Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Xin Yi tiba di rumah pukul lima lebih lima sore. Ia langsung memarkirkan sepedanya dengan rapi di garasi, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, tampak Huo Feilin dan Xin Yuning sudah berada di sana. Mereka sedang berbincang dengan seorang pria muda yang berdiri di tengah ruangan. Penampilan pria itu sangat rapi, gaya bicaranya halus, dan kesan yang ia pancarkan terasa agak... lembut serta elegan.
Orang pertama yang menyadari kedatangannya adalah Bibi Ming.
"Nona Xin Yi sudah pulang. Apakah perjalananmu melelahkan?" tanya Bibi Ming ramah sambil berjalan mendekat untuk mengambil tas yang digendongnya.
"Tidak, Bibi. Saya baik-baik saja," jawab Xin Yi singkat.
Ia berniat berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman, namun suara dingin Huo Feilin menghentikan langkahnya.
"Xin Yi, kemarilah. Jangan ke dapur dulu, biarkan pelayan lain yang mengambilkan minuman untukmu."
Xin Yi menoleh, lalu berjalan patuh menuju sofa dan duduk di sisi sebelah kakaknya, Xin Yuning.
"Pria ini adalah penata gaya sekaligus desainer yang akan menyiapkan penampilanmu," jelas Xin Yuning pelan. "Dia akan mengukur badanmu untuk membuatkan pakaian yang pantas untuk pesta besok malam."
Pria muda itu, Bai Liu, menoleh dan menyunggingkan senyum yang sangat ramah dan manis.
"Halo, Nona Xin Yi. Saya Bai Liu. Senang sekali bisa bertemu denganmu. Bolehkah saya mulai mengukur badanmu sekarang?" tanyanya dengan suara yang lembut.
Xin Yi menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Silakan."
Bai Liu bekerja dengan sangat serius dan teliti. Ia menggunakan meteran kain untuk mengukur setiap bagian tubuh Xin Yi dengan cermat, mulai dari lingkar dada, pinggang, hingga panjang lengan dan kaki.
Asistennya berdiri di samping dengan sigap mencatat setiap angka yang dibacakan.
Suasana di ruang tamu terasa hening. Huo Feilin yang duduk di sofa menyimak hasil pengukuran itu dengan wajah yang semakin serius dan sedikit mengernyit.
Faktanya, tubuh gadis ini terlihat kurang tumbuh dengan optimal. Meskipun proporsinya terlihat ramping dan padat, namun tinggi badannya tergolong kecil untuk usianya.
"Tinggi badan... seratus lima puluh lima sentimeter," ucap Bai Liu pelan sambil mencocokkan ukuran.
Huo Feilin terdiam. Usia Xin Yi sudah menginjak tujuh belas tahun, namun tinggi badannya masih sebatas itu.
Xin Yi sendiri yang mendengar angka tersebut hanya terdiam dalam hati. Sebenarnya itu sudah cukup baik. Dua tahun lalu di pulau, tingginya masih seratus lima puluh satu sentimeter. Jadi ia masih sempat tumbuh empat sentimeter meski hidup keras.
Melihat adiknya yang tampak diam, Xin Yuning merasa sedikit kasihan.
"Minumlah susu yang banyak mulai sekarang. Kau masih muda, masih punya kesempatan untuk tumbuh lebih tinggi lagi," ujarnya menasihati dengan nada lembut.
Namun, suasana sedikit berubah saat Bai Liu kembali berbicara.
"Meski tinggi badan tergolong kecil, namun bentuk pinggul dan bahunya sangat bagus dan proporsional. Sangat ideal untuk dibuatkan gaun," komentar Bai Liu dengan jujur dan antusias sebagai seorang desainer.
Xin Yi yang mendengarnya melirik ke arah pria itu. Wajahnya tampak tidak nyaman.Tanpa berkata apa-apa, ia perlahan namun pasti menggeser tubuhnya ke samping, menjauhkan jarak tubuhnya dari Bai Liu.
"......"
Bai Liu tertekan sejenak. Tangan yang memegang meteran itu terhenti di udara.
Ia tiba-tiba merasa... sepertinya ia tidak disukai oleh gadis ini. Padahal ia hanya memuji bentuk tubuhnya secara profesional, mengapa responnya seolah-olah ia adalah orang jahat?
Melihat interaksi yang aneh dan canggung antara putri tirinya dan sang desainer, Huo Feilin yang sedari tadi duduk diam menyimak tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan.
Wajahnya yang biasanya dingin dan tegas kini menahan tawa yang ingin meledak.
Sungguh pemandangan yang jarang ia temui. Bai Liu dikenal sebagai desainer yang sangat populer dan pandai memuji, namun di hadapan Xin Yi, ia justru terlihat seperti orang yang tidak disukai dan dijauhi layaknya penyakit.
Gadis kecil itu benar-benar unik. Ia tidak tahu cara bersantai, tidak tahu cara berpura-pura, dan setiap reaksinya sangat jujur dan apa adanya.
"Baiklah, ukurannya sudah lengkap," ucap Bai Liu akhirnya dengan sedikit kepura-puraan untuk menutupi rasa canggungnya. "Saya akan segera kembali ke studio dan menyiapkan gaun yang paling sesuai untuk Nona."
Huo Feilin mengangguk pelan, masih ada sisa senyum geli di sudut matanya.
"Silakan, kami menunggu hasil karyamu besok pagi. Pastikan semuanya sempurna."
Setelah berpamitan, Bai Liu dan asistennya segera pergi meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan campur aduk.
Xin Yi pun berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu, saya akan naik ke kamar untuk mandi dan belajar," ucapnya singkat.
"Pergilah," sahut Huo Feilin santai.
Dan saat Xin Yi berjalan naik dengan langkah cepat seolah ingin menjauhi situasi dengan Bai Liu tadi, Huo Feilin benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia tertawa kecil di dalam ruangan yang sepi.
Anak ini... benar-benar makhluk yang aneh namun menghibur.
Keesokan harinya, cuaca terlihat sangat cerah. Sinar matahari pagi menembus masuk melalui celah tirai jendela, menerangi sosok gadis yang masih tertidur pulas di atas ranjang besar.
Bulu mata panjangnya bergetar pelan, lalu perlahan kelopak matanya terbuka. Mata itu tampak sayu dan belum sepenuhnya fokus, menatap langit-langit kamar dengan kosong.
Xin Yi terdiam sejenak, masih berusaha sadar sepenuhnya. Setelah sadar, ia segera duduk tegak. Matanya melirik jam digital di meja samping tempat tidur. Jarum menunjuk tepat pukul lima pagi.
Tanpa menunda waktu, ia segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan tubuh segar mengenakan jubah mandi, lalu berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk mengenakan setelan olahraga yang nyaman.
Pukul lima pagi, dapur besar di rumah itu sudah terlihat hidup. Bibi Ming dan beberapa pelayan lain sudah sibuk membersihkan area dan menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan pagi. Suara hentakan pisau dan suara wajan yang dipanaskan terdengar jelas.
Xin Yi turun dari tangga dengan langkah ringan. Ia langsung menuju meja samping dapur dan mengambil botol air minum besar yang memang sudah disiapkan khusus untuknya setiap pagi.
Setelah memakai sepatu lari dengan rapi, ia membuka pintu utama dan berlari keluar meninggalkan halaman rumah.
Di lantai atas, Huo Feilin berdiri di balkon kamarnya. Wanita itu kebetulan juga bangun lebih pagi dan sedang menikmati udara segar. Matanya mengikuti pergerakan sosok kecil yang berlari keluar gerbang rumah.
Gadis itu mengenakan pakaian olahraga sederhana, berlari dengan postur tegak dan langkah yang teratur.
"Terlalu disiplin..." gumam Huo Feilin pelan. "Benar-benar bukan anak yang manis dan manja seperti remaja pada umumnya."
Pukul tujuh pagi.
Xin Yuning baru saja turun dari kamarnya. Ia masih mengenakan piyama sutra berwarna gelap, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Ia berjalan lesu menuju ruang makan, namun tiba-tiba berhenti di depan pintu masuk. Ia menunduk melihat rak sepatu.
Sepatu olahraga hitam milik Xin Yi... tidak ada di tempatnya.
Xin Yuning menghela napas pasrah.
Tepat saat itu, Huo Feilin turun dari tangga dan melihat putranya berdiri bengong di depan pintu.
"Ada apa? Mengapa berdiri di situ?" tanya wanita itu.
Xin Yuning berbalik menatap ibunya dengan wajah datar.
"Anak itu sudah pergi lari pagi lagi, Bu. Apakah dia berniat memaksakan diri supaya badannya bisa lebih tinggi? Padahal genetika juga berpengaruh,"ujarnya setengah bercanda.
Mendengar ucapan putranya itu, sudut bibir Huo Feilin terangkat membentuk senyum tipis.
"Kau tampak tidak membenci anak itu lagi, ya?" tanyanya menyelidik.
Xin Yuning berjalan mendekati meja makan dan duduk di kursinya. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya sebelum menjawab dengan tenang:
"Anak itu tidak bersalah, Bu. Kita semua tahu itu."
Huo Feilin mengangguk perlahan, matanya menatap jauh ke depan.
"Benar. Dan orang yang sebenarnya bersalah... bahkan tidak berani menunjukkan mukanya setelah sekian lama membiarkan anak itu menderita."
CREK.
Pintu depan terbuka tepat saat kalimat itu selesai diucapkan.
Xin Fuyang masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terlihat lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
"......" Ia mendengar jelas kata-kata istrinya barusan, membuat langkah kakinya terhenti dan suasana seketika menjadi canggung.
Xin Yuning melirik sekilas ke arah pintu, lalu berkata dengan nada datar:
"Ayah sudah kembali?"
Huo Feilin sama sekali tidak menghentikan gerakannya. Ia tetap fokus mengoleskan selai kacang di atas roti bakar dengan tenang, seolah-olah kedatangan suaminya hanyalah angin lalu yang tidak penting. Wajahnya dingin dan tidak menunjukkan sedikitpun rasa senang.
Xin Fuyang berdiri mematung di ambang pintu. Ia merasa sangat canggung dan tidak nyaman dengan suasana yang membeku itu. Dengan suara yang terdengar sedikit serak dan terpaksa, ia menjawab pertanyaan putranya.
"Eh... iya, Ayah baru saja sampai."
Xin Yi berlari dengan langkah yang stabil dan teratur. Nafasnya tetap terjaga dengan baik, tidak terdengar terengah-engah meski jarak yang ia tempuh cukup jauh.
Gelang pintar yang melingkar di pergelangan tangannya bekerja dengan akurat, mendeteksi detak jantung dan aktivitas fisiknya secara rinci.
Setelah berlari selama hampir satu jam, ia akhirnya mengurangi kecepatan dan berhenti di sebuah taman yang rindang di dalam kompleks perumahan.
Butiran-butiran keringat menetes di pipinya dan meluncur turun mengikuti garis rahangnya, memberikan kesan yang segar dan alami. Wajahnya memerah sedikit karena aktivitas fisik tersebut.
Ia berjalan santai menyusuri area taman tersebut.
Di sana sudah cukup ramai, banyak warga lain yang juga sedang berolahraga, ada yang berjalan cepat, ada yang melakukan senam, maupun sekadar berjalan-jalan menikmati udara pagi bersama keluarga.
Suasana pagi itu terasa sangat hidup dan damai.