NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Semburat Fajar di Balik Luka

Fajar menyingsing di atas reruntuhan mansion Xavier, membawa cahaya yang seolah menyucikan sisa-sisa pertempuran semalam.

Asap tipis masih mengepul dari beberapa sudut taman yang terbakar, namun suasana di dalam perpustakaan kini sunyi, hanya menyisakan bunyi ritmis dari monitor jantung portabel yang dipasang Aisyah pada tubuh Arkan.

Aisyah masih terduduk di lantai marmer yang dingin. Gamis cokelat tuanya kini penuh dengan noda darah kering dan debu beton. Cadarnya terasa menyesakkan, namun ia tidak berniat membukanya. Baginya, kain hitam itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang ia miliki di dunia Arkan yang porak-poranda ini.

Arkan Xavier terbaring di atas ranjang darurat yang digeser Leo ke tengah perpustakaan—Arkan menolak dipindahkan ke kamar atas karena ia ingin tetap berada di dekat Aisyah. Wajah sang mafia yang biasanya tegas dan mengintimidasi kini tampak tirus, pucat seperti kertas. Selang infus terpasang di tangan kirinya yang besar, sementara dada bidangnya yang dibalut perban putih naik turun dengan sangat pelan.

"Nona Aisyah, Anda harus istirahat," bisik Leo yang berdiri tak jauh dari sana. Mata tangan kanan Arkan itu merah, menunjukkan ia juga tidak tidur sekejap pun. "Bi Inah sudah menyiapkan kamar tamu di sayap barat yang aman. Tuan Hamdan juga sudah menunggu Anda di sana."

Aisyah mendongak, matanya yang sembap menatap Leo. "Abang... dia benar-benar tidak apa-apa?"

"Hanya syok ringan, Nona. Beliau sempat mengamuk ingin ke sini saat mendengar ledakan, tapi kami terpaksa menahannya demi keselamatan bersama. Beliau sekarang sedang ditenangkan oleh Bi Inah."

Aisyah menghela napas panjang. Rasa lega sedikit menyusup ke dadanya yang sesak. "Saya akan di sini sebentar lagi, Leo. Saya harus memastikan suhu tubuh Tuan Arkan tidak naik. Infeksi adalah musuh terbesar setelah operasi darurat seperti ini."

Leo menunduk hormat, lalu mundur beberapa langkah, memberikan privasi yang jarang terjadi di rumah itu.

Aisyah kembali menatap Arkan. Dalam tidurnya yang dipengaruhi obat bius, Arkan tampak tidak berdaya. Jemari Aisyah bergerak ragu, lalu perlahan ia menyentuh punggung tangan Arkan untuk memeriksa denyut nadinya. Kulit pria itu terasa panas, namun detaknya sudah jauh lebih kuat daripada beberapa jam lalu saat maut hampir menjemputnya.

"Kenapa Anda melakukan ini?" bisik Aisyah lirih. "Kenapa mempertaruhkan nyawa untuk seseorang yang bahkan tidak mau melihat wajah Anda?"

Tiba-tiba, jemari Arkan bergerak. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Mata gelap itu tampak kusam, namun saat menangkap sosok Aisyah, ada binar kecil yang muncul di sana—seperti lilin yang menyala di tengah kegelapan total.

"Kau... masih di sini?" suara Arkan sangat parau, hampir seperti gesekan amplas.

Aisyah segera menarik tangannya, merasa canggung. "Saya harus memantau kondisi Anda, Tuan. Anda kehilangan banyak darah."

Arkan mencoba tersenyum, namun rasa sakit di dadanya membuat senyum itu lebih mirip ringisan. "Aku bermimpi... ada malaikat yang menjahit lukaku dengan cahaya. Ternyata itu kau."

"Jangan bicara dulu, Tuan. Paru-paru Anda masih lemah," tegur Aisyah dengan nada dokter yang tegas namun lembut.

Arkan mengabaikan peringatan itu. Ia menatap langit-langit perpustakaan yang hancur, memperlihatkan kerangka baja yang bengkok.

"Rumah ini... seharusnya tidak bisa ditembus. Scorpio menggunakan senjata tingkat militer. Maafkan aku, Aisyah. Aku menjanjikan keamanan, tapi aku justru membawamu ke tengah medan perang."

Aisyah terdiam. Ia mengambil segelas air putih dan sendok, lalu dengan telaten menyuapkannya ke bibir Arkan yang pecah-pecah. "Keamanan di dunia ini hanyalah ilusi, Tuan Arkan. Saya belajar itu semalam. Tapi saya juga melihat bahwa Anda lebih peduli pada keselamatan saya daripada nyawa Anda sendiri. Kenapa?"

Arkan menelan air itu dengan susah payah. Matanya menatap lurus ke dalam mata Aisyah. "Karena kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku yang busuk ini, Aisyah. Sebelum kau datang, aku hanyalah mesin pembunuh yang menunggu giliran untuk dibunuh. Tapi saat kau menyelamatkanku di pelabuhan... aku merasa Tuhan sedang memberiku kesempatan kedua melalui tanganmu."

"Tapi cara Anda... cara Anda memaksa saya, mengurung saya... itu bukan jalan menuju Tuhan, Tuan Arkan," sahut Aisyah pelan.

"Aku tidak tahu cara lain," aku Arkan jujur.

"Duniaku hanya mengenal 'ambil' atau 'kehilangan'. Aku tidak tahu bagaimana cara meminta dengan benar."

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Di luar, suara mesin alat berat mulai terdengar; anak buah Arkan mulai membersihkan puing-puing. Tak lama kemudian, pintu perpustakaan terbuka dengan kasar.

Hamdan masuk dengan langkah lebar, diikuti Bi Inah yang tampak cemas. Wajah Hamdan dipenuhi amarah, namun saat ia melihat adiknya yang berlumuran darah dan Arkan yang terkapar lemah, langkahnya terhenti.

"Aisyah!" Hamdan berlari memeluk adiknya. "Ya Allah, kau terluka? Apa yang pria ini lakukan padamu?!"

"Aisyah tidak apa-apa, Bang. Ini bukan darah Aisyah," bisik Aisyah di pelukan kakaknya.

Hamdan melepaskan pelukannya dan menatap Arkan dengan kebencian yang mendalam. "Lihat ini! Lihat kekacauan yang kau bawa ke hidup adikku, Xavier! Gara-gara kau, dia harus memegang senjata? Dia harus melihat mayat? Kau menghancurkan masa depannya!"

Arkan hanya diam, menerima setiap makian Hamdan dengan tatapan kosong. Ia tahu pria itu benar.

"Bawa Aisyah pulang sekarang, Leo! Atau siapa pun namamu!" bentak Hamdan pada Leo yang berjaga di pintu.

"Tuan Hamdan, di luar sana belum aman—" Leo mencoba menjelaskan.

"Diam! Aku lebih baik mati di jalanan bersama adikku daripada tinggal di rumah iblis ini satu detik lagi!"

Namun, sebelum perdebatan memanas, Aisyah berdiri di antara mereka. "Bang... cukup."

"Aisyah?"

"Tuan Arkan sedang dalam kondisi kritis. Jika kita pergi sekarang, musuh-musuhnya yang di luar sana akan tahu kita tidak lagi di bawah perlindungannya. Kita akan jadi sasaran empuk," ucap Aisyah dengan logika yang dingin. "Untuk saat ini, tempat paling aman bagi kita adalah tetap di sini, setidaknya sampai Tuan Arkan bisa duduk dan memerintah pasukannya kembali."

Hamdan ternganga. "Kau membela pria ini?"

"Aisyah membela nyawa kita, Bang," sahut Aisyah pedih.

Arkan yang mendengarkan percakapan itu merasa hatinya seperti diremas. Ia bersuara dengan sisa tenaganya, "Leo... antar Hamdan ke ruang keamanan. Tunjukkan padanya rekaman CCTV semalam. Biarkan dia lihat bagaimana anak buah Scorpio menargetkan adiknya, bukan aku. Biarkan dia tahu... siapa musuh yang sebenarnya."

Leo mengangguk dan dengan sopan menggiring Hamdan keluar. Meskipun enggan, rasa penasaran membuat Hamdan mengikuti langkah Leo.

Kini tinggal Aisyah dan Arkan kembali. Arkan memejamkan matanya sebentar, menahan nyeri yang berdenyut di bahunya. "Aisyah... setelah aku sembuh, aku akan melepaskanmu. Aku akan memberimu identitas baru, paspor baru, dan mengirimmu ke mana pun kau mau. Kau tidak pantas berada di penjara emasku ini."

Aisyah tertegun. Bukankah ini yang ia inginkan sejak awal? Kebebasan? Tapi kenapa saat tawaran itu keluar dari mulut Arkan, ada rasa sesak yang aneh di dadanya?

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Aisyah.

"Karena semalam aku menyadari... mencintaimu berarti harus membiarkanmu tetap suci. Dan keberadaanku di sisimu hanya akan menodai kesucian itu dengan darah," bisik Arkan.

Aisyah tidak menjawab. Ia hanya terus membersihkan sisa darah di tangan Arkan. Di dalam hatinya, sebuah peperangan baru dimulai. Peperangan antara akal sehatnya yang ingin lari, dan hatinya yang mulai melihat sisi manusiawi dari sang raja mafia.

Tanpa mereka sadari, di sebuah lokasi rahasia di pusat kota, seorang pria dengan setelan putih bersih sedang memperhatikan layar monitor yang menunjukkan foto Aisyah. Pria itu adalah Luciano, pemimpin klan Scorpio yang baru saja mengambil alih kekuasaan ayahnya.

"Jadi, ini kelemahan Arkan Xavier?" Luciano tersenyum licik sambil menyesap cerutunya.

"Cantik. Sangat cantik untuk dihancurkan. Jika peluru tidak bisa membunuhnya, mungkin kita harus menggunakan cara yang lebih... psikologis."

Luciano menoleh ke arah asistennya. "Cari tahu segalanya tentang masa lalu wanita ini. Setiap rahasia, setiap dosa kecil yang pernah ia lakukan. Aku ingin Arkan melihat malaikatnya jatuh ke dalam lumpur di depannya sendiri."

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!