Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Tugas Pertama.
Langkah Lea saat akan memasuki gerbang mansion tiba-tiba terhenti. Ia berdiri di ambang pintu gerbang, menatap bangunan megah yang ada di depannya. Masih perlu beberapa meter lagi banginya untuk mencapai pintu utama, namun ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda.
Ada perbedaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Tetapi saat langkahnya masuk melewati gerbang, udara dingin di sekitar berubah menjadi lebih berat.
Lea menghembuskan napas cepat, memantapkan langkah kakinya melewati taman hingga ia kini berdiri di depan pintu utama, lalu mendorongnya pelan.
Awalnya, semua terasa biasa saja. Namun, saat ia akan melewati ruang tamu, langkahnya melambat kala mendapati sosok Angkasa duduk di sofa ruang tamu bersama Marco yang setia berdiri di belakang Angkasa. Memberikan tatapan yang sudah biasa ia terima. Dingin dan tidak bisa di bantah.
"Kemari."
Hanya satu kata seperti biasa ketika Angkasa meminta Lea untuk mendekat. Tetapi juga membuat Lea menurut tanpa debat. Tapi malam ini berbeda dengan saat malam ia datang.
Dahi Lea mengernyit tipis saat ia mengikis jarak antara dirinya dengan Angkasa, indra penciumannya menangkap sesuatu yang belum pernah ia cium sejak tinggal di sana, bahkan saat pagi ini sebelum meninggalkan mansion.
Amis ... Darah ...
Aroma itu memang sudah dihilangkan menggunakan disinfektan, namun tidak cukup untuk lolos dari indra penciuman Lea. Samar, tapi Lea tahu itu bukan darah binatang. Sedetik, rasa cemas mulai merayap, tapi segera ia tepis di detik berikutnya dengan pemikiran tidak mungkin di mansion ada pembunuhan.
"Apakah ini alasnmu menolak dijemput?" tanya Angkasa. Nada suaranya datar seperti biasa, tapi mengandung teguran diakhir kalimat.
"Aku mengerjakan tugas kampus," jawab Lea menatap lekat netra Angkasa yang tengah menatapnya. "Menyelesaikan skripsi," lanjutnya kemudian.
"Di kampus? Sampai selarut ini?" tanya Angkasa.
Lea menggeleng. "Di rumahku."
Angkasa diam, netranya menatap manik Lea, mencari jejak kebohongan yang tidak bisa ia temukan.
"Aku butuh ketenangan," kata Lea lagi menyadari Angkasa masih menunggu penjelasan. "Dan aku tidak mendapatkanya di sini. Selain itu, aku perlu mengambil sesuatu."
Hening.
Angkasa tidak bertanya lagi, tetapi netranya tak lepas dari Lea. Ia memindai Lea dari atas sampai bawah, merasa ada yang sedang wanita itu tutupi.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu," ucap Angkasa memilih mengesampingkan pertanyaan di pikirannya.
"Katakan." sahut Lea seraya memasukkan kedua tangan ke saku hodienya. Menunggu apa yang akan Angkasa katakan.
"Jika kamu ingin aku bersikap hormat seperti yang dia lakukan." ucap Lea sembari menunjuk Marco yang selalu setia berada di belakang Angkasa menggunakan dagu. "Maaf saja, aku menolak."
"Aku bersedia menjalankan perintahmu, tapi bukan untuk tunduk padamu. Aku bersedia berdiri di sampingmu, bukan di belakangmu."
Angkasa masih diam, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Entah bagaimana, sikap yang selalu Lea tunjukkan justru mempertegas bahwa Lea mampu membuktikan diri, dan ia hanya perlu memancing seberapa jauh kemampuan yang Lea miliki.
"Bukan itu. Aku tak masalah dengan sikapmu selama kau bisa memberikan hasil," jawab Angkasa.
"Kalau bagitu katakan," kata Lea lagi.
"Anak buahku berkhianat," ungkap Angkasa.
"Dan kau ingin aku membawa dia ke hadapanmu?" tebak Lea.
Angkasa tersenyum samar, kembali menyesap minumanya, lalu meletakkan gelas di meja. "Tepat."
"Siapa?" tanya Lea.
"Vito."
"Di mana aku bisa menemuinya?" tanya Lea lagi.
Angkasa mengisi gelasnya yang sudah kosong, lalu mengangkat wajah, membuat pandangan mereka yang sempat terputus kembali bertemu. "Scarfers Bar."
Lea tidak segera memberikan jawaban. Pikirannya menggali informasi yang ia miliki tentang bar yang baru saja Angkasa sebutkan. Itu bukan bar yang bisa didatangi oleh sembarang orang, melainkan bar eksklusif yang hanya bisa dimasuki menggunakan kartu akses khusus.
"Besok malam," Angkasa melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya perlu menyeret dia ke hadapanmu bukan?" tanya Lea.
Angkasa mengangguk.
"Akan kulakukan," sahut Lea
"Kau bisa kembali ke kemarmu," perintah Angkasa kemudian.
Lea mengangguk, membalikan badan dan melangkah pergi ke kamarnya sendiri. Meninggalkan Angkasa dan Marco yang kini tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Tuan, Anda yakin akan mengirimnya untuk menyeret Vito kemari? Bukankah dia-..."
"Menyukai wanita." potong Angkasa cepat. Ia tersenyum, lalu menyesap minumannya lagi. "Aku tahu itu. Justru karena itu Lea sangat cocok untuk menjalankan tugas ini. Anggap saja ini tugas pertamanya, dan ini tugas ringan."
"Terkadang ..." Marco berkata pelan, pandangannya tertuju ke arah tempat di mana Lea menghilang. "Saya bertanya-tanya, apa yang membuat Nona Lea memilih masuk ke dunia di mana sebagian besar orang memilih untuk menghindar. Tapi dia ...justru mendekat."
Angkasa tidak memberi tanggapan, ia hanya kembali menyesap minumannya, mengisi gelas ketika kosong dan meminumnya lagi.
"Apa kau sudah mendapatkan hasilnya, Marco?" tanya Angkasa. Nada suaranya tiba-tiba berubah.
"Tentang kecelakaan mendiang kedua orang tua Nona Lea ...cukup rumit, Tuan. Saya belum mendapatkan hasil pastinya, tapi ..." Marco menggantung kalimatnya, mendadak ragu untuk melanjutkan.
"Tapi?" Angkasa menoleh, menatap lekat Marco setelah meletakkan gelas dengan sebelah alis terangkat. Tidak sabar.
"Beberapa orang kita terlibat di dalamnya. Salah satunya ...Vito," jawab Marco.
"Apa?!" Angkasa menyipitkan mata. Ia bahkan segera bangun dari duduknya dan membalikkan badan menghadap Marco. Ia berharap telinganya salah mendengar, tetapi kalimat yang Marco ucapkan selanjutnya, memupus harapannya seketika.
"Saat ini belum banyak yang bisa saya dapatkan. CCTV di setiap jalan yang dilewati sebelum kecelakaan terjadi tidak menangkap pergerakan mereka. Apa yang mereka lakukan dan siapa dalang di baliknya, masih abu-abu. Tapi, di salah satu rekaman, Vito tertangkap kamera CCTV."
Angkasa masih menatap Marco selama beberapa saat sebelum jatuh terduduk ke sofa. Terkejut jelas ia rasakan. Ia tidak pernah menyangka jika insiden kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Lea ada campur tangan orang-orangnya. Dan sekarang, Lea justru masuk ke dalam lingkaran di mana pembunuh kedua orang tuanya berada.
Ia memang tidak tahu siapa kedua orang tua Lea. Saat Lea meminta dirinya menyelidiki kecelakaan yang menimpa kedua orang tua wanita itu, ia menyerahkan tugas itu pada Marco. Dan Lea menyebutkan nama serta lokasi kecelakaan kepada Marco. Tapi, ia tidak mengharapkan mendapatkan kejutan tak terduga seperti ini.
"Susuri semua jalan yang dilewati kedua orang tua Lea sebelum kecelakaan terjadi. Meski itu sudah berlalu lebih dari dua bulan, jejak digital pasti tetap ada," perintah Angkasa setelah beberapa lama terdiam.
"Kalau perlu, retas akses kamera semua toko, rumah, telepon umum atau apa saja, termasuk dashcam mobil yang mungkin dilewati oleh kedua orang tua Lea."
Marco mengangguk patuh. "Dimengerti."
"Tuan." Marco urung beranjak, ia kembali menghadap Angkasa saat teringat akan sesuatu yang belum ia sampaikan. "Ini tentang pelaku yang mendorong Nona Lea ke danau, saya sudah mendapatkannya."
"Siapa?"
. . . .
. . ..
To be continued...
..
..
Hallo sahabat pembaca... Salam hangat.
Ijinkan autor menyapa kalian sebentar.
Autor meminta maaf yang sebesar-besarnya karena ada beberapa kendala, ada dua bab yang autor rombak dan berimbas pada bab yang bergeser. Tapi tenang saja, alur sebelumnya yang sudah kalian baca tidak ada yang berubah. Inti dari bab sebelumnya tetap sama, hanya ada pergeseran saja. Maaf atas ketidaknyamanannya...
Terima kasih....