NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Tahta Darah Sembilan Cakrawala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2)

Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka

Gunung Karang Hitam, yang selama ratusan tahun berdiri angkuh sebagai lambang kekuasaan Istana Pedang Besi di Benua Selatan Alam Spiritual, kini merintih dalam sakaratul maut.

Gempa bumi laksana kiamat merobek fondasi gunung tersebut. Ratusan tungku peleburan raksasa yang berjejer di sepanjang lereng hancur dan meledak, memuntahkan lahar buatan dan lelehan logam cair yang membakar barak-barak murid sekte. Bangunan istana pualam di puncak gunung retak memanjang, atap-atapnya yang dipenuhi pedang besi berjatuhan layaknya hujan maut yang menimpa penghuninya sendiri.

"Lindungi Aula Pusaka! Aktifkan Susunan Aksara Pertahanan Gunung!" teriak Utusan Li dengan wajah berlumuran abu, berlarian di pelataran utama yang terbelah dua.

Di sekelilingnya, ratusan Penatua di Ranah Peleburan Jiwa dan ribuan Murid Dalam beterbangan di udara dengan panik. Mereka mencoba menstabilkan retakan bumi menggunakan hawa murni mereka, namun energi dari Urat Nadi Bumi yang selama ini menopang sekte tersebut telah lenyap sepenuhnya!

"Percuma! Energi Kolam Darah Bumi telah kosong! Susunan aksara kita tidak memiliki bahan bakar!" raung seorang Penatua Senior yang memegang kompas susunan aksara. Wajahnya pucat pasi. "Ini bukan gempa alami! Sesuatu... atau seseorang... telah menghancurkan pengasingan Pemimpin Istana di bawah sana!"

Mendengar kata-kata itu, kengerian mutlak mencengkeram hati puluhan ribu murid. Pemimpin Istana, Tie Wuhen, adalah keberadaan mutlak di Puncak Ranah Pemisahan Duniawi. Siapa yang sanggup mengusik pengasingannya, apalagi menghancurkan fondasi tempatnya bermeditasi?!

Blaaarrr!

Pertanyaan itu terjawab sedetik kemudian.

Di tengah-tengah pelataran utama Istana Pedang Besi, lantai obsidian setebal sepuluh tombak meledak ke atas, hancur berkeping-keping menjadi bongkahan batu raksasa yang terlempar ke angkasa. Dari dalam lubang gelap bergaris tengah puluhan tombak tersebut, sebuah pilar hawa murni iblis berwarna merah kehitaman melesat menembus awan berdebu.

Sesosok pemuda melayang perlahan keluar dari dasar lubang itu.

Jubahnya yang compang-camping digantikan oleh jubah hawa murni yang memancarkan kilau emas gelap. Sayap Iblis Malam di punggungnya berkedip pelan, meredam sisa-sisa ledakan bebatuan di sekitarnya.

Mata hitamnya yang menyala menatap lautan manusia berbaju perak di sekeliling pelataran dengan pandangan yang merendahkan, seolah menatap sekawanan semut yang rumahnya baru saja ia injak.

Utusan Li membeku di tempat. Pedang di tangannya bergetar hebat saat mengenali struktur wajah dan aura pemuda itu.

"I-Itu... Utusan Zhou Yan?! Tidak, tunggu! Wajah itu... auranya bukan Zhou Yan!" Utusan Li menjerit histeris. Ia akhirnya menyadari bahwa sosok yang menekan dadanya di pintu Balai Penyerahan Pajak tempo hari bukanlah saingannya, melainkan penyusup iblis yang menyamar!

"Siapa kau, Berengsek?! Di mana Pemimpin Istana kami?!" bentak Penatua Senior, memaksakan hawa murni Peleburan Jiwa Tahap Akhirnya untuk menekan aura pemuda tersebut.

Shen Yuan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, lalu melemparkan sebuah benda yang melayang dan jatuh berdebum tepat di kaki Penatua Senior tersebut.

Itu adalah kerangka manusia yang telah mengering dan layu. Namun, di leher kerangka itu, masih tergantung sebuah liontin batu darah—pusaka jati diri mutlak milik Tie Wuhen.

"P-Pemimpin Istana..."

Ribuan orang menahan napas serentak. Suara pedang yang jatuh ke tanah terdengar beruntun. Dewa pelindung mereka, penguasa tertinggi Wilayah Besi Berdarah yang ditakuti oleh seluruh kubu aliran hitam dan putih, telah berubah menjadi kerangka layu!

"P-Pemimpin Istana dibunuh... T-Tangkap dia! Cincang dia menjadi sepuluh ribu keping!" Penatua Senior itu meraung, meskipun suaranya bergetar hebat. Ia tahu, jika mereka membiarkan pembunuh ini lolos, Kuil Dewa Perak akan memusnahkan sisa-sisa sekte mereka sebagai hukuman.

Lebih dari seratus ahli di Ranah Peleburan Jiwa—dari Tahap Awal hingga Tahap Akhir—melesat ke udara secara bersamaan. Di Alam Spiritual, kekuatan sekte menengah ini benar-benar tidak bisa diremehkan. Ratusan Alam Jiwa dilepaskan serentak, menekan ruang di sekitar Shen Yuan hingga udara itu sendiri terasa seperti bongkahan besi padat.

"Hanya seorang bocah di Tahap Awal Peleburan Jiwa! Tidak peduli seberapa licik kau membunuh Pemimpin Istana, di hadapan ratusan Alam Jiwa, kau akan remuk!"

Ratusan pedang, tombak, dan kapak pusaka yang dikendalikan oleh kekuatan jiwa melesat bagaikan badai bintang jatuh, mengunci setiap inci ruang pelarian Shen Yuan.

Di tengah badai keputusasaan itu, Shen Yuan justru tertawa. Tawa yang menggema berat, sangat dalam, memancarkan keagungan seorang kaisar tiran yang menentang langit.

"Kalian pikir, dengan memaksakan kehendak fana kalian ke udara, kalian telah menguasai ruang?"

Shen Yuan merentangkan kedua tangannya. Di dalam Dantian-nya, Wujud Jiwa bayi iblis membuka matanya yang menyala merah. Ini adalah saat pertama Shen Yuan menggunakan kekuatan penuh dari Ranah Peleburan Jiwa. Ia tidak lagi meminjam hawa murni untuk menekan jasmani; ia menggunakan jiwanya untuk menelan hukum alam!

"Alam Jiwa..." bisik Shen Yuan sedingin es mutlak. "...Neraka Penelanan Langit!"

Wussshhh!

Dalam sekejap mata, cahaya siang di Puncak Gunung Karang Hitam padam!

Sebuah kubah kegelapan yang luar biasa pekat meledak dari tubuh Shen Yuan, meluas dengan kecepatan kilat dan menelan lingkup seribu tombak di sekitarnya. Kegelapan ini bukan sekadar hilangnya cahaya; ini adalah kehampaan mutlak. Di dalam Alam Jiwa milik Shen Yuan, tidak ada suara, tidak ada cahaya, dan yang paling mengerikan... tidak ada hawa murni alam yang tersisa!

Ratusan Alam Jiwa milik para Penatua Istana Pedang Besi yang sebelumnya tumpang tindih menghimpit Shen Yuan, seketika retak dan hancur berkeping-keping begitu tersapu oleh kegelapan ini. Hukum ruang yang mereka ciptakan dimakan mentah-mentah!

"A-Apa yang terjadi?! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Hawa murniku... hawa murniku membeku!" jeritan panik terdengar dari dalam kegelapan.

"Mata batinku buta! Wilayah jiwaku hancur! Tolong!"

Di dalam Neraka Penelanan Langit, Shen Yuan adalah satu-satunya sosok yang memiliki mata. Bagi musuh-musuhnya, mereka terjebak di dalam perut naga iblis yang menolak keberadaan energi lain selain energi sang pemilik alam jiwa.

Ratusan serangan pusaka yang sebelumnya mengarah kepadanya kini jatuh berjatuhan seperti besi rongsokan, kehilangan ikatan batin dengan pemiliknya.

"Sekarang," suara Shen Yuan bergema dari segala arah di dalam kegelapan tersebut, seolah ia berada tepat di telinga setiap Penatua secara bersamaan. "Jadilah fondasi untuk alam jiwaku yang baru."

Sutra Penelan Surga, Putaran Rantai Hantu!

Ribuan rantai hawa murni berwarna merah kehitaman melesat keluar dari dinding-dinding kegelapan alam jiwa tersebut. Karena ini terjadi di dalam Alam Jiwa-nya sendiri, kecepatan dan ketepatan rantai-rantai itu mutlak tak bisa dihindari.

Jleb! Jleb! Jleb!

"Aaarrrghhh!"

Seratus lebih ahli di Ranah Peleburan Jiwa tertusuk oleh Rantai Hantu di udara. Rantai-rantai itu tidak langsung membunuh mereka, melainkan menancap di dada dan Dantian mereka, lalu mulai menyedot.

Wujud jiwa para Penatua itu meronta-ronta dengan histeris saat mereka ditarik keluar dari tubuh fana mereka. Ini bukan lagi sekadar menyedot esensi darah; ini adalah pembantaian jiwa! Ratusan jiwa bercahaya yang beraneka warna ditarik paksa melalui Rantai Hantu, mengalir lurus ke tengah kegelapan, masuk ke dalam tubuh sang Iblis Penelan Surga.

"N-Nikmatilah murka Kuil Dewa Peraakkk—!" kutukan terakhir Penatua Senior terputus saat wujud jiwanya hancur ditelan pusaran iblis.

Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, ratusan ahli Peleburan Jiwa yang menjadi pilar pertahanan Istana Pedang Besi mengering menjadi kerangka layu, lalu jatuh berhamburan dari langit kegelapan layaknya hujan daun mati di musim gugur.

Shen Yuan memejamkan mata di pusat alam jiwanya. Dantian-nya bergemuruh liar. Mengonsumsi ratusan wujud jiwa secara bersamaan adalah tindakan yang sangat gegabah, namun Wujud Jiwa bayi iblis di dalam perutnya menelan segalanya dengan kerakusan tak terbatas.

Ledakan energi jiwa yang luar biasa melimpah membanjiri lautan kesadarannya, memperluas persepsi batinnya hingga sepuluh kali lipat, dan mendorong fondasi kultivasinya dari Puncak Tahap Awal langsung menuju pintu gerbang Tahap Menengah Peleburan Jiwa!

Sraaaat!

Shen Yuan mengepalkan tangannya, dan Alam Jiwa: Neraka Penelanan Langit seketika ditarik kembali ke dalam tubuhnya.

Cahaya matahari kembali menyinari Gunung Karang Hitam. Namun, pemandangan yang tersaji benar-benar meruntuhkan nyali puluhan ribu murid fana yang tersisa di bawah sana.

Di udara, tidak ada lagi Penatua yang melayang. Ratusan mayat kering berserakan di pelataran yang hancur. Di langit yang bersih itu, hanya tersisa satu sosok pemuda berjubah hitam yang mengambang dengan Sayap Iblis Malam-nya, tangannya memegang Pecahan Gigi Naga yang masih berlumuran darah segar.

Utusan Li, yang selamat karena tidak berani ikut terbang menyerang, kini berlutut dengan wajah berlumuran tanah, mengencingi celananya sendiri.

"I-Iblis... dia membantai seluruh Penatua dalam satu tarikan napas..." bisik Utusan Li dengan tatapan kosong.

Shen Yuan melayang turun, mendarat dengan ringan di atas atap Aula Pusaka yang masih utuh. Matanya menyapu puluhan ribu murid fana yang kini bersujud dengan tubuh gemetar hebat.

"Dengar baik-baik, serangga-serangga fana," suara Shen Yuan dingin dan mematikan. "Pemimpin Istana kalian telah mati. Ratusan Penatua kalian telah kutelan jiwanya. Wilayah Besi Berdarah ini tidak lagi memiliki tuan selain diriku."

Ia menunjuk ke arah gerbang raksasa Istana Pedang Besi yang runtuh.

"Aku akan membuka gudang harta ini. Aku hanya mengambil Batu Roh Spiritual dan Pusaka Jiwa. Sisanya... emas, pil tingkat rendah, dan senjata fana, akan kutinggalkan di pelataran ini. Kalian memiliki waktu satu jam untuk merampas apa pun yang kalian bisa bawa, lalu menyingkir dari gunung ini. Siapa pun yang masih berada di sini setelah satu jam, akan kumasukkan ke dalam tungku peleburan tulang!"

Mendengar pengumuman tersebut, puluhan ribu murid yang tadinya dilanda keputusasaan kini membelalakkan mata. Sang iblis tidak akan membantai mereka? Dan ia bahkan membiarkan mereka merampok sisa kekayaan sekte?

Naluri serakah manusia segera mengalahkan kesetiaan mereka pada sekte yang telah runtuh. Begitu Shen Yuan menendang hancur pintu Aula Pusaka dan melangkah masuk, para murid dan pelayan di luar mulai saling berpandangan, sebelum akhirnya meledak dalam kekacauan brutal untuk memperebutkan senjata dan pil yang berserakan di tanah.

Di dalam Aula Pusaka, Shen Yuan mengabaikan tumpukan emas dan pedang fana. Matanya langsung tertuju pada rak terdalam yang dilindungi oleh susunan aksara cahaya.

Dengan satu tebasan Pecahan Gigi Naga, susunan itu hancur.

Di sana, ia menemukan puluhan peti berisi lebih dari seratus ribu Batu Roh Spiritual Tingkat Rendah, serta sebuah botol kristal yang memancarkan aura luar biasa suci.

"Bocah! Itu adalah Cairan Inti Bintang!" Leluhur Darah berseru takjub. "Pantas saja Kuil Dewa Perak menjadikan sekte ini bawahan mereka! Gunung ini memiliki urat nadi besi bintang, dan cairan ini adalah sari pati murninya! Jika kau menggunakan cairan ini untuk memandikan Pecahan Gigi Nagamu, pedang itu mungkin akan melahirkan Roh Pedang barunya sendiri!"

Shen Yuan tersenyum puas. Ia menyapu seluruh Batu Roh Spiritual dan botol kristal tersebut ke dalam Cincin Giok Pusakanya. Panen hari ini sungguh tak tertandingi.

Ia melangkah keluar dari Aula Pusaka. Pelataran di luar telah menjadi lautan kekacauan, murid-murid fana saling tikam demi sekeping emas dan pil. Ia tidak peduli.

Shen Yuan mengepakkan sayapnya dan melesat ke udara, meninggalkan Gunung Karang Hitam yang perlahan runtuh dan terbakar dari dalam.

"Wilayah Besi Berdarah telah hancur," batin Shen Yuan, matanya menatap jauh ke arah pusat Benua Selatan. "Kuil Dewa Perak pasti akan segera menyadari hilangnya ribuan ton jatah Tembaga Merah dan lenyapnya ratusan ahli Peleburan Jiwa mereka di wilayah ini. Mari kita lihat, utusan tingkat apa yang akan mereka kirimkan untuk menyelidikinya."

Meninggalkan kehancuran di belakangnya, Iblis Penelan Surga melesat membelah langit, bersiap untuk langkah selanjutnya dalam penaklukan berdarahnya di Alam Spiritual.

1
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!