Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di tempat lain, Yuda baru saja keluar dari ruang rapat ketika ponselnya bergetar.
Ia membaca pesan itu sekali. Alisnya terangkat sebentar lalu turun kembali. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Bukan senyum yang hangat. Bukan senyum yang enak dilihat.
Ia memasukkan ponselnya ke saku. Melangkah kembali dengan langkah yang tidak berubah tenang, terkontrol, seperti seseorang yang baru saja menerima kabar yang tidak terlalu penting.
Sedangkan baru saja sampai di rumahnya. Rumahnya masih sepi. Sepatu Yuda tidak ada di rak. Ia menghela napas lega, tapi lega yang datang bersama rasa lain yang tidak mau pergi.
Di dapur, ia menuang air putih ke gelas. Meminumnya sambil berdiri, menatap dinding di depannya.
Ia memejamkan mata, saat kembali teringat kejadian di tangga darurat. Menekan gelas lebih erat di tangannya. Lalu menepis semuanya, atau mencoba menepisnya. Lalu ia naik ke kamarnya.
Ia berbaring sebentar di kasur dengan mata menatap langit-langit. Tidak ada yang bisa ia pikirkan dengan jernih. Semuanya berputar di tempat yang sama, kembali ke tempat yang sama, tidak mau bergerak ke mana pun.
Ia bangkit. Masuk ke kamar mandi. Air mengalir dan ia berdiri di bawah shower lebih lama dari biasanya membiarkan air mengalir sampai kulitnya kebas, sampai pikirannya terlalu lelah untuk terus berputar.
Ponselnya bergetar dari atas nakas ketika ia keluar.
"Bersiaplah. Kita makan malam diluar. Aku sudah menunggu tunggu di mobil"
Carisa menatap layar itu sebentar. Lalu mulai bersiap.
Yuda masih di dalam mobil ketika Carisa keluar dari rumah.
Gaun hitam yang jatuh pas di tubuhnya, mengikuti lekuk tanpa terlihat berlebihan. Blazer disampirkan santai di bahu, memberi kesan rapi tapi tidak kaku. Riasannya tipis, cukup untuk menegaskan wajahnya tanpa mengubahnya.
Carisa tidak sengaja berdandan untuk mencuri perhatian atau terlihat mencolok. Gayanya sederhana, tidak berlebihan.
Tapi justru karena itu, cara ia berpakaian, sikapnya, pembawaannya, orang tetap akan memperhatikannya tanpa ia minta.
Langkahnya tenang menuju mobil yang entah sejak kapan sudah terparkir di halaman rumahnya.
Tapi begitu pintu terbuka dan ia melihat wajah suaminya, dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Yuda menatap lurus ke depan. Wajahnya tetap datar, seperti biasanya.
Tapi malam ini terasa sedikit berbeda. Terlalu tenang. Seperti air yang terlihat tenang di permukaan, tapi sebenarnya menyimpan arus kuat di bawahnya.
"Kenapa menunggu di mobil?" tanya Carisa begitu duduk di kursi penumpang.
Yuda tidak menjawab. Ia langsung menyalakan mesin, lalu mobil bergerak.
"Ada apa?"
Tidak ada jawaban.
Mobil terus melaju. Lampu-lampu kota berganti di luar jendela, memantul sebentar di kaca sebelum hilang lagi.
Carisa menoleh sedikit ke arah Yuda. Wajahnya tetap sama, tenang, tanpa ekspresi. Tangannya mantap di setir, pandangannya lurus ke depan. Terlalu tenang.
"Yuda..." panggil Carisa pelan.
Tetap tidak ada respon. Hanya suara mesin yang mengisi ruang di antara mereka.
Carisa mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Tangannya perlahan meremas ujung tas di pangkuannya, tanpa sadar.
Ada sesuatu yang tidak beres. Dan ia bisa merasakannya, meski belum tahu apa.
Mobil melambat saat memasuki area yang lebih ramai. Deretan lampu restoran mulai terlihat, papan nama menyala di kiri kanan jalan.
Yuda membelokkan mobil tanpa banyak gerakan.
Beberapa detik kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran.
Restoran itu berdiri di lantai teratas gedung kaca di pusat kota.
Dari luar saja kemewahan sudah terasa, dua pria bersetelan hitam di pintu masuk, seorang wanita berpenampilan formal di meja resepsionis yang menyambut dengan senyum terlatih. Di dalam, lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, meja-meja berlapis kain hitam, musik jazz yang mengalun pelan dari sudut ruangan.
Pelayan menyambut Yuda dan Carisa.
"Reservasi atas nama Yuda Arsan sudah kami siapkan. Meja untuk empat orang, seperti yang Bapak minta."
Carisa menoleh cepat. Empat orang. batinnya
Ia hampir bertanya tapi sesuatu di wajah Yuda menghentikannya. Ia hanya mengikuti langkah suaminya melewati bar, melewati deretan meja yang setengah terisi, sampai ke sebuah meja di dekat jendela besar yang menghadap pemandangan kota malam.
Cahaya kota di bawah sana berkelip seperti bintang yang jatuh.
Carisa duduk. Membuka menu. Matanya pada daftar hidangan tapi pikirannya tidak di sana.
"Aku kira hanya kita berdua." Suaranya pelan. "Siapa yang kamu undang?"
"Tunggu saja."
Yuda memeriksa arlojinya. Menatap ke arah pintu. Tidak sampai lima menit, dua sosok berjalan mendekat.
Humaira dengan gamis biru gelap dan kerudung pashmina senada. Penampilannya sederhana, kesederhanaan yang terlihat anggun. Di sampingnya, Reynanda dengan kemeja hitam dan jas abu-abu, selangkah di belakang istrinya.
Carisa membeku. Tangannya yang memegang menu berhenti bergerak. Matanya membulat satu detik, sebelum ia memaksanya kembali ke ekspresi yang benar.
Reynanda melihat Carisa. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, Humaira sudah memberitahunya di perjalanan bahwa ini undangan dari Yuda. Tapi matanya bergerak cepat dari Carisa ke Yuda, membaca sesuatu di wajah lelaki itu yang membuat bahunya sedikit menegang.
"Assalamualaikum, maaf kami terlambat." Humaira tersenyum, duduk setelah Reynanda menarik kursinya. Reynanda duduk di sebelah istrinya, tepat di depan Carisa.
"Waalaikumsalam." Carisa dan Yuda menjawab bersamaan.
Yuda melambai memanggil pelayan. "Kami juga baru sampai."
Hidangan mulai datang. Merekapun mulai makan.
Meja tertata rapi, makanan tersaji dengan baik, lampu-lampu kota terlihat jelas dari balik jendela besar.
Semuanya seharusnya terasa hangat. Tapi tidak. Suasananya terasa aneh. Seperti ada yang tidak beres, tapi tidak ada yang mau mulai membicarakannya.
Reynanda sesekali berbicara dengan Humaira. Carisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil dengan senyum seperlunya.
Yuda makan dengan tenang. Terlalu tenang. Gerakannya rapi, terkontrol. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar santai, seperti seseorang yang sedang menunggu waktu yang tepat.
Lalu ia meletakkan sendoknya. Gerakannya pelan, rapi. Ia menyeka mulut dengan serbet, lalu menaruhnya kembali di pangkuan. Baru setelah itu ia bersuara.
"Aku menonton vlog tausiahmu, Humaira."
Humaira menoleh. "Oh ya? Yang mana?"
"Yang membahas tentang..." Yuda berpura-pura berpikir. Matanya bergerak sebentar ke arah Reynanda, hanya sebentar, lalu kembali ke Humaira. "Tentang perselingkuhan."
Humaira mengangkat alis tipis. "Oh. Tausiahku tadi siang."
"Ya." Yuda mengangguk pelan. "Kamu bilang, banyak yang merasa bisa memelihara dua hati sekaligus. Padahal hati bukan sesuatu yang bisa dibagi."
Humaira menambahkan dengan natural, "Dan Allah selalu punya cara membongkar kebenaran. Cepat atau lambat, yang disembunyikan akan tersingkap."
"Tepat sekali." Yuda menatap Humaira. "Kalimat itu bagus sekali."
Di seberang meja, Reynanda meraih gelasnya. Jemarinya terlihat kaku saat memegangnya.
Carisa menundukkan pandangan. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang berada di tengah sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatnya merasa tidak nyaman.
Yuda melanjutkan, masih dengan nada yang sama santai, seperti obrolan biasa setelah makan malam. "Sayangnya, tidak semua orang mampu mempraktikkan kesetiaan."
Humaira tersenyum tipis. "Kamu benar, Mas Yuda. Masih banyak pasangan yang belum bersyukur atas apa yang mereka miliki."
"Makanya kita harus berusaha." Yuda menyandarkan punggungnya ke kursi. "Setia. Bersyukur. Dan kalau perlu, menegur. Secara halus. Demi kebaikan bersama."
Humaira mengerutkan keningnya sedikit. "Menegur?"
Yuda tertawa kecil. Singkat. Tidak ada kehangatan di dalamnya. "Ah, aku hanya menambahkan isi ceramahmu."
Humaira mengangguk. Tapi kali ini, tatapannya tidak lagi sekadar mengikuti percakapan. Ia mulai memperhatikan. Hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa, sekarang pelan-pelan seperti saling terhubung di kepalanya.
Yuda memutar gelasnya pelan di atas meja, seolah tidak ada yang penting.
Lalu ia berkata dengan nada ringan,
"Proyek renovasi kantor Pratama Property berjalan lancar, Nanda? Desain interiornya ditangani istriku, kan?"
Kalimat itu jatuh di tengah meja. Humaira langsung menoleh ke arah suaminya, cepat karena refleks.
Ada jeda sebentar sebelum ia bicara, seperti sedang memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Mas?" suaranya pelan. "Desain interiornya… Carisa?"
Reynanda tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang gelas, tapi terlihat kaku. Pandangannya tidak langsung kembali ke Humaira.
"Iya." jawab Reynanda singkat.
Humaira mengernyit tipis. Bukan marah, lebih ke heran.
"Kenapa kamu tidak cerita ke aku?" tanyanya pelan, menatap Reynanda.
"Aku lupa memberitahu." Reynanda menjawab singkat, matanya tetap pada gelas di depannya.
Humaira diam sebentar.
"Lupa?" ulangnya pelan. Tatapannya tidak lepas dari wajah suaminya.
Di seberang, Yuda menyandarkan punggungnya sedikit lebih dalam ke kursi. Ia tidak ikut bicara. Hanya memperhatikan, tenang, seolah memang menunggu percakapan ini berjalan sejauh ini.
Carisa mulai merasa canggung di tengah semua yang terjadi. Sendok di tangannya tidak bergerak sejak tadi. Ia tidak mengangkat kepala, tapi jelas ia mendengar semuanya.
Meja itu kembali sunyi dan terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Proposalnya masuk lewat rekomendasi. Waktu itu aku tidak terlalu memperhatikan namanya." Reynanda mengambil gelasnya. Meminumnya sedikit. Gerakannya terlalu terkontrol untuk seseorang yang benar-benar santai. "Baru sadar siapa orangnya setelah pertemuan pertama."
Humaira mengangguk pelan, menerima jawaban itu, atau terlihat menerimanya. Tapi matanya bergerak sebentar ke arah Carisa. Dan Carisa yang menangkap itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Di sisi lain meja, pikiran Carisa berputar kencang.
Yuda tahu. Sejak kapan?
Ia tidak berani bertanya. Tidak menunjukkan apa pun karena kalau ia membuka mulut sekarang, suaranya tidak akan cukup stabil untuk terdengar biasa.
"Jadi sudah berapa lama kalian bekerja sama?" tanya Humaira, kali ini ke arah Carisa. Suaranya tetap lembut, tapi ada tekanan halus di baliknya, seperti bukan sekadar bertanya.
Carisa mengangkat sedikit wajahnya. Dan berusaha tetal tenang. "Masih di tahap awal."
Yuda meletakkan pisaunya pelan di samping piring. Ia mengambil gelas airnya.
Sebelum meminumnya, ia bicara dengan suaranya yang rendah, nyaris seperti basa-basi. "Dunia memang sempit. Klien istriku ternyata suami sepupuku."
Ia meneguk airnya. Meletakkan gelas kembali tepat di tempat semula. "Suatu kebetulan yang menarik."
Tidak ada yang langsung menanggapi.
Yuda tidak terlihat terganggu oleh itu. "Kalian pasti akan sering bertemu," lanjutnya tenang, "untuk urusan pekerjaan, sekaligus bisa mempererat silaturahmi."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Humaira menatap meja sejenak, lalu kembali ke arah suaminya. Lebih lama. Lebih diam.
Seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
Reynanda meraih gelasnya lagi, tapi tidak benar-benar minum. Hanya menahannya di tangan.
Carisa menarik napas pelan. Sendok di tangannya sudah lama tidak bergerak.
Yuda melirik sekilas ke arah mereka bertiga. Singkat.
"Lagipula," lanjutnya, nadanya tetap ringan, "kalian juga satu perguruan, kan?"
Kalimat itu terasa jatuh lebih berat dari yang seharusnya.
"Jadi harusnya sudah saling kenal sejak lama."
Hening.
Humaira menoleh lagi ke arah Reynanda lebih cepat kali ini.
Matanya mencari jawaban yang belum ia dapatkan. Carisa menunduk sedikit lebih dalam. Dan meja itu terasa semakin sempit.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak