Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahakarya di Atas Kap Mobil
Pukul dua siang di jantung kota Jakarta bukan sekadar waktu, melainkan sebuah ujian kesabaran. Suhu udara mencapai 35 derajat Celcius, menciptakan fatamorgana panas di atas aspal beton yang membara. Di dalam kabin Rolls-Royce Phantom yang kedap suara, Adrian Alfarezel duduk dengan punggung tegak, sama sekali tidak terpengaruh oleh kekacauan di luar sana.
Adrian adalah definisi dari keteraturan. Kemeja putihnya yang dibuat khusus di London tidak memiliki satu pun lipatan yang salah. Jam tangan Patek Philippe di pergelangan kirinya berdetak dengan presisi yang sama dengan cara ia menjalankan hidupnya: terukur, mahal, dan tanpa cacat. Baginya, hidup adalah deretan angka dan jadwal yang harus dipatuhi.
"Pak Jaka, berapa menit lagi kita sampai di kantor pusat?" suara Adrian rendah namun penuh otoritas.
"Sepuluh menit lagi, Pak Adrian. Jika persimpangan di depan tidak terlalu macet," jawab sopir pribadinya dengan nada sopan yang sudah dilatih bertahun-tahun.
Adrian mengangguk singkat, kembali menatap layar tabletnya yang penuh dengan grafik saham. Ia benci keterlambatan. Baginya, satu menit yang terbuang adalah penghinaan terhadap produktivitas. Ia baru saja menutup kesepakatan akuisisi besar di kawasan SCBD, dan suasana hatinya seharusnya sedang berada di puncak. Namun, ia merasa ada sesuatu yang mengusik—mungkin karena debu tipis yang ia bayangkan hinggap di kap mobilnya yang mengilap. Adrian adalah seorang germaphobe ringan; ia tidak suka kotor, ia tidak suka bau, dan ia sangat tidak suka kekacauan.
Tepat saat itu, di luar sana, sebuah motor bebek tahun 2010-an dengan knalpot yang mengeluarkan suara brem-brem tidak stabil sedang membelah kemacetan. Pengendaranya adalah Zevanya—atau Zeva, begitu teman-temannya di tongkrongan memanggilnya.
Zeva sedang dalam misi hidup dan mati: mengantarkan paket katering "Super Kilat" milik bibinya. Jika ia terlambat lima menit saja, rating toko bibinya akan turun, dan itu berarti jatah makannya minggu ini terancam. Zeva tidak peduli dengan aturan lalu lintas yang terlalu kaku jika itu menghambat jalannya. Dengan jaket denim yang penuh tambalan dan helm bogo berwarna pink pudar yang talinya sudah agak longgar, ia meliuk-liuk di antara mobil-mobil mewah.
"Minggir, minggir! Rakyat jelata mau lewat!" teriak Zeva, meski suaranya tertelan helm dan bising jalanan.
Masalah bermula ketika sebuah bus kota tiba-tiba memotong jalur di depan mobil Adrian. Pak Jaka, sang sopir, terpaksa menginjak rem secara mendadak.
CIIIIIIIIIT!
Mobil mewah itu berhenti dengan sentakan halus namun pasti. Namun, di belakangnya, Zeva yang sedang asyik memacu motornya sambil mengomel tidak sempat bereaksi dengan anggun. Untuk menghindari menabrak bokong mobil mahal itu, Zeva membanting setang ke kanan. Motornya oleng, dan karena ia membawa tumpukan kotak makan di depan kakinya, keseimbangannya hilang.
Zeva tidak jatuh, tapi helm bogo pink-nya yang longgar terlepas dari kepalanya akibat guncangan hebat. Seperti dalam adegan film aksi yang gagal, helm itu melayang di udara, memantul sekali di aspal, dan berakhir dengan sukses menghantam kap depan Rolls-Royce Adrian dengan bunyi DUNG yang sangat memilukan.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Adrian Alfarezel.
Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri melalui kaca depan. Sebuah benda bulat berwarna pink—warna yang paling ia benci—menghantam mahakarya otomotif miliknya. Tidak hanya itu, helm itu meninggalkan goresan panjang dan sisa cat pink yang menempel di atas warna hitam metalik yang elegan.
"Pak Jaka... katakan padaku itu bukan mimpi," bisik Adrian, suaranya bergetar karena menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
"Anu... Pak... ada helm yang... mengenai mobil kita," jawab Pak Jaka dengan keringat dingin.
Adrian membuka pintu mobil. Ia melangkah keluar dengan gerakan lambat, seperti predator yang sedang mengintai mangsa. Begitu kakinya menyentuh aspal, ia segera menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. Bau asap knalpot dan debu jalanan langsung menyerangnya, tapi pemandangan di depan kap mobilnya jauh lebih menyakitkan.
Di sana, Zeva sudah turun dari motornya. Ia tidak tampak merasa bersalah. Ia malah berjalan mendekat dengan langkah lebar-lebar, memungut helmnya yang tergeletak di dekat ban mobil Adrian, lalu meniup debu dari helm itu.
"Waduh, lecet nih helm kesayangan gue," gerutu Zeva keras-keras.
Adrian tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lecet? Anda bicara soal helm plastik murahan itu sementara Anda baru saja menghancurkan nilai estetika mobil seharga puluhan miliar?"
Zeva mendongak. Ia melihat seorang pria tinggi, tampan dengan rambut klimis yang tertata rapi, tapi wajahnya tampak seperti orang yang baru saja menelan jeruk nipis busuk. Zeva berkacak pinggang.
"Eh, Om! Santai dong. Lagian siapa suruh ngerem mendadak? Sopir Om tuh yang nggak becus. Temen gue—maksudnya motor gue—hampir aja jungkir balik gara-gara mobil ini!"
Adrian menurunkan sapu tangannya, menatap Zeva dengan tatapan menghina. Dari atas ke bawah, ia menilai gadis ini. Jaket denim kotor, sepatu bot yang penuh lumpur kering, dan wajah yang penuh keringat tanpa polesan make-up sedikit pun kecuali sedikit bedak yang berantakan. Benar-benar definisi kekacauan manusia.
"Pertama, jangan panggil saya Om. Nama saya Adrian Alfarezel. Kedua, mobil ini berada di jalurnya dengan benar. Anda yang berkendara seperti orang kesurupan," ujar Adrian dengan nada dingin yang menusuk. "Lihat ini. Goresan ini tidak bisa hilang hanya dengan dipoles. Anda harus mengganti seluruh panel ini."
Zeva tertawa, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Adrian. "Hah? Ganti panel? Om tahu nggak berapa harga katering yang gue bawa? Nggak nyampe sejuta! Terus Om minta gue ganti rugi mobil yang harganya bisa buat beli satu kelurahan? Logikanya di mana, Mas Bro?"
"Logikanya adalah Anda merusak properti orang lain, dan Anda harus bertanggung jawab. Itu hukum dasarnya, Nona... siapa pun Anda."
"Nama gue Zevanya! Panggil Zeva aja, tapi jangan pakai 'Nona', geli gue dengernya," sahut Zeva sambil memasang kembali helm pink-nya dengan kasar. "Denger ya, Adrian-si-paling-kaya. Gue nggak punya uang buat ganti rugi goresan sekecil lidi itu. Kalau mau, gue polesin pakai odol nanti di rumah, beres!"
Adrian memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya agar tidak berteriak di depan publik. "Menggunakan pasta gigi untuk memperbaiki Rolls-Royce? Anda benar-benar... barbar."
"Barbar? Gue ini praktis! Lagian orang kaya kayak lu pasti punya asuransi kan? Tinggal telepon, beres. Kenapa harus ribet marahin rakyat kecil kayak gue di tengah jalan panas begini? Kasihan tuh sopir lu udah keringetan nungguin drama lu!"
Kerumunan orang mulai melihat ke arah mereka. Beberapa pengendara motor mulai membunyikan klakson karena jalanan semakin macet. Adrian merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh seorang gadis yang baunya seperti matahari dan bumbu dapur.
"Saya tidak peduli soal asuransi. Ini soal prinsip dan sopan santun. Anda tidak meminta maaf, Anda malah menyalahkan sopir saya," tegas Adrian. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama emas dari saku jasnya dan menyodorkannya dengan dua jari, seolah takut tertular kuman dari udara di sekitar Zeva. "Bawa ini. Pengacara saya akan menghubungi Anda untuk membicarakan ganti rugi. Saya harap Anda tidak mencoba melarikan diri, karena saya sudah mencatat plat nomor motor antik Anda yang berasap itu."
Zeva menerima kartu itu, membacanya sekilas, lalu menyelipkannya di antara sela-sela mesin motornya dengan santai. "Oke, Adrian. Gue nggak bakal lari. Tapi jangan kaget ya kalau pengacara lu nanti gue ajak makan gorengan di pinggir jalan karena cuma itu kompensasi yang sanggup gue kasih."
"Kita lihat saja nanti," jawab Adrian sinis.
Zeva menaiki motornya, menghidupkan mesin dengan sekali injakan kuat yang membuat asap hitam mengepul tepat ke arah Adrian. Adrian terbatuk-batuk, menutup wajahnya dengan sapu tangan lagi, sementara Zeva melesat pergi sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
"Cewek gila," desis Adrian.
"Pak Adrian... kita harus segera jalan, kita sudah terlambat lima menit dari jadwal rapat," tegur Pak Jaka hati-hati.
Adrian masuk kembali ke dalam mobil. Suasana kabin yang dingin dan harum aromaterapi biasanya menenangkannya, tapi kali ini tidak. Bayangan gadis barbar dengan helm pink itu terus berputar di kepalanya. Ada sesuatu yang sangat mengganggu dari cara gadis itu menatapnya—tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kagum. Hanya ada tantangan.
Di sisi lain, Zeva memacu motornya sambil mengumpat di dalam helm. "Sialan si Om-Om ganteng itu. Ganteng-ganteng kok pelitnya minta ampun. Goresan dikit aja kayak dunianya mau kiamat. Mana panggil gue barbar lagi! Emangnya dia pikir dia siapa? Dewa Olympus?"
Zeva tidak tahu bahwa kartu nama emas di sakunya adalah awal dari akhir ketenangannya. Ia juga tidak tahu bahwa Adrian Alfarezel bukan tipe pria yang melepaskan mangsanya begitu saja. Adrian tidak menginginkan uang ganti rugi itu—ia memiliki lebih dari cukup untuk membeli seribu motor Zeva. Yang ia inginkan adalah melihat gadis itu tunduk pada aturannya.
Benih permusuhan telah ditanam di aspal Jakarta yang panas. Dan seperti tanaman liar yang tangguh, permusuhan ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit, lebih kacau, dan jauh lebih berisik daripada knalpot motor bebek Zeva.
Satu hal yang pasti: hidup Adrian tidak akan pernah rapi lagi, dan hidup Zeva tidak akan pernah tenang lagi. Perang antara keteraturan dan kekacauan baru saja dimulai.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan