Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak kelelahan
Hari itu matahari sudah mulai menyengat sejak pukul sembilan. Aspal jalan desa yang sempit dan berlubang-lubang terasa panas seperti penggorengan. Cantika berjalan pelan sambil memanggul bakul anyaman bambu yang besar di pundaknya. Di dalam bakul itu, tumpukan keripik singkong renyah yang ia goreng sejak subuh tadi masih hangat. Aroma gurih bercampur sedikit pedas dari bumbu cabe yang ia taburkan semalam masih tercium samar.
“Keripik singkong … Keripik pedas … Yang enak, Bu! Bapak! Murah, cuma lima ribu per bungkus!” seru Cantika dengan suara yang sudah mulai serak. Ia berdiri di pinggir jalan utama desa, tempat biasanya banyak motor dan mobil lewat menuju kota.
Cantika putri saat ini berusia dua puluh tahun. Tubuhnya mungil, kulitnya kecokelatan karena setiap hari terpapar sinar matahari. Rambut hitamnya diikat asal dengan karet gelang, dan kaos oblong lusuhnya sudah basah oleh keringat. Celana pendek jeans yang sudah pudar warnanya menempel di kaki karena keringat. Sejak ayahnya meninggal satu tahun , ia menjadi tulang punggung keluarga. Ibu Cantika sakit -sakitan ,dan ketiga adiknya selalu menunggu di rumah mereka yang sederhana.
Pagi tadi, Cantika bangun jam tiga dini hari. Ia mengupas singkong, mencuci, mengiris tipis-tipis, lalu menggorengnya di tungku kayu kecil di belakang rumah. Asap menggelitik matanya, tapi ia terus melanjutkan. “Harus laku hari ini,” gumamnya berulang kali. Obat ibunya sudah habis kemarin, dan uang untuk beli beras juga tinggal sedikit.
Sekarang, matahari sudah naik tinggi. Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Jalan desa sepi. Hanya sesekali ada motor ojek lewat, atau ibu-ibu yang membawa keranjang belanja dari pasar kecil di ujung desa. Cantika sudah berdiri hampir dua jam di tempat yang sama. Kakinya terasa pegal, telapak kakinya panas karena aspal yang membara.
“Keripiknya … yang fresh, Pak,” katanya lagi ketika seorang bapak bercapil lewat dengan sepeda ontel. Bapak itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan. “Lain kali ya, Dik.”
Cantika menghela napas panjang. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi pagi. Ia belum sempat makan. Hanya minum segelas air putih sebelum berangkat. “Nanti saja makan, kalau sudah laku sedikit,” katanya dalam hati. Tapi penjualan hari ini sangat sepi. Hanya tiga bungkus yang laku sejak pagi. Itu pun dibeli tetangga dekat rumah.
Matahari semakin terik. Udara panas seperti menguap dari aspal. Cantika merasa kepalanya mulai pusing. Pandangannya agak berkunang-kunang. Ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan kaos. “Aduh, kenapa pusing sekali ya,” gumamnya pelan. Ia tahu penyebabnya. Belum makan, kurang minum, ditambah berdiri lama di bawah terik matahari. Tubuhnya sudah lelah karena menggoreng sejak subuh dan memanggul bakul yang berat.
Ia mencoba menggeser posisi berdiri ke bawah pohon kelapa kecil di pinggir jalan. Bayangan pohon itu tipis, tidak banyak membantu. Angin yang bertiup hanya membawa debu jalanan yang membuat tenggorokannya kering. Cantika menelan ludah. “Minum dulu sedikit,” katanya sambil merogoh kantong plastik kecil di dalam bakul. Botol air mineral yang ia bawa sudah hampir habis. Hanya tinggal sedikit di dasar.
Setelah minum, ia merasa sedikit lebih baik. Tapi tidak lama. Beberapa menit kemudian, pusingnya datang lagi lebih kuat. Kepalanya terasa berputar. Dunia di sekitarnya seperti bergoyang pelan. Kakinya mulai lemas. “Ya Tuhan … jangan pingsan di sini,” bisiknya ketakutan. Ia mencoba bertahan dengan bersandar pada batang pohon kelapa.
Jalan masih sepi. Tidak ada orang yang lewat. Warga desa kebanyakan sudah berada di rumah atau di sawah. Anak-anak sekolah masih di kelas. Hanya suara jangkrik dan angin yang sesekali berhembus. Cantika merasa napasnya mulai pendek. Keringat dingin keluar dari pori-porinya meski cuaca sangat panas.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara mesin mobil yang mendekat dengan kecepatan cukup tinggi. Cantika mencoba mengangkat tangan untuk memberi isyarat, tapi tubuhnya sudah tidak patuh. Pandangannya menggelap. Bakul di pundaknya terasa sangat berat. “Tol … tolong …” katanya pelan, hampir tak terdengar.
Kemudian, semuanya gelap.
Cantika pingsan tepat di pinggir aspal. Tubuhnya ambruk perlahan, bakul anyamannya jatuh ke tanah. Keripik singkong yang tersusun rapi berhamburan ke mana-mana. Beberapa bungkus robek, remah-remah keripik tertiup angin panas. Bakul itu sendiri retak di bagian pinggirnya karena terbentur aspal.
Mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu melaju mendekat. Sopirnya, Arka Pramudya, sedang fokus pada jalan sambil mendengarkan panggilan telepon bisnis. Tiba-tiba, ia melihat sesosok tubuh tergeletak di depan. Rem mobil diinjak dalam-dalam. Ban berdecit keras di aspal panas. Mobil berhenti hanya beberapa meter dari tubuh Cantika.
Arka membuka pintu mobil dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. “Ya ampun!” serunya. Ia turun dari mobil, kemeja putihnya yang rapi langsung terkena sinar matahari yang menyengat. Sepatu kulit mahalnya menginjak debu jalanan.
Ia mendekat dan melihat gadis muda itu tergeletak lemas. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Keripik berserakan di sekitarnya seperti daun kering yang jatuh.
“Hei, Nona? Kamu baik-baik saja?” tanya Arka sambil berjongkok. Ia menepuk pelan pipi Cantika. Tidak ada respons. Gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri.
Arka melirik sekitar. Jalan masih sepi. Tidak ada satu orang pun yang muncul untuk membantu. Hanya pohon kelapa yang bergoyang pelan dan suara jangkrik yang terus bersahutan. “Sial, di mana orang-orangnya?” gerutunya frustrasi.
Ia ingat betul, hari ini ia sedang buru-buru menuju kota untuk janji penting dengan Pak Dirman dan investor dari Singapura. Proyek bandara senilai puluhan miliar rupiah sedang dipertaruhkan. Tapi melihat gadis ini tergeletak di depan mobilnya, ia tidak bisa begitu saja melanjutkan perjalanan.
Arka mengusap wajahnya sendiri. Keringat mulai mengalir di dahinya. “Oke, tenang dulu, Arka,” katanya pada diri sendiri. Ia mengangkat tubuh Cantika dengan hati-hati. Tubuh gadis itu sangat ringan, seolah hanya tulang dan kulit. “Kasihan sekali … pasti kelelahan.”
Dengan sigap, ia membawa Cantika ke tepi jalan yang lebih teduh, di bawah pohon kelapa yang lebih besar. Bakul yang hancur dibiarkannya dulu di tempat. Keripik yang berserakan terbang pelan ditiup angin.
Arka kembali ke mobilnya sebentar untuk mengambil botol air mineral dingin dari dalam kulkas mini mobil. Ia juga mengambil sapu tangan sutra hitamnya. “Ini gila. Aku harus buru-buru, tapi malah nemu ini,” gumamnya sambil berjalan kembali ke Cantika.
Ia membasahi sapu tangan dengan air dingin, lalu menepuk-nepuk dahi dan leher gadis itu pelan-pelan. “Nona … bangun dong. Kamu pingsan di jalan. Ayo sadar …”
Mata Cantika masih tertutup rapat. Napasnya lemah. Arka merasa denyut nadinya pelan sekali. “Pasti dehidrasi dan kelelahan. Belum makan juga mungkin,” pikirnya sambil mengamati wajah pucat itu.
Di sekitar mereka, angin sore mulai bertiup pelan. Daun kelapa bergesekan, menciptakan suara yang menenangkan. Tapi suasana tetap sepi. Tidak ada warga yang lewat. Arka melirik jam tangan Rolex-nya. Sudah hampir pukul setengah dua belas. Waktu terus berlalu.
Hatinya berperang. Bagian dirinya yang pengusaha kejam bilang, “Tinggalkan saja. Panggil orang desa lewat telepon atau apa. Kamu kan tidak kenal dia. Janji bisnis itu jauh lebih penting.”
Tapi bagian hatinya yang lain, yang jarang muncul, berkata, “Tidak bisa, Arka. Dia masih muda. Kalau dibiarkan di aspal panas, bisa bahaya. Kamu lihat sendiri, keripiknya hancur semua. Pasti hasil kerja keras.”
Arka mendesah panjang. Ia memutuskan untuk membawa Cantika ke tempat yang lebih aman. Tak jauh dari sana, ada gubuk kosong bekas pangkalan ojek yang teduh. “Ayo, kita pindah ke sana dulu,” katanya pelan meski Cantika tidak mendengar.
Ia mengangkat tubuh mungil itu lagi ke dalam pelukannya. Bau keringat bercampur aroma keripik singkong menempel di hidungnya. “Maaf ya, Nona. Aku tidak berniat mengganggu harimu,” gumamnya sambil berjalan menuju gubuk.
Di belakangnya, keripik singkong yang tersisa masih berserakan di pinggir jalan, beberapa di antaranya diinjak ban mobil yang tadi mengerem mendadak. Bakul anyaman bambu yang retak tergeletak miring, menjadi saksi bisu perjuangan Cantika hari itu.
Sementara itu, di dalam gubuk kecil yang akan segera menjadi tempat perlindungan sementara, angin sore mulai masuk lewat celah-celah dinding bambu. Suasana desa yang tenang itu menyembunyikan banyak cerita perjuangan seperti milik Cantika. Dan kedatangan Arka Pramudya, pengusaha kota yang sibuk, entah akan menjadi awal perubahan atau hanya kebetulan sesaat.
Cantika masih belum sadar. Pusing dan kelelahan yang menumpuk sejak pagi akhirnya membuatnya ambruk. Tapi di tengah kesepian jalan desa yang panas itu, ada satu orang yang berhenti. Meski dengan enggan, meski dengan banyak keluhan di dalam hati.
Arka meletakkan Cantika di bale-bale kayu di dalam gubuk. Ia kembali membasahi sapu tangan dan mengompres dahinya. “Bangunlah sebentar, Nona. Aku tidak bisa lama-lama di sini,” katanya pelan, suaranya berat tapi ada nada lembut yang tersembunyi.
Matahari masih terik di luar. Aspal jalanan terus membara. Tapi di dalam gubuk sederhana itu, sebuah pertolongan kecil telah dimulai. Pertolongan yang mungkin akan mengubah jalan hidup dua orang yang sangat berbeda.