Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Malam itu hujan turun dengan deras, membasahi bumi dan membawa udara dingin yang menusuk tulang. Suara rintik air menghantam atap seng menjadi satu-satunya suara yang memenuhi rumah kecil itu, menciptakan suasana yang tenang namun juga memicu kerinduan yang mendalam.
Di dalam, suasana terasa sangat berbeda dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tidak lagi terasa suram dan mencekam. Ruangan itu kini bersih, hangat, dan terasa sangat hidup. Aroma teh hangat dan gorengan buatan Alexa masih tertinggal di udara, menambah kesan kenyamanan yang luar biasa.
Genesis duduk bersandar di dinding, matanya terpejam setengah. Ia baru saja selesai mandi air hangat yang sudah disiapkan Alexa, membuat seluruh otot pegal akibat kerja seharian terasa lemas dan rileks. Di sebelahnya, Alexa sedang sibuk melipat pakaian yang baru saja kering.
Gerakan tangan gadis itu luwes, teratur, dan sangat indah dipandang.
Genesis membuka matanya sedikit, menatap profil wajah Alexa di bawah cahaya lampu kuning yang remang. Ia mengamati alis yang terlihat rapi, hidung yang mancung, dan cara bibirnya yang sesekali bergerak menyenandungkan lagu pelan.
Cantik. Hanya itu kata yang mampu melukiskan apa yang ada di depan matanya.
Tapi lebih dari sekadar cantik, ada perasaan hangat yang menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuh. Perasaan aman. Perasaan bahwa di tempat inilah ia seharusnya berada. Bahwa dengan orang inilah ia ingin menghabiskan waktunya.
“Kenapa liatin aku terus?” tanya Alexa tanpa menoleh, seolah ia bisa merasakan tatapan tajam itu menusuk punggungnya.
Genesis terkekeh pelan, tidak berniat menyembunyikan pandangannya.
“Gue lagi mikir, beruntung banget gue kemarin izinin lo masuk. Kalau enggak, mungkin gue masih hidup kayak sampah di tempat kotor kayak gini.”
Alexa berhenti melipat baju, lalu menoleh dengan senyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantung Genesis berdegup tidak karuan.
“Kamu itu bukan sampah, Gen. Kamu cuma butuh seseorang yang nemenin dan ngingetin kalau kamu berharga,” ucapnya pelan, nada bicaranya lembut sekali, seolah sedang membisikkan doa.
Genesis menelan ludah. Suasana tiba-tiba terasa lebih hangat, atau mungkin hanya ia yang merasa kepanasan karena tatapan mata gadis itu.
“Lo tuh…” Genesis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencari topik lain agar tidak makin grogi.
“Lo tuh kadang ngomongnya dalem banget. Kadang juga cerewet banget kayak emak-emak. Tapi anehnya, gue nyaman.”
Ia mengucapkan kalimat terakhir itu dengan jujur. Tanpa basa-basi, tanpa nada bercanda.
Alexa terdiam. Wajahnya tampak bersinar diterangi cahaya lampu, tapi matanya menyimpan rahasia yang dalam.
“Emangnya aku cerewet?” tanyanya, berusaha memecah ketegangan dengan tawa kecil.
“Iya. Cerewet. Tapi cerewetnya yang bikin betah. Sejak ada lo, rumah ini rasanya beda. Rasanya… kayak rumah beneran. Rasanya kayak… ada ibunya lagi,” ucap Genesis tanpa filter.
Kalimat itu meluncur begitu saja, dan begitu menyadari apa yang baru ia katakan, wajah Genesis langsung memerah padam.
“Maksud gue… bukan gitu juga sih! Maksud gue, suasananya! Suasananya aja yang sama!” buru-buru ia membela diri, panik setengah mati.
Alexa tidak tertawa mengejek. Sebaliknya, senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang jauh lebih lembut dan menyedihkan. Matanya mulai berkaca-kaca.
Kata-kata Genesis itu bagai pisau bermata dua bagi Naura. Mendengar anaknya berkata bahwa ia merasa nyaman, merasa seperti ada ibunya lagi… itu adalah hal terindah yang ingin didengarnya. Tapi di saat yang sama, itu juga yang paling menyakitkan.
Karena ia ada di sana, tapi ia tidak bisa mengakui. Ia bisa merasakan, tapi tidak bisa memeluk.
“Iya…” suara Alexa terdengar bergetar tipis.
“Aku juga… aku juga nyaman banget di sini. Rasanya kayak… pulang ke rumah sendiri.”
Hatinya berteriak keras. Iya Gen, ini rumahku. Ini rumah kita. Aku ibumu, Nak.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat samar yang penuh makna ganda. Genesis tidak menangkap getar sedih di suara itu, atau mungkin ia pura-pura tidak tahu. Ia hanya merasa ada ikatan batin yang aneh menghubungkan mereka berdua.
“Lex…” panggil Genesis pelan.
“Hm?”
“Lo janji ya nggak bakal pergi kemana-mana? Jangan tinggalin gue sendirian lagi,” suara Genesis terdengar sangat kecil, sangat rapuh. Ia menunduk, memainkan ujung jarinya sendiri, tampak seperti anak kecil yang meminta jaminan keselamatan.
Melihat pemandangan itu, pertahanan diri Naura runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh menetes di pipinya. Ia buru-buru mengusapnya cepat, berharap Genesis tidak melihat.
Ia ingin sekali menjawab, Ibu tidak akan pernah pergi, Nak. Ibu akan selalu ada.
Tapi ia harus tetap menjadi Alexa.
“Aku janji,” ucapnya parau, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar.
“Selama kamu nggak ngusir aku, aku bakal tetap di sini. Di samping kamu.”
Genesis mendongak, melihat wajah gadis itu yang basah oleh air mata. Ia panik bukan main.
“Eh! Lo kenapa nangis?! Hei! Jangan nangis dong! Gue salah ngomong apa?!” Genesis langsung bergerak mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa senti.
Ia ingin sekali mengusap air mata itu, ingin sekali menghapus kesedihan di wajah itu, tapi tangannya ragu melayang di udara.
“Enggak…” Alexa menggeleng cepat, tersenyum meski bibirnya bergetar. “Aku cuma… terharu. Maaf ya, aku jadi cengeng gini.”
“Bukan cengeng,” Genesis menggenggam kedua bahu gadis itu pelan, tatapannya serius dan dalam. “Lo cuma terlalu baik. Terlalu baik buat gue, buat tempat ini, buat segalanya.”
Suasana di antara mereka berubah drastis. Hujan di luar masih deras, tapi dunia di dalam ruangan itu seolah berhenti berputar. Mata mereka bertaut, tenggelam dalam lautan perasaan yang rumit dan membingungkan.
Di mata Genesis, ia melihat sosok pelipur lara, sosok yang ia rindukan, sosok yang mulai ia cintai lebih dari sekadar teman.
Di mata Alexa/Naura, ia melihat darah dagingnya, hidupnya, segalanya baginya. Cinta seorang ibu yang meluap-luap namun harus terpendam rapat di dalam dada.
“Gen…” panggil Alexa pelan, napasnya memburu. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya. Untuk memeluk anaknya dan berkata Ini Ibu, Nak, Ibu di sini.
Tapi rasanya Genesis lebih dekat, wajahnya semakin mendekat, matanya terpejam sedikit.
“Lex…” bisik Genesis, suaranya serak dan berat.
Jantung Naura berdegup kencang bukan main. Detik itu juga ia sadar, bahaya sudah ada di depan mata. Genesis mulai melihatnya sebagai wanita, bukan lagi sebagai bayangan ibu. Dan ia… ia hampir kehilangan kontrol.
“Sudah malam,” kata Alexa tiba-tiba dengan suara agak tinggi, ia mundur perlahan melepaskan genggaman tangan Genesis di bahunya. “Kamu harus istirahat, besok kan harus kerja.”
Ia berdiri cepat, memunggungi Genesis agar anaknya tidak melihat wajahnya yang pucat dan ketakutan.
“Lex?” Genesis terdengar kecewa dan bingung.
“Aku… aku mau ke belakang dulu. Kamu tidur duluan ya,” lanjut Alexa tanpa menoleh lagi, lalu berjalan cepat keluar ruangan meninggalkan Genesis yang masih terpaku di tempat dengan jantung yang berdebar kencang dan perasaan yang belum tuntas.
Di luar, di bawah guyuran hujan, Naura memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Duh… apa-apaan ini…” bisiknya gemetar. “Jangan gini dong… dia anakku… dia anakku…”
Tapi kenapa saat Genesis menatapnya seperti tadi, dunianya terasa berhenti? Kenapa ada perasaan aneh yang bercampur aduk antara cinta kasih ibu dan sesuatu yang lain yang mulai tumbuh juga di hatinya sebagai Alexa?
Ini menandakan bahwa ikatan mereka sudah terlalu dalam. Genesis mulai nyaman dan bergantung, sementara Alexa mulai emosional dan hampir terbawa perasaan hingga lupa diri.
Permainan takdir ini mulai semakin serius dan berbahaya.