NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kegelisahan di Aula Timur

Tetua Ma tidak bisa tidur.

Sudah lewat tengah malam ketika ia duduk di Paviliun Angin Timur, cangkir teh di hadapannya sudah dingin untuk ketiga kalinya. Lilin di sudut ruangan berkedip-kedip diterpa angin malam yang menyelinap lewat celah jendela. Bayangannya menari-nari di dinding seperti hantu yang mengejek.

Di hadapannya, berlutut dengan kepala tertunduk, adalah Luo Feng, Su Yan, dan Pang Wei. Ketiganya masih mengenakan seragam patroli yang basah oleh embun hutan. Napas mereka masih tersengal, meskipun sudah setengah jam sejak mereka berlari keluar dari Hutan Bisu.

"Katakan lagi," suara Tetua Ma datar. Terlalu datar. "Siapa yang kalian lihat?"

Luo Feng menelan ludah. "Kami... kami tidak yakin, Tetua. Tapi Su Yan memanggilnya dengan nama... Xiao Chen."

Nama itu meluncur seperti belati kecil yang menusuk telinga Tetua Ma. Tangannya yang keriput mengepal di atas meja.

"Xiao Chen sudah mati," katanya. "Aku sendiri yang melihatnya jatuh ke Jurang Naga Pemakaman. Tidak ada yang selamat dari sana."

"Itulah yang kami pikirkan juga, Tetua," Su Yan memberanikan diri bicara. "Tapi... orang itu memiliki tanda di dadanya. Cahaya keemasan, seperti retakan. Dan dia menebang tiga pohon dengan satu ayunan pedang patah. Luo Feng bahkan tidak bisa menahannya satu jurus pun."

Tetua Ma menatap Luo Feng. Pemuda itu masih memegangi pergelangan tangannya yang memerah. "Dia membuat pedangmu terlepas hanya dengan ketukan?"

"Ya, Tetua. Saya... saya bahkan tidak melihat gerakannya."

Keheningan memenuhi ruangan. Pang Wei, yang paling penakut di antara mereka, gemetar di tempatnya. Ia ingin sekali berada di perpustakaan sekarang, membaca kitab-kitab tua tentang tanaman obat, bukan berlutut di hadapan Tetua yang matanya semakin lama semakin gelap.

"Apa yang dia katakan?" tanya Tetua Ma akhirnya.

Luo Feng mengangkat kepala sedikit. "Dia... dia menyuruh kami menyampaikan pesan pada Tetua. Katanya... Jurang Naga Pemakaman sudah tidak lagi menjadi kuburan. Dan sesuatu telah bangun dari sana."

Krrrek.

Cangkir teh di tangan Tetua Ma tiba-tiba retak. Bukan karena dipukul—hanya karena jari-jarinya mengatup terlalu erat. Air teh yang dingin menetes ke meja, tapi Tetua Ma tidak memperdulikannya.

"Kalian bertiga," katanya, suaranya pelan tapi tajam. "Kalian tidak akan menceritakan ini pada siapa pun. Tidak pada sesama murid, tidak pada tetua lain, tidak pada siapa pun. Mengerti?"

"Me-mengerti, Tetua," jawab mereka serempak.

"Pergi. Dan kalau ada desas-desus yang menyebar... aku akan tahu dari mana asalnya."

Ketiga murid itu bangkit dan keluar dengan langkah cepat, nyaris berlari. Begitu pintu tertutup, Tetua Ma akhirnya membiarkan topeng ketenangannya retak.

Wajah tuanya berkerut dalam. Matanya yang biasanya licik dan penuh perhitungan kini dipenuhi sesuatu yang jarang ia tunjukkan: kegelisahan.

Xiao Chen. Pelayan sampah itu.

Ia ingat jelas pagi itu. Tamparannya. Tubuh kurus yang jatuh ke jurang. Mata kosong yang tidak menunjukkan rasa takut. Saat itu ia mengira itu adalah kepasrahan. Tapi sekarang ia bertanya-tanya—bagaimana kalau itu adalah janji?

Tetua Ma bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah barat daya—ke arah Hutan Bisu. Dari sini, hutan itu hanya tampak sebagai bayangan gelap di bawah langit malam.

"Kalau dia benar-benar selamat... kalau dia benar-benar menjadi sesuatu yang lain..."

Pikirannya melayang pada catatan-catatan kuno di perpustakaan rahasia sekte. Tentang Ras Dewa Patah. Tentang kultivator yang tidak menggunakan Dantian, melainkan tulang. Tentang perang kuno yang mengguncang Surga.

Itu hanya legenda. Dongeng yang diceritakan pada murid-murid baru agar mereka tidak sombong.

Tapi bagaimana kalau itu nyata?

Tetua Ma mengepalkan tangannya. "Aku harus memastikannya sendiri."

---

Sementara itu, di kediaman Murid Inti, Zhao Ling'er juga tidak bisa tidur.

Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan yang sama yang dilihat Tetua Ma. Gaun tidur putihnya berkibar diterpa angin malam. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, tidak diikat seperti biasanya.

Sudah hampir dua minggu sejak Xiao Chen dilempar ke jurang. Dua minggu sejak ia resmi bertunangan dengan Wei Tianxing. Seharusnya ini adalah masa-masa bahagia. Wei Tianxing adalah jenius yang sempurna—tampan, kuat, dari keluarga terpandang. Semua yang diinginkan seorang kultivator wanita.

Tapi kenapa ia merasa... hampa?

"Aku, Zhao Ling'er, murid Inti Sekte Langit Pedang, di hadapan para Tetua dan saudara seperguruan, menyatakan memutuskan pertunangan denganmu."

Kata-katanya sendiri terngiang di kepalanya. Dan yang lebih menghantuinya adalah respons Xiao Chen. Bukan amarah. Bukan tangisan. Bukan permohonan.

Hanya satu kata: "Mengapa?"

Dan ia tidak pernah menjawabnya.

Zhao Ling'er menggigit bibirnya. "Kakek," bisiknya pada angin malam. "Maafkan aku. Aku melanggar wasiatmu."

Kakeknya—almarhum Tetua Zhao—adalah orang yang menjodohkannya dengan Xiao Chen sejak mereka masih anak-anak. Saat itu, Xiao Chen bukanlah pelayan. Ia adalah anak yatim piatu yang ditemukan Tetua Zhao di hutan, dan Tetua Zhao melihat sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Tapi Tetua Zhao meninggal dua tahun lalu. Dan sejak itu, posisi Zhao Ling'er di sekte mulai goyah. Tanpa pelindung, ia harus membuktikan dirinya. Ia harus naik ke jenjang yang lebih tinggi. Dan Xiao Chen—dengan akar spiritualnya yang retak—adalah beban yang menyeretnya ke bawah.

Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri.

"Tapi kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?"

Ia tidak tahu tentang laporan Luo Feng malam ini. Ia tidak tahu bahwa Tetua Ma sedang menyusun rencana untuk menyelidiki Hutan Bisu. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Sebuah firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

Seperti badai yang akan datang.

---

Kembali di Hutan Bisu, Xiao Chen menyelesaikan sesi Pernapasan Tulangnya.

Tulang punggungnya kini terasa seperti kabel baja yang dialiri listrik. Setiap retakan yang ia ciptakan dengan sengaja kini menjadi jalur bagi Energi Chaos untuk mengalir. Dan semakin banyak Energi Chaos yang mengalir, semakin kuat tubuhnya.

Ia membuka mata. Yue Que di pangkuannya bergetar pelan.

"Kau sudah menyelesaikan fondasi Lapis Kedua," kata pedang itu. "Tapi jangan puas dulu. Lapis Kedua memiliki tiga tingkatan: Membangkitkan, Menstabilkan, dan Menguasai. Kau baru di tahap Membangkitkan."

"Berapa lama untuk mencapai Menguasai?"

"Tergantung. Tuanku dulu butuh tiga tahun. Tapi dia memulainya dari nol, tanpa warisan Tulang Patah Surga yang sudah bangkit. Kau... mungkin lebih cepat. Atau lebih lambat. Tidak ada yang tahu."

Xiao Chen mengangguk. Ia mengeluarkan gulungan kitab dari Ruang Warisan—yang sama yang ia baca di dasar jurang. Kali ini ia membuka bagian tentang Teknik Pernapasan Tulang Tingkat Menengah.

"Untuk menstabilkan Lapis Kedua, kau harus mengalirkan Energi Chaos melalui tulang punggungmu setidaknya seribu siklus penuh. Setiap siklus akan memperlebar retakan sedikit demi sedikit, hingga tulang punggungmu benar-benar menjadi 'Naga' yang bisa menopang seluruh kekuatanmu."

Seribu siklus. Satu siklus penuh—dari tulang ekor ke dasar tengkorak dan kembali—membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan konsentrasi penuh. Itu berarti lima ratus jam latihan nonstop. Atau sekitar dua puluh hari jika ia berlatih dua belas jam sehari.

Xiao Chen menyimpan gulungan itu. Ia tidak punya waktu dua puluh hari. Sekte akan datang lebih cepat dari itu.

"Aku harus mencari cara yang lebih cepat," gumamnya.

"Ada," kata Yue Que tiba-tiba. "Tapi kau tidak akan menyukainya."

"Katakan."

"Bertarung. Setiap kali kau menggunakan Energi Chaos dalam pertarungan sungguhan, retakanmu akan melebar secara alami. Semakin berat pertarungannya, semakin cepat kau maju. Itulah jalan Ras Dewa Patah. Kami tidak duduk bersila di gua. Kami mencari pertempuran."

Xiao Chen menatap pedang patah di tangannya. "Kau ingin aku sengaja mencari musuh?"

"Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya memberitahumu pilihan. Kau yang memutuskan."

Di luar gua, Hui menggeram pelan. Xiao Chen menoleh. Serigala itu berdiri dengan bulu tengkuk berdiri, menatap ke arah hutan.

Xiao Chen merasakannya juga—lewat getaran di tulang punggungnya. Langkah kaki. Bukan tiga orang seperti tadi. Kali ini lebih banyak. Mungkin sepuluh. Mungkin lebih.

Dan satu di antaranya... berat. Sangat berat. Seperti batu besar yang bergerak di atas tanah.

Seorang kultivator Alam Pendirian Fondasi.

Xiao Chen tersenyum tipis. "Sepertinya aku tidak perlu mencari musuh. Mereka datang sendiri."

Ia bangkit, menggenggam Yue Que. Hui berdiri di sampingnya, siap bertarung.

"Kalau begitu," kata Xiao Chen pada pedangnya, "mari kita mulai pelajaran keduanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!