Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jalan Kaki
Zivanna duduk melamun di depan jendela kamarnya yang menghadap ke pohon rambutan. Tadi jam dua belas siang dia merengek minta pulang karena merasa bosan dan kondisinya juga sudah baik-baik saja. Anita pun menyetujuinya karena Zivanna memang terlihat baik-baik saja. Selain itu dia harus segera kembali ke kota karena ada urusan mendesak di butiknya.
Zivanna teringat mimpinya. Wajah Suci terlihat jelas di dalam mimpinya. Tetap wajah laki-laki biadab itu sama sekali tidak terekam di memori Zivanna. Dia sudah berusaha mengingatnya tetapi tidak bisa.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Rumah terasa begitu sepi. Anita sudah kembali. Minah sedang beristirahat karena kondisinya belum begitu sehat. Sementara Rani dan Budi sedang di gudang sibuk mengurusi hasil panen jagung kemarin.
Zivanna meraih sweaternya lalu keluar dari kamar. Dia hanya ingin jalan-jalan sebentar jadi dia pikir tidak perlu pamit pada siapapun. Kalau pamit sama Budi atau Rani pasti mereka tidak akan mengijinkannya. Salah satu dari mereka pasti akan menemaninya padahal mereka sedang banyak pekerjaan. Zivanna tidak ingin merepotkan jadi dia pergi diam-diam.
Langkah Zivanna terasa begitu ringan. Dengan santai dia menyusuri jalan tanpa memiliki tujuan. Pemandangan sawah di bawah langit dengan semburat warna jingga yang mulai terlihat membuat Zivanna terpukau hingga tidak sadar akan langkahnya.
Zivanna terus berjalan hingga melewati perkebunan tebu. Jalan itu begitu sepi. Tidak ada seorangpun di sana selain dirinya tetapi Zivanna sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia lewat begitu saja seolah tahu jalan dan perkebunan itu tidak akan menyakitinya.
Zivanna melihat beberapa puluh meter di depan sana, seorang laki-laki keluar dari semak perkebunan. Laki itu terlihat sibuk mengumpulkan daun tebu yang sudah kering sehingga tidak menyadari kehadiran Zivanna yang sedang berjalan ke arahnya.
Zivanna tidak terlihat takut. Dia mendengar cerita dari Rani dan juga Budi jika desa ini hampir tidak pernah terjadi tindak kriminal.
Orang bisa memarkirkan kendaraan mereka di mana saja tanpa khawatir akan hilang. Seperti Rani ketika dia mengantarkan makan siang untuk Budi di sawah. Dia meninggalkan sepeda motornya begitu saja di pinggir jalan lalu turun ke sawah mendatangi Budi. Bahkan dengan kunci motor tertancap pun tidak akan ada orang yang mencurinya. Televisi yang dipasang di pos ronda sebagai hiburan pun utuh tidak ada yang mengambil padahal tidak dipasangi alat pengaman. Seaman itu desa Suka Makmur membuat Zivanna tidak takut apapun dan terus melangkah maju.
Ketika sudah semakin dekat, laki-laki itu seperti menyadari kehadiran Zivanna lalu mengangkat wajahnya. Dia meletakkan daun tebu yang sudah kering di tangannya lalu menyapa. "Zivanna, mau kemana?"
Zivanna merasa mengenal laki-laki itu. Seperti pernah bertemu tapi lupa atau jangan-jangan hanya di mimpinya. Zivanna sedang berusaha mengingatnya.
"Aku Cahyo, keponakannya Bi Rani. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya."
"Oh, iya... Maaf. Aku lupa."
"Mau kemana sore-sore begini?" tanya laki-laki itu tampak tulus, tanpa sedikitpun ada nada menggoda atau kegenitan.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Kamu sedang apa?" Zivanna tadi melihat dari kejauhan Cahyo sibuk berkutat dengan daun tebu.
"Ini ... hanya membersihkan daun-daun yang sudah kering agar sirkulasi udaranya lancar dan besok memudahkan kalau pas panen."
"Oh... Begitu rupanya."
"Kamu sendirian saja? Tidak ditemani bibi?"
"Mak Rani dan Pak Bud sedang sibuk di gudang aku tidak mau mengganggu pekerjaan mereka."
"Memangnya mau jalan-jalan kemana? Apa perlu aku temani?"
"Tidak usah, terima kasih. Aku cuma akan muter-muter di sekitar sini saja," tolak Zivanna halus.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti pulangnya jangan malam-malam ya, soalnya sepi dan lampu penerangan jalannya juga cuma sampai sana." Cahyo menunjuk ujung perkebunan, mungkin tidak sampai dua ratus meter di depan. "Begitu keluar dari jalan perkebunan ini kamu akan menemui area persawahan lagi. Nah, di situ itu tidak ada lampu penerangan lagi karena itu wilayah perbatasan dengan desa tetangga. Jadi kalau bisa jangan malam-malam."
"Oh... ya, Aku mengerti. Aku pergi dulu." Zivanna pamit lalu melanjutkan langkahnya. Cahyo mengangguk lalu kembali menyusup diantara pepohonan tebu untuk melanjutkannya pekerjaannya.
Tanpa terasa Zivanna sudah memasuki ibu kota kecamatan, desa Suka Jaya yang artinya sudah sekitar satu jam Zivanna berjalan kaki. Dia mulai merasakan lelah dan kehausan lalu berhenti di depan sebuah mini market lokal di dekat kantor kecamatan.
Zivanna langsung masuk dan mengambil sebotol air mineral lalu menuju kasir. Di mengeluarkan handphone ketika hendak membayar, lalu menanyakan QR code tapi pelayan di sana menggeleng dan mengatakan jika minimarket tersebut hanya menerima transaksi tunai.
Zivanna tidak tampak kecewa. Dia baru ingat jika hampir sembilan puluh persen transaksi di desa ini adalah transaksi tunai sedangkan saat ini dia tidak membawa uang sepeserpun.
Zivanna hampir berbalik untuk mengembalikan botol air mineral itu ke tempatnya lalu seseorang dari belakang berkata, "Biar aku yang bayar."
Zivanna menoleh. Alvaro berdiri tepat di belakangnya menenteng keranjang belanjaan berisi deterjen, sabun mandi, shampo dan kebutuhan pribadi lainnya. "Jadikan satu sama ini saja," ucapnya sambil meletakkan keranjang belanjaannya di atas meja kasir.
Zivanna diam, membiarkan laki-laki itu membayar air mineral yang saat ini sangat di butuhkan.
Selesai melakukan pembayaran, Alvaro keluar dari toko itu dan Zivanna mengikuti di belakangnya. Alvaro tidak segera memberikan air mineral itu padahal Zivanna sangat menginginkannya. Laki-laki itu justru bertanya, "Kamu sudah makan?"
Zivanna menggeleng. "Belum, tapi aku tidak lapar," jawabnya. Saat ini yang dia inginkan hanya air mineral di dalam kantong kresek di tangan Alvaro.
"Temani aku makan nasi uduk, ya?"
Zivanna terlihat ragu. Dia hampir menggeleng tetapi kemudian Alvaro berkata, "Itu warungnya," sambil menunjuk sebuah tenda sederhana di pinggir jalan dengan wajah antusias.
Zivanna merasa tidak enak lalu mengangguk mengiyakan. Kedua orang itu lalu berjalan beriringan menyeberangi jalan.
Alvaro memesan makanan sementara Zivanna sudah duduk di tikar yang sudah di gelar di sepanjang trotoar di depan kecamatan. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah enam. Matahari sudah tidak terlihat hanya menyisakan warna jingga pekat di ufuk barat.
"Ini!" Alvaro menyodorkan air mineral yang sejak tadi Zivanna inginkan.
Gadis itu segera membuka tutup lalu meminumnya. "Tadinya aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, tetapi tahu-tahu aku sampai di sini. Mana tidak bawa uang," ucapnya setelah kembali menutup botolnya.
"Jalan kaki sendirian?"
Zivanna kembali mengangguk. "Iya."
"Itu lumayan jauh, lho?!"
"Memangnya kenapa? Aku sudah biasa. Kalau jualan juga setiap hari jalan kaki begini, kan?"
"???"