Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bayu berdiri dan melangkah keluar dari ruang rapat, diikuti Tari. Pintu ditutup rapat.
Di lorong sepi itu, Tari akhirnya bisa menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan.
"Bay, lo gila. Sumpah, lo gila banget," bisik Tari sambil mengusap dadanya. "Gue sampai nggak berani napas lihat lo nekan mereka kayak gitu. Lo beneran punya uang dua puluh lima miliar buat nebus mereka?"
"Ada di rekening perusahaan kita. Begitu mereka tanda tangan, uangnya langsung pindah," jawab Bayu santai sambil merapikan dasinya.
"Tapi buat apa sih kita beli perusahaan bobrok kayak gini? Bukannya malah jadi beban utang?"
Bayu menoleh ke Tari, tersenyum penuh arti.
"Kita nggak beli perusahaannya, Tar. Kita beli aksesnya. Delta Sekuritas ini adalah jalur keuangan yang dipakai Baskoro untuk mencuci uangnya dari bisnis tanah ilegal. Begitu gue pegang kendali server utama mereka, gue bisa lacak setiap sen uang Baskoro. Gue bakal tahu siapa pejabat yang dia suap, ke mana dia nyimpen aset aslinya, dan titik kelemahannya."
Tari membelalakkan matanya. Ia akhirnya mengerti skala permainan yang sedang dimainkan Bayu. Ini bukan lagi soal membalas dendam karena kafe diganggu. Ini adalah perang perebutan kekuasaan.
Cklek.
Pintu ruang rapat terbuka. Wira berdiri di sana, wajahnya terlihat jauh lebih tua dari beberapa menit yang lalu.
"Kami setuju," kata Wira pelan. "Kami akan menandatangani akta peralihannya."
Bayu tersenyum ramah, senyum yang sangat bersahabat, sangat kontras dengan ancaman mematikan yang ia lontarkan lima menit lalu.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Pak Wira. Mari kita selesaikan administrasinya."
Satu jam kemudian, Bayu dan Tari keluar dari gedung tersebut. Koper Tari kini berisi dokumen legal yang menyatakan bahwa PT Mandiri Alexander Investama adalah penguasa sah dari PT Delta Sekuritas.
Bayu merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya masih retak. Ia mengirimkan satu pesan singkat kepada manajer IT Delta Sekuritas yang kini berstatus sebagai bawahannya.
"Kirimkan seluruh salinan buku besar transaksi anonim selama lima tahun terakhir ke server pribadi saya."
Hanya butuh waktu sepuluh menit sebelum balasan masuk. Sebuah tautan unduhan rahasia. Bayu mengekliknya. Di dalam sana, terdapat ribuan data mutasi rekening yang sengaja disembunyikan oleh Wira untuk melindungi Baskoro.
Bayu telah memegang jantung keuangan musuhnya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan Menteng.
Prang.
Sebuah gelas kristal berisi minuman mahal hancur berkeping-keping menghantam dinding.
Baskoro berdiri dengan dada naik turun, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Di depannya, Anton Bison menunduk ketakutan, tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun.
"Kamu bilang dia cuma anak kantoran yang kebetulan bisa bela diri?!" teriak Baskoro dengan suara menggelegar. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"I-iya, Bos. Waktu itu dia kelihatan biasa aja..."
"Biasa aja? Biasa aja kamu gundulmu?!" Baskoro memukul meja kerjanya dengan keras. "Wira baru saja menelepon saya sambil menangis. Perusahaan sekuritas yang selama ini saya pakai buat mutar uang sudah dibeli paksa pagi ini! Dan kamu tahu siapa yang beli? PT Mandiri Alexander Investama. Perusahaan milik anak kantoran yang kamu remehkan itu!"
Anton terbelalak. Otaknya yang lambat mencoba mencerna informasi tersebut. Pemuda pemilik kafe kecil itu ternyata memiliki perusahaan investasi raksasa yang mampu mengakuisisi perusahaan sekuritas dalam hitungan jam?
"Dia sengaja mancing kita, Anton," desis Baskoro tajam, mondar-mandir di ruang kerjanya. "Dia bukan orang biasa. Dia pakai kafe itu sebagai umpan supaya kita menyerang, lalu dia cari kelemahan birokrasi saya, dan sekarang dia mengambil alih jalur keuangan saya. Ini tindakan provokasi secara terang-terangan."
Baskoro menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia menyadari bahwa ia telah meremehkan lawannya. Pemuda bernama Bayu itu adalah predator sejati yang menyamar menjadi domba.
"Anton."
"S-siap, Bos!"
"Kumpulkan semua orang-orang kita di lapangan. Saya tidak mau lagi pakai cara birokrasi atau surat segel. Kalau dia mau main kasar dan mengancam aset saya, kita buat dia menghilang untuk selamanya. Awasi kafenya, awasi apartemennya. Begitu ada celah, culik dia. Saya mau lihat seberapa pintar dia bernegosiasi kalau kakinya sudah saya patahkan."
"Baik, Bos! Laksanakan!" Anton menjawab dengan penuh semangat. Ini adalah keahlian utamanya. Menghancurkan orang secara fisik jauh lebih mudah baginya daripada mengurus urusan hukum.
Baskoro menatap ke luar jendela rumah mewahnya, memandang langit Jakarta yang mulai mendung.
"Kamu sudah salah mencari musuh, Bayu Alexander. Di kota ini, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa melindungimu dari kematian."
Di seberang kota, di dalam apartemennya yang nyaman, Bayu duduk di sofa sambil menyeruput kopi. Layar laptopnya menampilkan deretan transaksi keuangan gelap milik Baskoro yang baru saja ia unduh.
Ia tersenyum tipis.
Sistem Toko Ajaib di ponselnya kembali memberikan notifikasi peringatan. Kali ini indikatornya berwarna merah terang.
[Peringatan Sistem: Deteksi aura agresi tingkat tinggi dengan niat membunuh yang terarah. Potensi ancaman fisik skala besar terdeteksi dalam waktu dekat.]
Bayu menatap layar ponselnya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jadi lo milih jalan penuh kekerasan, Baskoro?' batin Bayu. Ia membuka menu katalog di aplikasinya. Saldo koinnya masih tersisa sembilan ribu lebih. Ia memiliki dana yang hampir tak terbatas untuk membeli pertahanan.
"Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan menghilang lebih dulu dari kota ini."