Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Reiga mentertawai dirinya sendiri. Tidak menyangka kalau ia benar-benar ada di depan rumah Hana sekarang. Tepat pukul 20.00 WIB. Dengan tubuh lelah sehabis kerja. Ego-nya malah membawanya ke rumah perempuan yang bahkan baru dikenalnya tak lebih dari 5 jam. Terburuk dari semuanya adalah Reiga terombang-ambing dalam pertanyaan apakah Hana sudah pulang atau belum. Sungguh kebodohan hakiki. Harusnya yang ia minta cari pada Dimas bukanlah alamat rumah. Tapi nomor handphone. Setidaknya sekalipun Hana tidak akan mengangkat nomor asing. Toh tetap tidak membuatnya tampak konyol seperti sekarang! Inikah yang dimaksud Papa-nya dengan hilang logika?
TOK! TOK!
Reiga menoleh kearah kirinya. Kedua matanya tersinkronisasi dengan bibirnya yang sama-sama tersenyum melihat seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Reiga menurunkan kaca tersebut. Wajah kaget bercampur tidak percaya Hana menjadi sajian pemandangan pertamanya.
"Kamu ngapain di depan rumah aku?" tanya Hana yang tadinya sedang celingak-celingukan berharap ketemu tukang nasi goreng langganan yang suka keliling di kompleknya. Eh, malah menemukan Ferrari merah terparkir tidak jauh dari gerbang rumahnya. Ferrari yang tidak asing baginya. Benar saja!
Reiga tersenyum.
"Nggak sekalian tanya aku tahu dari mana alamat rumah kamu?"
"Orang seberkuasa kamu pasti dengan mudah bisa dapat alamat siapapun kan?" timpal Hana yang dibenarkan Reiga dalam pikirannya atau dengan senyumnya yang kian melebar. Serta tatapan ikoniknya yang sungguh menawan itu. Mudah bagi siapapun yang jatuh hati pada manusia satu ini.
"Yang bikin bingung tuh kenapa bukannya cari nomor handphone aku aja," gumam Hana sekaligus menyindir Reiga.
Pria itu hanya tertawa.
"Aku juga sedikit bingung sih kenapa nggak memilih mencari nomor kamu aja," ujar Reiga malu.
Mereka tertawa kecil bersama. Untuk pertama kalinya Reiga tidak tampil sempurna di depan manusia lain.
"Mau masuk?"
"Aku kira aku nggak akan pernah ditawarin," timpalnya.
"Heh!" ujar Hana sok bete.
Reiga membuka pintu mobilnya. Lalu, mengunci mobil dan mengikuti Hana masuk rumah bertemakan back to nature ini. Karena dari depan saja sudah di donimasi tanaman dan batu. Entah itu tanaman merambat atau pun pohon besar. "Lewat sini," ujar Hana seraya menaiki tangga menuju rumahnya karena jika lurus yang mereka temukan hanya garasi. Dengan mudah Reiga mengimbangi langkah pendek-pendek milik Hana. Mereka berjalan menyusuri teras samping. Masuk ke dalam ruangan besar terbuka dengan kaca dan jendela besar yang semakin memberi kesan luas. Hana mendorong pintu kaca. Dari luar Reiga sudah disuguhi sofa besar berbentuk letter L dengan tv besar melengkung sebagai kiblatnya. Berhadapan dengan bangunan ini terdapat kolam renang lumayan panjang.
Sekarang Reiga paham mengapa aura Hana begitu teduh dan tenang. Sebagian besar sepertinya karena dia tinggal di tempat yang hangat ini.
Beberapa 'penunggu tetap' rumah tampak bersiliweran keluar melihat siapa pemilik aura maha besar yang mendatangi rumah ini. Beberapa 'parasit' yang ikut tertarik dengan 'magnet' Reiga pun tampak penasaran. Namun langsung bubar begitu bertatapan dengan mata Reiga yang tidak ramah itu.
"Mau soto lamongan nggak?"
Reiga yang sejak tadi memandangi pohon besar di dekat kolam renang Hana langsung menoleh.
Hana sudah berdiri di dapur bersih dengan dua bungkus mie instant merk indomie rasa soto lamongan. Reiga tersenyum kecil.
"Tadi aku hampir terharu loh. Aku kira kamu beneran mau masakin aku soto lamongan," jujur Reiga.
Hana terkekeh senang.
"Bukannya nggak bisa. Tapi kita makan ini aja dulu ya. Urgent. Udah laper," aku Hana yang tadi siang cuma makan Bioncheri French Toast dan ia menyesalinya kenapa tidak makan steak aja di Levinant.
Reiga berjalan mendekat. Menghampiri Hana yang sudah menjerang air. Pria itu duduk di pantry memperhatikan Hana yang tengah serius masak.
"Rumah kamu selalu sepi kayak gini?"
"Rame kok. Ada empat asisten rumah tangga, dua satpam, dan dua supir. Cuma kalau udah jam segini, semua penghuni rumah sudah menikmati waktu me time di kamar masing-masing. Entah itu nonton netflix atau disney hotstar gitu deh. Atau mungkin sinetron lokal," jawab Hana sambil senyum.
Reiga tersenyum. Kagum sama Hana yang bisa sesantai itu dengan pegawainya. Seorang aktris besar memperlakukan art secara manusiawi sungguh di luar kebiasaan kan?
"Baik banget sih jadi orang. Bikin deg-degan aja," ujarnya.
Hana menyipitkan mata.
"Mulai lagi deh," ujar Hana lalu berjalan mengambil telur di dalam kulkas.
"Kamu pakai telur nggak?"
"Ya."
"Baso?" Hana masih berdiri menghadap kulkas yang terbuka.
"Ya."
"Mau tiga atau lima?"
"Mau kamu," jawab Reiga membuat Hana sontak menoleh dengan muka sewot.
"Aku tampar ya," sebal Hana lalu kembali mencari baso. Tak lama kemudian ia menemukannya dan kembali ke depan kompor dengan wajah sumringah. Lalu suasana hening. Mereka tidak lagi bicara satu sama lain. Hana serius memasak mie. Reiga serius memandangi Hana dalam khidmat dan senyuman terkulum.
"Jadi!" ujar Hana lalu menyajikan semangkuk mie instan rasa soto lamongan di depan Reiga.
Setelahnya ia menyajikan untuk dirinya sendiri. Lalu duduk di samping kiri Reiga. Dalam syahdu menikmati mie masing-masing.
Rekor sih ini! Makan mie instant di luar jadwal makan junk food-nya. Dimasakin seorang perempuan yang bukan ART-nya. Mengunjungi rumah perempuan pertama kali dengan alasan tidak jelas dikala tubuhnya luluh lantak pegal luar biasa sehabis kerja. Reiga takjub sendiri dengan fenomena tak biasa ini dalam hidupnya. Dan lagi, Reiga baru kali ini lagi makan yang namanya mie instant. Terakhir kali saat lagi hiking ke Semeru empat bulan yang lalu sama genk-nya. Rasa kari ayam. Kebanyakan air. Hampir nggak ada rasa. Salah mereka juga sih menyuruh Brandon si Playboy cap kapak buat ambil giliran masak. Berbeda dengan mie buatan Hana yang semua komposisi hingga taste-nya pas dan sesuai seleranya.
"Nggak enak ya?"
Hana jadi deg-degan takut masakannya terasa aneh karena Reiga tidak komentar sama sekali. Walau sejatinya sudah banyak orang yang tidak meragukan skill memasak Hana.
"Enak banget malah. Terakhir kali aku di masakin mie instan rasanya nggak bisa dideskripsikan," jawab Reiga.
"Saking enaknya?"
"Saking nggak jelasnya," sahut Reiga membuat Hana tertawa renyah.
"Siapa yang masak?"
"Brandon. Sahabat aku. Jadi aku punya genk isinya enam orang. Salah satunya fans berat kamu," ujar Reiga lalu meraih gelas berisi air dingin yang disiapkan Hana.
Setelah menjawab, Reiga mengapa ia memberi informasi lebih yang sebenarnya tidak diminta Hana. Terlebih ini juga bukan kebiasaannya untuk membagikan sepotong cerita daei lingkaran hidupnya pada orang lain. Dengan orang terdekat saja, Reiga tidak selugas ini. Dia selalu memilah info yang keluar dari mulutnya.
"Siapa? Bukan Niyo kan?"
Reiga agak terkejut Hana menyebut Niyo.
"Kenal Niyo?"
"Sam, pacarnya Niyo itu sahabat aku dari zaman kuliah," jawab Hana.
Kok bisa?
"Dunia ternyata beneran kecil juga ya," tukas Reiga kemudian menyuap mie-nya lagi.
Karena masakan Hana memang beneran enak.
"Terus tahu dari mana aku sahabatan sama Niyo? Udah mulai kepo-in riwayat hidup calon suami ya?" goda Reiga.
"Dih!" sangkal Hana dengan wajah jengkel.
"Tadi Sam lagi promosiin event olahraga yang dibuat sama Cuy Entertainment. Ada foto kamu di outline iklannya, aku tanya deh, eh Sam langsung cerita panjang lebar soal kamu. Well, dia juga tahu soal perjodohan konyol itu sih, makanya dia ngomong macam-macam."
Reiga berdehem tanpa berhenti menikmati mie-nya. Hana diam-diam bangga melihat apresiasi Reiga melalui cara makan pria itu.
"Perjodohan konyol? Konyolnya dimana?"
"Konyol karena jodohin tiga orang perempuan sama satu orang cowok."
"Cinderella aja harus bersaing sama perempuan satu negeri buat memenangkan hati Pangeran," tukas Reiga.
Hana berdecak dengan mata sipit.
"Cewek lemah."
Bagi Hana, tidak seharusnya Cinderella mengandalkan orang lain untuk menolong diri sendiri.
"Sinis banget. Cinderella itu nggak lemah, Hana," ujar Reiga.
Hana terkejut dengan sahutan Reiga.
"She is always kind with people. Nggak pernah berprasangka. Rajin. Tujuan dia pergi ke pesta dansa juga bukan buat cari pertolongan apalagi bikin jatuh cinta pangeran. Dia hanya mencoba bersenang-senang sesekali di kehidupan malang yang dia miliki. It's not her fault kalau ada pangeran super ganteng, baik, kaya raya yang akhirnya bucin banget sama dia. Let's call that a good karma," tambah Reiga memberikan penjelasan yang begitu gamblang sampai Hana terdiam tidak bisa membalasnya.
Reiga menatap hangat Hana dengan senyum kecil terkulum.
"Merasa de ja vu ya sama pendapat aku ini?" gumam Reiga.
Hana diam tak menanggapinya. Tanggapan Reiga barusan sesungguhnya adalah pendapat dia sebelum Ayahnya meninggal. Saat ia masih punya kemewahan berupa pelukan hangat seorang pria yang selalu mendukung dan membelanya tanpa pamrih. Bahkan ikut memperjuangkan mimpinya.
Reiga tidak seharusnya tahu. Karena Hana tak sedang memikirkan hal itu tadi.
"Kamu tuh kayaknya cari tahu alamat aku cuma buat ajak aku berantem ya?" ucap Hana.
Reiga terkekeh.
"Abis kalau langsung ajak nikah nanti ditolak," canda Reiga.
Hana langsung menghantamnya dengan tatapan sinis.
"Reigaaaaaa...."
"Gampang banget marah sih sama aku," ujar Reiga.
"Ya abis kamu ngeledekin aku mulu. Gombalin nggak jelas. Aku ini belum pulih dari patah hati, jangan dibikin patah lagi. Apalagi kalau kamu jelas-jelas cuma mau jadiin aku tameng aja."
"Tameng apa?"
Mereka bertatapan. Reiga menggeledah pikiran Hana. Tak ditemukannya apapun.
"Kamu cepat belajar ya, Han," puji Reiga dengan cepatnya Hana beradaptasi dengan kemampuan anehnya. Sungguh di luar prediksi dan ekspektasi Reiga. Pria itu berpikir Hana akan menatapnya aneh dan riweh. Nyatanya gadis ini malah santai aja. Bahkan seakan kemampuan yang dimiliki Reiga itu hal biasa.
Orang yang dipuji tersenyum lebar. Paham akan maksud kalimat pujian Reiga barusan.
"Karena curang aja kalau kamu terus bisa semudah itu mengambil langkah setelah mencuri dengar," ujar Hana tidak mau kalah. Padahal ini jelas bukan kompetisi.
"Justru kalau udah tahu, kadang malah bingung melangkah," curhat Reiga sedikit.
Sebuah pengakuan yang membuat Hana memandangi Reiga dalam diam karena gadis itu merasa ada makna lain di sana. "Kamu nggak akan tahu sesungguhnya dari kalimat nggak bisa berbuat apa-apa sampai kamu punya kemampuan kayak aku dan hanya bisa diam melihat kemalangan terjadi," ucap Reiga dalam hati.
"Aku salah. Maaf ya udah tuduh kamu sembarangan," ujar Hana tiba-tiba.
Reiga tertegun. Terlebih ekspresi Hana saat mengatakannya begitu tulus. Like she really means it. And she truly means it.
"Ternyata perempuan bisa minta maaf juga ya."
"Mulai rasis deh," ucap Hana tersenyum.
Reiga tertawa lalu masing-masing menghabiskan mie di mangkuk.
"Tadinya aku kira si anti cinta sejati ini mau mendompleng popularitas aku supaya terlepas dari perjodohan yang tidak diinginkannya. Tapi kayanya aku salah," jujur Hana.
Reiga diam.
"Iya ya, kok nggak kepikiran," ujar Reiga setengah bercanda.
"Idih! Nggak lucu!" ujar Hana sambil tertawa kecil lalu minum.
Setelah gelas yang dipegangnya ditaruh. Hana memutar kursinya kearah Reiga.
"Sekarang kasih tahu aku alasan sebenarnya kamu ke sini!" ujar Hana dengan mata berbinar.
"Nanti kalau aku jawab, kamu marah nggak?"
"Kalau jawabannya serius. Aku nggak akan marah, Rei."
"Standar jawab serius kamu tuh yang kayak gimana, Han?"
"Reishardddddd," gemas Hana dengan gigi bergemeretak. Kedua tangannya rasanya ingin meraih pipi Reiga lalu menariknya keras-keras.
Reiga mengulurkan tangan kanannya lurus di atas meja pantry, tepat di samping kiri Hana.
"Aku selalu jawab pertanyaan kamu dengan serius loh, Han."
"Liar."
"Yaudah aku iyain aja biar kamu happy."
"Enggak gitu juga kali!" protes Hana.
"Terus maunya gimana?"
"Ya jawab yang benar. Yang serius."
"Aku kangen kamu."
Pipi Hana memerah. Jantungnya berdebar dengan cara yang aneh lagi.
"Bullshit!" seru refleks Hana dalam hati.
Reiga menari kursi yang diduduki Hana mendekat kearahnya.
"Serius," sahut Reiga dengan suara low tone.
"Dilarang baca pikiran aku, Reishard!" ucap Hana meski tidak segalak biasanya.
Mereka saling bertatapan dalam diam. Tenggelam dalam syahdu.
"I know you see the truth in my eyes, right?"
gumam Reiga masih dengan suara pelan nan gentle miliknya.
"I can't see the truth. Selama empat tahun ini aja aku terbukti salah kan?" gumam Hana mengingat runyamnya cinta bertepuk sebelah tangan miliknya dan Arnold.
"Boleh nggak aku kasih pelajaran sama yang namanya Arnold?"
Hana terkesiap.
"Apa?"
"Aku kasih pelajaran," jawab Reiga dengan tatapan serius yang membuat Hana yakin Reiga tidak main-main atau bercanda seperti tadi. Hana pun yakin, pelajaran yang dimaksud Reiga itu sesuatu yang menyeramkan.
"Emangnya kamu guru?" Hana mencoba merelaksasikan suasana.
"Kenapa? Takut Arnold-nya kenapa-napa?"
Hana salah tingkah dengan pertanyaan itu.
"Jujur, iya!" Hana memilih jujur.
"I like your honesty, Han," pujia Reiga akan kejujuran Hana.
Sesuatu yang tak biasa ditemui dari kaum perempuan yang demen memberi kode.
"Kamu secara fisik bisa menghajar delapan orang. Apalagi kamu yang sebagai Reiga Reishard. Aku yakin Arnold bisa jadi dapat kiamat ekspress dari kamu. So, don't be a bad guy. Apalagi buat orang asing kayak aku, Rei," ucap Hana sambil mengaduk-aduk sisa kuah mie instan dimangkuknya.
"Hmm, jadi kalau kamu bukan lagi orang asing buat aku. Aku boleh kasih Arnold kiamat ekspress?"
Hana langsung menoleh untuk menatap Reiga.
"Bukan begitu konsepnya Reiga Reishard," gemas Hana.
Reiga terkekeh. Lalu, tangan kirinya terangkat dan mengelus kepala Hana dari belakang. Bukannya marah, Hana malah tertegun dengan sikap seenaknya Reiga yang menyentuh kepalanya ini. Tadi pagi, main gandeng tangan, sekarang elus kepala! Di rumah Hana pula.
"Okay, kali ini aku lepasin dia," ucap Reiga santai.
Hana terdiam, lalu ada amarah dalam sekam yang naik ke permukaan hatinya tiba-tiba. Perasaan tidak terima yang menyeruak hingga membuat kedua pelupuk matanya berair.
"Dengar ya, Reishard," ucap Hana terdengar dingin. Suaranya tercekat.
"Mungkin buat orang kayak kamu, flirting dan ngomong kalimat kayak tadi sama perempuan itu bukan hal besar. Perhaps it's just a part of your habit," Hana memberanikan dirinya menatap Reiga dengan tatapan tajam yang membuat pria itu terhenyak.
Ada sedih yang pekat dalam hati Hana sekarang.
"Tapi buat orang kayak aku, kalimat kamu barusan itu hal besar. Bukan perkara sederhana. Jadi berhenti main-main like you mean it," ujar Hana.
Hana berdiri, ia berjalan menuju pintu. Reiga memandanginya dalam diam dan helaan napas menyesal. Bahkan sekalipun bisa baca pikiran, mampu membaca isi hati, dan melihta kejadian masa lalu. Kesempatan menyakiti orang lain akan selalu ada.
"Kalau udah selesai makan, lebih baik kamu pulang," ucap Hana dingin di depan pintu rumahnya yang terbuka.
Reiga bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri mau Hana. Berhenti tepat di depan Hana dan pintu yang terbuka.
"Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu, Han," ucapnya pelan dengan muka serius.
"Baguslah! Berarti kamu masih waras," tanggap Hana dengan nada ketus.
Reiga memandangi Hana yang masih terus menatapnya bak musuh.
"Aku terima kalau kamu marah. Aku..."
"Pulang sana!" potong Hana.
Reiga menarik napas.
"Okay," ujar Reiga menuruti Hana. Tidak medebatnya lagi. "Aku pamit ya," ucap Reiga pada Hana.
"Ya," sahut Hana dengan dingin.
Reiga berjalan keluar bangunan rumah.
Menelusuri teras samping. Pikirannya gamang. "Apa yang buat lo ragu sih, Rei? Kenapa lo begitu sedih dan merasa terbuang hanya karena Hana mengusir lu pulang?" gumamnya dalam hati sendiri.
Tapi perasaan yang dirasakan Reiga makin lama makin kuat dan mendesak. Perasaan hatinya yang tidak ingin Hana marah. Hatinya yang ingin menolak penglihatan masa depan yang tadi terlintas dalam langkah pertamanya keluar dari pintu samping rumah Hana.
Kehilangan Hana.
Dan kenapa ia harus takut kehilangan Hana?
Reiga heran sendiri. Mereka bahkan belum 24 jam bertemu. Tidak sedekat itu juga. Mungkin lingkaran pertemanan mereka tanpa sadar saling bersinggungan, itu juga baru mereka ketahui sekarang.
"Jangan gila, Reiga! Cukup kemampuan baca pikiran yang lo ungkap ke Hana. No more, Rei. Jangan sinting. Hati lu tuh sejak dulu manipulatif. Lu ingat kan perkara Cyila? Gimana lu dengan tololnya tertipu??? Do you want to feel that kind of shit again?! Sanggup lu! Kesedihan lu nggak sama seperti kesedihan manusia lainnya, Reiiii! Kesedihan lu lebih panjang dan bertahan lama. Jadi, sadarlah dan terus berjalan pergi! You have that gen in your blood, right!? Skill pergi penuh antipati!"
Namun langkah Reiga berhenti tepat di mana sejauh 100 meter lagi, ia bisa menuruni tangga dan mencapai Ferrari-nya. Pikiran Reiga yang meracau sendiri lenyap seketika. Ia berbalik, menemukan Hana yang sudah menutup pintu dan berjalan masuk. Meninggalkannya sendiri di luar. Suasana dan perasaan yang sama sebagaimana saat Mama-nya melewatinya dan pergi. Nyeri yang sama seperti saat Reiga melihat akhir kisahnya dengan Cyila setelah ia berusaha mengabaikan isi pikiran Cyila yang tidak pernah secinta itu dengannya.
"Lu emang sinting, Rei!" ucapnya pelan tercekat saat detik selanjutnya Reiga memutuskan sesuatu secara impulsif.