Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sekitar tiga puluh menit kemudian, proses imunisasi Melodi akhirnya selesai.bDan seperti yang sudah diperkirakan bayi kecil itu mulai rewel.
Tangisan kecilnya terdengar sejak keluar dari ruang imunisasi. Wajah mungilnya memerah, sementara tangan kecilnya terus bergerak gelisah di dalam gendongan Arsyi.
“Sayang … udah, udah…” bisik Arsyi lembut sambil mengusap punggung Melodi perlahan. Melodi masih merengek kecil. Harsa yang berjalan di samping mereka sesekali melirik.
“Tuh kan,” gumam Arsyi pelan. “Dia sakit habis disuntik.”
“Namanya juga imunisasi.”
“Tapi tetap kasihan.”
Harsa menghela napas kecil sambil membuka pintu lobby rumah sakit untuk mereka.
“Kamu nanti bisa lebih capek kalau ikut panik.”
Arsyi langsung menatapnya.
“Aku kan ibunya.”
Jawaban itu spontan keluar begitu saja. Aneh nya kali ini Harsa tidak terlihat terkejut.vIa justru diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Iya … kamu ibunya.” Kalimat itu kembali membuat dada Arsyi terasa hangat. Begitu masuk ke mobil, Arsyi langsung duduk di belakang bersama Melodi. Ia terlihat sibuk menenangkan bayi kecil itu sepanjang perjalanan. Sementara Harsa sesekali melirik dari kaca tengah.
“Masih nangis?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Demam nggak?”
“Belum.” Harsa mengangguk kecil.
Mobil melaju meninggalkan area rumah sakit.
Arsyi mulai sadar arah mobil itu bukan menuju rumah.
“Kita mau ke mana?” tanyanya bingung.
Harsa tetap fokus menyetir.
“Makan.”
Arsyi berkedip pelan.
“Hah?”
“Kamu belum makan dari pagi.”
“Aku nggak apa-apa. Pagi tadi juga sarapan,”
“Kamu selalu bilang nggak apa-apa.” Kalimat itu membuat Arsyi terdiam. Sementara Harsa melanjutkan dengan nada tenang,
“Habis makan kita jalan sebentar.”
“Jalan?”
“Hm.”
Arsyi terlihat ragu.
“Tapi Melodi habis imunisasi…”
“Hanya sebentar.”
Harsa melirik ke arah kaca tengah.
“Lagipula dia nggak mungkin selamanya di rumah terus.”
Arsyi menggigit bibir pelan.
Sebenarnya ia memang ingin keluar sesekali. Namun sejak Melodi lahir, dirinya terlalu takut membawa bayi kecil itu ke tempat ramai. Takut dianggap tidak becus seperti bisik-bisik ibu kompleks dulu. Entah kenapa rasa takut itu sedikit berkurang karena ada Harsa. Mobil akhirnya berhenti di sebuah pusat perbelanjaan besar di kawasan Jakarta.
Harsa turun lebih dulu lalu membantu mengambil stroller Melodi dari bagasi. Arsyi memperhatikannya diam-diam. Kadang ia masih sulit percaya melihat perubahan kecil pria itu. Dulu Harsa bahkan jarang menyentuh perlengkapan bayi, sekarang ia mulai terbiasa.
Mereka makan siang di sebuah restoran keluarga di dalam mall. Melodi akhirnya tertidur setelah cukup lama rewel. Arsyi bisa makan dengan tenang di luar rumah.
“Kamu mau tambah?” tanya Harsa sambil melihat mangkuk sup Arsyi yang hampir habis.
Arsyi menggeleng kecil. “Udah kenyang.”
“Serius?”
“Iya.”
Harsa mengangguk kecil lalu tanpa sadar mengambilkan minum untuknya. Gerakan sederhana itu membuat Arsyi diam sesaat.
Setelah makan, Harsa benar-benar mengajak mereka berjalan-jalan mengelilingi mall. Tidak terlalu lama, hanya sekadar melihat-lihat toko bayi dan beberapa perlengkapan rumah. Namun bagi Arsyi hari itu terasa menyenangkan.
“Kak, lucu nggak?” tanya Arsyi sambil mengangkat topi bayi kecil berwarna putih.
Harsa melirik sekilas.
“Lucu.”
“Melodi cocok ya?”
“Kalau kamu suka beli aja.”
Arsyi langsung tersenyum kecil.
Harsa tanpa sadar memperhatikan senyum itu beberapa detik lebih lama. Sudah lama ia tidak melihat Arsyi terlihat seringan ini.
Langkah Harsa mendadak berhenti. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya perlahan berubah kaku. Arsyi yang menyadari langsung ikut menoleh dan di sana berdiri Rina.
Arsyi yang berdiri di samping stroller Melodi langsung menyadari perubahan itu.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Namun, sebelum Harsa menjawab sebuah suara wanita terdengar lebih dulu.
“Pak Harsa?” Rina berjalan mendekat dengan senyum tipis di bibirnya.
Penampilannya rapi seperti biasa, mengenakan dress krem sederhana dengan rambut yang tergerai panjang. Namun kedua matanya langsung menangkap satu hal Harsa sedang bersama Arsyi dan Melodi, lengkap seperti keluarga kecil. Dan entah kenapa pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
“Rina,” ucap Harsa singkat.
Rina tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arsyi.
“Bu Arsyi.”
Arsyi membalas dengan senyum tipis.
“Siang.”
Sementara Melodi yang berada di stroller mulai mengoceh kecil sambil memainkan tangannya sendiri.
Rina langsung membungkuk sedikit.
“Ini Melodi ya?” tanyanya lembut.
Arsyi mengangguk.
“Iya.”
“Cantik sekali…” Rina tersenyum sambil memperhatikan wajah bayi kecil itu beberapa detik. Lalu dengan nada santai ia berkata,
“Mirip ibunya.” Kalimat itu terdengar biasa tetapi jelas sengaja diarahkan.bKarena semua orang tahu yang dimaksud Rina bukan Arsyi melainkan Nadin. Suasana sempat hening sepersekian detik. Rina diam-diam memperhatikan wajah Arsyi.bMungkin berharap wanita itu akan terlihat terganggu atau setidaknya tersenyum canggung. Namun, yang terjadi justru sebaliknya Arsyi tetap tenang. Ia bahkan menatap Melodi sambil tersenyum kecil sebelum berkata pelan,
“Iya, Melodi memang mirip Kak Nadin.” Jawaban itu membuat Rina sedikit terdiam. Karena tidak menemukan reaksi yang ia harapkan.
Arsyi justru terlihat biasa saja hal itu membuat Rina sedikit kehilangan arah. Harsa sendiri menoleh pelan ke arah Arsyi. Dia sempat khawatir wanita itu akan terluka mendengar ucapan tadi tetapi Arsyi justru terlihat santai. Bahkan, masih membetulkan selimut kecil Melodi dengan tenang.
“Melodi lucu sekali,” ujar Rina lagi mencoba mencairkan suasana. “Sekarang pasti rumah jadi ramai ya, Pak?”
“Hm,” jawab Harsa singkat.
Rina tersenyum kecil.
“Tapi capek juga pasti ngurus bayi.”
Kali ini Arsyi menjawab pelan,
“Capek sih … tapi menyenangkan.” Tatapannya jatuh pada Melodi, senyum kecil di wajahnya terlihat tulus. Harsa memperhatikannya diam-diam, sedangkan Rina mulai merasa tidak nyaman sendiri.
Karena semakin lama, hubungan Harsa dan Arsyi justru terlihat jauh lebih alami dibanding yang ia bayangkan.
“Pak Harsa jarang sekali jalan-jalan ya sekarang,” ujar Rina lagi sambil mencoba tersenyum ringan.
Harsa mengangguk kecil.
“Lagi pengen aja keluar.”
“Bagus sih,” sahut Rina cepat. “Biar nggak stres kerja terus.”
Lalu wanita itu kembali menatap Arsyi.
“Bu Arsyi beruntung ya, Pak Harsa sekarang lebih sering pulang cepat.”
Seolah ingin menunjukkan kalau dirinya tahu kebiasaan Harsa sebelumnya.Namun lagi-lagi Arsyi tidak terlihat terganggu.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Iya,” jawabnya pelan. “Sekarang Kak Harsa lebih sering di rumah.”
Jawaban itu membuat Rina semakin sulit membaca wanita di depannya. Melodi tiba-tiba mengeluarkan suara kecil lagi.
“Huek…”
Arsyi langsung membungkuk panik.
“Eh, sayang kenapa?”
Harsa refleks ikut mendekat.
“Mungkin haus.”
“Aku bawa susunya.”
“Duduk dulu aja.”
Tanpa sadar keduanya langsung fokus pada Melodi dan saling membantu. Sampai mereka hampir lupa ada orang lain di sana. Rina berdiri diam memperhatikan itu semua.
Sementara Harsa yang membantu membetulkan posisi stroller tanpa sadar berkata pada Arsyi,
“Pelan-pelan aja, nanti panik sendiri.”
Nada suaranya jauh lebih lembut dibanding saat berbicara dengannya di kantor, itu cukup membuat senyum Rina perlahan menghilang.
lanjut thorrrr