Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Acara perlahan berakhir. Lampu masih menyala hangat, memantulkan sisa kemewahan malam itu di lantai dan dinding. Namun jumlah tamu mulai berkurang. Satu per satu berpamitan, meninggalkan ruang yang tadi penuh tawa kini terasa lebih lapang.
Lebih sepi.
Namun bukan benar-benar kosong. Masih ada sisa-sisa kebahagiaan yang menggantung di udara. Potongan percakapan. Sisa gelas di meja. Dan langkah-langkah terakhir yang terdengar semakin jarang.
Fania berdiri tidak jauh dari pintu keluar. Tangannya menggenggam clutch kecilnya. Jarinya sesekali bergerak, tanpa sadar, seperti mencari sesuatu untuk ditenangkan. Matanya masih sesekali bergerak pelan refleks mencari.
Dan seperti sebelumnya, ia menemukannya. Ronald dan Valencia. Masih berdampingan dan masih berbicara. Masih terlihat nyaman dan masih terlalu dekat.
Tidak ada lagi kerumunan besar yang menutupi mereka. Tidak ada distraksi lain. Semuanya terlihat lebih jelas sekarang. Lebih nyata, lebih sulit untuk diabaikan. Namun kali ini suara lain memotong semuanya.
“Ronald.” Suara tegas namun hangat itu membuat mereka semua menoleh.
Ibu Ronald berdiri beberapa langkah dari sana. Posturnya tegak, tatapannya tenang namun tidak bisa dibantah. Matanya langsung ke arah putranya. Lalu beralih ke Fania.
“Pulang bersama Fania.” Kalimat itu singkat namun penuh keputusan.
Tidak ada ruang untuk negosiasi. Bukan pertanyaan, bukan permintaan. Hening sesaat.
Valencia melirik sekilas ke arah Fania, tipis. Hampir tidak terlihat lalu kembali ke Ronald.
Ronald tidak langsung menjawab. Ada jeda kecil, sangat singkat namun cukup untuk terasa. Lalu ia mengangguk.
“Iya, Ma.” Nada suaranya datar, tidak menolak. Namun juga tidak menunjukkan apa pun.
Dan tanpa banyak kata arah malam itu berubah. Mobil melaju di jalanan malam. Lampu-lampu kota memanjang di kaca jendela, seperti garis-garis cahaya yang berlari cepat lalu menghilang.
Di luar semuanya bergerak. Namun di dalam mobil tidak ada yang bergerak. Fania duduk di kursi penumpang. Menatap ke luar, tatapannya kosong namun pikirannya tidak.
Ronald menyetir, tatapannya lurus ke depan. Tangannya stabil di setir, tidak ada musik. Tidak ada percakapan.
Sunyi.
Namun bukan sekadar diam. Ini dingin berbeda dari sebelumnya. Dulu bahkan saat mereka tidak bicara masih ada sesuatu. Kehangatan kecil. Perhatian yang tidak perlu diucapkan. Keberadaan yang terasa. Sekarang tidak ada.
Kosong.
Fania menggenggam tangannya sendiri. Ia ingin bicara apa saja. Tentang apa saja. Namun kata-kata itu tidak pernah benar-benar terbentuk. Dan lebih dari itu ia takut.
Takut kalau respons Ronald tidak seperti yang ia harapkan. Takut kalau diamnya Ronald memang pilihan. Ronald tetap diam. Seolah tidak ada yang perlu dibahas. Seolah semuanya memang sudah seperti ini.
Dan itu lebih menyakitkan daripada pertengkaran. Karena ini bukan konflik. Ini jarak yang perlahan menjadi nyata.
Mobil berhenti, Ronald mematikan mesin.
Hening.
Tanpa menunggu Fania membuka pintu dan turun. Langkahnya cepat masuk ke dalam rumah. Tanpa menoleh, tanpa memastikan apakah Ronald melihatnya atau tidak.
Ronald menyusul beberapa detik kemudian. Namun tidak ada yang berubah, tidak ada yang mencoba memulai. Malam itu tetap dingin. Dan dingin itu tidak berhenti di sana.
Hari berganti.
Minggu berlalu.
Dan tanpa terasa hampir satu bulan. Tidak ada ledakan, tidak ada pertengkaran besar dan tidak ada kata-kata tajam. Namun justru itu yang membuat semuanya semakin jelas.
Ronald tidak lagi berusaha, tidak lagi mencari. Tidak lagi memberi, tidak ada lagi ciuman di kening. Tidak ada lagi perhatian kecil, tidak ada lagi kebiasaan yang dulu terasa sederhana namun berarti. Sekarang hilang.
Dan Fania tidak pernah membahasnya. Tidak pernah bertanya, tidak pernah menuntut. Karena di satu sisi ia tahu. Ia sendiri yang dulu membuat batas itu. Namun di sisi lain ia tetap merasakannya. Setiap malam dalam diam.
***
Udara di Puncak terasa dingin dan segar. Sedikit berkabut, kabut tipis turun perlahan, menyelimuti pepohonan yang berdiri tenang di sekitar villa.
Villa milik Fania berdiri di tengah itu semua.
Jauh dari kota, jauh dari kebisingan. Tempat untuk bernapas. Dan kali ini ia tidak sendiri.
Chaerlina dan Livia. Dua orang yang tidak banyak bertanya namun selalu mengerti. Mereka duduk di teras membawa minuman hangat. Uap tipis naik dari cangkir, menyatu dengan udara dingin malam.
Awalnya tujuan mereka sederhana.
Hunting.
Jalan.
Foto-foto.
Mengalihkan pikiran.
Namun seperti biasa berakhir dengan cerita. Dengan obrolan yang pelan-pelan berubah menjadi lebih dalam.
“Aku dulu,” ujar Livia tiba-tiba. Nada suaranya cerah berbeda dari biasanya.
Fania melirik. “Apa?”
Livia tersenyum lebar, tidak bisa ditahan. “Aku danMark sudah bersama.”
Chaerlina langsung bereaksi. “Finally!”
Fania tertawa tulus. “Serius?”
Livia mengangguk cepat. “Iya.” Matanya berbinar, ada kebahagiaan yang jelas di sana.
“Dia menyebalkan,” lanjutnya. “Tapi sangat konsisten.”
Chaerlina tertawa. “Itu sangat bagus.”
Fania mengangguk kecil. “Dia memang seperti itu.”
Livia melirik. “Sepertinya kau sangat tau.”
Fania tersenyum tipis. “Jangan lupa, dia asisten Ronald.” Singkat namun cukup.
Percakapan mengalir ringan dan hangat.
Lalu giliran Chaerlina. “Kalau aku” Ia menghela napas pelan. “Sepertinya honeymoon ditunda.”
Livia langsung bereaksi. “Hah? Kenapa?”
“Jadwal dia sangat padat.” Nada suaranya santai. Namun tetap ada sedikit kecewa yang tidak disembunyikan sepenuhnya.
Fania tersenyum kecil. “Bukan masalah juga.” “Yang penting sudah sah.”
Chaerlina tertawa. “Benar juga.”
Hening sejenak.
Angin dingin berhembus pelan, daun-daun bergerak halus. Lalu dua pasang mata itu beralih ke Fania. Bersamaan, tanpa kata.
Fania langsung tahu. “Apa?” Gumamnya pelan. Namun ia tetap menghela napas, panjang.
Dan akhirnya ia bicara. “Aku dan Ronald” Ia berhenti mencari kata, “masih sama.” Singkat namun berat.
Livia mengernyit. “Maksudnya?”
Fania menatap jauh ke arah gelap pegunungan tidak langsung menjawab.
“Tidak bertengkar,” katanya pelan. “Tak juga baik.” Ia berhenti. “…hanya ada.” Kalimat itu jatuh pelan dan terasa kosong.
Chaerlina memperhatikan. “Sejauh itu?”
Fania tersenyum kecil namun pahit. “Lebih jauh dari yang terlihat.” Ia menunduk sedikit. “Dia makin dingin.” Akhirnya keluar dengan jujur tanpa ditahan.
Livia diam memberi ruang.
Fania melanjutkan. “Sekarang kami bisa satu rumah.”Ia tertawa kecil namun tidak ada lucunya. “Tanpa benar-benar bertemu.”
Sunyi.
“Tak ada lagi hal-hal kecil,” lanjutnya. “Tak ada lagi perhatian.” Ia berhenti. Matanya sedikit kosong. “Bahkan…” Ia menelan pelan. “…cium kening itu pun tak ada lagi.” Kalimat itu paling pelan namun paling terasa.
Chaerlina menarik napas. Livia menatapnya lebih dalam.
“Dan kau masih mengatakan kau tak peduli?” tanya Livia,embut namun tepat.
Fania tersenyum kecil, lelah. “Aku tak tau.” Untuk pertama kalinya ia tidak menyangkal dan tidak membantah. Hanya jujur.
“Aku hanya…” Ia berhenti. “…tak mau terlihat butuh.” Dan di situlah semuanya jelas.
Chaerlina mengangguk pelan. “Masalahnya bukan dia yang berubah, Fan,” katanya tenang. “Kau juga.”
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang menekan. Lebih seperti sunyi yang membuka sesuatu. Livia menyenggol bahunya.
“Sudah cukup.” Nada suaranya kembali ringan. “Sekarang kita liburan dulu.” Ia tersenyum. “Masalah mu nanti saja.”
Chaerlina tertawa. “Setuju.”
Dan perlahan suasana berubah lagi. Mereka bercanda, tertawa, saling menggoda. Udara dingin, pemandangan hijau yang gelap. Dan kehangatan persahabatan cukup untuk membuat Fania bernapas sedikit lebih lega.
Untuk beberapa saat ia benar-benar lupa. Namun jauh di dalam ia tahu. Masalah itu belum selesai. Dan kali ini ia tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena semakin lama ia diam semakin jelas bahwa yang ia hindari selama ini bukan hanya Ronald. Namun juga perasaannya sendiri.
NEXT .......