NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: DANSA DI ATAS RANJAU

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Layar monitor di ruang kendali berkedip merah terang, memantulkan cahaya yang menari-nari di bola mataku yang lelah. Pukul 20.00 malam. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, menyamarkan suara kota yang tak pernah tidur. Namun, di dalam jaringan terenkripsi yang baru saja kurantas, ada sebuah sinyal yang lebih berisik daripada guntur: sebuah panggilan satelit dari sayap barat mansion menuju sebuah titik buta di pinggiran dermaga.

​Aku mengenali frekuensi itu. Itu adalah tanda tangan digital klan Xavier pusat. Kakek Alexander sedang melakukan langkah 'pengorbanan menteri'.

​“Kak, Kakek baru saja mentransfer koordinat GPS restoran taman di Senayan kepada Baron. Secara psikologis, Kakek sedang mengalami fase 'total desperation'. Dia lebih memilih menghancurkan klan Vipera daripada melihatnya dipimpin oleh 'darah yang terkontaminasi',” suara Lea berdesir di benakku, dingin dan tajam.

​Aku mengepalkan tangan kecilku di atas meja. Baron. Nama itu memicu variabel kemarahan yang sulit kutebak dalam algoritmaku. Dia bukan sekadar mafia kelas teri; dia adalah pembunuh keluarga Mama sembilan tahun lalu. Dia adalah duri yang seharusnya sudah kucabut sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di dunia ini.

​“Dilema taktis, Lea. Jika kita membatalkan kencan Papa dan Mama, kita akan merusak stabilitas emosional yang sudah susah payah kau bangun. Mama akan kembali ke mode 'Hyper-vigilance' dan Papa akan merasa gagal sebagai pelindung. Tapi jika kita membiarkannya...”

​“Jika kita membiarkannya, kita harus memastikan perimeter itu menjadi zona pembantaian bagi Baron tanpa Mama menyadarinya,” Lea memotong, nadanya tenang namun penuh otoritas seorang profiler yang sudah biasa menangani psikopat. “Papa harus tetap merasa dia yang memegang kendali. Biarkan dia menjadi 'Benteng', dan kita akan menjadi 'Bayangan'.”

​Aku menarik napas panjang, menyesuaikan letak kacamata AR-ku. "Marco, aktifkan unit 'Ghost'. Siapkan drone EMP sektor empat. Dan ingat... jangan ada suara tembakan yang terdengar dalam radius lima puluh meter dari meja nomor tujuh."

​"Baik, Tuan Muda Leo," suara Marco terdengar dari interkom, bergetar karena ngeri. Dia tahu, jika aku sudah menyebut nama unit 'Ghost', berarti aku sedang tidak ingin bermain catur. Aku sedang ingin melakukan pembersihan massal.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Aku berdiri di depan cermin besar di kamar Mama, memegang sehelai selendang sutra berwarna putih tulang. Mama tampak luar biasa malam ini. Gaun emerald yang kupilihkan memancarkan aura ketenangan yang selama ini tersembunyi di balik traumanya.

​Analisis: Denyut nadi Mama 72 bpm. Stabil. Dia merasa dicintai. Ini adalah variabel terpenting yang harus kujaga.

​"Mama cantik sekali," ucapku sambil memberikan senyum paling polos yang bisa kubentuk. "Papa pasti tidak akan bisa memalingkan mata dari Mama malam ini."

​Qinanti tersenyum, mengusap pipiku lembut. "Terima kasih, Lea. Tapi Mama merasa sedikit... gelisah. Perasaan ini mirip seperti malam saat kita kabur sembilan tahun lalu."

​Aku menegang sesaat. Insting Mama adalah variabel yang paling sulit dimanipulasi. Dia memiliki intuisi murni yang seringkali melampaui logika profiler-ku.

​"Itu hanya adrenalin karena Mama akan berkencan tanpa pengawal besar-besar yang menyeramkan itu," aku meyakinkannya, memeluk pinggangnya erat. "Papa bilang, malam ini hanya ada Mama, Papa, dan bintang-bintang. Leo dan Lea akan menjaga rumah, jadi Mama tidak perlu khawatir."

​Damian masuk ke kamar, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung setengah, memperlihatkan jam tangan yang sebenarnya adalah alat pelacak bio-metrik yang baru saja dipasang Leo. Dia tampak gagah, namun aku bisa melihat kedutan kecil di sudut matanya. Dia tahu ada badai yang mendekat.

​“Papa, jangan tunjukkan wajah tegang itu. Mama mulai curiga. Ubah postur tubuhmu ke mode 'Relaxed-Alpha' sekarang,” perintahku melalui Shadow Talk.

​Damian menarik napas, lalu bahunya melunak. Dia berjalan mendekati Mama, melingkarkan tangannya di pinggangnya dengan posesif namun lembut. "Ayo pergi, Qin. Mobilnya sudah siap."

​Saat mereka melangkah keluar, aku berdiri di ambang pintu, menatap punggung mereka.

​“Kak, target sudah bergerak. Baron telah mengerahkan delapan penembak runduk dan dua unit taktis. Mereka tidak ingin menculik; mereka diperintahkan oleh Kakek untuk menghabisi semuanya agar klan pusat bisa mengambil alih hak asuh kita secara hukum sebagai 'wali yang tersisa',” lapor kuku lewat pikiran.

​“Strategi yang sangat menjijikkan dari Kakek,” suara Leo terdengar di kepalaku, kini dengan nada yang benar-benar mematikan. “Lea, tetaplah di mansion. Pantau Alexander. Jika dia mencoba menghubungi Baron lagi, putus komunikasinya secara permanen. Aku akan pergi ke lokasi secara fisik. Aku butuh melihat wajah Baron saat rencananya hancur berantakan.”

​POV: DAMIAN XAVIER

​Hujan mulai mereda saat aku memarkir mobil di area privat restoran taman di Senayan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Lea karena luasnya area terbuka dan minimnya titik persembunyian—yang artinya, jika ada musuh, mereka akan mudah terdeteksi. Namun, bagiku yang belum sepenuhnya mengerti teknologi Leo, tempat ini terasa seperti jebakan maut.

​"Tempat ini indah sekali, Damian," bisik Qinanti saat kami berjalan menyusuri jembatan kayu yang dihiasi lampu-lampu gantung temaram.

​"Ya, sangat indah," jawabku, meski mataku terus memindai pepohonan di sekitar.

​Tanganku meraba saku jas, menyentuh gagang senjata yang sebenarnya dilarang oleh Leo untuk dibawa. Namun, insting mafiaku tidak bisa membiarkan wanitaku tanpa perlindungan fisik.

​Tiba-tiba, suara Leo terdengar di earpiece tak kasat mataku. "Papa, jangan sentuh senjata itu. Papa hanya akan merusak suasana. Tetaplah fokus pada Mama. Sektor utara sudah dibersihkan oleh drone-ku. Penembak runduk pertama Baron baru saja jatuh tanpa sempat membidik."

​Aku tertegun. Aku tidak mendengar suara apa pun. Tidak ada teriakan, tidak ada ledakan. Hanya suara jangkrik dan gemericik air. Bagaimana mungkin anak berumur delapan tahun bisa melakukan ini dari jarak jauh?

​"Damian? Kau melamun?" Qinanti menyentuh lenganku.

​"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan betapa beruntungnya aku memilikimu kembali," ucapku, memberikan senyum yang kuharap terlihat tulus meski jantungku berdegup kencang karena adrenalin.

​Kami duduk di meja nomor tujuh. Pelayan datang membawa hidangan pembuka. Aku melihat pelayan itu—gerakannya terlalu kaku, bahunya terlalu lebar untuk ukuran pramusaji.

​“Itu unit 'Ghost' milikku, Papa. Jangan menatapnya terlalu lama, dia sedang menyembunyikan senapan mesin di balik nampan perak itu,” suara Leo kembali menginterupsi.

​Aku hampir tersedak air minum. Unit 'Ghost'? Kapan Leo melatih mereka? Sejak kapan klan Vipera memiliki unit yang begitu senyap hingga aku sendiri tidak menyadarinya?

​Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya biru redup muncul dari arah semak-semak di belakang Qinanti. Itu bukan lampu hias. Itu adalah laser penarget.

​Panik mulai merayap di dadaku. Aku siap menerjang meja untuk melindungi Qinanti, namun sebuah suara kecil yang tenang namun tajam bergema di frekuensi radio.

​"Checkmate, Baron."

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Aku berada di dalam van hitam yang terparkir seratus meter dari lokasi, dikelilingi oleh belasan monitor yang menampilkan pandangan mata burung dari drone-ku. Di depanku, Baron berdiri di balik pohon besar, memegang detonator. Wajahnya yang penuh luka parut tampak sangat puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre.

​Dia tidak sadar bahwa di belakangnya, tiga anggota unit Ghost sudah berdiri dengan pisau komando yang siap mengiris udara.

​"Eksekusi Protokol 'Silent Night'," perintahku dingin.

​Detonator di tangan Baron mendadak meledak—bukan ledakan besar, hanya sebuah pulsa elektromagnetik yang menghancurkan jemarinya. Baron mengerang, jatuh berlutut.

​"Siapa... siapa yang melakukan ini?!" teriaknya parau.

​Aku melangkah keluar dari van, berjalan perlahan mendekatinya di bawah rintik hujan. Aku mengenakan jas hujan hitam kecil, menutupi wajahku yang tampak begitu tenang bagi orang yang baru saja melumpuhkan seorang gembong narkoba.

​Baron mendongak, matanya yang liar menatapku. "Bocah? Kau... kau anak Damian?"

​"Aku adalah orang yang akan membuatmu memohon kematian karena sudah berani menyentuh variabel paling berharga dalam hidupku," ucapku, suaraku kini sepenuhnya adalah suara Marsekal yang telah mengirim ribuan orang ke liang lahat.

​Aku mengeluarkan tabletku, memperlihatkan rekaman langsung wajah Qinanti yang sedang tertawa di meja makan.

​"Lihat wanita itu, Baron? Sembilan tahun lalu kau membunuh keluarganya. Kau pikir kau bisa melakukannya lagi? Tidak di bawah pengawasanku. Di papan catur ini, kau bahkan bukan sebuah pion. Kau hanyalah debu yang mengganggu penglihatan."

​Aku memberikan isyarat pada Marco. "Bawa dia ke ruang interogasi sayap utara. Lea ingin 'bermain' dengannya besok pagi. Dan pastikan Kakek Alexander mendapatkan rekaman jari-jari Baron yang hancur ini sebagai menu sarapannya besok."

​"Baik, Tuan Muda Leo."

​Aku kembali menatap monitor. Di sana, Damian sedang menggenggam tangan Qinanti, memberikan sebuah kecupan lembut di bawah cahaya lampu gantung. Mereka tampak begitu bahagia, begitu murni, tidak tahu bahwa di radius seratus meter dari mereka, sepuluh mayat pengikut Baron sedang diangkut secara senyap oleh unit Ghost.

​Ini adalah kemenangan taktis yang sempurna. Tidak ada darah yang terlihat, tidak ada suara yang terdengar, dan yang paling penting... senyum Mama tidak hilang.

​“Lea, perimeter bersih. Singa tua di sayap barat sudah terputus komunikasinya?”

​“Alexander sedang mencoba menghubungi Baron, tapi yang dia dengar hanyalah suara rekaman tangisan Clarissa di penjara. Dia sedang mengalami serangan panik ringan. Strategi sukses, Kak,” jawab Lea.

​Aku menghela napas, duduk kembali di kursi van. Tubuh kecil ini gemetar karena kedinginan. Efisiensi logistik tubuhku memang payah. Aku butuh tidur siang yang panjang setelah ini.

​POV: QINANTI (Mama)

​Makan malam itu terasa seperti sihir. Damian begitu perhatian, begitu lembut. Dia tidak sekali pun melepaskan tanganku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar aman, seolah-olah ada perisai tak kasat mata yang membungkus kami dari kejamnya dunia luar.

​"Terima kasih untuk malam ini, Damian," ucapku saat kami berjalan kembali menuju mobil. "Aku merasa... beban di pundakku hilang."

​Damian menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang penuh dengan rasa syukur dan... kekaguman pada sesuatu yang tidak kupahami. "Aku akan menjagamu, Qin. Selamanya. Dan jika aku tidak sanggup, aku tahu ada yang jauh lebih hebat dariku yang akan melakukannya."

​Aku tertawa kecil. "Siapa? Marco?"

​Damian terkekeh, mencium keningku. "Bukan. Malaikat-malaikat kecil kita di rumah."

​Saat kami sampai di lobi mansion, Leo dan Lea sudah berdiri di sana. Leo tampak sedikit pucat, mungkin karena dia terlalu lama berada di ruang AC yang dingin, sementara Lea memegang sebuah buket bunga mawar kecil.

​"Papa, Mama, selamat datang kembali!" seru Lea riang, menyerahkan bunga itu padaku.

​Aku memeluk mereka berdua. "Kenapa belum tidur, Sayang?"

​"Lea menunggu Mama pulang untuk membacakan dongeng," ucap Lea manja.

​Leo menatap Damian, lalu menatapku. Dia memberikan anggukan kecil—anggukan seorang pria dewasa yang puas dengan hasil pekerjaannya.

​“Strategi 'Safe Heaven' selesai, Papa. Skor romansa malam ini: 95/100. Poin tambahan karena Papa tidak menarik senjata saat laser itu muncul,” suara Leo tiba-tiba terdengar di benakku, membuatku tertegun.

​"Apa kau bicara sesuatu, Leo?" tanyaku bingung.

​Leo hanya tersenyum tipis—senyuman yang sangat mirip dengan Damian. "Hanya bergumam soal catur, Ma. Ayo masuk, udara malam tidak baik untuk kesehatan Mama."

​Malam itu, di bawah atap mansion Vipera, aku tertidur dengan perasaan damai yang belum pernah kurasakan selama sembilan tahun terakhir. Aku tidak tahu bahwa di ruang bawah tanah, seorang pria bernama Baron sedang menghadapi pengadilan dari seorang profiler kecil. Dan aku tidak tahu bahwa kakek mertuaku sedang bergidik ngeri melihat kekuatan cucunya.

​Aku hanya tahu satu hal: aku mencintai keluarga ini. Dan aku tahu, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu menjagaku.

​Checkmate, Papa. Dan kali ini, sang Raja Mafia benar-benar bertekuk lutut pada cinta yang dijaga oleh strategi bayangan anak-anaknya.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!