Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita dengan tiga sahabat
Arumi tidak ada pilihan lain selain harus bercerita pada ketiga sahabatnya,karena cepat atau lambat mereka akan tahu dengan sendirinya,karena status pernikahnnya tidak mungkin di sembunyikan selamanya.
"Aku tidak bohong,aku memang sudah menikah seminggu yang lalu." Arumi kembali meyakinkan ketiga temannya
Ketiga teman Arumi tampak terkejut ketika gadis itu akhirnya berterus terang bahwa dirinya sudah menikah. Wajah mereka berubah drastis, dari santai menjadi penuh keterkejutan dan kebingungan. Mereka saling berpandangan, seolah mencoba memastikan bahwa apa yang baru saja mereka dengar bukanlah kesalahan.
Di benak mereka, muncul satu pertanyaan besar yang sama: jika Arumi tidak jadi menikah dengan Tuan Dirga, lalu dengan siapa ia menikah?
Hal itu wajar, karena mereka mengenal Arumi dengan sangat baik. Arumi bukan tipe perempuan yang mudah membuka hati, apalagi menjalin hubungan. Sejak dikhianati oleh mantan kekasihnya, ia menjadi lebih tertutup dan cenderung menjaga jarak dari laki-laki.
“Arumi! Kalau kamu tidak jadi menikah dengan juragan Dirga, lalu kamu menikah dengan siapa? Kamu kan tidak punya pacar! Sama seperti aku! Kita ini sama-sama jomblo!” tanya Santi dengan nada tidak percaya.
"Iya,Arumi kamu jangan ngeprank kita,Nggak lucu ." sahut Andi dia juga tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Arumi barusan .
"Arumi,kamu jangan bercanda soal pernikahan,kalau kamu sudah menikah tentu kita bertiga pasti tahu ."Reno menimpali ucapan kedua temannya,dia juga tidak percaya karena mereka berteman cukup lama
Arumi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya itu. Memang benar, ia dan Santi memiliki kisah yang hampir sama. Keduanya pernah disakiti oleh orang yang mereka cintai, hingga akhirnya memilih untuk sendiri.
“Memang aku tidak jadi menikah dengan juragan Dirga,” jawab Arumi perlahan. “Dan benar, aku juga tidak punya pacar. Tapi … kemarin malam ada seorang laki-laki yang bersedia menolongku … dan menikahiku.”
Ucapan itu justru membuat ketiga temannya semakin terkejut. Raut wajah mereka berubah menjadi campuran antara syok dan rasa penasaran yang besar. Dahi mereka berkerut, mencoba memahami maksud dari penjelasan Arumi.
“Tunggu … jadi siapa laki-laki yang menikah denganmu itu, Arumi?” tanya mereka hampir bersamaan.
Arumi menarik napas dalam-dalam. Ia sebenarnya belum sepenuhnya siap menceritakan semua ini. Namun, ia tahu bahwa ia tidak mungkin menyembunyikannya dari mereka selamanya. Mereka adalah sahabatnya sejak lama.
“Namanya … Mas Elang,” jawab Arumi lirih.
“Elang?” ulang Reno dengan bingung. “Siapa dia? Kami tidak pernah dengar namanya.”
Andi ikut menimpali, “Benar. Aku tahu hampir semua laki-laki yang pernah mencoba mendekatimu, tapi nama itu benar-benar asing.”
Arumi mengangguk pelan. “Kalian memang belum pernah bertemu dengannya. Bahkan … aku sendiri baru bertemu dengannya kemarin malam.”
Mereka kembali terdiam. Kali ini, kebingungan mereka semakin terlihat jelas.
“Sebentar,” kata Reno sambil mengangkat tangan. “Kamu baru bertemu dengannya,tapi langsung menikah? Itu bagaimana ceritanya?”
Arumi menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat wajahnya. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sebelum menjelaskan.
“Aku terpaksa melakukan itu,” ujarnya pelan. “Aku meminta tolong kepada Mas Elang … karena dia satu-satunya harapanku untuk terbebas dari pernikahan paksa yang dirancang ayahku dengan juragan Dirga”
Santi menatapnya dengan serius. “Jadi … kalian menikah tanpa cinta?”
Arumi mengangguk. “Kurang lebih seperti itu. Satu-satunya cara agar aku bisa lepas dari perjodohan itu adalah dengan membawa calon suamiku sendiri. Dan malam itu … aku meminta Mas Elang untuk menjadi calon suamiku … lalu kami benar-benar menikah.”
Suasana mendadak hening.
“Lalu … ayahmu setuju?” tanya Santi hati-hati.
Arumi menggeleng. “Tidak. Ayah sangat marah. Semua orang menentangku. Tapi aku dan ayah punya perjanjian jika aku bisa membawa laki-laki pilihanku dan menikah malam itu juga, maka perjodohan dengan juragan Dirga akan dibatalkan.”
“Dan kamu benar-benar melakukannya …” gumam Andi.
Arumi hanya mengangguk pelan.
“Oh… sekarang aku mulai mengerti,” ujar Reno sambil menyandarkan tubuhnya. “Jadi pernikahan ini … benar-benar hanya untuk menyelamatkanmu dari pernikahan paksa.”
“Iya,” jawab Arumi singkat.
Reno lalu menatap Arumi dengan serius. “Tapi aku salut dengan Elang. Tidak semua laki-laki berani melakukan hal seperti itu. Menikahi perempuan yang baru dikenalnya demi menolongnya … itu bukan hal sepele.”
Arumi terdiam. Ia tidak bisa menyangkal hal itu. Di dalam hatinya, ada rasa terima kasih yang besar kepada Elang.
“Tapi …” lanjut Reno, “kamu sudah tahu siapa dia sebenarnya?”
Pertanyaan itu membuat Arumi terdiam.
Ia tidak menjawab.
Karena kenyataannya … ia memang belum tahu.
“Iya, Arumi,” kata Santi. “Kamu terlalu ceroboh. Kamu menikah dengan orang yang bahkan tidak kamu kenal. Bagaimana kalau dia sudah punya istri?”
Arumi langsung menggeleng. “Tidak. Itu sudah aku tanyakan. Dia bilang dia masih sendiri dan belum pernah menikah.”
Andi menghela napas pelan. “Kamu percaya begitu saja? Arumi, laki-laki bisa saja berbohong.”
Ucapan itu membuat hati Arumi mulai diliputi rasa tidak tenang.
“Bisa saja dia bilang masih lajang, padahal dia sudah punya keluarga di tempat lain,” lanjut Andi.
Arumi terdiam. Rasa ragu perlahan muncul di dalam hatinya.
“Benar,” tambah Reno. “Kamu harus berhati-hati. Jangan sampai kamu tertipu. Kamu bahkan tidak tahu latar belakangnya. Bagaimana kalau dia orang jahat? Atau buronan?”
Ucapan itu membuat jantung Arumi berdegup lebih cepat.
Semalam, ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu. Yang ada di pikirannya hanya satu,melarikan diri dari pernikahan paksa.
“Mungkin … kalian benar,” ucap Arumi pelan.
Rasa takut mulai menyusup ke dalam dirinya.
“Sekarang aku harus bagaimana?” tanyanya lirih.
Andi langsung menjawab, “Saran dariku, kamu harus berhati-hati. Jangan terlalu percaya padanya. Dan yang paling penting … kamu harus mencari tahu siapa dia sebenarnya.”
“Aku setuju,” sahut Santi. “Kamu tidak boleh lengah.”
Reno pun mengangguk. “Kami hanya tidak ingin kamu disakiti. Bagaimanapun, kita ini sahabat. Kami tidak akan tinggal diam kalau ada yang menyakitimu.”
Mendengar itu, hati Arumi terasa hangat.
Ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.
Arumi, Santi, Reno, dan Andi telah bersahabat sejak SMA. Mereka melewati banyak hal bersama masa sekolah, kuliah, hingga akhirnya bekerja di tempat yang sama.
Meskipun Reno kini sudah menikah, hal itu tidak pernah menjadi penghalang dalam persahabatan mereka. Istri Reno pun sudah mengetahui kedekatan mereka sejak awal dan tidak pernah mempermasalahkannya.
Arumi menatap ketiga sahabatnya satu per satu.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Di dalam hatinya, Arumi berjanji pada dirinya sendiri.
Ia akan mencari tahu siapa sebenarnya Elang.
Bukan hanya sebagai laki-laki yang telah menikahinya…
Tetapi sebagai seseorang yang kini telah menjadi bagian dari hidupnya.