NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:175.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Malam telah larut di Desa Qingshui. Lin Ye merebahkan tubuhnya di atas kasur pegas baru yang baru saja diantarkan sore tadi. Sensasi empuk dan nyaman langsung menyambut punggungnya. Bau khas kain baru memenuhi kamar tidurnya yang kini terasa jauh lebih manusiawi.

"Kasur ini benar-benar investasi yang bagus. Punggungku terasa berterima kasih," ucap Lin Ye sambil menatap langit-langit kamarnya yang sudah tidak lagi bocor.

Namun, pikirannya tidak bisa langsung beristirahat. Ingatannya kembali pada serangan Gagak Pencuri Roh sore tadi. Jika dia terlambat datang, benih mahal yang dia beli dengan sisa koinnya pasti sudah habis dimakan burung mutasi tersebut. Dia tidak bisa terus-terusan mengandalkan Xiao Lu untuk berjaga dua puluh empat jam, kurcaci itu juga butuh istirahat.

"Sistem, buka Toko Level 1. Tampilkan item pertahanan udara atau pengusir hama terbang," perintah Lin Ye dalam keheningan malam.

Layar hijau tembus pandang muncul di atas wajahnya, menampilkan beberapa pilihan item. Mata Lin Ye menyusuri daftar tersebut hingga berhenti pada satu barang yang menarik perhatiannya.

"Orang-orangan Sawah Mata Elang. Harga 40 Koin Alam. Deskripsi: Artefak pertahanan udara pasif. Berbentuk seperti boneka jerami biasa, namun memancarkan gelombang ilusi predator udara tingkat tinggi dan suara ultrasonik yang tidak terdengar oleh manusia. Menakuti dan mengusir semua jenis burung mutasi level rendah hingga menengah dalam radius sepuluh meter persegi."

"Harganya empat puluh koin. Saldo terakhirku adalah empat puluh tiga koin. Ini akan menguras habis tabunganku, tapi aku tidak punya pilihan lain sekarang. Keamanan aset adalah yang utama," batin Lin Ye menimbang-nimbang.

"Sistem, proses pembelian Orang-orangan Sawah Mata Elang sekarang."

"Transaksi berhasil. Saldo Koin Alam Anda saat ini: 3 Koin. Item telah ditambahkan ke inventaris."

Lin Ye bangkit dari kasurnya. Dia mengambil item itu dari inventaris. Sebuah boneka jerami berukuran setinggi dada orang dewasa muncul di tangannya. Boneka itu mengenakan topi caping usang dan kemeja kotak-kotak pudar. Sepintas, benda itu sama sekali tidak terlihat ajaib, namun mata boneka itu terbuat dari dua buah batu obsidian hitam yang memantulkan cahaya redup.

Lin Ye berjalan keluar rumah lewat pintu belakang. Udara malam terasa dingin. Xiao Lu sedang tertidur pulas di dalam rongga akar Pohon Ajaib, mendengkur pelan dengan gelembung air kecil keluar masuk dari hidungnya.

Lin Ye tersenyum melihat asisten kecilnya itu. Dia melangkah ke tengah ladang barunya dan menancapkan tiang kayu penyangga boneka jerami itu kuat-kuat ke dalam tanah, tepat di antara petak jagung emas dan stroberi pemulih.

Begitu tertanam, kedua mata obsidian boneka itu berkedip memancarkan cahaya merah sekilas. Sebuah hembusan angin yang aneh berputar di sekitar boneka itu, dan Lin Ye bisa merasakan bulu kuduknya sedikit merinding, seolah ada tatapan elang raksasa yang sedang mengawasi ladang ini dari atas langit.

"Bagus. Dengan ini, tidak akan ada lagi pencuri dari langit," gumam Lin Ye puas. Dia kembali masuk ke dalam rumah dan tidur dengan sangat nyenyak.

Tiga hari berlalu dengan sangat cepat.

Rutinitas Lin Ye di Desa Qingshui mulai terbentuk dengan sempurna. Setiap pagi, Xiao Lu akan bangun lebih dulu untuk memastikan kelembaban tanah menggunakan kemampuannya, sementara Bambu Pengembun Otomatis bekerja di sisi ladang yang lain.

Pertumbuhan Jagung Emas dan Stroberi Pemulih benar-benar di luar akal sehat. Berkat kombinasi tanah yang digemburkan oleh Cangkul Tembaga Hitam Level 2, penyiraman air dari Mata Air Abadi, dan energi pasif dari Pohon Ajaib, tanaman tersebut tumbuh dalam waktu singkat.

"Bos Lin Ye, lihat ini," teriak Xiao Lu dari tengah ladang pada pagi hari ketiga.

Lin Ye berjalan menghampiri kurcaci itu. Matanya terbelalak melihat batang jagung yang kini sudah menjulang lebih tinggi dari kepalanya. Daunnya berwarna hijau pekat, dan di sela-sela daunnya, tongkol-tongkol jagung berukuran besar mulai terbentuk, memancarkan kilauan kuning keemasan yang sangat indah. Di petak sebelahnya, semak stroberi merambat lebat, dipenuhi buah-buah merah seukuran telur ayam yang memancarkan aroma manis menyegarkan.

"Ini baru tiga hari, tapi sepertinya besok atau lusa buah ini sudah siap dipanen sempurna. Sistem ini benar-benar mematahkan hukum alam," kata Lin Ye sambil berjongkok, mengamati buah stroberi merah yang tampak sangat menggoda.

"Tentu saja, Bos. Apalagi Xiao Lu selalu memberikan perawatan ekstra setiap malam. Oh ya, boneka jerami itu juga sangat hebat. Kemarin ada tiga burung gagak jelek yang mencoba mendekat, tapi mereka langsung terbang ketakutan menabrak pohon saat boneka itu memelototi mereka," cerita Xiao Lu dengan nada bangga.

"Kerja bagus, Xiao Lu. Terus awasi mereka. Aku harus pergi ke kota hari ini. Ada urusan keuangan yang harus aku selesaikan," kata Lin Ye.

Dia kembali ke rumah, mengganti pakaiannya dengan kemeja rapi dan celana panjang bersih. Dia mengambil tas punggungnya dan memasukkan tumpukan uang tunai sebesar lebih dari dua puluh ribu yuan yang dia dapatkan dari Tang Wanjin dan sisa pesangonnya. Menyimpan uang tunai sebanyak itu di rumah kayu pedesaan sangatlah berisiko, dia harus menyimpannya di bank.

Satu jam kemudian, bus tua yang ditumpangi Lin Ye tiba di terminal Kota Yushan. Suasana kota yang bising, penuh dengan kendaraan dan gedung beton, kembali menyapanya. Entah mengapa, Lin Ye merasa jauh lebih nyaman dengan bau tanah dan suara jangkrik di desa daripada aroma asap knalpot ini.

Dia berjalan kaki menuju cabang Bank Yushan terdekat. Proses penyetoran uang berjalan lancar. Lin Ye menyisakan dua ribu yuan di dompetnya untuk pegangan darurat, sementara sisanya masuk ke dalam rekening pribadinya dengan aman.

Saat Lin Ye berjalan keluar dari bank, waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Perutnya mulai terasa lapar. Dia memutuskan untuk mencari tempat makan siang yang nyaman di sekitar distrik komersial tersebut.

Langkah kakinya membawa Lin Ye melewati sebuah taman kota kecil yang letaknya tidak jauh dari gedung Hotel Grand Yushan yang menjulang tinggi. Taman itu cukup sepi karena ini adalah jam kerja.

Tiba-tiba, pendengaran Lin Ye yang tajam menangkap suara meongan kucing yang sangat pelan dari balik semak-semak taman. Diikuti oleh suara wanita yang berbicara dengan nada sangat lembut dan membujuk.

"Ayo, makanlah sedikit lagi kucing kecil. Kamu terlalu kurus. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu."

Lin Ye mengernyitkan dahi. Suara wanita itu terdengar sangat familiar, tapi nadanya sangat berbeda. Dia berjalan pelan mendekati sumber suara tersebut dan mengintip dari balik pohon palem.

Pemandangan di depannya membuatnya hampir tertawa.

Di sana, duduk berjongkok di atas rumput, adalah Tang Wanjin. Namun, wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti Direktur Utama yang dingin dan galak seperti saat dia datang ke desa tempo hari.

Tang Wanjin tidak mengenakan kemeja sutra atau setelan jas. Dia mengenakan gaun musim panas berwarna krem yang sederhana namun elegan, dipadukan dengan sepatu kets putih yang santai. Rambut panjangnya diikat asal ke atas. Di depannya, terdapat seekor anak kucing liar berbulu kotor yang sedang makan dengan lahap dari sebuah wadah plastik kecil berisi potongan ikan salmon segar.

Wajah Tang Wanjin dipenuhi senyum hangat yang belum pernah Lin Ye lihat sebelumnya. Dia mengelus kepala kucing kotor itu dengan sangat hati-hati, tidak peduli gaun mahalnya terkena sedikit debu.

1
SENJA
hadeeeh bulshit semua 🤮
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!