Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Naskah Tak Berlaku & Sayap yang Terbang Bersama
Malam semakin larut. Angin malam menyusup lewat celah jendela kayu yang reyot, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di sampingku, Balqis sudah terlelap. Napasnya teratur, polos, tanpa beban. Wajah mungilnya diterangi cahaya remang dari lampu jalan yang masuk lewat tirai tipis.
Tapi dadaku? Dadaku sesak. Sesak oleh kata-kata yang tak pernah sempat terucap, oleh perasaan yang tak pernah sampai pada tujuan.
Aku menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Bayangan masa lalu kembali datang, menghantui seperti film lama yang diputar ulang. Wajah itu, suara itu, dan janji-janji yang kini tinggal debu.
"Engkau tak pernah mengerti perasaanku lebih dalam," bisikku pada keheningan. Suaraku parau, nyaris tak terdengar. "Aku hanya menunggu sebuah harapan yang mungkin terjadi. Di mana perasaanmu kepadaku? Di saat aku jatuh tersungkur, lumpuh dan ditinggalkan, aku hanya membutuhkan genggaman, bukan punggung yang menjauh."
Air mataku menetes lagi. Membasahi bantal yang sudah lembap. Hatiku menangis. Bukan karena sakit fisik stroke yang membuat separuh tubuhku kaku, tapi karena rasa sepi yang tak kunjung paham. Aku berteriak dalam diam: AA... di mana perasaanmu yang sesungguhnya? Mengapa kau tak pernah melihat lukaku lebih dalam?
Tiba-tiba, teringat kata-kataku sendiri siang tadi. Saat melihat Balqis tertawa lepas meski kami hanya punya sedikit.
"Engkau dan aku malaikat bersayap satu. Yang hanya bisa terbang bila saling berpelukan."
Ya Allah... Mungkin memang demikian adanya. Mungkin dia bukan sayapku. Mungkin sayapku hanyalah Balqis. Dan kami hanya bisa terbang jika kami saling memeluk erat, menutupi luka masing-masing dengan cinta.
Namun, di tengah kelembutan itu, tiba-tiba ada api yang menyala di dada. Api yang selama ini tertimbun abu kepasrahan. Api harga diri seorang Rudini.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku merasakan energi aneh mengalir di urat-uratku. Rasa sakit karena tidak dimengerti itu berubah menjadi kemarahan suci. Kemarahan untuk berhenti menjadi korban.
Aku berbisik pada kegelapan kamar, pada bayangan masa lalu yang masih mencoba mencengkeram kakiku:
"Asingkanlah ragaku dalam gelap hingga sesak dan terlelap. Hinakanlah jiwaku sepuas hatimu pada hari di mana kau akan mencari ku di sini. Ketahuilah... saat kau datang mengetuk pintu harapanku nanti, kau tak akan menemukannya lagi."
Suara saya meninggi, meski hanya didengar oleh dinding kamar dan Tuhan yang Maha Mendengar.
"Persetan denganmu! Semua alasanmu, semua pembelaanmu, semua air mata buayamu... KUANGGAP ITU HANYA NASKAH YANG TAK BERLAKU!"
Hatiku bergemuruh.
"Tidak ada lagi pasal yang mengikatku pada lukamu! Naskah lamaku sudah sobek. Aku tidak butuh validasimu. Aku tidak butuh pengertianmu yang terlambat itu!"
Napasku tersengal. Dadaku lega. Seolah beban ton-tonan baru saja diangkat dari pundakku. Rantai belenggu yang membelenggu jiwaku selama ini putus sudah.
Aku menoleh ke arah Balqis. Dia masih tidur pulas, tidak tahu bahwa ayahnya baru saja memutuskan rantai masa lalu malam ini. Air mataku masih basah, tapi kali ini bukan air mata kekalahan. Ini air mata pembersih jiwa.
"Maafkan Ayah, Nak," bisikku lembut, mengusap kepala Balqis pelan agar tidak membangunkannya. "Tadi Ayah sedang mengusir hantu. Sekarang, Ayah sudah bersih."
Aku memejamkan mata, membayangkan wajah Nenek tua tetangga sebelah. Nenek yang tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Nenek janda yang ditinggal suami sejak lama, yang anaknya merantau setahun sekali, yang cucunya sakit jiwa. Tapi pagi tadi, beliau masih tersenyum saat kupuji kekuatannya. Beliau masih berjuang mencari kayu bakar demi sesuap nasi.
Jika Nenek itu saja bisa tersenyum di tengah badai kehidupan yang jauh lebih ganas dari milikku... maka aku, Rudini, tidak berhak untuk terus meratapi ketidakmengertian orang lain.
"Ayah tidak akan menyerah," janjiku pada Balqis, pada diriku sendiri, dan pada Tuhan. "Besok, kita akan menemui Nenek itu. Kita akan bawa senyum. Karena mulai detik ini, hidup Ayah bukan lagi tentang 'mengapa ditinggalkan', tapi tentang 'bagaimana terbang bersama sayap satu-satunya ini'."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak stroke menyerang, sejak istri pergi, aku tidur tanpa mimpi buruk. Aku tidur dengan keyakinan penuh: Bahwa naskah lamaku sudah hangus terbakar api semangatku. Dan besok pagi, aku akan mulai menulis naskah baru.
Naskah berjudul: Kemenangan.
Di luar, fajar mulai merekah. Cahaya emas menyentuh ujung jendela, mengusir sisa-sisa kegelapan. Hari baru telah tiba. Dan Rudini, sang ayah pejuang, siap menyambutnya dengan kepala tegak.