NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Monopoli Skala Dimensi

​Tiga bulan telah berlalu sejak insiden yang mengguncang langit Puncak Darah.

​Bagi entitas abadi di Kunlun, tiga bulan hanyalah sekejap mata. Namun di bawah manajemen Arya Permana, waktu sesingkat itu sudah cukup untuk menulis ulang sejarah dan tatanan ekosistem kultivasi berusia ribuan tahun.

​Di bekas reruntuhan Puncak Darah, kini berdiri sebuah struktur megah yang menentang arsitektur tradisional Kunlun. Itu adalah Menara Naga—sebuah gedung pencakar langit setinggi seratus lantai yang terbuat dari perpaduan baja titanium fana dan obsidian spiritual. Menara ini menjadi markas pusat Dragon Global Corp Cabang Kunlun, sebuah simbol dominasi mutlak yang menusuk langsung ke langit Domain Dalam.

​Di ruang dewan direksi lantai seratus, jendela kaca panorama menampilkan puluhan kapal udara kargo yang sibuk berlalu lalang, mendistribusikan pasokan ke seluruh penjuru Kunlun.

​Arya duduk di kursi utama meja bundar holografik. Ia masih mengenakan kemeja putih dan celana bahan yang elegan, memancarkan aura tenang seorang CEO yang baru saja menguasai dunia. Di sampingnya, Nona Feng—yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional Kunlun—sedang memaparkan laporan kuartalan.

​"Tuan Arya, strategi starvation (kelaparan ekonomi) kita berjalan dengan tingkat keberhasilan sembilan puluh sembilan persen," Nona Feng membungkuk hormat, menunjuk ke peta holografik tiga dimensi di tengah meja. "Dengan membanjiri pasar menggunakan Pil Murni Dragon, sekte-sekte besar di Domain Dalam tidak bisa lagi menjual pil racun mereka. Nilai tukar mata uang lokal anjlok. Untuk menghindari kebangkrutan dan pemberontakan murid mereka sendiri, tujuh dari Sepuluh Sekte Puncak telah menandatangani kontrak akuisisi."

​"Bagaimana dengan tiga sekte yang tersisa?" tanya Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari data logistik.

​"Sekte Pedang Petir, Istana Awan Putih, dan Lembah Teratai Es mencoba membentuk Aliansi Pemberontak untuk memboikot jalur perdagangan kita," lapor Elena yang berdiri di sudut ruangan dengan seragam taktis komandan.

​Arya menyilangkan jari-jarinya di atas meja. Sebuah senyum rasional yang sedingin es terbentuk di wajahnya. "Kekerasan fisik untuk menundukkan musuh adalah cara yang melelahkan. Boikot mereka dari sistem perbankan Paviliun Bintang Jatuh. Putuskan pasokan energi ke pegunungan mereka. Dalam dua minggu, mereka akan memakan anggota sekte mereka sendiri untuk bertahan hidup. Likuidasi aset mereka saat harga mereka mencapai titik terendah."

​"Sesuai perintah Anda, Tuan," catat Nona Feng dengan kecepatan tinggi. Menghancurkan sekte legendaris bukan lagi lewat adu jurus selama berhari-hari, melainkan lewat inflasi dan embargo ekonomi!

​Arya berdiri dan berjalan menuju jendela kaca. Matanya menatap ke area lembah luas di bawah Menara Naga. Di sana, sebuah kompleks bangunan raksasa yang simetris dan sangat teratur telah didirikan. Ribuan pemuda dan pemudi berseragam putih-hitam terlihat sedang berlatih di lapangan luas.

​Itu adalah proyek terbesar Arya: Akademi Naga.

​"Bagaimana progres asimilasi kurikulum di Akademi?" tanya Arya.

​"Sangat efisien, Tuan," lapor Nona Feng. "Kami telah menghapus sistem 'Tuan dan Murid' yang elitis. Semua praktisi kini dipanggil 'Kadet'. Tidak ada lagi hafalan mantra mistis atau pencerahan buta di bawah air terjun. Mereka belajar Fisika Qi, Termodinamika Spiritual, dan Kalkulasi Resonansi Molekul. Dengan panduan manual dari Anda, tingkat terobosan kadet meningkat tiga ratus persen dibandingkan sekte tradisional."

​"Bagus," Arya mengangguk. "Pasukan yang percaya pada sihir akan mudah ditipu. Pasukan yang memahami hukum alam tidak akan pernah ragu. Alam Atas akan segera datang memburu kita. Aku tidak butuh sekumpulan pahlawan individualis; aku butuh mesin perang yang sinkron dan terstandarisasi."

​Arya kemudian mengisyaratkan Nona Feng dan Elena untuk meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, ia melangkah menuju sebuah dinding baja yang tersembunyi di balik rak buku holografik. Ia menempelkan telapak tangannya. Pemindai Qi Inti Emas mendeteksi frekuensinya dan pintu baja itu bergeser terbuka, memperlihatkan ruang brankas rahasia bersuhu minus dua puluh derajat.

​Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam yang berisi cairan spiritual cair dengan kemurnian absolut. Di atas kolam itu, mengambang dua bunga teratai emas. Di dalam kuncup teratai tersebut, dua bola cahaya—esensi jiwa orang tuanya—tertidur dengan damai, dipelihara oleh formasi yang disuplai energi langsung dari Cincin Naga Leluhur Arya.

​"Struktur jiwa mereka perlahan pulih," Arya bergumam pelan, suaranya melembut untuk sesaat.

​[Ding! Laporan Analisis Jiwa: Tingkat pemulihan mencapai 40%. Untuk merekonstruksi tubuh fisik yang mampu menampung jiwa fana yang telah dimurnikan, Tuan Muda membutuhkan 'Teratai Tulang Giok' yang hanya tumbuh di dimensi Alam Atas.]

​"Alam Atas," mata Arya kembali menajam, mengubah kelembutan itu menjadi fokus analitis. "Mereka memiliki apa yang aku butuhkan, dan mereka juga menginginkan nyawaku. Ini adalah persamaan yang hanya bisa diselesaikan dengan penaklukan total."

​Tiba-tiba, komunikator giok di pergelangan tangan Arya berkedip merah terang—sebuah saluran darurat dengan prioritas tertinggi yang hanya bisa diakses dari dimensi Bumi.

​Arya menyentuh komunikator itu. Proyeksi holografik Thomas yang tampak sangat tegang muncul di udara. Penampilan manajer tua itu berantakan, di belakangnya terlihat suasana Pusat Komando Dragon Corp di Ibukota Bumi yang dipenuhi lampu peringatan merah.

​"Tuan Muda! Syukurlah sinyalnya terhubung menembus tabir dimensi!" suara Thomas bergetar.

​"Laporkan situasinya dengan ringkas, Thomas. Jangan biarkan kepanikan mendistorsi informasi," perintah Arya dingin, menstabilkan mental bawahannya.

​Thomas menelan ludah. "Tiga jam yang lalu, satelit orbital kita mendeteksi anomali gravitasi dan lonjakan energi Kelas SSS di Samudra Pasifik, tepat di atas Palung Mariana. Sebuah retakan dimensi berwarna emas tua telah terbuka di kedalaman laut."

​Mendengar warna "emas tua", pupil mata Arya langsung mengecil. Itu adalah warna aura Dewa Naga Darah.

​"Apakah ada entitas yang keluar dari retakan tersebut?" tanya Arya.

​"Benar, Tuan Muda. Lima sosok humanoid bersayap naga. Mereka kebal terhadap artileri berat dan rudal balistik antarbenua milik militer dunia. Mereka tidak mencari Anda di Kunlun..." Thomas menyeka keringat dinginnya. "...mereka datang ke Bumi. Mereka sedang menghancurkan kota-kota pesisir untuk mencari jangkar genetik dari Cincin Naga Leluhur. Tuan Muda, mereka mencari setiap orang yang memiliki sisa darah Keluarga Permana, dan... mereka menuju Nusantara City. Nyonya Riana berada dalam bahaya."

​Udara di ruang brankas itu seketika membeku. Retakan halus muncul di lantai obsidian yang dipijak Arya akibat kebocoran Qi Inti Emasnya.

​Dewa Naga Darah dari Alam Atas tidak bodoh. Gagal menembus Kunlun yang kini menjadi benteng Arya, mereka menargetkan dimensi Bumi yang miskin energi dan tidak berdaya, menggunakan metode teror untuk memancing Sang Naga keluar dari sarangnya.

​Bagi Arya, nyawa manusia fana di Bumi bukanlah kelemahannya. Namun, menyentuh teritorial Bumi tempat perusahaannya berdiri, dan mengancam Riana—wanita yang masa lalunya secara teknis masih memiliki ikatan karma dengannya—adalah pelanggaran batas yang sangat tidak efisien dan menghina logikanya.

​"Mereka mencari titik terlemah untuk memancingku," ucap Arya, suaranya kembali ke nada datar yang mematikan.

​Arya mematikan transmisi. Ia merapikan jasnya, berbalik, dan melangkah keluar dari brankas rahasia.

​Begitu ia kembali ke ruang dewan direksi, ia menekan interkom ke seluruh Menara Naga.

​"Elena. Nona Feng," suara Arya menggelegar ke seluruh fasilitas, membekukan setiap aktivitas bisnis dan latihan. "Kumpulkan Pasukan Eksekusi Elit dari Akademi Naga. Siapkan Perahu Awan Sembilan Naga dan isi daya meriam spiritual hingga batas maksimal."

​"Tuan, kita akan melancarkan agresi ke sekte mana?" suara Nona Feng terdengar dari interkom.

​"Kita tidak akan menyerang sekte lokal," Arya menyeringai, matanya memancarkan fajar pembantaian. "Kita akan kembali ke Bumi. Alam Atas baru saja merusak tatanan propertiku, dan sudah saatnya CEO Dragon Corp turun tangan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja secara permanen pada dewa-dewa gadungan itu."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!