SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Mimpi Buruk
Dingin yang menusuk tulang segera menyambut Arga dan Lintang saat mereka melangkah keluar dari balik cermin Ruang Musik. Namun, ini bukanlah dingin biasa yang disebabkan oleh suhu rendah. Ini adalah dingin yang terasa kering dan hampa, seolah-olah seluruh kehangatan dan kehidupan di dunia ini telah diserap habis oleh dinding-dinding batu tua di sekeliling mereka.
Mereka kini berdiri tepat di pintu gerbang Asrama Sayap Barat, sebuah bangunan tambahan yang tampak jauh lebih tua, lusuh, dan bobrok dibandingkan gedung sekolah utama.
Bangunan itu menjulang tinggi dan gelap, menyerupai raksasa batu yang sedang sekarat dan menunggu ajal. Jendela-jendelanya yang pecah dan kosong menyerupai ratusan mata buta yang mengawasi dalam diam. Di bagian atas gerbang masuk, sebuah papan kayu tua berderit parah ditiup angin gaib, tertulis dengan huruf-huruf yang mulai mengelupas.
ASRAMA KHUSUS. HANYA UNTUK MEREKA YANG LUPA JALAN PULANG
"Kita sudah masuk ke wilayah terdalam dari 'Sisi Lain'," bisik Lintang dengan suara gemetar. Senter ungu di tangannya kini meredup redup, seolah-olah cahaya buatan pun merasa takut dan terintimidasi oleh kegelapan murni yang mendominasi tempat ini. "Di asrama ini, ruang dan waktu tidak lagi berjalan linier. Kamar yang kau masuki sekarang bisa jadi berada di tahun yang berbeda saat kau membukanya kembali nanti."
Arga tidak menjawab. Perhatiannya tertuju penuh pada tangannya sendiri. Tinta takdir hitam yang merayap di bawah kulitnya kini berdenyut kencang dan panas, berirama persis dengan detak jantung yang berasal dari kotak musik perak yang tersimpan di balik seragamnya.
Dug-dug... Dug-dug...
Suara itu terasa begitu nyata dan bergema di dalam tengkoraknya, seolah menjadi kompas hidup yang menuntunnya melewati pintu masuk asrama yang sudah tidak memiliki daun pintu sama sekali.
Lantai asrama itu dilapisi karpet tebal berwarna merah yang sudah sangat kusam dan kotor, warnanya kini lebih menyerupai warna darah kering yang mengendap lama. Di sepanjang koridor lantai satu, deretan pintu kamar tertata rapi namun tertutup rapat mati.
Namun dari balik setiap pintu itu, terdengar berbagai macam suara yang mengganggu kewarasan: suara koin logam yang jatuh bergemerincing terus-menerus, suara sikat kasar yang menggosok lantai dengan keras, hingga suara isak tangis lirih yang terdengar sangat jauh namun terasa seperti berbisik tepat di belakang leher.
"Peta ini mengatakan kita harus mencari Kamar 000," ujar Arga pelan sambil membuka gulungan peta kulit tua yang didapatkannya dari Ruang Musik. "Itu adalah titik pusat gravitasi asrama ini. Dari sana, ada tangga rahasia yang langsung menuju pondasi utama Menara Jam."
"Kamar 000?" Lintang mengerutkan kening bingung. "Tidak ada kamar dengan nomor itu di denah sekolah mana pun. Nomor kamar biasanya dimulai dari satu."
Mereka mulai menaiki tangga kayu yang berderit parah dan nyaris rubuh setiap kali diinjak. Setiap langkah kaki Arga terasa seperti sedang menginjak tumpukan tulang belulang yang rapuh dan kering.
Saat akhirnya mencapai lantai tiga, suasana di sekitar mereka berubah drastis. Koridor yang tadinya gelap kini dipenuhi oleh kabut tipis berwarna kelabu pekat yang menyelimuti pandangan hingga hanya beberapa meter di depan yang bisa terlihat jelas.
Di tengah koridor yang berkabut itu, berdiri diam sesosok bayangan yang sangat Arga kenali.
"Raka?!" Arga berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan.
Sosok itu berdiri membelakangi mereka tepat di depan sebuah pintu kamar. Ia mengenakan seragam sekolah yang sama persis dengan yang dipakai Arga, namun seragam itu tampak basah kuyup dan berat seolah baru saja diangkat dari dasar danau yang dalam. Air terus menetes dari ujung-ujung bajunya, membentuk genangan hitam yang mengkilap di lantai karpet.
"Arga... kenapa kau lama sekali?" suara itu terdengar sangat pelan, lembut, namun penuh dengan kepedihan yang mendalam dan menyayat hati.
"Raka! Aku di sini! Aku datang untuk membawamu pulang!" seru Arga terbawa emosi. Ia berlari sekencang-kencangnya mendekati sosok itu, sama sekali mengabaikan peringatan Lintang.
"Tunggu, Arga! Ingat pesan di peta! Itu jebakan!" teriak Lintang panik mencoba mengejar temannya yang sudah terlalu jauh.
Begitu Arga sampai tepat di depan sosok itu dan menyentuh bahunya, sosok itu perlahan berbalik badan.
Tubuh Arga seketika membeku ketakutan dan ia mundur terhuyung hingga punggungnya menghantam dinding keras.
Wajah itu memang wajah Raka, sangat mirip hingga tak ada keraguan sedikitpun. Namun, ia tidak memiliki mata. Di tempat di mana bola mata seharusnya berada, hanya terdapat dua lubang hitam kosong yang terus-menerus mengalirkan air berwarna hitam pekat yang berbau busuk. Mulutnya terbuka lebar sangat besar, menampakkan deretan gigi tajam yang semuanya telah berubah menjadi paku-paku besi berkarat.
"Kau membiarkan aku mati, Arga..." geram sosok itu. Suaranya bukan lagi suara lembut Raka, melainkan bergema parau seperti kumpulan ribuan suara yang penuh kebencian dan amarah. "Kau tidur nyenyak di rumah yang hangat sementara aku membusuk di bawah menara ini sendirian. KAU ADALAH ALASAN AKU TERJEBAK DI SINI!"
Sosok yang dikenal sebagai The Guilt atau Sang Rasa Bersalah, menerjang tubuh Arga dengan kecepatan kilat. Tangan-tangannya yang panjang, basah, dan dingin melilit leher Arga dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat.
Arga merasa seolah-olah lehernya dijepit oleh catok besi. Oksigen di sekitarnya seketika lenyap. Ia mencoba memukul dan menendang sosok itu, namun setiap kali tinjunya mendarat, tangan itu hanya menembus tubuh sosok itu seperti menembus genangan air hitam yang dingin dan pekat.
"Arga, itu bukan dia yang asli! Itu hanya proyeksi dari ketakutan dan rasa bersalahmu sendiri!" teriak Lintang dari kejauhan.
Dengan sigap Lintang mencoba menebas sosok itu menggunakan belati peraknya, namun Sang Rasa Bersalah hanya mengibaskan tangannya santai. Gelombang air hitam meledak keluar dari tubuhnya, menerjang tubuh Lintang hingga terpental jauh ke ujung koridor dan menghantam dinding dengan keras hingga ia pingsan tak berdaya.
Arga mulai kehilangan kesadaran. Penglihatannya mulai mengabur dan berputar. Dalam kegelapan yang mulai menyelimuti pikirannya, bayangan masa lalu tiba-tiba muncul kembali.
Ia teringat jelas hari di mana Raka menghilang. Hari itu mereka bertengkar hebat hanya karena masalah sepele. Dalam amarahnya, Arga berteriak mengatakan bahwa ia benci pada kakaknya dan berharap Raka pergi saja dari hidupnya dan jangan pernah kembali.
Dan malam itu, Raka benar-benar pergi ke sekolah ini untuk menyelidiki rahasia Sang Arsitek dan tidak pernah kembali lagi.
Aku memang bersalah... batin Arga hancur. Aku yang mengusirnya pergi. Aku pembunuhnya...
Namun, tepat saat kesadarannya hampir hilang total, kotak musik perak di dadanya tiba-tiba berdetak dengan suara yang sangat keras dan mengguncang seluruh tubuhnya.
DUG! DUG! DUG!
Getaran dahsyat itu mengirimkan gelombang panas yang menjalar ke seluruh pembuluh darah Arga. Tinta takdir hitam di lengannya seketika bersinar terang benderang. Di bawah kulitnya, huruf-huruf terbentuk sendiri seolah sedang menulis pesan penting.
"KEBENARAN TIDAK DIBANGUN DI ATAS PENYESALAN, TAPI DI ATAS PENEBUSAN."
Mata Arga terbuka lebar kembali. Kini matanya bersinar memancarkan cahaya Indigo yang meluap-luap dan kuat.
Dengan tekad baja, Arga mencengkeram erat tangan lumpur yang melilit lehernya.
"Kau benar..." bisik Arga dengan suara yang berat dan tegas. "Aku memang bersalah. Aku benci diriku sendiri karena kata-kata bodoh itu. Tapi justru karena rasa bersalah dan cintaku itulah aku berada di sini sekarang! Kau tidak akan pernah bisa menghancurkanku!"
Arga menghantamkan telapak tangannya yang penuh tinta hitam itu tepat ke dada sosok mengerikan itu.
BUUMMM!
Ledakan energi Indigo yang murni dan dahsyat meledak seketika. Energi itu mengubah air hitam yang menyusun tubuh musuhnya menjadi uap panas yang menguap hilang ke udara dalam sekejap mata.
Sang Rasa Bersalah menjerit panjang kesakitan dan kalah. Tubuhnya pecah berantakan dan memudar menjadi debu halus yang terbawa angin. Keheningan kembali menyelimuti koridor asrama. Lintang mulai siuman dan bangun, memegang kepalanya yang pening dan berdenyut.
Arga berdiri tegak di depan pintu tempat sosok itu tadi berdiri. Angka yang tertulis di plat pintu itu perlahan berputar dan berubah bentuk, bergerak sendiri dari angka 303 menjadi 000.
"Kita sampai," ujar Arga. Suaranya kini terdengar jauh lebih matang, tenang, dan berwibawa daripada sebelumnya.
Ia mendorong pintu Kamar 000 itu terbuka. Di dalamnya tidak ada ranjang, lemari, atau perabotan apa pun. Hanya ada sebuah ruangan kosong yang berbentuk lingkaran sempurna. Lantainya terbuat dari kaca bening yang sangat tebal dan kuat.
Di bawah lantai kaca transparan itu, Arga bisa melihat pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan: ribuan roda-roda gigi raksasa dari besi tua yang terus berputar tanpa henti, mekanisme bawah tanah yang menjadi jantung dari Menara Jam.
Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah tumpuan batu altar. Di atasnya terdapat sebuah lonceng kecil yang terbuat dari perak, identik dengan lonceng yang sering Arga dengar dalam mimpinya.
Di samping lonceng itu, terdapat sebuah pesan yang diukir tajam dengan darah yang tampak masih basah dan mengkilap.
"JAM DUA BELAS MALAM, SAAT LONCENG BERBUNYI, JIWA YANG HILANG AKAN MENJADI DETAKNYA. HANYA TIGA PULUH MENIT TERSISA."
"Tiga puluh menit..." Lintang menatap arlojinya yang jarumnya kini berputar mundur dengan kacau dan tidak wajar. "Kita harus turun ke pondasi mesin sekarang, Arga. Di sanalah tempat tubuh fisik Raka yang asli berada."
Arga menunduk menatap lantai kaca di bawah kakinya. Di sela-sela celah roda gigi raksasa yang berputar cepat, ia bisa melihat samar-samar sesosok remaja yang terikat kuat dengan rantai-rantai perak pada poros utama mesin.
Itu adalah Raka. Tubuhnya tampak bercahaya redup, seolah seluruh energinya sedang disedot habis untuk menjadi bahan bakar menggerakkan jam raksasa itu.
"Aku datang, Kak," gumam Arga pelan penuh tekad.
Tanpa ragu sedikitpun, Arga menghantamkan tinjunya sekuat tenaga ke permukaan lantai kaca itu.
CRRAAKK!
Lantai itu retak besar dan hancur. Mereka berdua terjun bebas turun ke dalam perut mesin jam yang menderu keras, menantang maut di antara gerigi-gerigi besi yang mematikan, demi mencapai jantung dari seluruh teror di SMA Nusantara sebelum lonceng kematian berbunyi untuk terakhir kalinya.