Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Xiao Jian mengambil tangga, meletakkannya di pintu masuk ruang bawah tanah. Pria itu meminta sang istri untuk menaikinya lebih dulu.
"Apa kau tidak ingin tahu berapa banyak perak yang suamimu ini miliki..?"
Song Aran menggeleng "Aku bertanya bagaimana bisa kau memiliki banyak uang karena aku takut kau mendapatkannya dengan cara yang salah. Lagi pula kalau kau tidak ingin memberi tahu, untuk apa aku bertanya..?"
Xiao Jian mengambil beberapa barang, sebelum meninggalkan ruang bawah tanah, dan menutup pintu seperti semula.
"Apa kau marah makanya tidak mau tahu berapa banyak uangku..? "
"Tidak, untuk apa marah..? akan lebih mudah jika kau yang menyimpannya, agar ketika mau membeli biji-bijian tidak perlu repot memintanya padaku."
Wajah Xiao Jian mendadak suram kecewa, dan itu tertangkap oleh indera pengelihatan Song Aran.
"Em, tapi aku juga penasaran, seberapa kaya suamiku ini..? apa banyak sekali perakmu..?" Song Aran merengkuh mesra lengan kokoh sang suami.
Senyum cerah langsung terbit dibibir Xiao Jian “ada sisa sekitar tiga tael dari berburu serta tanaman herbal, tapi ginsengnya berkualitas bagus, jadi terjual dua puluh tahil.”
Xiao Jian menjabarkan semua pengeluarannya dalam beberpa hari ini. Dimulai dari uang seserahan, membeli jepit rambut, palawija dan obat-obatan. Tak luput dijabarkan.
“Aku masih punya lima tahil tiga ratus lima koin.” pungkas Xiao Jian.
Song Aran merasa sangat terharu sang suami mau mejelaskan segamblang itu soal hartanya. Meski memang mereka suami istri, tapi tidak semua pasangan akan mau sejujur itu. Terlebih soal uang dan harta.
Contohnya saja Mateo.
Keduanya mengobrol sembari memasak. Walau dapur setengah runtuh, tapi masih bisa digunakan.
Xiao Jian bertugas sebagai kepala koki, sedangkan Song Aran asistennya.
Mereka memasak menu mie putih polos, dengan kaldu dari daging babi rebus, rebung kering, dan jamur. Aromanya saja sudah cukup membuat air liur menetes.
"Cobalah masakanku," kata Xiao Jian, meletakkan semangkuk mie dihadapan Song Aran, lalu menambahkan beberapa potong daging.
Melihat mie yang berkilauan dengan irisan daging yang besar, selera makan Song Aran naik drastis.
"Enak, segar sekali..!" puji terkesima Aran, setelah menelan dua suapan mie.
"Apa itu cukup..? kalau tidak, aku akan memberimu lagi."
Xiao Jian sangat bahagia melihat sang istri makan dengan lahap hasil kreasinya.
"Nafsu makanku tidak besar, ini sudah sangat cukup."
Melihat Xiao Jian belum menyentuh sumpitnya, Aran pun menurunkan titah "Kau juga harus makan."
Xiao Jian mulai makan juga. Gerakannya cepat tapi tetap anggun dan rapi.
Usai makan, mereka membersihkan semua perkakas, mengembalikan ketempat semula sebelum menuju kota.
Saat mereka sampai dijalan utama, sudah ada gerobak keledai yang menanti.
"Kakak Jian, aku sudah menunggumu cukup lama." ucap pemuda kusir.
"Salam kakak ipar..!" si pemuda menyapa Xiao Aran ramah.
"Namanya Lin Yei, dia saudaraku." Xiao Jian memberi tahu, sebelum membantu Aran naik ke gerobak keledai itu.
"Kalian berdua memiliki hubungan yang sangat baik." Song Aran melirik Lin Yei.
Lin Yei adalah saudara kandung Xiao Jian, tiga saudara lainnya di rumah cuma kerabat sedarah.
"Ya, kami memang sangat dekat. Aku berhutang budi pada Kakak Jian, berkatnya aku tidak perlu lagi berkeliaran tanpa tujuan." balas Lin Yei.
Setelah Song Aran duduk, Xiao Jian menepuk bahu Lin Yei "sudah cukup bicara, cepat jalan..!"
"Siap..!" balas Lin Yei penuh semangat.
Gerobak melaju stabil, setelah Lin Yei mencambuk pelan bokong keledai.
Gerobak itu tidak terlalu besar, membuat Xiao Jian dan Song Aran yang duduk berhadapan bisa saling memandang.
"Sejak kapan kau memesan gerobak ini..? Lin Yei juga sepertinya bukan dari desa kita..?"
"Ya, dia dari desa sebelah. Orang tua Lin Yei meninggal dunia sejak dia masih bayi. Meski pun paman-pamanku mengatakan mereka membesarkan Lin Yei, tapi dia selalu diperlakukan tidak adil."
Xiao Jian menghela nafas sejuta nelangsa.
"Lin Yei yang paling banyak bekerja, tapi diberimakan paling sediki. Ketika dia berusia empat belas tahun, pamanku mengusirnya. Pertama kali kami bertemu, Lin Yei berusia dua belas tahun tapi tubuhnya seperti anak dibawah sepuluh tahun. Aku mentraktirnya burung pegar panggang, dari sana awal kedekatan kami."
"Gerobak keledai awalnya aku berikan padanya, tapi Lin Yei menolak. Akhirnya kami putuskan untuk membagi hasil dari jasa sewanya."
"Jadi kau masih punya keledai..? apa masih ada lagi yang tidak kuketahui..?" tanya Aran tersenyum ranum.
"Tidak ada lagi, cuma itu yang kumiliki. Tapi aku punya beberapa teman di kabupaten yang menjalankan bisnis jasa pengawalan. Nanti akan kukenalkan padamu," jawab Xiao Jian jujur.
"Kakak ipar, Kakak Jian sangat menyukaimu. Aku pernah melihatnya diam-diam bersembunyi hanya untuk melihatmu dari kejauhan." Lin Yei buka suara.
"Sekarang dia menceritakan semua rahasianya padamu. Bahkan keluarganya saja tidak tahu tentang keledai ini."
"Diam, jangan bicara omong kosong." pekik gugup Xiao Jian, dengan wajah memerah sampai ketelinga.
Song Aran tercenung. Matanya berkilau cerah, seolah semua bintang dilangit berpindah kesana.
"Benarkah..? kapan itu..?"
"Kakak ipar---
"Diam, fokus saja mengendalikan keledainya." potong gugup Xiao Jian.
"Ah, rupanya aku sudah terlalu banyak bicara. Hal semacam ini seharusnya diceritakan sendiri oleh Kakak Jian kepada kakak ipar."
“Ran'er, nanti aku ceritakan Kalau sekarang tidak bisa, nanti bocah ini akan mulai mengoceh omong kosong lagi.” Xiao Jian menggaruk kepalanya malu.
“Baik, aku akan menunggu sampai kau menceritakannya. Ngomong-ngomong, kau mengajakku kekota mau membeli apa..?"
“Nanti kau akan tahu.” ucap Xiao Jian penuh teka-teki.
Laju gerobak keledai lebih cepat dari pada pedati sapi. Hal itu membuat mereka segera tiba di pintu masuk kota.
Setelah Xiao Jian membantu Song Aran turun dari gerobak, dia memberi Lin Yei satu tael perak.
"Pergi ke toko biji-bijian, beli seperti yang kukatakan sebelumnya. Kita akan bertemu di sini dalam satu jam.”
“Baik..!" balas Lin Yei patuh.
Melihat Xiao Jian menghabiskan satu tahil perak lagi, Song Aran tak kuasa berkata "Jika kekeringan itu benar-benar terjadi, bukankah seharusnya kita menyiapkan lebih banyak obat dan senjata untuk bekal diperjalanan saat mengungsi.? apa sisa perakmu masih cukup untuk membelinya..?"
"Kau tenang saja, masih banyak waktu. Aku bisa beburu, mencari herbal, untuk ditukar dengan uang." balas Xiao Jian lembut.
Song Aran mengangguk "jangan terlalu lelah, kita baru saja menikah. Aku tidak mau menjadi janda diusia muda."
Xiao Jian terkekeh "aku akan hidup seribu tahun lagi untuk selalu menemanimu."
"Ah, ternyata manisnya madu tidak bisa mengalahkan manisnya bibir suamiku." balas Song Aran bersama mimik wajah yang dibuat menggemaskan.
Xiao Jian tergelak.
Song Aran melihat sekitar, dimana ia dibawa oleh sang suami ke Rumah Gadai Qinghe.
Dahi Aran sontak saja mengkeret kasar.
Untuk apa dirinya dibawa kesana..?