Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 – Naya
Aku masih berdiri di hadapan Alfian dan Risa dengan puding yang masih menempel di ujung sepatuku. “Kamu mau apa?” tanyaku memastikan.
“Balikan,” jawa Risa.
Aku menatap Risa. Risa langsung mingkem.
“Plis, aku salah. Maafin aku. Aku pengen balikan,” kata Alfian memelas.
Sejak aku dan Devi mengejarnya ke Bandung waktu itu, aku dan Alfian LDR setahun. Setahun kemudian Alfian dapat kerjaan yang lebih baik di Jakarta. Aku dan Alfian semakin dekat, sampai dia melamarku, memutuskan tunangan, dan sekarang minta balikan.
“Kamu tahu aku di sini dari mana? Devi?”
“Nggak! Aku tahu sendiri. Devi nggak mau ngasih tau. Risa juga, Shanaz juga. nggak ada yang kasih tau. Aku lihat fotografer kalian foto prewed, terus aku cek tanggal acara ini. WO-nya kalian, jadi aku ke sini.”
Aku dan Risa salin berpandangan.
“Liat nggak, ini lagi acara?” tanyaku pada Alfian dengan nada kesal. “Tunggu sampe acara ini selesai, baru kita bicara!”
Alfian menganggukkan kepala.
Aku menarik Risa kembali ke gedung. Membiarkan Alfian entah di mana.
Resepsi itu baru saja usai, tapi jejaknya masih menggantung di udara seperti gema yang belum benar-benar pergi.
Lampu-lampu gantung masih menyala, meski cahayanya terasa lebih redup sekarang—bukan karena intensitasnya berubah, tapi karena tawa dan riuh yang tadi memenuhi ruangan sudah menghilang. Kursi-kursi yang tadinya tersusun rapi kini sedikit bergeser, beberapa bahkan ditinggalkan miring, seolah lelah setelah “menopang” begitu banyak cerita sepanjang malam.
Di atas meja prasmanan, piring-piring saji tersisa dengan jejak-jejak yang tidak rapi—saus yang menempel, potongan kecil makanan yang terlewat, dan sendok yang dibiarkan begitu saja tanpa arah. Aroma makanan masih tertinggal, bercampur dengan wangi bunga dekorasi yang mulai layu pelan-pelan, seperti ikut kehabisan energi setelah menjadi saksi kebahagiaan.
Meski begitu, mempelai masih ada di atas pelaminan. Beberapa keluarga dan teman dekat sedang foto bersama.
Risa dan Shanaz sedang mencicipi makanan yang sudah tinggal sedikit sambil ngobrol denganku.
“Alfian masih ada di sini?” tanya Shanaz.
“Nggak tau,” kataku sambil menaikkan bahu.
“Kasih tahu, Bima!” tegur Risa yang sedang makan puding.
“Ngapain?” tanyaku heran.
“Ya kasih tau aja. Ada Alfian ke sini, terus elu usir.”
“Ya udah, gue kasih tau Bima, kalau udah ngusir aja.”
“Ah, terserah lah…,” kata Risa menghabiskan pudingnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari mic. Suara dengin mic yang terlalu dekat dengan speaker melengking membuat semua orang yang tersisa di gedung menoleh ke atas panggung organ tunggal.
ALFIAN!
Aku, Risa, dan Shanaz saling lirik. Risa menyuruhku untuk bergegas menurunkan Alfian dari panggung.
“Assalamu'alaikum!”
Aku lari langsung mendekati panggung.
Terdengar suara Waalaikum salam dari para pengunjung yang tersisa dan kedua mempelai.
“Selamat untuk kedua mempelai yang sudah menikah,” kata Alfian tersenyum.
“Pian! Turun!” kataku dari samping panggung.
Panggung organ tunggal itu berdiri di sudut ruangan gedung yang tidak terlalu luas, seperti pusat gravitasi kecil yang diam-diam menarik perhatian semua orang. Ukurannya sederhana—hanya sedikit lebih tinggi dari lantai, dengan karpet merah tipis yang ujungnya sudah mulai menggulung, seolah pernah terlalu sering diinjak oleh sepatu-sepatu yang penuh semangat.
Di atasnya, sebuah keyboard elektrik diletakkan di stand hitam yang tampak kokoh tapi penuh goresan halus—tanda perjalanan panjang dari satu acara ke acara lain. Di sampingnya, speaker besar berdiri seperti penjaga setia, sesekali mengeluarkan dengung rendah ketika mikrofon dinyalakan.
“Saya izin minta perhatian orang-orang semua di sini. Karena saya ingin melengkapi kebahagian kalian semua di sini dengan usaha saya mendapatkan cinta pertama saya, Naya…!” kata Alfian sambil menunjuk ke arah ku.
Terdengar tepuk tangan garing dan hampa menggema. Terlihat salah seorang pengunjung mengeluarkan ponselnya dan merekam ke arah panggung organ tunggal.
Penyanyi dan pemain organ yang sedang turun makan, berhenti makan dan fokus melihat aku dan Alfian.
“Alfian! Turun nggak!” kataku dengan mata melotot.
“Jadi, aku mau mengaku dosa dulu,” kata Alfian malah menjauh.
Aku langsung naik ke atas panggung untuk merebut mic dari tangannya, tapi dia malah menahannya. Kami jadi saling rebutan mic di atas panggung.
“Jangan bikin malu gue!” kataku kesal.
“Aku nggak pernah bikin malu kamu!” kata Alfian yang lalu berhasil merebut kembali micnya.
Aku menggelengkan kepala, bingung dan malu. Rasanya aku ingin tiba-tiba ada meteor datang dan menghancurkan dunia langsung sekarang juga!
“Maaf ya, para mempelai dan undangan. Saya ulang ya. Jadi singkatnya, saya ingin melamar perempuan yang ada di sebelah say aini.”
Suara sorak sorai dan tepuk tangan dari para pengunjung menggema ke seluru gedung. Aku cuma bisa balik badan, malu.
“Naya…, mau nggak kamu menerima…” tiba-tiba suara mic mati.
Aku balik badan.
“Halo! Kok mati?” tanya Alfian mengetuk-ngetuk micnya.
Shanaz nyengir sambil menujuk ke arah stop kontak yang baru saja dicabutnya.
Aku langsung berkata makasih tanpa suara ke Shanaz yang mengangkat kedua jempol.
“NGGAK APA-APA!” teriak Alfian. “SAYA MASIH BISA TERIAK!”
“Alfian plis udah,” kataku benar-benar memelas.
“NAYA! MAU NGGAK…,”
“NGGAAAAAK!” aku teriak lebih kencang sebelum Alfian benar-benar melamarku untuk kedua kalinya di atas panggung.
Semua orang tertegun.
**
Aku tiduran di kasur sambil mengurut leherku. Kejadian tadi siang bikin pusing dan badan langsung kayaknya demam deh. Kataku sambil memegang jidat.
Dering ponselku berbunyi.
Aku mengambil ponsel, ternyata dari Bima!
Astaga, aku lupa kasih tau Bima soal tadi siang!
Aku jawab telepon dari Bima dengan suara pelan, “Halo?”
“Halo…, kamu kenapa?” tanya Bima heran. “Sakit?”
“Nggak. Cape aja. Tadi banyak ngomong, jadi sakit lehernya.”
“Oh. Acaranya lancar?”
“Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah.”
“Ada apa?”
“Soal lamaran kita besok.”
“Kenapa?”
“Nggak jadi di rumah aku. Kata ibuku, masa cewek yang dateng ke tempat cowok.”
“Terus? Mau ke sini?” tanyaku gugup. “Rumah aku kecil.”
“Iya. Nggak ke rumah kamu. Kita di resto aja.”
“Resto mana?”
“Ada, udah aku bookingin. Di daerah menteng.”
“Jangan mahal-mahal, Mas.”
“Nggak. Biasa aja. Nanti aku share loc tempatnya.”
“Oke.”
“Daaaah. Met istirahat, sayang.”
“Iya.”
Telepon terputus.
Dadaku bergetar mendengar dia benar-benar bilang sayang. Eh… tapi aku nggak bilang balik. Eeeeeh! Aku nggak ngomongin soal Alfian!
Aku telungkup di bantal.
klunaku bayangin nya hmmm
Jefry Nichols, Al Ghazali or Herjunot
kamu hrs jelasin ke Mutia biar dia ga makin ke GR an malah upload2 macam2 udh berasa cewek kamu. kasihan dong Naya
ntar2 nya kmu pasti ga sempet
tuh Nay ga usah canggung dan bingung lagi
bukan anak kecul sih ituu..coba deh berpikiran dewasa dan jngn dipendam klu ada apa2
kapaannn lagi yaa Maaaaa punya calon mantu aktor terkenal 😂😂
masa mnta dibalikin lagi cincin nyaa /Facepalm/
dijudesin,egonya tinggi.klo elo sifatnya sprt itu nay cocok tu ma Alfian!!
baca ni Noval lama"MLS bet