NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGINTIP DARI BALIK BAYANGAN

Semalaman Alana tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Setiap kali ia mencoba menutup matanya, yang terbayang selalu wajah Raka, sorot matanya yang menusuk, dan kata-kata yang dituliskannya di secarik kertas itu. Ia terus memutar ulang kejadian demi kejadian di dalam kepalanya, merasa takut sekaligus bingung. Kenapa harus dia? Dari sekian banyak orang di kota ini, kenapa justru dirinya yang jadi sasaran?

Pagi harinya, ia bangun dengan kepala terasa berat dan tubuh terasa lemas. Saat berjalan menuju ruang makan, ia melihat ayahnya sudah ada di sana, sedang membaca koran dengan wajah yang kembali tampak tegang. Begitu melihat Alana datang, ia meletakkan bacaannya dan menatap putrinya lekat-lekat.

“Kamu kelihatan tidak enak badan. Ada apa?” tanya ayahnya.

Alana duduk di kursi, mengambil roti di hadapannya tapi tidak punya selera untuk memakannya. “Tidak apa-apa, Yah. Cuma kurang tidur saja, mungkin karena kejadian semalam.”

Ayahnya menghela napas panjang. “Tadi pagi aku sudah memerintahkan untuk menambah orang yang menjaga di sekitar rumah dan di mana pun kamu pergi. Mulai hari ini, kamu tidak boleh bergerak sendirian sama sekali. Aku tidak mau ada hal buruk yang menimpamu lagi.”

Mendengar itu, hati Alana terasa makin sesak. Ia tahu ayahnya melakukan ini demi kebaikan, tapi ia juga sadar bahwa semua penjagaan itu tidak ada artinya. Kalau orang itu bisa masuk sampai ke dekat jendela kamarnya tanpa ada yang sadar, apa artinya semua orang yang berjaga-jaga itu? Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa menceritakan semuanya. Seolah ada ikatan yang membuat mulutnya terkunci rapat.

“Baik, Yah,” jawabnya saja pelan.

Sepanjang hari itu, ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Saat ia duduk di ruang kerja, saat ia berjalan-jalan di taman belakang rumah, bahkan saat ia sedang sendirian di dalam kamar—rasa itu tidak pernah hilang. Seolah ada mata yang menatapnya dari balik tembok, dari balik pohon, dari balik segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Ia seringkali menoleh ke belakang, tapi tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Tapi rasa itu nyata, begitu nyata sampai membuatnya selalu merinding.

Menjelang sore, ada tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Ternyata itu adalah seseorang yang bekerja sama dengan ayahnya, beserta orang-orang yang ikut bersamanya. Alana diminta untuk ikut hadir dan menyapa mereka, sebagai bentuk kesopanan.

Saat ia berjalan masuk ke ruang tamu dan mengangkat kepala untuk memberi salam, langkah kakinya terhenti seketika.

Di antara orang-orang yang datang itu, ada satu sosok yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.

Raka.

Ia berdiri di sudut ruangan, bersandar pada tiang penyangga, berpakaian rapi dan tampak seperti orang biasa saja. Tidak ada yang akan menyangka bahwa orang yang berdiri di sana adalah orang yang paling ditakuti di seluruh kota ini. Wajahnya tampak tenang, bahkan sedikit tersenyum, tapi saat matanya bertemu dengan mata Alana, senyum itu berubah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Ayahnya menyadari perubahan sikap Alana, lalu berkata, “Alana, ini Tuan Raka. Ia baru saja kembali dari luar negeri, dan sekarang ikut membantu beberapa urusan di kota ini.” Lalu ia menoleh ke arah pria itu.

“Ini putriku, Alana.”

Raka melangkah maju dengan tenang, lalu mengulurkan tangannya. Suaranya terdengar biasa saja, sama seperti orang-orang yang berbicara sopan, tapi bagi Alana, suara itu terasa seperti guntur yang bergemuruh.

“Senang bisa bertemu denganmu, Nona Alana,” ucapnya.

Alana menatap tangan yang terulur itu, lalu menatap wajahnya. Ia ingin sekali berteriak, ingin sekali bertanya apa yang sedang ia lakukan di sini, tapi ia sadar di mana ia berada dan siapa saja yang ada di sekitar mereka. Dengan tangan yang gemetar, ia menjabat tangannya sebentar saja, lalu menariknya kembali secepat mungkin seolah tangan itu terbakar.

“S-senang bertemu juga,” jawabnya, suaranya nyaris tidak terdengar.

Raka masih memegang tangannya lebih lama dari yang seharusnya, dan saat matanya menatap wajah Alana, ia berbicara dengan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saja.

“Lihat? Aku bilang kan kita akan bertemu lagi lebih cepat dari yang kau kira. Dan sekarang... aku ada di sini, tepat di hadapan ayahmu sendiri. Apa yang kau rasakan sekarang?”

Kata-kata itu membuat jantung Alana berdegup kencang. Ia menunduk, tidak berani menatap lebih lama lagi, takut orang lain akan menyadari ada sesuatu yang aneh.

Percakapan berlanjut, membahas berbagai hal yang tidak dimengerti dan tidak ingin ia mengerti. Selama itu, Alana merasa tatapan Raka tidak pernah lepas darinya. Kadang-kadang ia melirik ke arahnya, dan selalu menemukan mata pria itu yang sedang menatapnya, seolah ia adalah satu-satunya hal yang ada di ruangan itu.

Saat pertemuan itu hampir selesai, Raka berpamitan, tapi sebelum ia pergi, ia sempat berjalan mendekati Alana yang sedang berdiri agak terpisah dari orang lain. Ia berhenti tepat di sampingnya, dan suaranya terdengar begitu pelan di telinganya.

“Nanti malam, jam sembilan. Di tempat kita bertemu dulu. Jangan bawa siapa-siapa, dan jangan beritahu siapa pun. Kalau kau tidak datang... aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kau sayangi. Ayahmu, para pelayan di sini, orang-orang yang menjagamu... semuanya bisa saja hilang begitu saja. Kau tahu aku mampu melakukannya, bukan?”

Ia berbicara dengan nada yang tenang, seolah sedang membahas hal yang paling biasa saja di dunia ini, tapi makna di balik kata-katanya itu begitu mengerikan sampai membuat perut Alana terasa mual.

“Kenapa aku harus datang? Apa maumu sebenarnya?” bisiknya kembali, berusaha menahan amarah dan ketakutan yang berkecamuk di dalam dirinya.

Raka tersenyum kecil, lalu berbalik hendak pergi, tapi sebelum itu ia menambahkan, “Kau akan tahu nanti. Dan ingat... aku selalu melihat. Setiap langkah, setiap ucapan, setiap hal kecil yang kau lakukan. Tidak ada yang luput dari pengawasanku.”

Setelah ia pergi, Alana terdiam di tempat. Kakinya terasa lemas, dan ia harus bersandar pada dinding agar tidak jatuh. Apa yang baru saja terjadi? Bagaimana orang yang diburu dan dibenci oleh ayahnya bisa datang ke rumah ini, diterima dengan baik, dan dianggap sebagai orang yang bisa dipercaya? Dunia ini terasa semakin terbalik, semakin gelap, dan ia merasa seperti terperangkap di dalamnya tanpa ada jalan keluar sama sekali.

><><><><

Malam itu, waktu berjalan terasa begitu lambat. Alana duduk di kamarnya, menatap jam yang terus bergerak. Pikirannya kacau balau. Kalau ia pergi, ia mempertaruhkan dirinya sendiri, masuk ke dalam sarang bahaya yang sudah ia rasakan sendiri betapa mengerikannya itu. Tapi kalau ia tidak pergi... ia tahu benar bahwa ancaman yang diucapkan Raka itu bukan sekadar gertakan. Ia bisa melakukan apa saja, dan ia tidak akan ragu untuk melakukannya.

Ketika jarum jam menunjuk angka delapan lewat empat puluh lima menit, ia mengambil mantel dan memakainya. Ia tahu ada orang yang berjaga di mana-mana, tapi ia juga tahu—berkat perkataan Raka—bahwa ada jalan-jalan yang tidak diketahui oleh orang-orang itu, jalan-jalan yang hanya diketahui oleh orang-orang yang benar-benar mengenali tempat ini. Ia menemukan jalan itu, dan berhasil keluar dari rumah tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Ia berjalan cepat menuju tempat yang dimaksud, hatinya berdebar kencang sepanjang jalan. Saat ia tiba di sana, tempat itu kembali sepi dan gelap, persis seperti malam sebelumnya. Cahaya lampu jalan yang redup membuat bayangan terlihat panjang dan menyeramkan.

Di sana, Raka sudah menunggunya. Ia berdiri membelakangi jalan, dan saat ia mendengar langkah kaki Alana mendekat, ia berbalik. Wajahnya tampak berbeda dari siang tadi—tidak ada kesopanan yang dipaksakan, tidak ada senyum untuk menutupi apa yang ada di dalam dirinya. Kini ia tampak apa adanya: dingin, berbahaya, dan memegang kendali penuh atas segala sesuatu.

“Bagus. Kau datang juga,” katanya, nada bicaranya datar tapi terdengar ada rasa puas di dalamnya.

Alana berhenti di tempat yang agak jauh darinya, tidak mau terlalu dekat. “Aku datang bukan karena aku mau, tapi karena aku tidak mau ada hal buruk yang menimpa orang lain. Katakan saja apa yang kau inginkan dariku, lalu biarkan aku pergi.”

Raka melangkah mendekat, perlahan tapi pasti, sampai ia berdiri tepat di hadapan Alana. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap matanya lekat-lekat.

“Kau pikir semudah itu?” tanyanya, lalu tertawa kecil, suara tawanya terdengar tajam dan tidak menyenangkan.

“Kau pikir aku mengumpulkan keberanian dan waktu hanya untuk bertemu denganmu sekadar untuk mengatakan apa yang aku inginkan? Kau salah besar, Alana. Aku mengajakmu ke sini supaya kau sadar... bahwa mulai saat ini, hidupmu ada di dalam genggamanku. Kau bukan lagi milik dirimu sendiri, dan kau juga bukan lagi milik ayahmu. Kau milikku.”

“Kau gila!” seru Alana, tidak bisa menahan perasaannya lagi.

“Kau tidak bisa melakukan itu padaku! Aku orang bebas, aku bisa melakukan apa saja yang aku mau, dan aku tidak akan pernah tunduk padamu!”

Raka tidak marah. Ia malah terlihat makin tertarik. Ia mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Alana dengan ujung jarinya, gerakannya pelan tapi terasa begitu memaksa.

“Kau boleh bicara seperti itu sekarang, dan aku suka mendengarnya. Itu yang membuat kau berbeda dari yang lain. Tapi cepat atau lambat, kau akan menyadari bahwa tidak ada gunanya melawanku. Semua yang ada di sekitarmu, semua yang kau cintai, semuanya ada di bawah kekuasaanku. Kalau kau mau mereka selamat... kau harus menuruti apa yang aku katakan. Tidak ada pengecualian sama sekali.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah dan berat, yang membuat seluruh tubuh Alana terasa kaku.

“Dan satu hal lagi... Jangan pernah coba untuk membohongiku, atau melarikan diri dariku. Karena kalau kau lakukan itu, aku akan memastikan bahwa hal terburuk yang bisa kau bayangkan akan terasa seperti hal yang paling menyenangkan dibandingkan apa yang akan aku lakukan padamu dan pada orang-orang yang kau sayangi. Kau mengerti?”

Alana tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap wajah di hadapannya itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar tidak berdaya, benar-benar sendirian, dan benar-benar terperangkap. Ia tahu bahwa apa pun yang ia lakukan, ia tidak akan bisa lepas dari orang ini. Ia sudah masuk ke dalam dunianya, dan sepertinya tidak ada jalan untuk keluar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!