NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kabar Dari Calvin - Penebusan Dosa

Setahun berlalu sejak peristiwa di monumen itu. Waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan jejak luka yang mulai memudar, digantikan oleh harapan-harapan baru yang tumbuh perlahan. Malam ini, hujan deras mengetuk jendela kamarku yang sempit, menciptakan irama sedih yang biasa menemani malam-malam sunyiku saat ide buntu melanda. Di luar, angin berhembus kencang, seolah membawa serta kenangan masa lalu yang pernah menghantui setiap langkahku.

Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat di atas meja kayu yang penuh dengan tumpukan naskah. Getarannya memecah keheningan malam yang mencekam. Aku mengerutkan kening, siapa yang menghubungi di jam segini?

Layar itu menyala redup, menerangi wajah lelahku. Sebuah nama muncul. Nama yang dulu adalah mimpi buruk terbesarku, simbol dari segala ejekan dan hinaan yang pernah membuatku ingin menyerah: Calvin.

Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat. Dulu, setiap kali namanya disebut atau pesannya masuk, itu berarti ejekan baru, hinaan tentang "masa depan suram", atau cemoohan tentang mimpiku menjadi penulis. Tanganku gemetar hebat saat menggeser tombol angkat. Napasku tersengal-sengal. Apakah dia akan menghina lagi? Apakah dia tahu aku sedang dalam proses peninjauan kontrak dan ingin menjatuhkanku sekali lagi?

"Bro..." Suaranya terdengar serak, sangat berbeda dari dulu yang selalu terdengar sombong, tinggi hati, dan merendahkan. Ada getaran aneh di sana. Sesuatu yang rapuh. "Gue... gue baru saja diterima kerja di Jakarta. Posisi impian gue sebagai manajer pemasaran."

Aku terdiam seribu bahasa. Otakku sulit memproses informasi ini. Tidak ada kata-kata pedas. Tidak ada kalimat sarkas "Masih nulis cerita khayalan?". Tidak ada ejekan "Masa depan lo suram" yang biasa ia lontarkan dengan tawa mengejek di depan teman-teman sekolah dulu.

"Gue nelpon cuma mau bilang satu hal," lanjutnya, suaranya kini semakin bergetar, seolah menahan tangis yang sudah lama tertahan di tenggorokannya. "Maafin gue, Bro. Maafin semua sakit hati yang udah gue kasih selama ini. Maafin tiap kata kasar yang bikin lo nangis di kamar mandi sekolah."

Aku menutup mata, air mata mulai menggenang. Ingatanku melayang ke masa lalu, saat Calvin adalah raja di sekolah dan aku adalah badut yang selalu jadi bahan tertawaan.

"Dulu gue buta, Bro. Gue sombong. Gue pikir kesuksesan itu cuma soal uang dan jabatan," isaknya pelan. "Gue yang bilang masa depan lo suram. Ternyata... justru cerita lo, novel lo tentang Ranti dan perjuangan hidup, yang nyelamatin gue dari kebodohan itu. Saat gue baca bab-bab awal lo diam-diam, gue sadar gue jahat banget."

"Gara-gara lo, gue belajar buat gak ngeremehin orang lagi. Gue belajar bahwa setiap orang punya perjuangannya sendiri," tambahnya dengan suara lirih, seolah takut aku akan membantahnya atau memutus telepon. "Terima kasih sudah bertahan, Bro. Terima kasih sudah nggak balas dendam. Terima kasih sudah membuktikan kalau mereka semua salah tentang lo. Lo inspirasi gue buat berubah."

Dunia seakan berhenti berputar. Musuh terbesarku, orang yang paling keras menghancurkan kepercayaan diriku, kini menjadi saksi pertobatannya sendiri. Beban di dadaku yang selama ini terasa berat, mendadak hilang diterbangkan angin.

"Terima kasih juga, Vin," jawabku akhirnya, suaraku parau menahan haru. "Kita sama-sama belajar ya."

Kututup telepon perlahan. Di luar, hujan reda perlahan. Awan hitam yang tadi menutupi langit mulai pecah, menyisakan cahaya matahari sore yang hangat menerobos masuk ke kamar, menerangi debu-debu yang menari di udara.

Masa suram itu benar-benar sudah pergi. Ternyata, musuh pun bisa berubah jadi sahabat. Ternyata, maaf adalah kunci pembuka pintu masa depan yang cerah. Dan ternyata, setiap kata yang kita tulis, sekecil apapun, bisa mengubah hidup seseorang, bahkan hidup orang yang paling kita benci sekalipun.

Aku menatap layar laptopku yang masih terbuka. Bab 24 ini bukan akhir, tapi awal dari babak baru. Babak di mana masa lalu tidak lagi menakutkan, karena kita sudah berhasil mendamaikannya.

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!