"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22.Sketsa dan mayat yang sama.
Mobil hitam milik Rian melaju mulus membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pagi itu. Di kursi penumpang sebelah, Salsa duduk dengan tenang, tangannya meremas ujung jaket kecilnya, sementara matanya menatap pemandangan gedung-gedung tinggi yang berderet rapi di sepanjang jalan. Jantungnya berdebar sedikit kencang. Ini pertama kalinya ia masuk ke sekolah elit, lingkungan yang sangat berbeda dengan tempat ia bersekolah dulu di desa.
"Jangan gugup ya, Sal. Tenang aja," ucap Rian memecah keheningan, sambil sesekali melirik ke arah istrinya yang terlihat lucu dengan ekspresi cemasnya. "Sekolah ini bagus, pendidikannya berkualitas, dan yang paling penting... ada Rani di sana."
Salsa mengangguk pelan lalu tersenyum tipis. "Iya, Kak. Rani yang ceria dan banyak bicara itu. Senang banget bisa satu sekolah sama dia."
"Nah, itu dia. Nanti kalau ada apa-apa, cari Rani aja. Dia anaknya baik, meski kadang agak keras kepala sedikit," canda Rian, berusaha mencairkan suasana agar Salsa tidak terlalu tegang.
Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok masuk ke gerbang besar yang dihiasi ornamen ukiran indah. Di sana tertulis besar nama sekolah: SMA Wijaya Utama. Gedungnya menjulang tinggi dengan arsitektur modern bernuansa klasik, halamannya luas dan bersih, serta banyak sekali siswa-siswa berjalan tertib mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi. Ini adalah salah satu sekolah swasta paling bergengsi di kota, tempat di mana anak-anak dari keluarga terpandang menimba ilmu.
Rian memarkirkan mobil di tempat khusus tamu, lalu turun bersama Salsa. Ia berjalan mendampingi gadis itu menuju gedung utama kantor kepala sekolah. Sesampainya di ruangan yang luas dan berpenyejuk udara itu, Rian disambut hangat oleh kepala sekolah, Bapak Darmawan, seorang pria paruh baya yang berwibawa namun ramah.
"Selamat pagi, Pak Rian. Silakan duduk," sapa Pak Darmawan sambil menunjuk kursi tamu.
"Pagi, Pak. Terima kasih," jawab Rian sopan. Ia lalu menarik pelan tangan Salsa yang berdiri di belakangnya, memajukannya ke depan. "Perkenalkan, Pak. Ini Salsa. Dia... adik sepupu saya dari desa. Orang tuanya sudah tiada, jadi sekarang Salsa adalah bagian dari keluarga Wijaya."
Salsa menundukkan kepalanya sopan. "Selamat pagi, Pak Darmawan."
Pak Darmawan tersenyum ramah, lalu mengambil berkas-berkas yang diserahkan Rian berisi catatan nilai dan dokumen sekolah terdahulu Salsa. Ia mulai meneliti satu per satu lembar kertas itu. Awalnya wajahnya biasa saja, namun lama-kelamaan alisnya terangkat tinggi, matanya membelalak takjub.
"Wah... ini nilai-nilainya sangat mengagumkan, Pak Rian," ucap Pak Darmawan tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia menunjuk angka-angka di atas kertas itu. "Lihat saja, nilainya hampir sempurna di semua mata pelajaran, terutama Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Bahkan nilai pelajaran umum lainnya pun sangat tinggi. Ini prestasi yang luar biasa, apalagi didapatkan dari sekolah di daerah yang fasilitasnya mungkin terbatas."
Pria tua itu menatap Salsa dengan pandangan berbeda, penuh rasa hormat dan kekaguman. "Sangat jarang kami mendapatkan siswa dengan rekam jejak akademis sebaik ini. Tentu saja, Salsa kami terima dengan tangan terbuka. Dia berhak mendapatkan pendidikan terbaik sesuai kecerdasannya."
Mendengar itu, rasa lega seketika memenuhi dada Rian dan Salsa. Rian tersenyum bangga, menatap Salsa sekilas. Ia memang bahu istrinya gadis yang cerdas, tapi mendengar langsung pujian dari kepala sekolah elit seperti ini tetap membuatnya bangga.
"Terima kasih banyak, Pak. Kami sangat berterima kasih," ucap Rian tulus.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut lebih jauh, tiba-tiba ponsel di saku celana Rian berdering nyaring. Nada dering khusus yang hanya digunakan untuk panggilan dinas mendadak membuat raut wajah Rian berubah serius seketika. Ia meminta izin sejenak, lalu mengangkat telepon itu.
"Halo, Rian berbicara... Iya... Apa?! Di belakang kantor polisi? Mayat di dalam koper?..."
Suara dari seberang terdengar tegas dan cepat, memberikan laporan singkat namun padat. Wajah Rian semakin mengeras, rahangnya mengatup rapat. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap Pak Darmawan dan Salsa dengan pandangan minta maaf.
"Baik, saya segera ke lokasi. Siapkan tim forensik dan identifikasi," ucap Rian tegas sebelum menutup telepon. Ia beralih ke Pak Darmawan. "Maaf sekali Pak, sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada panggilan darurat dinas, kasus penting yang harus saya tangani sendiri."
"Tidak apa-apa, Pak Rian. Tugas negara lebih utama," jawab Pak Darmawan mengerti.
Rian lalu berlutut sedikit di depan Salsa, menatap gadis itu lekat-lekat. "Sal, Kakak harus pergi dulu ya. Ada urusan mendadak dari kantor. Kamu di sini saja ya? Pak Darmawan akan bantu urus sisanya."
Salsa mengangguk paham, meski ada sedikit kekhawatiran melihat perubahan wajah Rian yang serius itu. "Iya Kak, aku mengerti. Hati-hati di jalan ya."
"Baik,kakak pergi dulu," Rian tersenyum sekilas, menepuk puncak kepala Salsa dengan lembut, lalu berdiri dan berpamitan cepat. Ia bergegas keluar ruangan dengan langkah tegap, meninggalkan Salsa di sana.
Setelah kepergian Rian, Pak Darmawan memanggil salah satu staf untuk memanggil wali kelas tempat Salsa akan masuk. Tak lama kemudian, masuklah seorang wanita muda berpenampilan rapi dan ramah, Bu Anita. Ia langsung diserahi data diri Salsa dan diminta mengantar siswa baru ini ke kelasnya.
"Ayo Salsa, kita jalan ke kelas ya," ajak Bu Anita ramah.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang luas dan bersih. Banyak pasang mata siswa yang menoleh, penasaran melihat wajah baru yang berjalan bersama guru mereka. Salsa yang hanya mengenakan pakaian santai—kaos berwarna lembut dan celana jeans—terlihat berbeda dibandingkan siswa lain yang sudah lengkap berseragam, namun justru membuatnya tampak lebih polos dan menarik perhatian.
Sesampainya di depan pintu kelas X-2, Bu Anita membuka pintu lebar-lebar. Suara hiruk-pikuk di dalam seketika mereda saat semua siswa menatap ke arah pintu.
"Anak-anak, perhatian sebentar ya. Hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Salsa. Dia pindahan dari sekolah di luar kota. Tolong disambut dengan baik ya," ucap Bu Anita memperkenalkan.
Salsa melangkah masuk dengan hati-hati, jantungnya kembali berdegup kencang karena gugup menatap puluhan pasang mata yang tertuju padanya. Namun, saat pandangannya menyapu ruangan dan menemukan satu sosok yang ia kenal, rasa gugup itu seketika lenyap begitu saja.
Di deretan bangku tengah, seorang gadis dengan rambut dikepang dua sedang melambaikan tangan heboh ke arahnya sambil tersenyum lebar dan berbinar. Itu Rani. Adik Rian.
Melihat senyum Rani yang tulus dan akrab, Salsa pun ikut tersenyum lebar, rasa cemasnya hilang ditelan rasa lega.
Bu Anita melihat ke arah Rani, lalu tersenyum. "Kebetulan sekali, masih ada kursi kosong di sebelah Rani sana. Salsa, kamu duduk di sana saja ya."
Dengan langkah ringan, Salsa berjalan melewati lorong di antara bangku-bangku siswa, lalu duduk tepat di sebelah Rani.
"Hai! Akhirnya kamu datang juga!" bisik Rani antusias sambil menepuk bahu Salsa pelan. "Kak Rian bilang kamu bakal sekolah di sini, aku udah nunggu banget lho. Asik banget deh sekarang kita satu sekolah sekelas pula! Tenang aja Sal, di sini aku temen kamu paling dekat, jangan takut sama siapa-siapa ya!"
Salsa tertawa kecil, merasa sangat beruntung. "Makasih banyak ya, Ran. Kamu aja yang bikin aku nggak deg-degan lagi."
Di Ruang Forensik Kepolisian
Sementara itu, suasana di kantor kepolisian berubah menjadi sangat sibuk dan tegang. Rian baru saja tiba, berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan jenazah di bagian belakang gedung. Ia disambut oleh rekannya, Bobby, seorang penyidik berpengalaman yang sudah menunggu dengan berkas-berkas data di tangan.
"Gimana situasinya, Bob? Ceritakan semuanya dari awal," tanya Rian langsung pada intinya sambil mengenakan jas pelindung dan masker wajah.
Mereka masuk ke dalam ruangan ber-udara dingin itu. Di atas meja baja yang panjang, terbaring jenazah wanita yang sudah dibersihkan sebagian. Tubuhnya tertutup kain putih, hanya bagian wajah yang terbuka. Di sekelilingnya, petugas forensik sedang mencatat dan memotret berbagai bagian tubuh korban.
"Ini datanya, Pak," ucap Bobby sambil menyerahkan selembar kertas pada Rian. "Identitas korban sudah kita ketahui berkat data di kartu identitas yang masih ada di dalam saku celananya. Namanya Riza Amalia, usia 21 tahun. Pekerjaannya penjaga toko aksesori di salah satu mal besar di pusat kota. Berdasarkan keterangan pemilik tempat kostnya, Riza dilaporkan hilang sudah sekitar sebulan yang lalu. Dia pulang dari kerja seperti biasa, tapi besok paginya tidak keluar kamar, dan barang-barang berharganya masih ada di dalam."
Rian menyimak sambil berjalan mendekati meja jenazah. Matanya menatap lekat wajah wanita itu. Wajah yang pucat, matanya tertutup rapat, namun bentuknya sangat jelas.
"Penyebab kematiannya?" tanya Rian lagi, suaranya rendah dan serius.
"Hasil pemeriksaan awal tim medis: mati karena cekikan yang sangat kuat di leher. Kekuatannya besar sekali sampai mematahkan beberapa tulang rawan leher," jelas Bobby sambil menunjuk bagian leher jenazah yang memar kebiruan. "Tapi Pak... ada hal lain yang lebih mengerikan."
Bobby memberi isyarat pada petugas untuk membuka kain penutup tubuh jenazah itu.
"Lihat ini... sebelum dicekik sampai mati, korban ternyata mengalami penyiksaan yang cukup lama dan kejam," ucap Bobby dengan nada bergidik. "Ada bekas luka sayatan benda tajam di kedua telapak tangan, di kedua kaki bagian bawah, dan yang paling banyak... di dada sebelah kiri. Luka-lukanya dangkal tapi banyak, seolah pelakunya ingin menyakiti korban perlahan-lahan, menyiksanya sampai habis tenaga dan mentalnya sebelum akhirnya membunuhnya."
Rian mengamati setiap bekas luka itu dengan saksama. Ia mengerutkan kening, pikirannya bekerja cepat menyusun potongan kasus ini. Siapa yang sekejam itu? Dan apa motifnya? Apakah pembunuhan berencana, dendam pribadi, atau kejahatan lain?
Namun, saat matanya kembali jatuh ke wajah korban Riza... jantung Rian seakan berhenti berdetak sejenak. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Wajah itu... bentuk mata itu, bentuk hidung dan bibir itu... rambut panjang yang terurai itu...
Tiba-tiba, ingatan pagi ini melintas cepat di benak Rian. Ingatan saat mereka duduk di meja makan. Ingatan saat Salsa mendorong buku sketsanya. Gambar wajah wanita yang digambar istrinya semalam dengan begitu detail, wanita yang katanya 'tersesat' dan meminta bantuan.
Rian tertegun kaku.
Gambar itu... persis sama. Seratus persen sama dengan wajah jenazah yang kini terbaring dingin di hadapannya.
"Wah... kamu gambar ini sendiri? Bagus banget Sal, detail banget... Ini siapa? Teman kamu?"
"Bukan. Ini... ini orang yang aku temui semalam di mobil. Dia butuh bantuan banget Kak..."
Kata-kata Salsa berputar berulang-ulang di kepala Rian. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Salsa bertemu wanita ini semalam? Meminta tolong untuk mencarikan identitasnya? Tapi wanita ini sudah meninggal tiga hari yang lalu! Tubuhnya baru ditemukan pagi ini!
Bagaimana mungkin?
Rian menatap jenazah Riza lagi, lalu menatap Bobby di sebelahnya.
"Bob... apa kamu yakin perkiraan kematiannya tiga hari yang lalu?" tanya Rian dengan suara bergetar sedikit.
"Yakin Pak. Laporannya ada di sini," jawab Bobby bingung melihat ekspresi atasannya. "Ada apa Pak? Ada yang salah?"
Rian tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku, pikirannya kacau balau. Dia polisi yang rasional, dia tidak percaya hal-hal mistis. Tapi bukti nyata ada di depan mata. Gambar Salsa tidak mungkin persis sama jika hanya kebetulan.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍