Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Endapan dari Wabah yang Terlupakan
...Chapter 12...
"Dia meledakkan dirinya sendiri," lanjut gumaman Huan Zheng, "dan memberi ultimatum pada umat manusia: bahwa ia akan bangkit kembali, bahwa ia akan memutarbalikkan manusia ke ranah asal mereka—sebagai makhluk tak berdaya, tanpa kultivasi, tanpa kekuatan, tanpa apa pun."
Dan sebagai akibat dari ledakan itu, para Dewa kehilangan pelindung mereka, kehilangan penjaga mereka, kehilangan komandan perang yang seharusnya bisa memenangkan pertempuran melawan umat manusia.
Tanpa God of the Vast Cosmos, para dewa hanya seperti kawanan rusa yang ditinggal pergi oleh pemimpin mereka di tengah padang rumput yang dipenuhi serigala.
Huan Zheng membiarkan matanya terpejam lebih lama dari yang seharusnya, membiarkan ingatan tentang God of the Vast Cosmos—dewa yang tubuhnya saja bisa membuat langit retak dan lautan berbalik arah—berputar-putar di kepalanya seperti pusaran air yang tak kunjung reda.
"Tapi," gumamnya dalam hati, suara batinnya tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin, lebih analitis, seperti seorang hakim yang sedang memeriksa bukti-bukti di ruang sidang yang sunyi, "spekulasi bahwa pria tua itu adalah God of the Vast Cosmos... rasanya masih terlalu mengada-ada."
Ia membuka matanya, menatap sungai kecil yang mengalir di hadapannya—airnya jernih, tapi di dasar sungai, ia bisa melihat kerikil-kerikil hitam yang bentuknya aneh, seperti tulang-tulang kecil yang telah digerogoti waktu.
"Karena dari apa yang aku tahu," lanjutnya, sambil tanpa sadar tangannya meraih sebatang rumput kering dan memainkannya di antara jari-jari, "God of the Vast Cosmos memiliki hawa yang sangat berbeda. Hawa yang melekat dengan harapan. Juga dengan kehancuran. Tapi bukan harapan dan kehancuran biasa—melainkan harapan dan kehancuran dari seluruh kehendak batin para dewa-dewi. Seperti lautan yang terbuat dari air mata dan tawa sekaligus, seperti api yang membakar tapi juga menghangatkan."
Ling Xu, yang tidak tahu apa-apa tentang gumaman panjang di dalam kepala Huan Zheng, hanya duduk diam di atas batu licin itu, sesekali membasuh lukanya, sesekali menatap Huan Zheng dengan ekor matanya karena pria itu terlalu lama diam—diam dengan cara yang tidak biasa, bukan diam malas seperti biasanya, melainkan diam seperti orang yang sedang menyaksikan kematian seseorang yang ia kenal.
"Tapi hawa yang dipancarkan dari 51 keping Lintang Kemanusiaan milik Ling Xu," gumam Huan Zheng lebih dalam lagi, matanya beralih dari sungai ke arah Ling Xu—tepatnya ke dadanya, ke tempat di mana 51 keping itu berdenyut pelan seperti jantung kecil yang tidak pernah lelah, "bukan harapan. Bukan juga kehancuran dalam arti yang mulia. Hawa itu adalah... kesengsaraan."
Ia mengerutkan kening, mencoba mencari kata yang tepat di dalam kamus pengalamannya yang telah berisi ribuan pertempuran dan ribuan kematian.
"Kesengsaraan yang dingin. Kesengsaraan yang tidak berteriak. Kesengsaraan yang hanya duduk di sudut ruangan dan menatapmu dengan mata kosong sampai kau menyadari bahwa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengusirnya."
Dan di samping kesengsaraan itu, ia merasakan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih gelap, lebih lapar, lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia temui selama hidupnya sebagai Roda Kultivasi.
"Kebinasaan," bisik Huan Zheng dalam hatinya, dan kata itu terasa seperti abu di lidahnya, "bukan kebinasaan karena perang, bukan kebinasaan karena bencana alam, melainkan kebinasaan yang mengendap. Seperti endapan inti sari dari wabah yang dulu membuat seluruh semesta gemetar."
Huan Zheng menghela napas panjang—napas yang ia keluarkan perlahan, seperti sedang menghembuskan asap dari paru-paru yang terbakar.
"Wabah Kanker," gumamnya, dan untuk sesaat, ia merasakan bulu kuduknya berdiri meskipun tidak ada angin, meskipun matahari pagi mulai hangat di ufuk timur, "wabah yang tidak memedulikan tingkat kultivasi. Wabah yang membuat aku, si nomor satu yang pendiam, dan si nomor tiga yang suka bernyanyi, harus bersembunyi di gua paling dalam di ujung semesta selama berbulan-bulan, hanya untuk mencegah agar tidak terinfeksi. Bukan karena kami tidak bisa melawannya—tapi karena tidak ada yang bisa melawannya."
Ia teringat pada masa-masa itu, ketika para kultivator dari ranah Kemanusiaan sekalipun tumbang satu per satu, tubuh mereka berubah menjadi gumpalan daging berbenjol-benjol yang mengeluarkan wewangian menyengat itu, wewangian yang sekarang—karena Ling Xu—ia cium lagi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
"Dan endapan inti sari wabah itu... endapan yang seharusnya tidak mungkin dimiliki oleh satu individu... endapan yang bahkan para dewa pun tidak berani menyentuhnya... endapan itu ada di dalam 51 keping Lintang Kemanusiaan milik Ling Xu."
Fuuuh!!
Mereka berjalan menyusuri aliran sungai selama hampir dua jam sebelum Ling Xu akhirnya membuka mulut.
Bukan untuk bertanya tentang masa depan, bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk memuaskan rasa penasaran yang menggelitik di kepalanya sejak semalam.
"Hei, Huan Zheng," panggilnya sambil melompati sebuah akar pohon yang menjulang di tengah jalan, "bagaimana kau bisa mengalahkan mereka semua? So Weihao, Xing Haoran, puluhan bawahan tingkat Keempat dan Kelima—sedangkan kau hanya Lintang Bawah Tingkat Kesatu seperti aku?"
Huan Zheng yang berjalan di belakangnya dengan langkah sempoyongan seperti orang yang hampir tertidur, menguap lebar terlebih dahulu.
"Oh, itu? Mereka bunuh diri, sebenarnya."
Ling Xu berhenti, menoleh dengan alis terangkat hingga nyaris menyentuh garis rambutnya.
"Apa?"
Huan Zheng menggaruk perutnya yang tidak gatal, lalu menjelaskan dengan nada malas yang terdengar seperti sedang membacakan resep masakan yang membosankan,
"Mereka semua menembaki aku dengan serangan membabi buta—bersamaan, tanpa koordinasi, seperti sekawanan ayam yang melihat cacing. Dan karena aku bisa bergerak sedikit lebih gesit dari rata-rata Lintang Bawah, aku hanya perlu... menghindar. Serangan mereka mengenai satu sama lain. So Weihao kena tebasan Xing Haoran, Xing Haoran kena tusukan So Weihao, dan para bawahan—"
Ia mengangkat bahu.
"... Mereka terlalu dekat dengan ledakan. Semua mati. Cerita selesai."
Ling Xu menatap Huan Zheng dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan—campuran antara tidak percaya dan rasa ingin memukul sesuatu.
"Kau bercanda," desisnya, tapi Huan Zheng hanya menguap lagi, kali disertai dengan bunyi "kreeek" dari rahangnya yang terlalu lama tidak digerakkan dengan benar.
"Tidak," jawabnya, "kenapa aku harus bercanda? Mereka bodoh, aku gesit. Itu saja. Sekarang, bisakah kita berhenti bicara? Mulutku capek."
Namun Ling Xu tidak puas.
Ia berjalan lebih cepat, menyamakan langkah dengan Huan Zheng, lalu menatap pria itu dari samping dengan mata yang menyipit curiga.
"Baiklah, kalau masalah pertarungan sudah selesai—aku tidak percaya ceritamu, tapi untuk saat ini aku tidak punya bukti untuk membantahnya—maka aku punya pertanyaan lain."
Huan Zheng menghela napas panjang, napas seorang pria yang tahu bahwa hari istirahatnya tidak akan datang dalam waktu dekat.
"Apa lagi, Nona Racun?"
Ling Xu menghela napas juga—sebagai bentuk solidaritas yang aneh—lalu bertanya dengan suara yang sedikit lebih pelan, lebih serius,
"Bagaimana cara menaikkan ranah kultivasi di dunia ini? Aku tidak pernah belajar. Aku hanya... diberi Lintang Kemanusiaan ini, lalu tiba-tiba bisa merasakan Qi. Tapi setelah itu, tidak ada yang mengajarkanku apa pun."
Huan Zheng berhenti berjalan.
Ia menatap Ling Xu—benar-benar menatap.
Bukan dengan malas, bukan dengan ketelitian ahli bedah, melainkan dengan tatapan seorang guru yang baru sadar bahwa muridnya tidak tahu cara memegang buku, apalagi membacanya.
"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?" ucapnya, setengah bertanya setengah menyatakan.
Ling Xu menggeleng, dan Huan Zheng—untuk pertama kalinya—merasa sedikit kasihan.
Bukan karena Ling Xu lemah, karena ia jelas tidak lemah, melainkan karena gadis ini telah berjalan di dunia kultivasi selama berminggu-minggu tanpa peta, tanpa kompas, tanpa siapa pun yang menjelaskan bahwa angka-angka di bawah ini akan menentukan nasibnya.
Bersambung….