Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.5--Kejutan Untuk Rara Dan Ibu Sarah
###
Naufal sampai di depan rumah saat gerimis mulai turun. Ia melihat ember-ember sudah berjajar di pojok ruangan untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor. Ibu Sarah sedang menjahit dengan penerangan seadanya, sementara Rara sedang sibuk mengelap lantai yang basah.
Sungguh pemandangan yang biasa dia lihat itu sangat miris kalau dipikir-pikir. Namun sekarang dia tidak akan melihat hal ini lagi, naufal sudah memberikan rumah baru untuk mereka. Masalah penjelasan gampang yang penting yakin! Titik.
Dia bukan Paman Rahmat---seorang penyelamatnya yang dia panggil paman secara sepihak sekaligus mentor---yang gak pintar berbohong dimana itu bawaan dari bapaknya, naufal? pekerjaan sebagai sales itu penuh silat lidah masalah urusan cari alasan gampang.
"Ibu, Rara... Naufal pulang," sapa Naufal.
"Eh, Kakak sudah pulang? Buruan masuk, Kak! Atapnya lagi 'konser' nih, bocor semua!" seru Rara sambil cemberut.
Ibu Sarah tersenyum lelah. "Makan dulu, Fal. Ibu tadi masak nasi goreng."
Naufal tidak langsung makan. Ia mendekati Ibunya dan meletakkan sebuah kunci di atas meja jahit yang kusam itu.
Sontak gerakan tersebut membuat semua atensi semua orang terkejut, mata mereka menatap sebuah kunci.
"Bu, besok kita nggak usah nunggu hujan reda buat tidur nyenyak. Kita pindah rumah besok pagi," ucap Naufal lembut. “Naufal baru saja beli rumah.”
Ibu Sarah menghentikan aktivitasnya, matanya menatap kunci itu lalu beralih ke wajah Naufal.
Hening. Pasalnya anak ini tiba-tiba banget sampai Ibu sarah tidak bisa bereaksi.
"Naufal... kunci apa ini, Nak? Jangan bilang kamu pinjam uang lagi buat benerin atap?"
Rara pun ikut mendekat, matanya yang besar menatap kunci itu dengan rasa ingin tahu. "Kak, ini kunci apa?"
Rara segera menyambar kunci itu sebelum Naufal sempat menjawab. Ia menimang-nimang kunci logam yang masih mengkilap tersebut, matanya membelalak saat membaca gantungan kunci bertuliskan "Cluster Arum - Blok X"
Apaan itu? Pikir gadis itu soalnya dia gak pernah dengar gituan? Jangan bilang beneran kunci rumah? Kok bisa! Aneh
"Kak... ini beneran kunci rumah? Bukan kunci loker gudang toko, kakak, kan?" Rara bertanya dengan suara gemetar, antara sangsi dan berharap. Ia menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik, mencari tanda-tanda kalau ini hanyalah *prank* keterlaluan.
Hampir mustahil tiba-tiba beli rumah juga.
Naufal tertawa kecil, ia menarik kursi kayu yang sudah reyot dan duduk di hadapan ibunya.
"Beneran, Ra. Ibu, Naufal baru saja melunasi rumah di Blok X. Tadi sepulang kerja Naufal mampir ke kantor pemasarannya dan langsung bayar tunai."
Ibu Sarah menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya
. "Naufal... Rumah itu bukan barang murah, Nak. Kamu kerja jadi sales, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu secepat ini? Ibu takut kamu... kamu terjerumus hal yang nggak bener."
Naufal menggenggam tangan ibunya yang terasa kasar karena terlalu banyak bekerja. memberikan rasa tenang yang luar biasa kepada wanita di depannya.
"Bu, Naufal berani sumpah, ini uang halal. Lagian tentang rumah d blok X, aku dapat harga miring serta murah … “
"Kebetulan ada sisa satu unit terakhir, Bu. Istilahnya unit 'cuci gudang' dari pihak pengembang karena mereka mau buka blok baru. Makanya Naufal bisa dapat harga yang sangat masuk akal dengan tabungan Naufal selama ini," dusta Naufal halus untuk menenangkan hati sang ibu.
"Tabungan? Tapi Fal, rumah tetap mahal, meski harga miring palingan juga puluh jutaan!" Ibu Sarah masih tampak terguncang.
“Santai saja ibu. Aku jangan khawatir ini uang asli dari kerja keras, bukan uang tidak halal …”
Ini semua masih tidak masuk akal tentunya, semua aneh. Mulai dari dia bisa bayar biaya cicilan, tau-tau punya motor sport, kemudian membawa mereka ke restoran .. sekarang punya rumah. Ibu sarah tahu bahwa ia perlu menyelidiki lebih detail,
Namun melihat tatapan tulus dari Nuafal dia tahu satu hal … anaknya buka tipe yang begitu, mengetahui itu pertahanan sang ibu runtuh seketika. Anaknya berjuang keras sejak kecil menganggantikan peran mendiang ayah.
Ibu Sarah memeluk Naufal dengan sangat erat, tangisnya pecah seketika. Bahunya bergetar hebat saat tumpukan beban yang selama ini ia pikul sendiri seolah luruh bersama tetesan air mata. Ia tidak lagi peduli bagaimana caranya, yang ia tahu hanya satu: putranya telah tumbuh menjadi sandaran yang kokoh bagi keluarga mereka.
"Terima kasih, Nak... Terima kasih sudah berjuang sekeras ini," bisik Ibu Sarah di sela isaknya.
Rara, yang tadinya tengil dan sibuk mengamati kunci, kini ikut menghambur memeluk kakak dan ibunya. Suasana di ruang tamu yang sempit itu berubah drastis. Suara denting air yang jatuh ke ember plastik tidak lagi terasa menyedihkan, melainkan terdengar seperti musik pengiring kebahagiaan mereka.
"Kak, beneran kan? Rara nggak perlu takut atap roboh lagi?" tanya Rara dengan suara serak, wajahnya masih menempel di lengan Naufal.
Naufal tersenyum tipis, ia mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Beneran, Ra. Besok pagi, setelah matahari terbit, kita tinggalkan semua ember ini. Kita pindah ke tempat yang lebih baik."
“Makasih, kak.”
“Dengan gini kamu harus belajar rajin Rara, gak ada alasan lagi.”
“Siap kak!”
[Ding!]
[Kondisi Psikologis Keluarga: Kebahagiaan Maksimal & Rasa Syukur Mendalam!]
[Misi Tersembunyi: 'Garis Akhir Penderitaan' Selesai!]
[Hadiah: Saldo +Rp 10.000.000 & Poin Keberuntungan +20 poin]**
### Keesokan Harinya
Pukul 09.00 WIB, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan cat berwarna abu-abu modern yang tampak sangat segar. Naufal turun dari Ducatinya, sementara Rara melompat turun dari mobil yang dia pesan secara online dengan wajah super ceria.
"Wuaaaa! Kak, lihat! Temboknya bersih banget! Nggak ada bekas jamurnya!" Rara berlari ke depan pintu, mencoba memutar kunci yang ia pegang erat sejak semalam.
*Ceklek!*
Pintu terbuka, aroma cat baru dan hawa dingin yang bersih menyambut mereka. Ibu Sarah melangkah masuk dengan perlahan, tangannya mengusap dinding rumah yang kokoh itu. Ia masih merasa seperti sedang bermimpi.
"Ini beneran rumah kita, Fal?" tanya Ibu Sarah lirih.
"Bukan cuma rumah kita, Bu. Ini rumah Ibu. Sertifikatnya Naufal buat atas nama Ibu Sarah sendiri," jawab Naufal bangga.
Rara langsung berlari menuju kamar di bagian belakang. "Kamar ini punya Rara! Kak Naufal dilarang masuk tanpa izin kecuali bawa makanan!" teriaknya dari dalam kamar, membuat suasana rumah baru itu langsung hidup.
Naufal berdiri di ruang tamu yang masih kosong, menatap panel sistemnya yang kembali memberikan notifikasi.
Naufal menyeringai. Memberikan rumah untuk keluarga adalah rasa bahagia tersendiri. Ia senang.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN