Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Clay juga melepas apronnya dengan gerakan sedikit kasar, lalu meletakkannya begitu saja tanpa merapikan. Ia tidak menoleh lagi ke arah Nindi.
Langkahnya cepat, tapi tidak terburu-buru, lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak pecah di tempat. Saat melewati Sonya di dekat meja, Clay berhenti sepersekian detik.
“Aku mendadak ada urusan,” katanya singkat.
Sonya mengernyit sedikit. “Sekarang?”
“Iya,” jawab Clay datar.
Tanpa menunggu pertanyaan lain, ia langsung melanjutkan langkahnya keluar dari kafe.
Pintu tertutup. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat suasana di dalam terasa berbeda.
Dan momen itu tidak luput dari perhatian Maron, Cris, dan Erik.
Maron yang sejak tadi sudah merasakan ketegangan itu langsung menoleh pelan ke arah pintu. Begitu juga Cris, matanya masih mengikuti arah kepergian Clay.
Keduanya menghela napas pelan bersamaan.
Di sisi lain, Erik tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap pintu yang baru saja tertutup itu beberapa detik lebih lama dari yang lain.
Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya sedikit menyipit, seperti membaca sesuatu yang tidak semua orang di ruangan itu tangkap sepenuhnya.
Sonya yang berdiri dekat meja ikut menghela napas kecil, lalu mengalihkan pandangan ke arah pantry.
Di pantry, Nindi berdiri diam. Tidak bergerak. Tangannya masih sedikit menggenggam apron yang baru saja ia lepas, tapi tidak benar-benar sadar apa yang sedang ia pegang.
Di dekatnya, Maria yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu hanya menghela napas pelan. Ia mendekat dan mengusap lengan Nindi sebentar, tanpa banyak kata.
“Pelan-pelan ya,” gumamnya.
Nindi menoleh pelan. Lalu tersenyum kecil. Bukan senyum yang ringan, tapi cukup untuk memberi tanda bahwa ia masih di sana, masih sadar, masih bisa berdiri.
“Aku nggak apa-apa,” katanya pelan, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Maria tidak menekan lagi, hanya mengangguk kecil.
Nindi lalu menarik napas, merapikan dirinya sebentar, dan keluar dari pantry.
Di luar, Erik sudah menunggu. Nindi berjalan mendekat tanpa banyak kata.
Erik hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan,tanpa bertanya lebih jauh.
“Sudah siap?” tanya Erik singkat.
Nindi mengangguk. “Iya.”
Mereka berdua tidak menoleh ke belakang terlalu lama.
Langkah mereka kemudian bergerak keluar dari kafe, membawa keputusan yang sudah tidak lagi dibicarakan ulang, hanya dijalani.
Dan di dalam kafe yang perlahan kembali ramai, sisa dari percakapan tadi masih tertinggal di udara, seperti sesuatu yang belum sepenuhnya selesai meski semua orang sudah berpencar.
Di luar kafe, Clay berhenti di tepi jalan.
Langkahnya yang tadi tegas kini melambat, lalu benar-benar berhenti. Ia menghela napas panjang, tapi kali ini tidak terasa lega, lebih seperti napas yang dipaksa keluar karena dadanya sudah terlalu penuh.
Tangannya meremas rambutnya sendiri sebentar.
Satu kali.
Lalu dilepas lagi.
“Gila…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ia menatap jalan di depannya, tapi tidak benar-benar melihat apa pun. Semua yang baru saja terjadi di dalam kafe masih berputar di kepalanya, percakapan, keputusan, dan satu kalimat yang paling mengganggu:
Nindi pergi bersama Erik.
Clay mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa kecil tanpa humor.
“Harusnya aku sudah tahu,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Harusnya dari awal aku sudah tahu kalau semuanya akan seperti ini.”
Tapi yang membuatnya semakin frustasi bukan hanya Nindi yang pergi. Melainkan fakta bahwa, meskipun dia sudah tahu kemungkinan akhirnya, meskipun dia sudah menyiapkan dirinya dari awal, tetap saja rasanya tidak sesederhana itu ketika benar-benar terjadi.
Ia menarik napas lagi, lebih dalam kali ini. Tapi tetap tidak cukup. Clay menunduk sedikit, lalu menendang kecil batu di dekat kakinya tanpa tenaga. Bukan marah pada dunia. Lebih seperti marah pada dirinya sendiri karena masih berdiri di tempat yang sama, sementara Nindi sudah melangkah ke arah lain.
Di sisi jalan yang lain, Nindi berjalan tanpa banyak ekspresi.
Langkahnya stabil, tapi matanya tidak benar-benar fokus pada apa pun di depannya. Seolah tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya yang masih tertinggal di tempat lain.
Erik berjalan di sampingnya. Ia tidak banyak bicara. Hanya mengamati.
“Lo gak pa – pa kan?” tanya Erik akhirnya, pelan.
Nindi tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangguk kecil.
“Iya,” jawabnya singkat.
Erik melangkah pelan di samping Nindi, lalu menatapnya sekilas sebelum berkata dengan nada tenang,
“Kenapa lo tanya gitu?” suara Nindi akhirnya keluar, pelan tapi tegas.
“Karena gue tahu, sebenernya lo ragu buat pergi,” jawab Erik.
Erik berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Toh, kepergian ini juga nggak sepenuhnya kita rencanakan dari awal.”
“Aku sudah mutusin, Rik,” jawab Nindi, seolah ingin menutup pembahasan itu.
“Mutusin apa?” Erik menatapnya. “Jadiin New York sebagai alasan buat ngejauhin… atau buat nolak dia?”
Nindi langsung menatap Erik. Lebih tajam dari sebelumnya. Tapi tidak menjawab.
Erik menghela napas pelan, lalu berkata lebih rendah, “Dari awal gue udah ngerasa kalau tuh bule punya perasaan ke lo.”
Nindi terdiam sesaat.
Lalu, dengan nada yang lebih tenang tapi jelas, ia mengoreksi, “Dia bukan bule. Tapi Clay.”
Erik terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum kecil, bukan mengejek, lebih seperti menyadari kesalahan kecilnya.
“Ya, Clay,” ulang Erik pelan. “Gue lupa.”
Hening sebentar jatuh di antara mereka.
Erik kemudian melanjutkan, lebih hati-hati, “Dan itu yang bikin gue nanya lagi. Lo yakin pergi ini bener-bener soal New York… bukan soal dia?”
Nindi terdiam.
Kali ini tidak langsung menjawab seperti sebelumnya. Matanya sempat turun, lalu kembali menatap jalan di depan mereka, seolah mencari kata yang tidak terdengar terlalu lemah, tapi juga tidak terlalu keras.
“Gue…” Nindi menarik napas pelan.
“Bukan cuma soal New York,” akhirnya Nindi mengakui, suaranya lebih rendah. “Tapi gue juga nggak bisa jadiin dia alasan buat nggak pergi.”
Nindi menelan napas, lalu melanjutkan, lebih pelan lagi.
“Kalau gue terus menunda hidup gue karena dia… gue nggak akan pernah benar-benar jalan.”
Erik menatap Nindi lebih lama kali ini, lalu suaranya turun, lebih pelan tapi langsung ke inti.
“Jadi itu kekhawatiran lo?” tanyanya. “Lo takut hidup lo nggak kayak biasanya dan jadi berantakan karena Clay?”
Nindi menggeleng cepat. “Enggak, gue nggak takut hidup gue berantakan,” jawabnya pelan. “Gue cuma…”
Nindi berhenti. Menarik napas. “Cuma tahu kalau gue sama dia… nggak akan sesimpel itu.”
Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi jelas.
“Terlalu banyak rintangan di depan. Jarak, prinsip… terutama nanti orangtua.”
Erik menghela napas panjang. Kali ini bukan sekadar respons biasa. lebih seperti seseorang yang benar-benar memahami beban yang baru saja disebutkan. Ia mengenal orang tua Nindi. Dan justru karena itu, ia tidak bisa langsung membantah.
“Gue tahu,” kata Erik akhirnya. “Orangtua lo… bukan orang yang gampang diajak kompromi.”
“Tapi Nin,” Erik melanjutkan kalimatnya, suaranya lebih pelan tapi tegas, “gue tetap nggak setuju sama lo.”
Nindi langsung mengangkat kepalanya, menatap Erik.
Erik tidak menghindar. Ia justru menatap balik, lalu melanjutkan, “Lo kayak udah nentuin kalau akhir hubungan lo sama Clay bakal tragis. Padahal di dunia ini masih ada kemungkinan-kemungkinan lain.”
Nindi terdiam.
Kali ini bukan karena tidak paham, tapi karena kalimat itu terlalu langsung mengenai sesuatu yang selama ini ia rapikan sendiri di kepalanya.
Erik menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, “Lo belum jalan jauh, Nin. Tapi lo udah nyiapin ending-nya dari sekarang.”
Nindi menatapnya, matanya sedikit mengeras, tapi suaranya tetap dijaga.
“Aku nggak nyiapin ending,” jawabnya pelan. “Aku cuma realistis.”
Erik menggeleng kecil. “Realistis sama nyerah dari awal itu beda.”
Hening.
Nindi menatap jalan di depan mereka, lalu menarik napas panjang.
“Aku nggak nyerah,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan tapi tetap mantap. “Aku cuma nggak mau memaksakan sesuatu yang dari awal sudah terasa berat.”
Erik tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Nindi lebih lama, lalu berkata pelan, “Tapi yang lo sebut ‘berat’ itu bisa aja cuma karena lo belum lihat sampai akhirnya.”
“Nin,” lanjutnya lembut, “lo inget nggak waktu lo pertama kali mutusin ke sini?”
Nindi sedikit mengernyit.
Erik mengangguk kecil. “Orangtua lo.”
Nama itu membuat Nindi langsung terdiam.
“Waktu itu mereka marah,” kata Erik pelan. “Nggak langsung nerima. Bahkan sempat nolak.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi pada akhirnya mereka tetap dukung lo. Pelan-pelan. Walaupun awalnya berat.”
Nindi menatapnya, masih diam.
Erik mengalihkan pandangan sekilas, lalu kembali lagi padanya.
“Lo inget nggak waktu Sonya sama Peter pertama kali ketemu orang tua lo?”
Nindi tetap tidak menjawab, tapi tatapannya mulai berubah—lebih fokus, lebih mengikuti.
“Waktu itu mereka juga nggak langsung diterima,” lanjut Erik. “Cuma karena penampilan. Tato, gaya yang keliatan berantakan, kesannya kayak orang yang nggak serius.”
Ia menghela napas kecil.
“Orang tua lo sempat ragu.”
Hening sebentar.
“Tapi pelan-pelan berubah,” lanjutnya lebih tenang. “Karena mereka nggak berhenti di penampilan. Mereka nunjukin siapa diri mereka sebenarnya.”
Erik berhenti lagi, lalu menambahkan pelan, “Sekarang mereka bisa duduk bareng, ngobrol, bahkan orang tua lo sampai percaya sama mereka… sampai nitipin lo juga ke mereka.”
Nindi menghela napas kecil.
Erik mengangkat bahu sedikit.
“Awalnya selalu nggak gampang,” katanya. “Selalu ada penolakan. Selalu ada asumsi.”
Matanya kembali ke Nindi.
“Tapi bukan berarti itu nggak bisa berubah.”
Hening.
Nindi tidak langsung menjawab.
Erik menggeser pandangannya sebentar ke depan, lalu kembali ke Nindi.
“Kenapa akhirnya mereka bisa nerima?” tanyanya pelan. “Karena lo yang ngeyakinin mereka. Bukan karena lo ngalah. Tapi karena lo konsisten sama keputusan lo.”
Hening lagi.
Erik menghela napas kecil.
“Gue nggak bilang ini sama,” lanjutnya. “Tapi pola kayak gitu selalu ada. Awalnya selalu ‘nggak bisa’, ‘nggak mungkin’, ‘terlalu berat’…”
Ia menatap Nindi lebih lembut.
“…tapi lo juga pernah nembus itu beberapa kali.”
Nindi menunduk sedikit.
Dan di saat itu, yang Erik bicarakan bukan lagi sekadar masa lalu orang lain—tapi cara Nindi sendiri pernah melawan penilaian, ragu, dan penolakan, sampai akhirnya orang-orang di sekitarnya berubah
Dan sekarang, tanpa sadar, Erik sedang menempatkan Clay di dalam pola yang sama… tapi dengan hasil yang belum tentu sama.