lama, seolah baru saja berhenti setelah berjalan cukup jauh. Posturnya tegap, bahunya naik turun pelan, seperti seseorang yang baru saja menarik napas panjang.
Awalnya, Airel tidak menyadarinya. Sosok itu hanya bagian dari pemandangan biasa, seperti orang lain yang datang dan pergi. Namun entah kenapa, pandangannya kembali ke arah itu.
Dan kali ini, ia tidak bisa mengalihkan mata.
Ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan karena pria itu mencolok, melainkan karena perasaan yang muncul begitu tiba-tiba. Seperti sesuatu yang pernah ia kenal, sesuatu yang terlalu dekat untuk diabaikan.
Airel mengernyit sedikit. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, dan tanpa sadar tubuhnya condong ke depan. Ia mencoba melihat lebih jelas, mencoba menangkap detail yang mungkin terlewat.
Namun jarak itu masih terlalu jauh. Orang-orang terus bergerak di antara mereka, sesekali menutup pandangan, lalu membuka kembali dalam jeda yang singkat. Sosok itu tetap ada di sana, berdiri dengan posisi yang tidak banyak berubah.
Seolah sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
Airel menelan pelan. Tangannya mencengkeram ujung bangku tanpa ia sadari. Perasaan itu semakin kuat, tidak lagi samar seperti sebelumnya.
Lebih jelas.
Lebih nyata.
Seperti sesuatu yang selama ini hanya ada dalam ingatan, tiba-tiba muncul di dunia yang sama dengan dirinya.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan di dalam pikirannya, kata-kata terasa sulit untuk terbentuk. Hanya ada perasaan yang terus menguat, memenuhi ruang yang biasanya ia isi dengan keyakinan yang tenang.
17.45.
Jarum jam bergerak tepat di angka itu.
Dan pada saat yang sama, pria itu mulai bergerak.
Langkahnya pelan, tidak terburu-buru, tetapi cukup untuk mengubah jarak di antara mereka. Ia berjalan ke arah yang membuat garis pandang mereka semakin dekat, setiap langkah terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Airel menahan napas. Matanya tidak lepas dari sosok itu. Dunia di sekitarnya terasa meredup, suara kendaraan dan percakapan orang lain menjadi latar yang jauh.
Pria itu mengangkat sedikit wajahnya.
Hampir.
Sedikit lagi.
Jika ia menoleh lebih jauh, jika jarak itu berkurang sedikit lagi, mungkin semuanya akan menjadi jelas. Mungkin tidak akan ada lagi pertanyaan yang selama ini ia simpan.
Namun tepat di saat itu, sebuah kendaraan melintas di antara mereka. Cepat, tanpa peringatan, menutup pandangan hanya dalam hitungan detik.
Namun cukup.
Cukup untuk memutus momen itu.
Airel refleks berdiri. Langkahnya maju satu langkah, seolah ingin memastikan bahwa yang ia lihat tadi benar-benar ada. Jantungnya berdetak lebih keras sekarang, napasnya tertahan tanpa ia sadari.
Kendaraan itu lewat.
Pandangan terbuka kembali.
Namun sosok itu sudah tidak berada di tempat yang sama.
Ia berjalan.
Lebih jauh sekarang.
Menyusuri jalan dengan arah yang berlawanan.
Airel terdiam. Ada dorongan kuat untuk memanggil, untuk berlari, untuk mengejar sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Namun tubuhnya tidak bergerak.
Kakinya tetap di tempat.
Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Ia hanya bisa menatap punggung sosok itu yang perlahan menjauh. Setiap langkahnya terasa seperti menghapus kemungkinan yang baru saja muncul.
Dan di satu detik yang sangat singkat, pria itu seperti hendak menoleh.
Gerakannya kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuat Airel kembali menahan napas.
Jika ia menoleh sekarang.
Jika ia melihat ke arah ini.
Namun itu tidak terjadi.
Langkahnya tidak berhenti. Ia terus berjalan, dan dalam beberapa detik, sosok itu menghilang di balik keramaian yang kembali seperti biasa.
Airel masih berdiri di tempatnya. Tangannya perlahan turun ke samping, napasnya tidak teratur, dan pikirannya tertinggal di momen yang baru saja lewat.
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Tidak bisa. Karena jawabannya tidak datang bersama perasaan yang muncul.
Ia menatap ke arah jalan itu lebih lama dari yang seharusnya. Berharap sesuatu akan berubah jika ia menunggu sedikit lebih lama, jika ia memberi waktu tambahan untuk kemungkinan yang tadi hampir terjadi.
Namun yang ada hanya orang-orang yang berlalu, kendaraan yang lewat, dan suara kota yang kembali seperti semula.
Tidak ada sosok itu.
Tidak ada tanda apa pun.
Airel perlahan duduk kembali. Gerakannya lebih pelan dari biasanya, seolah tubuhnya masih mencoba mengejar sesuatu yang sudah lewat. Tangannya kembali melihat jam, seperti mencari pegangan pada sesuatu yang pasti.
17.47.
Hanya dua menit yang berlalu.
Namun terasa jauh lebih panjang.
Ia menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Jantungnya masih berdetak tidak teratur, dan perasaan itu belum sepenuhnya hilang.
Justru semakin jelas.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Ini bukan hanya kenangan. Bukan hanya harapan yang ia ulang setiap hari. Sesuatu baru saja terjadi, dan ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Airel mengangkat wajahnya lagi. Pandangannya kembali ke jalan yang kini terlihat kosong, tetapi tidak lagi terasa sama seperti sebelumnya.
Ada sesuatu yang baru saja lewat di sana.
Sesuatu yang hampir ia sentuh.
Namun terlewat begitu saja.
“Aku… lihat dia?” bisiknya pelan.
Suaranya hampir tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat kata-kata itu terasa nyata. Ia tidak tahu jawabannya, tidak bisa memastikan apakah itu benar atau hanya perasaan yang terlalu kuat.
Namun satu hal yang ia sadari.
Keraguan yang sempat muncul tidak sepenuhnya menghapus keyakinannya. Sebaliknya, apa yang baru saja terjadi membuat semuanya menjadi lebih rumit.
Lebih membingungkan.
Lebih nyata.
Airel menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya masih tertuju ke arah yang sama, seolah berharap sosok itu akan muncul kembali jika ia menunggu sedikit lebih lama.
Namun waktu terus berjalan.
Sore perlahan berubah menjadi malam.
Dan Airel tetap di sana, lebih lama dari biasanya. Ia tidak bergerak, tidak berpaling, karena di dalam dirinya, sesuatu baru saja bergeser.
Bukan hanya takdir.
Melainkan juga jarak yang selama ini terasa tidak terjangkau.
Kini terasa sedikit lebih dekat.
Meski hanya sesaat.
Meski hampir saja.