NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Tuduhan

Pagi harinya, suasana di rumah kembali sibuk seperti biasa. Namun, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Nayla bangun lebih pagi dari biasanya, tapi wajahnya terlihat sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa mengerikan. Ia menyembunyikan rencana jahatnya di balik wajah datarnya.

Saat sarapan selesai, Bu Ajeng ibu mertua Liana , tiba-tiba berteriak panik dari kamarnya di lantai satu .

"Aduh! Mana cincin mutiaraku?! Mana cincin pemberian almarhum kakeknya Leonardo?!" ucap Bu Ajeng gelisah .

Seketika semua orang berlarian ke kamar Bu Ajeng . Liana, Leonardo, Bu Rosa dan Dinda yang baru saja selesai membantu di dapur ikut berlari mendengar keributan itu.

"Ada apa, Ma? Kenapa teriak-teriak?" tanya Leonardo

 "Cincin mutiara kesayangan Mama hilang, Leo! Mama taruh di atas meja rias tadi pagi sebelum mandi, pas Mama balik lagi udah gak ada! Itu barang antik dan sangat mahal harganya!"

Bu Ajeng tampak sangat panik dan sedih. Cincin itu bukan hanya soal harga, tapi juga kenangan berharga.

 "Yaa ampun... siapa yang berani mengambilnya? Pintu kamar dikunci kan?" tanya Bu Rosa .

 "Iya dikunci, tapi tadi pagi kan pintunya gak tertutup rapat karena pembantu mau masuk angin-anginkan kamar. Siapa saja bisa lewat..."

Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Mata semua orang secara tidak sadar mulai melirik ke arah Dinda yang berdiri mematung di sudut pintu.

Dinda terlihat gugup. Ia tahu bagaimana pikiran orang bekerja. Ia pendatang baru, ia berasal dari keluarga kurang mampu, dan sekarang ada barang hilang.

Namun sebelum ada yang berbicara, Nayla yang berdiri di samping ibunya tiba-tiba bertindak. Ia berpura-pura mencari-cari di sekitar tempat tidur, lalu ia sengaja "tidak sengaja" menjatuhkan selimut ke lantai.

Dan di bawah selimut itu, terlihat jelas sebuah benda berkilauan berwarna putih susu.

 "Eh?! Itu apa tuh?! Wahai... itu bukan cincin Nenek Rosa ya?!" tanya Nayla .

Nayla mengambil benda itu dengan dramatis, lalu menunjukkannya ke semua orang.

 "Beneran ini! Ini cincinnya! Tapi... kok ada di bawah selimut kamar Nenek? Siapa yang taruh di sini?"

Lalu, dengan sangat perlahan dan licik, Nayla mengarahkan jarinya ke arah Dinda dengan tatapan syok dan kecewa.

 "Tunggu... tadi pagi kan cuma Dinda yang lewat-lewat di lantai ini kan? Dia kan tadi bantuin bersihin lantai depan kamar-kamar... Jangan-jangan... Dinda yang ngambil?"

Dinda Mata terbelalak, wajahnya pucat pasi . "Bukan! Bukan aku Nay! aku gak ambil! aku gak tahu apa-apa!"

 "Lah terus kok cincinnya ada di sini? Terus siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu kan dulu hidup susah, mungkin kamu tergoda lihat barang bagus ya? Kamu pikir karena kamu anak kandung kamu bisa seenaknya ambil barang orang?"

 "Apa?! Dinda yang ambil? Dinda... beneran kamu yang mengambil cincin Nenek?" tanya Bu Ajeng dengan nada kecewa yang mendalam.

"Bukan Nek! Demi apa saja aku janji aku gak ambil! Dinda gak pernah masuk ke dalam kamar Nenek!"

 "Dinda, kamu tenang dulu. Jelaskan baik-baik. Kamu tadi ada di mana saja?" tanya Leonardo menatap Dinda meminta penjelasan .

Dinda menatap Leonardo dengan tatapan kecewa . Tapi Dinda tetap menjelaskan "Dinda tadi cuma nyapu di luar kamar doang Pa! Dinda gak berani masuk kamar orang tanpa izin!"

 "Tapi buktinya cincinnya ada di situ, Din. Dan Nayla yang nemuin. Memangnya siapa lagi yang bisa naruh di sana selain kamu . kamu kan yang bersih - bersih di area kamar ini . kamu ragu - ragu mengambil jadi kamu menaruhnya di bawah selimut ya kan ?" ujar Bu Ajeng .

Situasi semakin memburuk. Semua orang mulai ragu. Walaupun mereka sayang pada Dinda, tapi bukti seolah mengarah padanya. Dinda menangis ketakutan, ia merasa tidak berdaya. Ia tahu ia sedang dijebak, tapi siapa yang akan percaya padanya?

Nayla Dalam hati tersenyum puas "Hahaha... rasakan! Sekarang kamu tahu rasanya difitnah kan? Lihat siapa yang bakal dipercaya di rumah ini!"

Nayla semakin mendekat ke arah Dinda, lalu berbisik pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar.

Nayla "Main-main sama aku Din... kamu masih kalah jauh. Sekarang semua orang bakal anggap kamu pencuri. Kamu bakal diusir dari sini!"

Suasana di kamar Bu Rosa semakin memanas. Nayla tidak memberi celah sedikit pun bagi Dinda untuk membela diri. Ia terus berbicara dengan nada tinggi dan penuh dramatis, seolah-olah ia adalah saksi mata yang melihat kejadian.

Nayla "Masa iya kebetulan banget sih, Din? Baru beberapa hari kamu di sini, barang berharga langsung hilang, dan ketemunya pas kamu yang lewat sini? Kamu kan dulu hidup susah, wajar kalau kamu tergoda kan? Mungkin kamu mau jual atau mau pakai diam-diam?"

"Bukan! Dinda gak pernah ngambil! Dinda gak butuh barang semacam itu!" tangis Dinda pecah, suaranya bergetar menahan sakit hati.

 "Halah, buaya darat! Sok suci banget sih kamu! Tadi pagi kan cuma kamu yang keluyuran di lantai ini! Pembantu lain lagi sibuk di dapur, Mama sama Papa juga belum naik ke sini. Siapa lagi kalau bukan kamu?!"

Nayla memutar otaknya, menambahkan kebohongan demi kebohongan.

 "Aku tahu kamu iri sama aku! Kamu iri lihat aku punya barang-barang bagus! Makanya kamu ambil! Dasar pencuri!"

" PLAK!"

Tamparan keras mendarat di pipi Dinda.

Bukan dari Nayla, tapi dari Liana. Wajah Liana memerah, campuran antara rasa marah, kecewa, dan malu. Hatinya hancur melihat anak kandungnya sendiri dicap pencuri, tapi di sisi lain bukti dan tuduhan Nayla terdengar begitu masuk akal.

"Cukup Nayla! Dinda... kamu bikin Mama kecewa berat! Mama pikir kamu anak yang baik, jujur, dan sopan! Mama pikir kamu beda! Kenapa kamu harus melakukan hal seburuk ini?!"

Air mata Liana jatuh. Rasa kecewa itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

 "Cincin itu bukan cuma soal harga, tapi soal kepercayaan! Kalau kamu butuh sesuatu, minta sama Mama! Kenapa harus mencuri? Kamu bikin Mama malu sama Nenek Ajeng!"

Dinda Memegang pipinya yang panas, menatap Liana dengan mata berkaca-kaca penuh kepiluan "Ma... Mama juga tuduh Dinda? Mama gak percaya sama Dinda? Dinda gak nyuri Ma... Demi Tuhan Dinda gak nyuri..."

 "Liana, tenang... Mungkin ada kesalahpahaman..." coba Leonardo menengahi, meski wajahnya juga tampak berat dan ragu.

"Ya ampun Dinda... Nenek kira kamu anak baik-baik. Kenapa kamu bikin masalah begini sih? Kita terima kamu dengan tangan terbuka, tapi kamu balasnya begini?" ucap nenek Rosa dengan tatapan kecewa .

Nayla berdiri di belakang, menyembunyikan senyum kemenangannya. Rencananya berhasil sempurna. Orang-orang yang dulu sangat menyayangi Dinda kini berbalik memandangnya dengan tatapan kecewa dan jijik.

Bu ajeng Mengambil cincin itu dari tangan Nayla dengan wajah sedih "nenek kecewa sama kamu, Dinda. Sangat kecewa. Sepertinya sifat buruk itu memang terbawa dari kehidupan kamu yang dulu."

Kalimat itu bagaikan pisau yang menikam jantung Dinda. Ia merasa dunia runtuh di hadapannya. Baru saja ia merasakan kasih sayang keluarga, sekarang semuanya hancur karena fitnah keji ini.

Nayla Mendekat ke telinga Dinda, berbisik pelan dengan nada mengejek.

"Gimana rasanya Din? Dikasih harapan terus dijatuhkan? Sekarang kamu tahu kan kalau di rumah ini AKU yang punya kuasa. Minggu depan kamu pasti diusir dari sini. Kembalilah jadi orang miskin!"

Dinda tidak kuat lagi menahan beban itu. Ia berlari keluar dari kamar Bu Ajeng , menaiki tangga masuk ke kamarnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengunci pintu kamarnya, merosot di lantai, dan merasa dirinya sangat tidak berguna.

 Di ruang tengah...

Suasana menjadi hening dan suram.

Nayla "Sudah lah Ma, Pa... Mending kita awasi dia ketat-ketat mulai sekarang. Siapa tahu masih banyak barang lain yang hilang. Aku cuma nggak mau keluarga kita dirugikan sama orang yang nggak tahu terima kasih."

Nayla berpura-pura peduli dan menjadi pahlawan keluarga, padahal dialah dalang di balik semua ini.

Liana duduk lemas di sofa, memegangi kepalanya. Ia bingung antara rasa sayang ke anak kandung dan rasa kecewa atas kelakuan Dinda .

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!