''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku tertegun, sendok di tanganku berhenti di udara. Aku menatap Farez yang duduk di sampingku dengan setelan kerjanya yang mahal, namun ekspresinya begitu santai, seolah ia tidak sedang memikul beban sebagai seorang direktur utama.
Dia benar-benar tidak berubah.
Laki-laki ini masih Farez yang sama—Farez yang selalu tahu bagaimana cara menarikku keluar dari lubuk kesedihan yang paling dalam. Lima tahun ternyata hanya mengubah status sosialnya, bukan jiwanya.
Tiba-tiba, seorang pengamen dengan gitar tua yang sedikit sumbang mendekat ke meja kami. Ia mulai memetik senar, menyanyikan sebuah lagu lawas tentang rindu. Biasanya, aku akan memberikan recehan dan meminta mereka pergi dengan sopan karena kepalaku terlalu bising untuk mendengar musik.
Namun, Farez melakukan hal yang tak terduga.
Ia merogoh sakunya, memberikan lembaran uang yang cukup besar pada pengamen itu, lalu membisikkan sesuatu. Pengamen itu tersenyum lebar dan menyerahkan gitarnya kepada Farez.
"Rez, apa yang kamu lakukan?" tanyaku, mataku membelalak.
Farez tidak menjawab. Ia berdiri di samping bangku plastik kami, membetulkan letak gitar itu di pelukannya, lalu mulai memetik senar dengan lincah. Suaranya yang soft-spoken saat bicara, berubah menjadi bariton yang hangat dan merdu saat ia mulai bernyanyi.
Ia menyanyikan lagu favoritku dulu, lagu yang sering ia senandungkan saat kami masih duduk di ayunan kayu halaman belakang rumah eyang. Di tengah hiruk-pikuk pinggir jalan, di antara kepulan asap bakso dan bising kenalpot motor, Farez menyanyi seolah dunia hanya milik kami berdua.
Orang-orang di sekitar kami mulai menoleh, beberapa tersenyum melihat seorang pria berjas rapi rela bernyanyi di warung tenda. Tapi Farez tidak peduli. Matanya lurus menatap mataku, menyampaikan pesan yang tak mampu ia ucapkan lewat kata-kata.
"Aku di sini, Rana. Kamu tidak sendiri."
Setitik air mata jatuh ke dalam mangkuk baksoku, tapi kali ini bukan karena Ayah. Aku menangis karena merasa begitu pengecut. Aku menyebutnya kerikil, aku mengusirnya, aku mematahkan kartu SIM agar ia tak bisa mencariku—tapi dia tetap berdiri di sini, mempermalukan dirinya sendiri di pinggir jalan hanya untuk melihatku tersenyum kecil.
Dadaku yang tadi terasa sesak oleh bayangan 'Pak Wira', perlahan mulai melonggar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa beban di pundakku sedikit terangkat. Farez telah meruntuhkan pertahananku bukan dengan paksaan, tapi dengan ketulusan yang bahkan waktu pun tak sanggup menghapusnya.
Setelah selesai, Farez mengembalikan gitar itu dan duduk kembali di sampingku, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar jenaka.
"Suaraku masih bagus, kan?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya dengan tisu.
Aku tertawa kecil, tawa pertama yang benar-benar tulus setelah berhari-hari. "Masih sumbang dikit," candaku, meski hatiku terasa penuh.
Farez tersenyum lebar, senyum yang membuat hatiku yang beku mulai mencair. Malam itu, di bawah tenda bakso yang sederhana, aku sadar bahwa meskipun duniaku dihancurkan oleh laki-laki yang kusebut Ayah, takdir mengirimkan Farez untuk membuktikan bahwa tidak semua cinta adalah kebohongan.
Farez tidak segera meraih sendoknya kembali. Ia justru menopang dagu dengan satu tangan, membiarkan baksonya mendingin, hanya demi mengunci tatapannya pada wajahku. Matanya yang tajam kini melunak, seolah sedang merekam setiap inci lengkungan di bibirku yang selama berminggu-minggu ini hanya tertutup rapat atau mengeluarkan kalimat ketus.
"Nah, begitu," gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara deru motor yang lewat. "Senyum itu yang selama lima tahun ini cuma bisa aku lihat di dalam mimpi."
Aku mendadak salah tingkah. Rasa hangat menjalar ke pipiku, mengalahkan uap panas dari mangkuk di depanku. Aku segera menunduk, pura-pura sibuk mengaduk kuah yang sebenarnya sudah hampir habis. "Jangan berlebihan, Rez. Tadi itu cuma karena nyanyianmu lucu."
"Lucu atau tidak, yang penting tembokmu sedikit retak malam ini," balasnya dengan nada jenaka yang tulus.
Ia kembali menyuap baksonya, namun perhatiannya tidak pernah benar-benar lepas dariku. Selama beberapa minggu pertemuan profesional kami di kantor, Farez selalu tampak seperti Direktur Abiwangsa yang dingin, menuntut, dan penuh teka-teki. Tapi malam ini, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip ini, ia kembali menjadi Farez-ku yang dulu. Laki-laki yang rela melakukan hal konyol hanya untuk memastikan duniaku tidak sedang kiamat.
"Rana," panggilnya lagi, kali ini lebih serius.
Aku mendongak, menemukan kesungguhan yang dalam di matanya.
"Aku tahu melihat 'beliau' di ruang rapat tadi adalah hal tersulit yang harus kamu lalui. Dan aku tahu, memintamu untuk melupakan segalanya dalam semalam adalah kemustahilan," ucapnya pelan. Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. "Tapi tolong, jangan hukum dirimu sendiri dengan terus menutup diri. Kamu punya hak untuk bahagia, tanpa harus merasa bersalah pada masa lalumu."
Aku tertegun. Kata-katanya sangat mirip dengan apa yang Ibu ucapkan semalam. Seolah mereka berdua sedang bekerja sama untuk menarikku keluar dari lubang gelap yang kugali sendiri.
"Terima kasih, Rez," bisikku tulus. Kali ini aku tidak menghindar. Aku membalas tatapannya, membiarkan sedikit celah di hatiku terbuka untuknya. "Terima kasih sudah membawaku ke sini. Dan... terima kasih untuk lagunya."
Farez tersenyum—senyum yang mencapai matanya. "Apapun untuk senyum itu, Na. Apapun."
Malam itu, di pinggir jalan yang berdebu, aku menyadari bahwa meskipun luka dari Ayah masih menganga, kehadiran Farez mulai terasa seperti perban yang menyejukkan. Aku memang belum sepenuhnya berdamai dengan luka, tapi setidaknya malam ini, aku tidak lagi merasa sendirian menanggungnya.