Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 -MHB
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden apartemen lantai 28 biasanya menjadi alarm alami yang menenangkan bagi Maya. Namun pagi ini, sinar itu terasa seperti lampu interogasi. Maya terbangun dengan jantung yang langsung berpacu kencang begitu memori semalam berputar otomatis di kepalanya seperti film yang tak bisa dihentikan.
Ciuman itu. Ciuman yang "resmi". Ciuman yang menghancurkan semua barikade profesional yang ia bangun selama berbulan-bulan.
Maya menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Sebagai seorang manajer sukses, ia terbiasa memegang kendali. Namun sekarang, ia merasa seperti kehilangan kemudi atas hidupnya sendiri dan yang lebih parah, ia menikmatinya.
"Oke, Maya. Tarik napas. Kamu dewasa. Kamu profesional. Anggap saja itu... apresiasi emosional," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mencari istilah korporat untuk membenarkan apa yang terjadi.
Maya bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi dengan niat membasuh wajahnya agar kesadarannya pulih 100%. Namun, begitu ia berdiri di depan wastafel, langkahnya terhenti.
Di cermin kamar mandi yang sedikit berembun, tertempel sebuah kertas post-it berwarna kuning cerah. Tulisan tangannya berantakan namun tegas—khas Arka.
"Jangan lupa napas, Kak. Itu cuma ciuman, bukan ujian akhir semester. P.S. Serealnya sudah kubeli semalam setelah kamu tidur."
Maya mematung. Pipinya yang semula sudah mulai mendingin kembali memanas hingga ke telinga. Ia meremas kertas itu dengan gemas, namun sebuah senyum tipis yang tak sanggup ia tahan muncul di sudut bibirnya.
Bocah ini benar-benar tidak punya rasa takut, batin Maya. Ia merasa harga dirinya sebagai "Senior" sedang diinjak-injak dengan cara yang paling manis sekaligus menyebalkan.
Maya keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sangat rapi—blazer abu-abu gelap, rambut yang disanggul sempurna, dan wajah yang ia buat sedatar mungkin. Ia harus merebut kembali otoritasnya.
Di ruang makan, Arka sudah duduk dengan santai. Ia hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana jins, tampak sangat segar seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Aroma kopi hitam dan sereal cokelat memenuhi ruangan.
"Selamat pagi, Ibu Manajer," sapa Arka tanpa menoleh, masih sibuk mengaduk serealnya. Nada suaranya terdengar sangat ceria, jauh lebih percaya diri dibandingkan kemarin-kemarin.
"Pagi," jawab Maya pendek. Ia duduk di kursi seberang Arka, mencoba fokus pada ponselnya, berpura-pura memeriksa email masuk yang sebenarnya sudah ia baca semua semalam.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Biasanya, sunyi di antara mereka terasa kaku atau tegang karena permusuhan. Tapi pagi ini, sunyi itu terasa... intens. Ada listrik yang masih tertinggal di udara.
"Kenapa nggak dimakan? Takut ada sisa rasa semalam di sendoknya?" goda Arka tiba-tiba, menatap Maya dengan mata yang berkilat nakal.
Maya hampir tersedak air putih yang baru saja ia teguk. "Arka! Bisa tidak kita bersikap normal? Kejadian semalam itu... itu hanya impulsif. Kita sedang emosional karena Adrian."
Arka meletakkan sendoknya, mencondongkan tubuh ke arah meja, memperpendek jarak di antara mereka. "Impulsif? Kak, impulsif itu kalau aku tidak sengaja menjatuhkan gelas. Tapi kalau aku menahanmu selama dua menit dan kamu tidak mendorongku... itu namanya konsensual. Dan kalau boleh jujur, itu ciuman terbaik yang pernah kudapat dari seorang 'rekan kerja'."
"Arka Pradipta!" Maya meletakkan ponselnya dengan dentuman keras. "Aku serius. Kita harus tetap profesional. Status kita di atas kertas masih perjodohan, dan di kantor kita tetap atasan dan... dan magang. Jangan biarkan hal ini mengaburkan batasan kita."
Arka tidak terlihat terintimidasi sama sekali oleh nada bicara Maya. Ia justru berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di samping kursi Maya. Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi Maya, mengurung wanita itu dengan aromanya yang maskulin.
"Batasan apa yang kamu maksud, Maya?" bisik Arka, kali ini tanpa nada bercanda. "Batasan yang kamu buat untuk melindungi dirimu sendiri agar tidak jatuh cinta padaku? Maaf, tapi kurasa batasan itu sudah hanyut semalam."
Maya mendongak, mencoba menatap Arka dengan tatapan "bos"-nya, namun pertahanannya goyah saat melihat tatapan Arka yang begitu intens. "Aku hanya ingin kita tidak... tidak menjadi rumit."
"Cinta itu memang rumit, Kak," Arka tersenyum tipis, tangannya mengacak rambut Maya yang disanggul rapi, sebuah gerakan yang sangat tidak sopan bagi seorang junior, namun terasa begitu akrab. "Tapi bukan berarti kita harus takut. Sekarang, berangkatlah ke kantor. Kamu sudah terlambat sepuluh menit gara-gara kelamaan menatap cermin tadi."
Arka kemudian menegakkan tubuhnya, kembali ke mode santai. "Oh ya, soal catatan di cermin tadi... jangan dibuang ya. Simpan saja buat pengingat kalau kamu mulai merasa kaku lagi."
Maya bangkit dari kursinya dengan perasaan kalah telak. Ia menyambar tasnya, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah terburu-buru. Namun, sebelum ia membuka pintu, ia berbalik.
"Arka?"
"Ya?"
"Jangan telat ke kantor. Dan... jangan pakai kacamata itu hari ini. Aku sedang malas melihatmu terlihat pintar."
Arka tertawa lepas, suara tawa yang memenuhi apartemen dan membuat hati Maya berdesir aneh. "Siap, Bos! Tapi aku nggak janji ya kalau soal terlihat ganteng."
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Maya memegang kemudi dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyadari satu hal: status "Senior" yang selama ini ia banggakan telah runtuh. Arka bukan lagi bocah yang bisa ia atur dengan kontrak atau perintah. Arka telah bertransformasi menjadi pria yang tahu persis di mana titik lemah Maya.
Ia memikirkan catatan di cermin itu lagi. Jangan lupa napas.
Sederhana, namun sangat nyata. Selama ini Maya selalu menahan napasnya—menahan emosinya, menahan keinginannya, menahan hidupnya agar tetap berada dalam jalur yang lurus dan aman. Dan Arka, dengan segala kekonyolannya, baru saja memaksa Maya untuk mulai bernapas kembali.
Sesampainya di kantor, Maya melihat bayangannya di dinding kaca lobi. Sanggulnya sedikit berantakan karena ulah Arka tadi, tapi matanya terlihat lebih hidup daripada biasanya.
Mungkin menjadi rumit tidak seburuk itu, pikirnya.
Maya melangkah masuk ke kantor dengan kepala tegak. Meskipun ia tahu, begitu Arka melangkah masuk ke ruangan rapat nanti, perang batin di dalam dirinya akan dimulai lagi.
Bersambung.....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡