NovelToon NovelToon
Takdir Sang Penanda Langit

Takdir Sang Penanda Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.

Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.

Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.

Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.

Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi

penjahat keji.

Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.

Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Pedang Teratai Surga

Singkat cerita, Feng Yan yang terbang di atas tombak pusaka telah menyimpan Pedang balok ke dalam cincin.

Ia dengan santainya berpindah posisi menjadi duduk dengan menjuntaikan satu kaki di atas tombak itu. Kemudian mengambil obat dari cincin penyimpanan, tapi ternyata yang ia gunakan hanyalah obat oles untuk luka. Bukan pil untuk menghilangkan luka, entah apa tujuannya.?

Pantas saja ada bekas luka di pipi kiri pemuda yang sedang itu. " Sial, caping bambuku tertinggal di sana" ia menggerutu teringat dengan caping bambu yang biasa ia gunakan.

"Sekarang kemana tujuanku? Mendatangi adik Yu ri atau menemui kakak Yun Zhi lebih dulu?"

Ia bergidik ngeri saat teringat dengan saudara wanita yang biasa galak padanya.

"Sudah satu tahun lebih aku tidak mengunjunginya."

"Kepalakuuuu." Feng Yan memegang kepala dengan dua tangan saat membayangkan Zhao YunZhi akan memukul kepalanya sampai puas.

"Kakak galak itu bahkan tidak mempan walau kuberi hadiah."

Feng Yan teringat dua tahun yang lalu kakaknya marah besar. Saat ia kembali dari mengikuti Turnamen yang diadakan di kota Giok Putih.

Turnamen yang membatasi peserta paling tinggi di ranah Master Akhir. Hadiah utamanya adalah Senjata Seribu Bentuk dan menjadi murid di sekte Bintang Abadi.

Berhasil ke Final, Feng Yan yang saat itu menggunakan topeng dan menggunakan nama Liu Xi justru menyerah sesaat setelah pertarungan dinyatakan dimulai.

Ternyata ia ikut turnamen hanya untuk mendapatkan bibit Pohon Kayu Besi yang sudah langka. Membuat semua penonton menjadi heboh.

Saat sampai di rumah, YunZhi yang kesal saat mengetahui adiknya lebih memilih bibit pohon kayu besi, ia sangat murka dengan tindakan konyol yang ia anggap sangat bodoh.

"Walaupun kakak seperti itu tapi dia sangat menyayangiku, kakak hanya kau keluargaku di dunia ini." Feng Yan sudah merasa bahagia saat memikirkan akan bertemu lagi dengan kakaknya.

Rambut Feng Yan yang tidak terlalu panjang riap-riapan tertiup angin, sedang asik bersenandung di atas tombak yang sedang terbang, Feng Yan melihat bayangan sebuah kapal layar terbang di permukaan tanah.

Ia mendongak ke atas, dari posisinya ia hanya bisa melihat lambung kapal yang sangat besar.

"Rombongan sekte apa yang melintas di atasku?" kemudian ia naik lebih tinggi hingga memposisikan tombak pusakanya di samping kapal layar karena sangat penasaran.

Di atas geladak kapal terlihat banyak pendekar wanita, mereka mulai berlarian ke arah dinding pembatas saat melihat keberadaan seorang pemuda di atas tombak.

"Adik kecil, sangat berbahaya bagi seorang di ranah master terbang sendirian dengan Senjata pusaka. Apa kau tidak takut senjatamu dirampas?" tanya seorang wanita cantik dengan ramah. Ia terlihat berusia tiga puluh tahunan.

Tampaknya Feng Yan tidak lagi

menggunakan inti spiritual yang berada di ranah Grandmaster.

Feng Yan hanya diam saja menatap wanita yang seharusnya sudah berumur kalau melihat dari cara berpakaiannya yang terlihat kuno.

"Sepertinya wanita ini telah meminum pil awet muda," pikir Feng Yan menebak-nebak.

Melihat orang yang diajak berbicara tidak menjawab dan hanya menatap rombongannya, wanita itu kembali tersenyum ramah.

"Tidak perlu khawatir, kami bukan seperti orang picik diluaran sana. Naiklah kemari, kau sepertinya sudah lelah. Melihat pemuda yang berbakat dan berani sepertimu membuatku sedikit tertarik."

Feng Yan mengangguk dan melompat ke atas geladak, lalu menyimpan tombak ke dalam cincin.

Baru saja ia menginjakkan kaki di lantai geladak, para gadis-gadis cantik sudah mengelilinginya. Mereka menatapnya dengan sangat antusias.

"Meskipun ada bekas luka di pipi kirinya, tidak mengurangi kadar ketampanannya."

Bisik-bisik terdengar.

"Pemuda tampan ini sepertinya baru saja bertarung, lihatlah pakaiannya banyak noda darah." Bisik gadis lain menyahuti.

"Tapi aneh, kenapa pakaian yang dikenakannya sangat jelek? Padahal ia memiliki senjata pusaka."

"Kuharap aku juga memiliki senjata pusaka." kata yang lain menimpali.

"Salam senior, maaf atas kelancanganku sebelumnya. Juga terima kasih sudah mengizinkan berlabuh di kapal." Dengan ramah pemuda itu memberi salam pada wanita yang menyapa tadi. Ia juga membungkukkan badan memberi hormat pada para gadis.

"Dia sangat elegan sekali, jangan-jangan seorang tuan muda yang sedang menyamar." bisik seorang gadis.

"Namaku Feng Yan dari kota Batu besi, kalau berkenan kemana tujuan rombongan kapal ini?" tanya pemuda itu sedikit sungkan.

"Namaku Nuwa Qionglin, kami rombongan sekte Teratai Perak yang berasal dari ibu kota kekaisaran."

"Melihat rombongan besar ini berarti anda dan murid pasti baru saja selesai melakukan pelatihan di Kota Teratai Hijau." Feng Yan dengan tanggap membaca situasi.

"Ternyata tidak cukup berbakat tapi adik ini cukup cerdas." wanita itu mengajak Feng Yan berjalan ke arah meja yang berada di tengah geladak.

"Sepertinya adik ini baru saja mengalami kesulitan, sebaiknya gantilah pakaianmu yang penuh noda darah itu. Pastinya tidak nyaman mengenakan pakaian yang sudah kotor."

"Ah Ning tunjukan pemuda ini ruangan untuk mengganti pakaiannya". Perintah wanita yang diperkirakan seorang guru atau tetua oleh Feng Yan pada satu muridnya.

Singkat cerita Feng Yan sudah mengenakan pakaian yang dihadiahkan oleh ibunya.

Pakaian dengan mantel panjang tidak berlengan yang saat ini berwarna hitam dengan corak garis berwarna emas.

Sedangkan Baju dalam mantel hanya berlengan pendek yang juga berwarna gelap.

Saat kembali ke geladak semua gadis terlihat terpana dengan penampilan pemuda

Yang berubah signifikan dari sebelumnya.

Rambut yang hanya sebahu kini sudah ia kuncir rapi dengan logam berbahan emas.

"Adik kecil, aku bersyukur kau tidak mengobati bekas luka di pipimu itu? Kalau tidak aku pasti sudah kehilangan murid-muridku karena mengejarmu".

Walau seorang pria ternyata Feng Yan juga bisa tersipu malu mendengar pujian dari Guru Nuwa. Ia menggaruk kepala yang tidak gatal untuk menutupi rasa malu-nya.

Cukup lama dua orang itu berbicara dan Feng Yan sangat senang dengan keramahan Guru Nuwa. Sangat jarang orang-orang sekte yang ditemui oleh pemuda itu bersikap baik pada orang luar. Melihat guru Nuwa yang baik hati itu membuat Feng Yan teringat akan ibunya.

"Adik Feng, sepertinya kau seorang anak bangsawan yang berbakat. Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? mungkin kau memiliki informasi tentang sesuatu yang sekte kami butuhkan."

"Silahkan senior Nuwa menanyakan informasi apapun, saya pasti akan membantu jika saya memiliki jawaban yang Senior

Butuhkan." jawab pemuda itu tanpa ragu.

"Pemuda ini benar-benar sangat santun" batin guru Nuwa sambil menganggukkan kepala. Ia bertambah yakin jika pemuda di depannya pastilah memiliki pendukung kuat dibelakangnya.

"Kau pasti sudah tahu bahwa kota Teratai Hijau sebenarnya dulu adalah sebuah sekte yang kemudian menjadi kota yang cukup besar."

"Sekte itu adalah cabang dari sekte Teratai Perak, walau sekte cabang tidak terlalu kuat di kerajaan Xia. Namun sekte itu memiliki senjata yang di keramatkan."

Feng Yan mengangguk sambil menyimak perkataan Guru Nuwa.

"Senjata suci sekte Teratai Hijau yang menghilang ratusan tahun yang lalu, namun kemudian muncul kembali beberapa dekade ke belakang. Digunakan oleh seorang wanita yang dijuluki Dewi Pedang".

Deg

Perkataan terakhir guru Nuwa cukup membuat jantung Feng Yan berdetak kencang. Sepertinya ia mengerti kemana arah pembicaraan ini. Namun ia mengendalikan

Dirinya untuk tidak terlihat gelisah.

"Kenapa senjata pusaka yang dikeramatkan itu dianggap senjata suci?" tanya Feng Yan penasaran.

"Dahulu sekali leluhur sekte Teratai Perak menciptakan dua pedang pusaka, satu pedang untuk laki-laki ditinggalkan untuk menjadi simbol Sekte Teratai Perak.

Sedang satu lagi pedang yang diciptakan untuk wanita ditinggalkan untuk menjadi simbol Sekte Teratai Hijau.

"Pedang Peri Teratai Hijau" ucap Feng Yan pelan.

"Adik kecil apa kau mengetahui sesuatu tentang pedang itu?" ucap guru Nuwa yang mendadak berdiri dari duduknya.

Feng Yan hanya menggeleng tanda tidak tahu apa-apa." Tapi saya memang pernah mendengar tentang pedang itu. Pedang dengan gagang berwarna hijau dan memiliki pelindung tangan berbentuk teratai. Konon di bilah pedang itu ada garis hijau dari ujung hingga ke pangkal pedang."

"Tapi seperti yang senior katakan sebelumnya, pedang itu terakhir berada di tangan Dewi Pedang."

"Saya lupa siapa nama asli wanita itu"

Lanjut Feng Yan terus berbohong. Padahal Dewi Pedang adalah ibunya sendiri, dan pedang yang dimaksud saat ini berada dalam cincin penyimpanan-nya.

Wanita itu kembali duduk dan menghela napas berat setelah mendengar ucapan pemuda di depannya.

"Dewi pedang sudah meninggal hampir dua puluh tahun lalu. Semua artefak yang ia miliki tidak diketahui keberadaannya. Bahkan keluarga suaminya juga tidak mengetahui keberadaan senjata itu."

"Kami sudah mendatangi mereka untuk menukar pedang itu dengan senjata lain yang setingkat. Namun sepertinya mereka memang tidak tahu apa-apa."

"Kenapa Sekte Teratai Hijau repot-repot menukar pedang yang setingkat dengan senjata yang hilang?" tentu saja itu membingungkan Feng Yan. Mereka sudah memiliki pengganti, tapi masih mencari pedang yang sudah lama hilang.

"Saat leluhur yang menempa pedang suci naik ke dunia Nirwana, ia tidak pernah mengatakan bahan pembuatannya. Pedang suci itu mampu mengeluarkan potensi terkuat

Dari teknik Sekte Kami."

Feng Yan diam cukup lama mendengar penjelasan Guru Nuwa, tentu saja dengan diamnya membuat Guru Nuwa sedikit penasaran.

Ia mengeluarkan sebuah pedang yang sangat mirip dengan Peri Teratai Hijau dan meletakkannya di atas meja. Feng Yan menatap pedang itu cukup lama.

Pemuda ini pasti mengetahui sesuatu pikir wanita itu. Jika benar ini pasti keberuntungan yang tidak disengaja.

Mengeluarkan tombak Guntur Bumi, ia juga meletakkan pedang itu di samping pedang yang disebut oleh guru Nuwa sebagai pedang Teratai Surga.

"Yan'er, carilah sekutu sebanyak mungkin, kau akan membutuhkan itu saat bencana besar yang akan datang" terngiang-ngiang di kepala pemuda itu salah satu permintaan dari ibu kandungnya.

"jadi guru Nuwa adalah master sekte Teratai Hijau?"

Guru Nuwa mengangguk pelan sebagai balasan.

"Master Sekte Teratai Perak berada di

kapal lain di belakang kita bersama Murid laki-laki" wanita itu berbicara lagi.

1
Nanik S
Lanjutkan Tor .. walau sayang ada perjodohan
azizan zizan
alur yang membingungkan blok blak blok blak blok blak blok blak tak ada hujung pangkal tau2 cerita beralih ke padang dewa...lah 🤔🤔🤔 ini orang gila ka hapa yang buat novel Nih..
azizan zizan
ini cerita undur kembali kebelakang kah...pantasan like nol...
Nanik S
Kenapa mesti ada perjodohan masih kecil .. kadang cerita seperti ini amat membosankan
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!