NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu gelak tawa ringan bercampur dengan suara denting sendok di piring memenuhi ruang makan keluarga.

Sarapan besar itu dipenuhi cerita, tentang cucu yang baru masuk sekolah, tentang kebun di belakang villa yang mulai berbuah, tentang rencana liburan akhir tahun yang belum juga disepakati. Di sela-sela obrolan santai yang mengalir dari satu topik ke topik lain, satu pertanyaan menggiring perhatian ke satu sudut meja.

"Humaira, kamu masih sering mengisi tausiah di pengajian-pengajian?"

Humaira tersenyum ke arah tante di ujung meja. "Masih, Tante. Minggu depan malah jadwalnya agak padat."

"Wah, hebat sekali." Tante yang lain mengangguk kagum. "Coba kamu sesekali ajak Carisa ikut ngaji bareng. Ya, Carisa?"

Carisa yang sedang mengaduk tehnya dengan setengah melamun sedikit terkejut mendengar namanya disebut. "Oh... iya, boleh saja." Ia mencoba tersenyum.

"Cocok itu," sambung tante yang duduk di sebelah Yuda, suaranya antusias dan tidak merasa sedang menyakiti siapa pun. "Humaira kan pintar ngajinya, suaranya bagus kalau membaca Al-Qur'an. Siapa tahu nanti Carisa bisa belajar mengaji sama Humaira, aktif juga di pengajian."

Di seberang meja, Reynanda melirik sekilas ke arah Carisa. Ia tahu persis bagaimana Carisa. Dan ia juga tahu, kalimat seperti itu bukan sesuatu yang bisa ia terima begitu saja.

Yuda mengangkat alis tipis. Meneguk kopinya. Tidak berkomentar, tapi di balik tatapan datarnya, ia seperti sedang menahan sesuatu.

"Kalau Carisa mau, aku senang sekali." Humaira tersenyum lebar dan tulus. "Nanti aku kirimkan jadwalnya. Tapi kalau mau belajar mengaji Al-Qur'an, sebaiknya sama Mas Nanda saja. Dia suami sekaligus guruku, aku pun masih terus belajar darinya."

Carisa yang terus mengaduk cangkir teh nya sembari mendengarkan langsung berhenti mengaduk di tengah jalan.

Dan tanpa ia sadari, tangannya mencengkeram sendok tehnya semakin erat. Sesuatu bergejolak di dalam dadanya, terlalu banyak, terlalu cepat, terlalu sesak untuk ditampung dengan tenang. Sampai ujung sendok itu menghunjam telapak tangannya.

"Aduh..."

Erangannya pelan. Tapi cukup untuk membuat semua kepala di meja itu menoleh.

Yuda dan Nanda bereaksi hampir bersamaan.

"Carisa," suara nanda pelan tapi terdengar panik, langsung bergerak mengambil sendok dari genggaman Carisa yang kaku. Sementara Yuda, meski wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya menatap tajam ke arah Reynanda yang bereaksi seolah Carisa adalah istrinya.

"Aku... tidak sengaja," suara hampir berbisik, ia baru menyadari apa yang ia lakukan menarik perhatian semua orang di meja itu.

Yuda segera mengambil serbet. Tangannya meraih tangan Carisa, menekan pelan bagian yang terluka.

"Jangan terlalu banyak melamun." katanya datar, nadanya masih selalu sama datar dan dingin untuk di simpulkan sebagai rasa peduli.

Reynanda masih berdiri dengan canggung. Baru menyadari, ia sudah mencondongkan tubuhnya terlalu jauh ke arah Carisa, bahkan menyentuhnya, di depan semua orang.

Humaira menatap dengan dahi sedikit berkerut. Bukan karena luka di tangan Carisa, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia lihat dari gerakan suaminya tadi. Refleks yang terlalu cepat. Bahkan sempat menyentuh tangan Carisa tanpa ragu, cukup untuk menimbulkan tanda tanya di benaknya.

Keheningan jatuh ke meja makan itu.

Sendok dan garpu berhenti bergerak. Obrolan yang tadi hangat menguap begitu saja. Nenek Yuda di ujung meja mengangkat alisnya, menatap mereka bertiga dengan sorot yang tenang tapi membaca. Pak Bram, ayah Yuda, melempar pandang penuh arti ke arah istrinya. Orang tua Humaira saling bertatapan sebentar, lalu kembali menatap ke tengah meja. Para tante dan om dan sepupu saling berbisik, seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang menarik, sesuatu yang belum jelas bentuknya.

Yuda tidak mengatakan apa-apa. Tangannya masih menahan serbet di luka Carisa. Tapi matanya bergerak pelan, terkontrol ke arah Reynanda. Tatapan yang dari luar terlihat biasa. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang dingin dan tajam, seperti pisau yang belum dikeluarkan dari sarungnya.

"Duduklah." Suaranya rendah, ditujukan kepada Reynanda. "Kembali makan. Istriku biar jadi urusanku."

Kalimat itu singkat. Sopan bahkan jika didengar dari jauh. Tapi ada tekanan di nada bicaranya. Dan semua orang di meja itu merasakannya, meski tidak ada yang bersuara.

Reynanda berhenti sejenak, lalu duduk kembali. Wajahnya sedikit kaku. Ia mulai menyadari reaksinya tadi terlalu jauh.

Suasana sudah terlanjur berubah.

Sarapan yang tadinya ramai kini terasa hening. Obrolan kembali berjalan, tapi tidak lagi sama, lebih hati-hati, lebih pelan, seolah semua orang masih memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Sarapan akhirnya selesai.

Tapi bukan kenyang yang Carisa rasakan. Badannya masih bergetar pelan dan tatapan-tatapan tadi masih terasa menusuk punggungnya bahkan ketika ia sudah berdiri dan menjauh dari meja.

Para anggota keluarga mulai bergerak kembali ke kamar masing-masing untuk mulai berkemas. Siang ini mereka semua akan pulang ke tempat masing-masing, meninggalkan villa yang dua hari ini jadi saksi dari terlalu banyak hal.

Carisa berjalan ke kamar dengan langkah yang stabil, satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan sepenuhnya pagi ini.

Di kamar seberang, Humaira dan Reynanda berkemas dalam diam.

Uwais duduk di atas kasur, sibuk dengan mainan kecilnya. Reynanda melipat baju dengan gerakan yang terlalu rapi untuk seseorang yang pikirannya tidak tenang. Humaira membuka koper, menata pakaian, sesekali menoleh ke arah suaminya.

Beberapa kali mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi.

Ada pertanyaan yang ingin keluar. Sudah sejak tadi, sejak momen di meja makan itu, sejak ia melihat gerakan suaminya yang terlalu cepat dan terlalu condong ke arah perempuan yang baru mereka kenal kemarin.

Tapi setiap kali pertanyaan itu hampir keluar, ada sesuatu yang menahannya.

Takut terlihat seperti istri pencemburu. Takut jika ia bertanya, jawabannya adalah sesuatu yang belum ia siap dengar. Takut jika ternyata yang ia rasakan tadi bukan firasat tapi kenyataan yang sudah ada sejak sebelum ia menyadarinya.

Jadi Humaira memilih diam, mengubur semua rasa penasaran dalam benaknya.

Perempuan berhijab syar'i yang selama ini belajar membaca hati suaminya dengan sabar tanpa banyak bertanya, tanpa menuduh, hari ini merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dalam lima tahun pernikahan mereka.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!