Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
[17] Akad Dadakan
"Mama gak lama. Gak apa-apa kan ditinggal dulu sebentar?"
"Gak apa-apa mama sayang. Panas Langit udah reda. Cuman lemas dikit aja." Langit sudah dua hari libur sekolah. Seharusnya hari ini sudah bisa masuk, hanya saja tadi pagi badannya masih panas, dilarang Orlin masuk dulu. Biar istirahat total.
Lagipula tubuhnya mendadak adem usai Albiru datang antar obat siang tadi. Pria itu bertamu memberikan obat yang ternyata dititip Ezhar semalam. Sayangnya Biru cuman sebentar.
"Papa ada urusan sama Pak RT sebentar.
Nanti kalau ada apa-apa telfon papa atau mama ya?" Orlin menyentuh dahi Langit.
"Iya Ma. Gak usah khawatir. Langit udah gak apa-apa Mama sayang," ucapnya gemas.
"Kakak jangan kabur-kaburan ke luar sementara mama gak di rumah."
Langit mengacungkan jempol.
"Ibra mama bawa?" Ia melirik adiknya
Yang sudah memakai jaket. Di tangannya ada permen kaki.
"Iya, adikmu nangis ditinggal."
"Hu dasar anak mama." Langit mencubit gemas pipi tembem Ibra. Anak kecil itu melotot dan berkacak pinggang.
Orlin tertawa melihatnya. Ibra suka menirunya yang suka berkacak pinggang akan kelakuan Langit.
"Salim ayo sayang sama Kak Langit," ujar Orlin. Ibra patuh dan menyalim tangan kakaknya.
"Dedek bawain kak Langit ice cream Oke?"
"Engaa mau."
"Pelit."
"Gak ada ice cream, Kak. Kakak lagi sakit," larang Orlin.
Langit mengerucutkan bibirnya.
"Mama pergi ya." Langit memberi anggukan. Ia mengikuti Orlin dan Ibra yang kini berjalan menuju pintu rumah.
"Bawa banyak makanan ya mama sayang," teriaknya sebelum menutup pintu setelah keduanya naik ke motor. Seperginya Orlin,
Langit melirik waktu yang menunjukkan pukul tiga sore.
Dia kembali ke kamar usia mengunci pintu. Niatnya main ponsel karena seharian gak bisa main HP dilarang Orlin. Sejak kemarin dia jarang pegang ponsel. Lebih banyak tidur dan istirahat. Sekalinya pegang HP lama, kena omel.
Kalau kata mamanya kasih hak tubuh untuk istirahat total. Sakit itu alarm tubuh karena dia butuh istirahat. Kenapa malah dzholim sama tubuh sendiri?
Ada benarnya sih. Selama sehat kita terus memakai tubuh ini untuk berkerja ataupun sibuk dengan hal-hal lain. Sudah seharusnya dikala sakit kita benar-benar tidur ataupun menggunakan waktu untuk istirahat, agar tidak makin drop kedepannya. Layaknya mesin kalau udah mulai bermasalah dikit ya harus diperbaiki biar bisa dipakai jangka panjang.
Tapi sebentar aja ya. Kalau sendirian di rumah. Dia jadi gabut. Capek juga tidur seharian. Sejak tadi pagi Langit aktivitasnya kalau gak tidur, makan.
Langit bersandar nyaman ke sandaran di belakangnya. Dimulai dari tik tok, ia
Berseluncur di semua sosial media. Tapi dia puluh menit kemudian. Panggilan masuk dari Bumi menganggu aktivitasnya.
Bumi Luknut Calling...
"Bum lo ganggu gue aja." Pun begitu dia menyentuh icon panggilan berwarna hijau dan menempelkan benda itu ke telinga kirinya.
"Muk, Assalamu'alaikum."
"Ya, wa'alaikumusalam. Kenapa lo nelfon gue? Kangen lo ya gue gak masuk dua hari?"
"Ck. Sakit gak sakit pede lo gak ilang ya."
Langit tertawa kecil. "Terserah gue dong. Lagian gue tuh sakit, bukan mati."
"Kayaknya lo benar udah sembuh."
"Belum. Masih istirahat nih gue."
"Buka pintu dong."
"Pintu? Pintu doraemon?"
"Halu lo. Pintu rumah lo lah Muk! Gue ketok gak ada yang bukain."
Langit mengernyitkan dahinya. "Depan rumah gue? Lo ngapain datang?"
"Ya lihat lo lah Munah. Gak lucu kan gue
Cari nyokap lo?"
Langit berdecak. Ia lekas bangun dari kasur dan mengambil hijab di lemari. "Ngapain liat gue segala sih. Besok juga udah sekolah. Hem gue tahu nih. Lo kangen gue kan? Gabut kan lo gak ada gue di sekolah?"
"Iya gabut. Puas lo?"
"Widih Bumi gabut tanpa Langit. Memang gue nih dikangenin banget ya."
"Mending lo buka pintu."
"Pulang aja sana."
"Gue bawain banyak makanan. Gue buang aja nih? Gue juga bawa tugas. Lo belum ngerjain kan. Nih salin punya gue."
"Emang besok ada tugas?"
"Ada. Kemarin ada tugas ekonomi. Kan ekonomi dua kali seminggu."
Langit menepuk jidatnya. "Iya ke bawah sekarang. Gak usah lama-lama."
"Belum juga gue masuk Munah."
"Ya ya. Jangan minta buatin minum ya. Lagi sakit nih gue."
"Gak Muk. Cepat sikit. Gue berjamur di
Luar."
"Iya Paman."
"Ck." Bumi berdecak disebrang. Langit terkekeh. Ia matikan panggilan itu sepihak dan lekas memakai jilbab. Ponselnya dia tinggalkan di atas meja belajar.
Dia menuruni tangga setengah berlari.
Menuju pintu dan memutar kunci.
Pemandangan Bumi yang masih memakai seragam lengkap ada di depan mata. Cowok yang sedang memunggungi pintu itu berbalik badan dengan kresek di tangannya.
"Lo terbang ya? Cie pasti senang gue datang. Gaya tadi pakai bilang, ngapain sih lo datang?" Bumi menarik turunkan alisnya menggoda. Ia meniru suara Langit di akhir.
Langit mendengus. Ia membukakan pintu lebar-lebar. "Gue buru-buru karena lo bawa makanan. Gak usah GR."
Bumi masuk usai mengucapkan salam. Ia menyapu rumah Langit yang tampak sepi.
"Gak ada orang?"
"Enggak. Pada lagi ke luar."
"Lo beneran sakit?" Netranya menatap lekat wajah Langit yang tampak cerah.
"Iyalah Paman! Gue gak sakit boongan."
"Gue kan nanya. Gak usah nyolot."
"Ye biarin."
"Ya udah nih jajanan depan Sekolah."
Mata Langit berbinar senang. Ia menerima pemberian Bumi. Ia buka kresek itu dan melihat jenis jajanan yang banyak.
"Sering-sering deh Paman."
"Iya nanti kalau udah saatnya gue nafkahin lo," kelakar Bumi.
Langit bergidik. "Amit-amit ya gue jodoh sama lo."
Bumi terkekeh. Dia hanya bercanda. Dua hari tidak iseng sama Langit, rindu juga. Dia suka saja jika seorang Langit memiliki
berbagai macam ekspresi saat kesal.
"Terus tugas yang lo bilang banyak enggak?"
"Banyak."
"Seriuss ah lo."
"Ye serius ini munah."
"Apa sih tugasnya."
"Tugas di bab 4. Objektif sama esay. Ada
Dua puluh soal. Tulis double folio. Buat besok pagi."
"Jadi engga dikasih lihat punya lo?" Langit tersenyum manis. "Gue masih sakit Bum. Jadi kan?"
"Giliran ada maunya, baru baik." Bumi memutar bola matanya. Dia membuka tasya dan mengambil buku latihan ekonomi bersampul kertas mar-mar berwarna biru muda.
Langit cengcesan. Ia tunggu Bumi yang hendak menyodorkan padanya. Namun saat akan diambil sama Langit, Bumi menariknya.
"Tunggu deh. Kayaknya lo nugas masih sempat sampai malam."
"Bum lo tega banget sama gue. Gue itu harus istirahat. Otak gue loading nih diajak mikir lagi sakit."
Bumi menyipit.
"Aduh kepala gue aja pusing." Langit menyentuh kedua pelipisnya. "Jidat gue masih panas. Nih kan hawanya." Tangan Langit naik menyentuh dahinya. Soal ini Langit sih ahlinya. Ia pura-pura lemas.
Bumi memiringkan kepalanya. Malah
Terlihat lucu. "Dilihat dari sisi manapun. Lo ahlinya acting ya, Muk?"
Langit mendengus. Ia melipat tangannya.
"Terus gak mau gitu kasih tugas gue? Lo ya yang tadi bilang mau kasih ke gue.
"Siapa bilang?"
Dua alis Langit naik. "Lo lah."
"Siapa bilang gue gak mau kasih?" Bumi memperpendek jarak mereka hingga Langit sontak mundur.
"Gak usah-usah dekat juga kali Bum."
"Gue buat tugas ini di jam istirahat tadi, demi bisa kasih ke lo, Langit," ujar Bumi berbisik.
Langit menatap kornea hitam milik Bumi yang memancarkan keseriusan. "Iya... terus?" tanyanya tergagap.
"Gue ke sini karena lo."
Ini Bumi kenapa arah bicaranya jadi aneh sih? Langit menelan salivanya karena Bumi terus mendekat. Dia terus mundur dan hampir kena sofa di belakangnya.
"Lo tahu maksudnya kan?"
"E-enggak ngerti," gelengnya kaku.
Bumi mengulas senyum. Jantung Langit berdetak cepat. Belum ngomong saja jantungnya udah aneh, apalagi melihat senyum Bumi.
"Bum lo-" Langit melotot saat Bumi yang sedikit tinggi mencondongkan wajahnya hingga jarak mereka mungkin hanya sejengkal tangan. Langit sampai menahan nafas saat tatapan Bumi begitu dalam.
"Itu karena gue suka lo, Langit." Suara Bumi terdengar berat. Dia juga berbisik.
Deg!
Pernyataan itu membuat Langit membeku. Wajahnya terasa panas. Ia memalingkan wajah cepat menetralkan dada yang kian berdebar.
ya?" Kekehan terdengar dari depan. "Lo salting
Langit sontak menatap Bumi bingung.
"Bercandhyaaa, bercandhyaaa ...," lanjut Bumi kemudian mengikuti trend tiktok yang tengah ramai. Langit mengembangkan pipinya. Dia lega tapi juga kesal.
"Bumi luknut lo-" Langit hendak melayangkan tendangannya ke kaki Bumi.
Namun gerakannya yang terlalu cepat malah membuatnya hampir terjungkal ke belakang.
"Langit!" Bumi sontak menahan tubuh Langit namun gerakannya malah membuatnya jatuh menghimpit Langit.
Keduanya sama-sama membulatkan mata kaget. Hampir Bumi mengenai wajah Langit jika saja tangannya tidak menahan berat tubuhnya. Mereka saling menatap dengan jantung bertalu-talu.
"LANGIT!"
Deg!
Teriakan amarah menggelagar. Langit sontak mendorong tubuh Bumi hingga terjatuh ke lantai. Ia lekas berdiri dengan panik melihat Ezhar di ambang pintu bersama Pak RT dan seorang warga.
Glek!
Wajah Ezhar memerah. Tangan papanya menggepal. Tatapan yang biasanya menatap kasih sayang itu kini begitu tajam dan berapi.
"Papa, Langit-" Dipergok seperti tadi.
Langit yang mulai takut susah untuk menjelaskan. Pikirannya mendadak kalut akan kemarahan mereka dan kesalahpahaman
Yang mungkin akan terjadi.
Bumi lekas berdiri juga, dia tidak kalah panik.
"Astaghfirullah Nak Langit. Apa yang kalian lakukan berduaan seperti tadi? Kalian mau berzina ya?" Pak RT yang sedari tadi diam karena shock baru bicara.
Wajah Langit pucat, dia dan Bumi kompak menggeleng cepat akan tuduhan seperti itu.
"Enggak, enggak Pak RT Langit gak ngapa-ngapain," belanya gemetar.
"Langit benar Pak. Saya dan Langit tadi hanya-"
"Alah! Kalian berdua mau cari alasan apa? Udah ketahuan buat mesum masih bela diri.
Pak Ezhar, anaknya kelihatan baik bisa-bisanya berbuat mesum di rumah sendiri." Pak Samu malah memperkeruh suasana.
Langit meremas kedua tangannya yang dingin. Sungguh dia sangat takut dan bingung. Kejadian yang tiba-tiba dan disaat bersamaan dilihat papanya juga.
Amarah Ezhar yang siap meledak itu membuatnya ingin mengulang waktu. Langit bodoh. Kenapa bisa terjadi hal tadi. Ia bersalah, membuat salah paham dan malu
Papanya.
"Pak, saya mohon dengarkan kami. Tadi itu gak-"
"Diam kamu!" bentak Ezhar menunjuk Bumi yang mendadak ciut. Sungguh Bumi jga bingung dengan ini, dia ingin menjelaskan tapi tidak di berikan waktu.
"Pak Ezhar. Tingkah Langit dan pacarnya sangat memalukan. Ini tindakan yang sangat tidak pantas di tempat kita." Pak Rt menatap sang kepala keluarga yang berusaha mengatur emosinya.
"Langit gak pacaran sama-"
"Diam kamu Langit!" sentak Ezhar.
Kornea mata Langit berair. Tubuhnya gemetar akan bentakan Ezhar yang tidak pernah dia dengar.
Bumi mendesah. Ia menatap tidak tega Bumi. "Pak-"
Ezhar menaikkan tangannya. Tanda tidak ingin mendengar pembelaan apapun.
"Saya setuju sama Pak RT. Ini memalukan.
Nikahkan sajalah mereka!" Pak Samu menatap keduanya hina.
"Enggak. Enggak Pa." Air mata Langit
Jatuh begitu saja. Dia memohon tapi amarah benar-benar sudah menguasai pria berumur 41 tahun itu.
"Kalian harus menikah kalau tidak mau menjadi bahan cemoohan."
"Pak tolong jelaskan dulu. Ini gak seperti yang kalian lihat," mohon Bumi.
"Kami jelas melihat posisi kalian. Udah seperti suami istri."
Langit menangis akan tuduhan itu. Dari ambang pintu mereka akan melihat dari sisi mereka. Salah paham. Kejadian tadi terjadi begitu cepat dan mereka juga tidak melakukan apapun.
"Mas, ini kenapa ramai-ramai?" Orlin yang sampai rumah dan mendengar ramai-ramai ada teriakan serta tangis membuatnya lekas masuk ke dalam rumah mengendong Ibra. Dia sampai meninggalkan belanjaannya di atas motor karena khawatir.
"Loh Langit, sayang kenapa nangis?"
"Maa... " Air mata Langit pecah.
"Kamu siapa?" tanya Orlin kala perhatiannya pada laki-laki berseragam sekolah di sebelah putrinya.
"Buk Orlin. Langit baru saja melakukan perbuatan memalukan. Dia dan pacarnya berbuat mesum di atas sofa. Kami melihat langsung."
Dada Orlin tercekat seperti ada yang menghimpit. Dia menatap putrinya. Tidak percaya akan hal ini. Tatapannya beralih pada sang suami yang menatap luruh dengan tatapan amarah bercampur kecewa.
"Ma-mas?" suaranya gemetar. Ini terlalu mengangetkan baginya. Anggukan Ezhar membuat tubuhnya lemas. Kakinya seakan tidak bertulang.
"Langit. Apa yang kamu lakukan?" Sorot Orlin berubah kecewa. Langit menggeleng dengan air mata terus jatuh.
"Ma, enggak. Ini gak seperti yang papa dan Pak RT lihat."
"Sudahlah Langit. Gak usah melakukan pembelaan. Kamu membuat malu saja." Pak RT dam Pak Samu terus menekannya.
"Nikahin aja Pak Ezhar, Buk Orlin keduanya. Jika ini tersebar. Langit akan dicemooh. Tempat tinggal kita bakal jadi bahan gibah. Nama kalian sebagi orang tau juga akan tercoreng."
Orlin berusaha mengatur pikirannya dan emosinya untuk tetap stabil. Ia berusaha berpikir jernih saat melihat ketakutan Langit dan laki-laki di sebelahnya.
"Pak RT, Pak Samu. Saya mohon rahasiakan dulu apa yang kalian lihat. Saya akan berbicara pada mereka. Tolong ... Kasih kami waktu." Orlin memohon.
"Gak bisa Buk. Tindakan mereka sangat memalukan."
"Saya mengerti. Biarkan saya dan suami saya berbicara pada putri kami."
"Pilihannya nikahkan mereka atau usir dari sini." Orlin menahan nafas akan pilihan itu. Ia menatap Ezhar yang menatapnya. Memohon agar Pak RT dan Pak Samu memberi waktu.
"Pak saya akan menikahkan mereka.
Tolong beri saya dan istri saya waktu. Setelah ini saya akan mendatangi Pak RT langsung," Ezhar mencoba menegosiasi.
Pak RT terdiam, tampak ragu.
"Mereka akan tetap menikah. Dihadiri Pak RT dan Pak Samu langsung."
"Paaa... " Langit menggeleng keras. Bumi
Mengusap wajahnya gusar.
"Mereka harus dinikahkan secepatnya," pak Samu menatap keduanya.
"Saya mengerti."
"Baiklah Pak Ezhar dan Buk Orlin. Kami akan merahasiakannya, saya beri waktu."
"Loh kenapa dirahasiakan Pak RT?
Tindakan mereka memalukan!" protes Pak Samu tidak setuju. "Anak zaman sekarang udah banyak rusak. Mudah sekali berbuat senonoh. Di rumah lagi. Mau jadi apa negara ini."
"Pak Samu tenanglah. Saya juga membenci tindakan Langit dan pacarnya. Tapi lihat Sisi lainnya. Kita juga harus membantu menutupi aib ini."
Pak Samu melongos. "Yang penting mereka nikah secepatnya!"
***
"Bumi minta maaf, Bu." Ia mengenggam tangan wanita yang berbaring di ranjang persakitan dengan banyak alat yang memompa kehidupan.
Mata pria itu memerah menatap wanita yang sudah melahirkannya 18 tahun lalu, sama
Sekali tidak bergeming sedikitpun. tidak ada jawaban. Bahkan balasan genggaman tangan yang dia rindukan. Tidak ada tatapan yang dia inginkan. Mata itu setia memejam.
Tubuhnya masih berbalut seragam sekolah. Usai kesalahpahamanan yang membuatnya diharuskan menikah dengan Langit, Bumi duduk di samping ranjang persakitan yang sudah tiga tahun ini menjadi tempat pembaringan ibunya.
Dia ingin meminta restu. Mengatakan apa yang terjadi hari ini. Tapi lagi dia hanya bicara sendiri. Bumi merasa bersalah. Bersalah pada ibunya. Bukannya menjadi anak yang membanggakan, apa yang dia lakukan malah membuatnya terjebak pernikahan diusianya yang masih 18 tahun. Di saat dia sendiri sedang berjuang agar bisa menghidupkan diri. Berjuang membiayai ibunya yang masih koma.
Bumi menunduk dalam. Air matanya mengalir. Bahkan hal segenting ini dan pernikahan yang akan diadakan, dia tidak bisa memberi tahu ibunya.
Saat ini ketakutannya besar. Apa semua ini benar? Apa dia berani mengambil alih tanggung jawab seorang wanita sedang dia
Masih belum punya apa-apa.
Bumi cukup paham pernikahan adalah hal besar yang tidak bisa dianggap remeh. Dia sudah melihat ibu dan ayahnya. Apa yang terjadi dan bagaimana ending kisah mereka. Pahit keluarga yang dicicip selama ini.
Mampukah dia untuk nantinya bisa menjadi pria bertanggung jawab? Apa yang harus dia lakukan pada ranah yang belum terlalu dia pahami sedang dia tidak punya tempat bertanya.
Bumi mendongak dan mengerjapkan matanya. Setetes air mata jatuh.
Namun dia dan Langit tidak lagi punya pilihan.
***
"Mas merasa gagal mendidik Langit."
Suara Ezhar terdengar serak dari balik pintu.
Langit yang berdiri di luar, depan pintu kamar orang tuanya hanya dapat menunduk dan menangis dalam diam.
"Mas, bukan salah Mas Ezhar. Orlin juga gak ngerti kenapa ini bisa terjadi. Tapi Mas. Bicaralah pada putri Mas." Orlin mengusap punggung lebar suaminya.
"Mas kecewa Sayang. Mas kecewa sama Langit."
Sejak tadi Ezhar memang tidak mau berbicara padanya dibanding Orlin. Sekecewa dan semarah itu papanya sampai mendiamkannya bahkan tidak menatapnya lagi.
Hati Langit hancur.
Papa yang sayang sama dia. Menuruti maunya. Padaa tempat cinta pertamanya. Papa yang paling dia sayang. Kini seperti ini padanya.
Langit bahkan tidak tahu lagi harus seperti apa. Setidaknya Orlin mau memelukmu dan mendengarkan tangisnya.
Me menangkannya.
Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Dia ingin marah pada apa yang terjadi. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya. Tidak akan ada yang berubah karena semuanya sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur.
Menyesali takdir hanya membuatnya semakin benci keadaan saat ini.
"Nanti, nanti Mas bicara sama dia.
Amarah Mas belum reda. Mas takut melukai hati putri yang Kas sayang atau bahkan sampai
Gak sadar main tangan."
"Orlin ngerti Mas. Biar Orlin datangi langit lagi nanti."
"Hem. Temani dia sayang. Dia juga pasti shock."
Langit tersedu-sedu. Perasannya bergetar akan sikap orang tuanya. Ezhar marah tapi masih sepeduli itu padanya.
"Iya Mas. Setelah ini Orlin akan ke atas.
Tapi Masa, bagaimana dengan mereka? Apa keputusan ini udah benar?" Orlin ragu keputusan menikahkan putrinya.
Ezhar memberi anggukkan. "Kita harus menikahkan mereka sayang. Mas lihat apa yang mereka lakukan. Gak akan ada yang percaya jika kita melakukan pembelaan.
Apapun alasan mereka, mereka salah. Apa yang dilihat udah salah. Posisinya juga ada Pak RT."
"Apa mereka bisa jalani pernikahan di usia 18 tahun Mas? Mereka belum dewasa." Orlin menatap Ezhar gusar. Tadi dia yang sudah mengatakan pada keduanya di ruang tamu. Gimanapun mereka harus menikah. Tapi dia juga yang takut akan keadaan mereka setelah menikah.
Pernikahan tidak segampang itu.
Keduanya masih anak sekolah.
"Kita ajarkan mereka pelan-pelan.
Terutama Langit."
Orlin menghela nafas. "Langit masih anak kecil. Dia masih suka nakal dan bandel. Orlin takut lepasin Langit. Dia anak Orlin Mas. Masih Orlin anggap kecil. Tapi besok-" Nafasnya berat. "Secepat ini Langit menikah."
"Mas juga gak ingin. Mas belum bisa melepas Langit. Tapi besok Mas harus menikahkan mereka sayang."
"Apa kita terlalu manjain Langit sayang?
Apa kita kurang tegas sama putri kita sendiri?"
Orlin menatap mata Ezhar yang memerah.
Dia menggeleng pelan. "Qadarullah Mas.
Allah punya rencana."
"Nanti Mas akan menelfon keluarga kita."
"Mas, apa mereka harus tahu apa yang terjadi?"
"Mas akan menjaga nama Langit dan laki-laki itu. Mas akan bilang ini salah paham. Mas akan coba ngomong baik-baik. Gimanapun ini pernikahan. Gak mungkin keluarga besar kita gak tahu."
"Jika kita sembunyikan. Hanya ada pikiran yang salah tentang anak kita. Sebaiknya kita bilang dari awal."
Orlin membuang nafas berat untuk kesekian kalinya.
"Akadnya kita adakan di sini Mas?"
"Hm. Di rumah. Tertutup."
"Ini semua terlalu mendadak. Apan nanti Langit bakal ikut suaminya?"
Kata itu terdengar aneh karena putri mereka masih 18 tahun. Namun hitungan beberapa jam status langit memang sudah berubah dan dia bukan lagi tanggungjawab Ezhar. Melainkan pria lain.
"Dia masih sekolah sayang. Kita bicarakan dengan mereka besok setelah akad."
"Orlin belum rela lepas Langit secepat ini. Mereka tinggal di sini aja ya Mas?"
"Besok kita bahas sama mereka ya sayang. Jika Langit besok udah akad. Tanggung jawab dia bukan Mas lagi. Dia harus ngikut suaminya. Kita gak bisa keras menahan mereka. Kita bicarakan besok baiknya."
Orlin mengangguk. Suara isakan di luar kamar membuatnya dan Ezhar sama-sama
Menatap pintu yang tertutup.
"Temani Langit. Mas menyusul nanti. Mas skan menelfon keluarga dulu."
Orlin memberi anggukan. Ia berdiri dan membuka pintu. Yang dia lihat pertama kali adalah mata sembap putrinya. Mata yang memerah menatapnya.
"Langit...." Orlin tidak tega. Melihat Langit seperti ini air matanya juga ingin menyeruak. Nalurinya sebagai ibu merasakan sakit yang dirasakan Langit.
"Mama peluk?"
Tangis Langit pecah. Ia memberi anggukan dan memeluk erat Orlin dengan isak keras. Bibirnya terus mengatakan maaf dan maaf berulang kali.
Orlin memelukmu erat dan menciumnya.
"Mama di sini sayang. Semua akan baik-baik aja setelah ini."
***
Bermodalkan mahar sederhana dan cincin perak yang dia beli dari hasil gajinya. Hari ini, Bumi akan menikahi Langit. Rivalnya sendiri.
Pernikahan sederhana tanpa rencana. Pernikahan sederhana tanpa gaun dan hanya
Pakaian terbaik mereka. Akad sederhana yang dihadiri orang tertentu saja. Orang tua langit dan keluarga besarnya. Pak RT, Pak Samu dan saksi lain. Serta penghulu. Akad sederhana itu akan diadakan hari ini.
Di hari seharusnya langit sudah masuk Sekolah usia libur dua hari. Di hari Bumi yang harusnya juga sedang menyimak pelajaran di sekolah. Namun di sini keduanya berada, duduk bersisian di detik ijab qabul akan diucapkan.
Bumi melirik Langit di sampingnya yang terus menunduk dengan mata yang sembap. Tidak ada air mata, namun mata itu jelas memperlihatkan semalaman Langit hanya terus menangis hingga di detik akad dadakan mereka.
Ngilu. Perasaannya ngilu melihat Langit yang biasanya ceria dan tertawa tapi kini terus bersedih. Langit yang biasanya tampak cerah dan biru, kini tampak kelabu dan sendu.
Bumi mengambil nafas dalam untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Rasanya dari semalam pasokan udara menipis hingga dia tidak bisa bernafas dengan lapang. Seperti ada bongkahan besar yang menyumbat. Rasanya pedih.
"Maafin gue Langit. Kalau aja kemarin gue gak datang. Semua gak akan kayak gini. Kalau aja gue gak bercanda seperti kemarin. Lo gak akan jatuh dan gue gak akan refleks nahan lo. Maaf...." Bumi hanya dapat mengatakan itu dalam hatinya. Sesalnya dalam dan besar. Kata seandainya hanya angan. Nyatanya semua sudah terjadi dan waktu tidak dapat kembali.
Perasannya lebih hancur melihat Langit seperti ini. Walau ia juga merasa serba salah dengan pernikahan yang mau tidak mau harus dijalankan.
"Langit, gue janji. Cukup di awal keceriaan lo hilang. Cukup di awal air mata lo mengalir. Cukup di awal ini aja rasa sesak itu lo rasain. Setelah ini, gue janji. Gue akan buat lo bahagia. Gue bakal bikin lo ketawa lagi. Gue janji Langit. Gue bakal lakuin apapun untuk nebus semua ini."
"Bisa kita mulai?"
Suara itu memaksa Bumi untuk menatap ke depan. Dia mengedarkan pandang pada semua orang yang jelas tidak mengharapkan hadirnya hari ini. Tidak ada wajah kebahagiaan, sama sekali. Bahkan papa Langit yang sebentar lagi akan dia jabat tangannya, bermuka datar dan dingin.
Bukan ini pernikahan yang diinginkan.
Tapi apa daya.
"Kamu siap, Bumi?"
Bumi menatap Langit lagi lalu memberi anggukan. Tatapannya lalu beralih pada mama Langit, Orlin yang memberi anggukan padanya.
Bumi mengangguk kecil. "Saya siap."
"Bismillahirahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Mahendra Ghabumi Aldelard bin Abram Mahendra dengan anak saya yang bernama Qanita Langit Zoe dengan maskawinnya berupa uang senilai satu juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Qanita Langit Zoe binti Ezhar Ghazy Hanan dengan maskawin tersebut, tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Saah!"
***