Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta?
Sepuluh menit berlalu, mereka melewati bangunan-bangunan tua yang terbengkalai dekat Danau. Melody sangat hafal tempat ini, dulu sering melewati sini saat mau ketemu Adden. Kini dinding-dinding itu sudah penuh dengan grafiti.
Enno memarkirkan mobilnya di halaman luas yang tidak terawat. Mereka turun, dan Melody melihat Enno membawa senter. Wait, jangan-jangan ini semua hasil karyanya?
Cahaya senter disorotkan ke sebuah dinding besar. Melody terpaku diam memandangi lukisan cat semprot yang detail. Gambar itu menggambarkan perbedaan tajam antara kawasan mewah dan kawasan kumuh.
"Gimana menurut kamu?" tanya Enno setelah mereka diam mengamati.
Mural itu benar-benar merefleksikan jurang pemisah yang dalam. Di satu sisi terlihat rumah mewah dan anak-anak berpakaian rapi. Di sisi lain, bangunan tua, sepeda berkarat, dan wajah-wajah yang menyimpan kesedihan. Semua perbedaan itu hanya karena masalah harta dan status sosial.
"Menurut aku... ini sempurna banget."
Enno menatapnya tak percaya. "Beneran?"
"Iya, kamu punya bakat luar biasa dan cara pandang yang unik."
Melody enggan memberitahu kalau ia sangat mengerti perasaan itu. Hidup di dua dunia yang berbeda, dan melihat bagaimana lingkungan membentuk karakter seseorang.
"Makasih ya Melody. Kata-kata kamu berarti banget buat aku."
Melody berbalik badan hendak kembali ke mobil. "Sama-sama. Oh iya, emang kenapa sih?"
"Karena aku ngerasa... kamu pasti ngerti banget rasanya jadi bagian dari dua dunia yang beda itu."
Melody membuka pintu mobil. "Mungkin iya ya. Makasih banyak ya udah nganterin dan nunjukin karya kamu." Enno hanya mengangguk lalu masuk ke sisi pengemudi.
Melody paham betul kenapa Enno melukis semua itu di sana. Itu caranya meluapkan emosi tanpa perlu takut dihakimi. Jelas sekali cowok itu merasa tidak memiliki tempat yang benar-benar pas.
Asal-usul seseorang memang bukan sesuatu yang bisa dipilih. Melody bukan psikiater, masalahnya sendiri saja masih menumpuk. Tapi ia tahu betul bagaimana rasanya jadi bahan bully.
Enno ini sangat berbakat. Namun ada satu hal yang kurang dari mural itu. Gambar itu belum menunjukkan bahwa tak peduli kaya atau miskin, manusianya tetaplah manusia. Ada yang baik, ada yang jahat. Semua orang bisa salah mengambil keputusan karena kebodohan atau prasangka.
Itulah kenapa kita tak boleh sembarangan menghakimi orang lain. Di balik penampilan luarnya, setiap orang pasti punya rahasia gelap dan masalah masing-masing yang sedang diperjuangkan.
...***...
Melody berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah berwarna putih. Suara musik dan tawa orang-orang pun terdengar jelas dari dalam.
Mobil BMW milik Adden dan Land Cruiser Messy terparkir rapi di halaman. Sebelumnya Enno menawarkan makan, tapi Melody menolak. Ia tidak bisa menghilang terlalu lama. Kalau Messy bilang ke Edgard kalau ia tidak tahu keberadaan Melody, habis sudah nasibnya.
Saat masuk, pemandangan yang menyambut adalah kerumunan anak muda yang sudah mabuk. Musik menggelegar keras dari speaker di langit-langit, jauh lebih bagus daripada radio tua di tempat asalnya.
"Kamu datang!" seru Giggi sambil berlari kecil menghampirinya.
"Hai, Messy di mana?"
Cahaya antusias di mata Giggi meredup. Ia menunjuk ke arah tangga. "Di atas, di salah satu kamar. Cowok-cowok semua di sana."
Melody langsung merasa tempat ini bukan dunianya. Ia ingin segera pergi, tapi tetap menaiki tangga dan membuka pintu pertama di sebelah kiri.
Detik berikutnya, tubuhnya membeku. Mihoy dan Luccy berdiri telanjang saling berhadapan, sementara Adden duduk di lantai tepat di kaki ranjang, membelakanginya.
Apa-apaan ini?
Kedua gadis itu telanjang dari pinggang ke atas, dan Adden hanya duduk diam menonton.
"Kamu ngapain di sini!" seru Luccy panik sambil menutupi tubuhnya.
Melody tidak menjawab. Ia terlalu kaget. Adden berbalik cepat, tatapan matanya tajam menantang disertai senyum menyeringai. Melody membalasnya dengan tatapan marah. Ini sama sekali tidak lucu.
"Masuk dan tutup pintunya," perintah Adden sambil berdiri.
Melody tidak mau terlibat. Ia berbalik ingin pergi, tapi Adden sudah berada tepat di belakangnya menahan pintu.
"Kamu harus tetap di sini."
"Aku nggak mau ikut campur urusan kalian."
Hati Melody bergemuruh. Kecewa, marah, dan cemburu. Rasa itu makin membakar dada melihat Adden ada di sana bersama mereka berdua.
"Siapa bilang aku mau suruh kamu ikut main sama mereka? Jangan jadi penakut, Melody. Tetap di sini."
Adden mundur selangkah, tapi tangannya mencengkeram pergelangan tangan Melody menariknya mengikuti. Sebenarnya Melody bisa kabur, tapi rasa penasaran menghentikannya.
Bisakah ia bertahan kalau Adden malah ikut-ikutan tidur dengan mereka di depan matanya?
"Oke, Melody," kata Adden lembut sambil menoleh ke arah sofa.
Pandangan Melody terpaku pada wajah cowok itu, sementara dua gadis sombong itu berdiri seperti bayangan di belakangnya.
"Aku nggak gigit," bisik Adden tepat di telinga Melody. "...Belum."
Sensasi aneh langsung merambat dari leher turun ke bawah membuat tubuhnya panas. Kalau lari sekarang, Adden pasti menganggapnya penakut dan dua gadis itu makin membicarakannya. Meninju muka mereka adalah keinginan terbesar, tapi itu terlalu berisiko.
Akhirnya Melody membiarkan dirinya ditarik duduk di sofa biru tua. Adden duduk dengan kaki terbuka lebar, lalu menepuk-nepuk ruang kosong di antara pahanya yang pas sekali untuk Melody.
"Serius kamu, Adden?" celetuk Luccy sinis. "Mau kita apain si cewek jalanan ini?"
Adden menyandar santai merentangkan tangan di sandaran sofa seakan itu kerajaannya. Ia tersenyum miring, lalu tatapan matanya yang hitam pekat beralih tajam ke arah Luccy dan Mihoy.
"Mihoy tetap di sini. Dia bakal lakuin apa pun yang aku mau. Nggak ada yang dipaksa di sini. Kalau mau pergi, silakan."
Luccy menoleh cepat ke arah Mihoy. Wajahnya berubah pahit saat sadar sahabatnya sendiri sudah mengkhianatinya. Mereka memang cocok, dua orang munafik.
"Oke," desis Luccy melalui gigi yang terkunci rapat sambil melirik Mihoy tajam penuh kebencian.
Adden menggerakkan jarinya memberi isyarat. "Lanjutkan."
Kedua gadis itu mulai saling mencium dan menyentuh. Jelas sekali ini semua hanya untuk memuaskan hasrat Adden. Pikiran picik yang sangat macho dan menjijikkan.
"Duduk," kata Adden pelan setengah menggoda.
Melody benar-benar ingin menampar wajah cowok itu sekarang juga. Tapi ia tahu, kalau melakukannya atau kabur sama saja mengakui kekalahan. Akhirnya Melody menurut, ia duduk tepat di depan Adden di antara kedua kaki cowok itu. Adden menyandar ke belakang, dan bagian tubuhnya yang sudah sekeras baja itu menempel erat di bokong Melody.
Syukurlah saat itu ia memakai celana jeans. Di seberang, Mihoy sedang berciuman mesra dengan Luccy, tapi tatapan Mihoy justru melayang ke arah mereka berdua, seakan menganggap Melody dan Adden adalah sepasang kekasih.