Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 15
Satu bulan setelah liburan singkat mereka ke pantai Parangtritis, hidup kembali berjalan seperti biasanya- tenang di permukaan, namun menyimpan riak yang tak selalu terlihat.
Sore itu, tepat pukul empat lewat sedikit, Rana sedang duduk di ruang keluarga Hyarta residence. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, menyinari wajahnya yang tampak lebih segar dibandingkan beberapa waktu lalu.
Drtzzz..
Drtzzz...
Ponsel milik suaminya bergetar pelan. Otomatis membuat gerakan refleks dari Rana.
Satu pesan masuk.
Dari Laras.
{ Nanti malam jadi kan? Siap-siap ya, jangan menolak! }
Kedua kelopak mata Rana berkedip, saat tangannya hendak mengambil ponsel itu terdengar suara suaminya yang samar-samar memanggil dirinya.
"Ran, tolong ambilin handuk. Mas lupa bawa."
Rana mengurungkan niatnya, gegas perempuan itu bangkit dari duduknya dan memenuhi panggilan dari suaminya. Namun, saat hendak melangkah ponsel Dipta kembali bergetar, ada pesan lagi.
{ Sampai nanti malam}
Tidak ada lagi pesan.
Suara Dipta kembali terdengar.
"Ran?"
Rana memalingkan wajahnya dari ponsel, segera berjalan ke arah sumber suara. "Iya, Mas. Aku datang."
Menjelang pukul lima sore, Rana duduk di sofa- di samping suaminya yang tengah menonton siaran ulang pertandingan antara Manchester united vs Chelsea. Rana menyandarkan punggungnya sembari menatap suaminya sejenak.
"Mas," panggilnya.
"Hmm? Ada apa?" Dipta menoleh istrinya, ada senyum janggal yang di ciptakan oleh Rana.
"Udah lama, ya...kita gak makan di luar. Gimana kalau nanti kita makan di luar?" ajak Rana.
Alaric yang sedang memainkan puzzle huruf menghentikan gerakan tangannya dan gegas mendekati ayahnya.
Dengan wajah lucu anak itu berucap. "Iya...Mas Al ikut, Mas Al kepingin makan cumi bakal..."
Masayu tak ingin kalah, gadis itu melempar bonekanya dan langsung menghampiri Ayahnya, memperlihatkan wajah gemasnya.
"Ayu ikut...mau..."
Dipta tersenyum, "iya...nanti kita makan malem di luar. Temen Ayah juga ngajak makan malam di luar."
Rana melirik, "siapa? Mas Galang?"
Dipta menggeleng, "bukan. Laras."
"Laras?" nada Rana terdengar tak suka.
Dipta mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Bukan cuma Laras aja, tapi ada Pak Tobing. Laras mengundang kita dengan alasan mau bilang terima kasih karena Mas udah bantu dia."
Rana mengangguk-angguk kecil, "baiklah."
~
Menjelang malam, Rana sudah siap.
Ia mengenakan dress panjang berpotongan elegan, warna gelap yang mempertegas auranya sebagai wanita dari keluarga terpandang. Riasannya lembut, tidak berlebihan- namun cukup untuk membuat siapa pun menoleh.
Masayu yang kini terlihat semakin ceria mengenakan gaun kecil senada, sementara Alaric tampil rapi dengan kemeja dan celana bahan.
"Bundaaaa cantik..." celetuk Masayu polos.
Rana tersenyum, membungkuk sedikit dan mengecup pipi putrinya.
"Kamu juga, sayang."
Hari itu, Rana memilih menyetir sendiri karena sebelumnya Dipta mendapatkan panggilan dari pak Tobing. Mobil meluncur halus meninggalkan kawasan Hyarta residence, menuju salah satu restaurant terbaik di Yogyakarta- *A**brosia* resto by Insomnia, sebuah tempat yang dikenal dengan restaurant mewah dan nyaman.
Perjalanan terasa biasa saja. Namun tidak dengan perasaan Rana.
~
Saat mobil berhenti di depan restoran, seorang valet segera menghampiri. Rana turun lebih dulu, diikuti kedua anaknya. Tatapannya langsung tertuju ke arah pintu utama.
Di sana, Dipta sudah berdiri.
Seperti biasa- rapi, berwibawa, dan sulit ditebak.
Pria itu melangkah mendekat. Tatapannya sempat berhenti sejenak pada Rana- ada sesuatu yang samar di sana, namun cepat ia sembunyikan.
"Kamu cantik," ucapnya singkat.
Rana hanya mengangguk kecil. "Terima kasih."
Tidak ada basa-basi berlebihan. Rana langsung menggandeng jemari suaminya.
"Masuk, yu!" ajak Dipta kemudian.
keduanya berjalan, Masayu di gendong oleh Dipta dan Alaric berjalan di depan.
Saat mereka tiba, Rana menyapu pandang. Di meja yang sudah tertata rapi, duduk seorang wanita dengan senyum tipis yang pernah ia lihat sewaktu di lobi kantor perusahaan milik mereka.
Laras.
Wanita itu tampak anggun, dengan aura yang tidak pernah benar-benar pudar. Di sampingnya, seorang pria paruh baya dengan setelan formal duduk tenang.
Pak Tobing.
Kuasa hukum yang menangani proses perceraian Laras.
Langkah Rana berhenti sepersekian detik ketika Dipta melepaskan jemarinya.
Namun hanya itu.
Ia kembali berjalan, tegak dan tenang, seolah semua ini tidak mengguncangnya sama sekali.
"Silahkan duduk," ucap Laras lembut, seakan mereka hanya sekedar teman lama yang bertemu kembali.
Rana menarik kursi untuk Masayu lebih dulu, lalu duduk disampingnya. Alaric berada disisi lain. Dipta menarik kursinya, duduk berhadapan langsung dengan Laras.
Formasi yang...tidak nyaman.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Laras. Nada bicaranya sopan, terlalu sopan.
"Ini...hanya makan malam biasa. Mungkin... untuk mengucapkan rasa terima kasih aku atas bantuan...Bu Rana." Ucap Laras canggung menatap perempuan itu.
"Panggil saja Kirana, atau Rana. Mas Dipta biasa memanggilku dengan panggilan Rana." Ucap Rana sedikit tajam, membuat suaminya menoleh.
Pak Tobing berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana. "Bu Laras hanya ingin mengundang makan malam atas rasa terima kasihnya kepada Pak Dipta dan juga Bu Rana, bukan begitu Bu Laras?"
Laras terkekeh canggung, "i...iya...tidak ada maksud lain."
Dipta menoleh, menatap istrinya. "Rana,"
Rana tersenyum, mengerti dengan tatapan suaminya itu.
"Maaf, aku...hanya terbawa suasana saja."
Masayu yang belum memahami situasi hanya sibuk memainkan sendoknya. Sementara Alaric diam, lebih peka terhadap atmosfer yang berubah.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Laras lagi, mencoba membuka percakapan.
"Baik," jawab Rana singkat. Dipta kembali menoleh ke arah Rana. Lalu mencoba mencarikan suasana.
"Bagaimana kabar Raka? Kok, dia gak ikut?" tanya Dipta sembari memotong steak.
Namun justru pertanyaan itu membuat suasana semakin terasa...kaku.
Laras melirik Rana yang tengah memotong steak lalu kembali kepada Dipta. "Baik, dia lagi sama neneknya."
Rana menyuapi putrinya, tidak ada pembicaraan yang menurutnya harus di cairkan.
"Bundaaaa...Mas mau itu juga," ucap Alaric.
Dipta menoleh, pria itu sejenak memperhatikan Rana yang sibuk menyuapi putrinya.
"Rana..." bisik Dipta.
"Biar bunda potongin dulu ya Mas, bentar." Ucap Rana kepada putranya.
Hening.
Hanya terdengar suara alat makan yang beradu pelan. Rana menghiraukan panggilan suaminya yang terlihat kaku dan merasa malu. Pak Tobing hanya fokus kepada makanannya. Sedangkan Rana sama sekali tidak ada waktu untuk makan, dirinya hanya sibuk menyuapi Masayu dan memotong steak untuk Alaric.
...****************...
Bersambung...