Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Asya berkemas membawa sedikit pakaiannya dan Alif. Mereka berencana menginap 2 hari di Bandung. Sementara Alif sedang berada di sofa dengan memangku laptopnya. Ia berusaha menyelesaikan kerjaannya agar selama 2 hari bisa dipakai untuk liburan tanpa beban kerja.
"Sayang, kayaknya besok kita berangkat sore aja ya," ucap Alif yang masih mengotak-atik laptopnya
"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?," tanya Asya
"Iya besok pagi harus meeting soalnya ini akhir bulan jadi semua karyawan harus menunjukkan kinerja mereka selama satu bulan ini," jawab Alif sambil menatap istrinya
"Iya nggak papa," ucap Asya sambil tersenyum
"Aku sengaja adakan meeting besok agar nanti selama 3 hari ke depan kita bisa menikmati liburan di Bandung tanpa gangguan pekerjaan. Aku kangen banget vibes menjadi santri kangen suasana pesantren," ucap Alif
"Iya kamu kerja dulu aja. Aku nggak keberatan sama sekali," jelas Asya
"Ana uhibbuki fillah," ucap Alif sambil memperagakan jari membentuk love
"Ahabbakalladzi ahbabtani lahu," balas Asya sambil tersenyum
Alif melanjutkan sedikit pekerjaannya. Sedangkan Asya lebih memilih tidur terlebih dahulu.
Keesokan harinya, Alif berangkat kerja pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Ia bahkan tak sempat sarapan, tapi Asya membawakan bekal untuk suami tercintanya itu.
Setelah Alif berangkat, Asya masuk ke rumah. Ia membereskan rumah yang akan ditinggal 2 hari ke depan. Ia ingin saat pulang nanti rumah tetap rapi walau ditinggal bepergian.
Sekitar pukul 3 sore Alif sudah pulang ke rumah. Ia bebersih untuk sholat asar dan setelahnya pergi ke Bandung. Sedangkan Asya sudah sholat terlebih dahulu.
"Sayang, ada yang ketinggalan nggak bawaannya?," tanya Alif
"Udah beres itu saja deh Mas. Lagian baju kita di rumah abi juga ada beberapa kok yang aku simpan," jawab Asya
"Ya udah, kita berangkat sekarang ya," ucap Alif sambil membawa koper mini
"Iya," ucap Asya
Alif terlebih dahulu keluar rumah. Ia meletakkan barang bawaannya di bagasi mobil. Sedangkan Asya sedang mengunci rumah. Setelahnya mereka masuk ke mobil lalu berangkat.
Asya dan Alif menikmati perjalanannya. Mereka saling bertukar cerita. Hingga sekitar pukul 18.30 akhirnya mobil Alif terparkir di samping ndalem.
Santri yang berlalu lalang seketika menghentikan kegiatannya. Mereka menunduk begitu Asya dan Alif berjalan menuju ndalem. Banyak sapaan dan juga salam dari para santri.
'Couple goals favorit aku'
'Pasangan idolaku'
'Tambah berseri aja bahagianya'
Alif dan Asya hanya tersenyum mendengar celotehan beberapa santri. Mereka masuk dan terlihat sangat sepi. Hanya ada abdi ndalem saja.
Alif masuk kamar terlebih dahulu. Ia meletakkan koper yang berisi barangnya dan Asya. Sedangkan Asya ke dapur meletakkan oleh-oleh.
"Kok sepi?," tanya Asya pada abdi ndalem
"Iya Ning. Pak kyai, bu nyai sama gus Raffa lagi di pesantren," jawab abdi ndalem
Asya hanya menganggukkan kepalanya. Lalu ia berpamitan ke kamar karena sebentar lagi sholat isya.
Asya membuka pintu kamar. Terlihat Alif yang sudah memakai baju koko dan sarung. Ia seperti sudah bersiap ke masjid.
"Sholat di rumah saja," ucap Asya yang mencegah suaminya pergi
"Kenapa?," tanya Alif
"Aku mau bikin kejutan sama mereka," ucap Asya sambil tersenyum
"Oh oke deh," ucap Alif kemudian
Adzan isya berkumandang. Asya dan Alif bersiap untuk sholat isya berjamaah di rumah.
Setelah sholat isya, umi terlebih dahulu sampai di ndalem. Ia begitu bahagia saat tau ada mobil menantu bungsunya di garasi.
"Assalamualaikum," ucap umi memasuki rumah
"Waalaikumsalam," jawab abdi ndalem
"Sudah mau pulang ke asrama, Mbak?," tanya umi
"Iya, Mi. Semua sudah beres. Oh iya tadi ning Asya dan gus Alif sampai setelah maghrib," ucap abdi ndalem
Belum sempat umi menjawab, Asya dan Alif terlihat menuruni tangga. Umi tersenyum melihat keduanya. Sedangkan abdi ndalem pamit kembali ke asrama.
Asya memeluk dan menciumi uminya itu. Umi terkekeh dengan tingkah putri bungsunya. Alif mencium punggung tangan umi dengan takzim.
"Bagaimana kabarnya, Nak?," tanya umi
"Alhamdulillah, kami selalu baik-baik saja Umi," jawab Alif
"Apa dia menyusahkan kamu, Nak?," tanya umi sambil memandang Alif
"Ih apaan sih Umi. Asya gak menyusahkan mas Alif," ucap Asya kesal
"Tidak kok. Dia sangat pengertian," jawab Alif sambil tersenyum
"Abi dan abang mana?," tanya Asya
"Abi masih di masjid menyimak hafalan santri. Pasti pulang jam 8 atau 9," jawab umi
"Tumben? Biasanya abi kan suka pulang cepat," ucap Asya
"Sejak kedua putrinya punya kehidupan masing-masing, abi selalu menghabiskan waktunya di pesantren daripada di rumah," jelas umi
"Kalo abang?," tanya Asya
"Abang di sini," sahut Raffa yang baru datang
"Abang, salamnya mana?," tegur umi
"Oh iya lupa. Assalamualaikum," ucap Raffa sambil tersenyum
"Waalaikumsalam," jawab ketiga orang
Asya berjalan menuju ke arah abangnya. Ia memeluk erat kakak sulungnya itu. Asya tau bahwa dibalik senyumnya tersimpan kesedihan yang tak banyak orang mengetahuinya.
"Abang gimana kabarnya?," tanya Asya setelah melepaskan pelukannya
"Abang baik-baik saja," jawab Raffa sambil mengelus kepala adiknya
Alif mencium punggung tangan Raffa. Sedangkan Raffa juga memeluk sekilas adik iparnya itu. Mereka berempat kemudian berbincang ringan sambil menunggu kedatangan abi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki di depan. Asya berjalan cepat ke arah pintu. Ia ingin menyambut kedatangan cinta pertamanya itu.
"Assalamualaikum," ucap abi memasuki rumah dengan menunduk
"Waalaikumsalam Pak Kyai," ucap Asya lantang
Abi yang mendengar suara familiar itu langsung mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum lalu memukul Asya pelan dengan sorbannya.
"Umi ini kenapa santrinya Ahmad ada di sini?," gurau abi
"Umi inikah sosok pria yang selalu merindukan putrinya sampai-sampai baru pulang jam 9 lebih," ucap Asya sinis
"Enak aja. Banyak santri setor hafalan tiap hari jadi abi super sibuk," ucap abi mengelak
"Sok sibuk sih sebenarnya," ucap Asya lalu memeluk abi nya
"Abi itu jadwalnya padat ya," ucap abi
"Kalo rindu gak usah gengsi," ucap Asya sinis
Abi membalas pelukan putri bungsunya itu. Ia begitu merindukan putri yang paling manja ini. Asya yang tak pernah bisa jauh dari orang tuanya tapi sekarang harus pergi dari rumah demi bakti kepada suaminya.
"Mana Alif?," tanya abi sambil melepas pelukannya
"Alif di sini, Abi," ucap Alif lalu mencium punggung tangan mertuanya
"Tadi perjalanannya gimana?," tanya abi
"Alhamdulillah lancar, Abi. Walaupun ada kemacetan hanya sedikit," jawab Alif
"Ayo kita semua duduk dulu. Pasti ada yang ingin kalian berdua sampaikan," ucap abi
Alif dan Asya saling memandang satu sama lain. Abi seolah tau bahwa ada sesuatu besar yang ingin disampaikan.